"B-bu Darlina," teriak mereka bertiga kaget.
"Nggak usah sok baik dengan memanggil saya pakai embel-embel Bu. Saya nggak suka orang munafik," kata Darlina meradang.
Asri yang memang sejak dulu tidak menyukai Darlina dan kebetulan adalah teman dekat Silvia langsung mendekat.
"Aku yakin, kamu pasti sudah menggoda Pak Kalman. Kalau nggak mana mungkin Beliau tiba-tiba menjadikan kamu sebagai pengganti Bu Silvia!"
"Kalau aku memang menggodanya, emang kenapa?" tanya Darlina menantang.
"Wah, gila!" teriak Nita mengompori.
"Ya, begitulah si parasit sok polos, sudah enak diurus sama orangtuanya Bu Silvia eh sekarang malah merebut calon suaminya juga!" hina Tari sinis.
"Siapa, sih, yang nggak mau sama Pak Kalman. Tampan, mapan, hmm aku juga mau. Tapi caranya itu, loh, licik banget. Bersaing sehat dong, kalau memang mau merebut hati Pak Kalman, jangan jadi pelakor," tambah Asri, lagi.
Darlina semakin meradang, tapi dia tahan agar emosinya tak meluap. Terlintas di pikirannya untuk mencari tahu keberadaan Silvia melalui Asri.
"Aku tau kamu dekat dengan Silvia. Tapi, saat ini aku malah sangsi kalo kamu bener dekat atau hanya mendekatinya karena kebetulan Silvia itu calon istrinya Mas Kalman." Darlina menatap Asri dengan memicingkan matanya. " Jika kamu memang dekat dengan Silvia, seharusnya kamu tau di mana dia sekarang!"
"Ya tentu saja sedang menenangkan diri karena posisinya kamu rebut!" kata Asri dengan emosi.
"Nggak usah ngomong kalo kamu nggak tau kebenaran ceritanya," sahut Darlina kesal.
"Aku tau ceritanya, saat ini Bu Silvia sangat terpukul karena kamu merebut calon suaminya disaat akad nikah akan dilaksanakan!"
Darlina tersenyum karena Asri masuk perangkapnya. "Oh, jadi dia bercerita begitu? Bagus dong, pasti saat ini dia sedang menangis meratapi nasibnya!"
"Dasar jahat!" Maki Nita sambil mendorong Darlina.
Emosi Darlina meningkat tapi sekuatnya ia tahan karena Asri belum mengatakan di mana Silvia berada. Sekuatnya ia mengepalkan tangan, menahan marah yang sedang menyelubungi hatinya.
"Ah, mana mungkin Silvia mengatakan pada kalian tentang kesedihannya! Kalian kan bukan sahabatnya!" ejek Darlina.
"Heh, kata siapa dia bersedih! Bu Silvia sekarang sedang senang-senang jalan-jalan di luar negeri. Katanya dia akan tinggal di sana dan mencari suami bule yang lebih baik dari pada Pak Kalman!"
"Oh ya? Masa? Aku yakin itu cuma omong kosong kamu tanpa bukti apapun!" Darlina mencoba mengorek informasi dengan memancing emosi Asri.
"Ini buktinya!" Asri mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video Silvia yang sedang berada di pantai. Di video itu Silvia mengatakan kalau saat ini dia sedang berada di singapura."
"Oh, ya? Bagus dong, kupikir dia sedang nangis darah saat ini!"
"Kamu benar-benar keterlaluan!" Asri mendorong bahu Darlina.
"Hei! Berani sekali kamu mendorongku!" teriak Darlina kesal.
"Kenapa? Kamu pikir aku takut sama pelakor seperti kamu!"
"Cukup! Berani sekali kalian mengeroyok istriku!" bentak Kalman membuat keempat wanita itu tersentak karena kaget saat mendengar suara Kalman yang menggelegar, Kalman mendekati Darlina dengan wajah yang tampak dingin dan aura yang menyeramkan.
Ketiga orang itu terlihat pucat pasi dan mereka saling senggol satu sama lain.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Kalman khawatir.
Darlina menggeleng pelan, "Aku nggak kenapa-kenapa, Mas. Cuma dongkol saja, masa aku dibilang pelakor," adu Darlina dengan raut sedih bercampur kesal.
"Emang kenyataan kamu pelakor, Kok!" bisik Asri sewot.
"Kamu tau dari mana kalau Darlina pelakor?" tanya Kalman tajam dan dingin.
Asri yang ditanya jadi membisu, dia tidak berani lagi menjawab karena dihadapannya saat ini adalah maut yang akan menghancurkan masa depannya.
"Sekarang juga kalian keruangan HRD, temui Bu Ningsih di sana!" tanpa menunggu jawaban mereka Kalman menggandeng Darlina menuju ruangannya.
Saat tiba ruangan kerja Kalman, Darlina melihat Yuna, Doni dan Livia berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Kamu urus mereka, aku mau ke ruang HRD sebentar." Kalman mengusap kepala Darlina.
Setelah Kalman pergi Darlina langsung mengintruksikan pada ketiganya apa saja yang harus dikerjakan, tapi Darlina fokus memperhatikan Doni karena dia ingin lelaki itulah yang akan mendampingi Kalman menggantikan dirinya.
Sementara itu di ruangan HRD Kalman menatap tajam ketiga orang yang tadi mengeroyok istrinya. "Apa kalian sadar siapa yang telah kalian keroyok?"
Ketiganya bungkam dan menunduk ketakutan.
"Sekali lagi saya tanya, apa salah Darlina sehingga kalian tega mengeroyoknya?"
Kalman menggebrak meja membuat semua yang ada di ruangan terlonjak kaget.
"Jawab!"
"Karena dia menghina kami pak!" jawab Asri gemetaran.
"Menghina bagaimana?" bentak Kalman dengan suara menggelegar.
"Mentang-mentang istri bos, dia menghina kami seenaknya," jawab Asri mulai tenang.
"Apa itu benar?" tanya Kalman ditujukan pada ketiga orang itu.
Ketiganya saling tatap kemudian Asri mengangguk diikuti keduanya.
"Baiklah beritahu kan pada Bu Ningsih bagaimana cara Darlina menghina kalian, biar nanti Bu Ningsih yang akan menentukan hukuman pada siapa yang bersalah," perintah Kalman.
Asri langsung menggenggam tangan Bu Ningsih. "Bu, tadi Kami sedang minum. tiba-tiba Darlina datang dan mengatakan kalau kami sekarang tidak akan bisa apa-apa karena Bu Silvia sudah tidak ada. Dia juga bilang kalau kami akan disingkirkan di perusahaan ini sama seperti dia telah menyingkirkan Bu Silvia." Asri bercerita sambil terisak.
"Bahkan dia mendorong kami, Bu. Tentu saja kami tidak terima, kami tidak menyerang Darlina tapi kami berusaha membela diri. Jangan hukum kami, Bu. Darlina yang salah. Dia yang telah menghina dan memaki-maki kami, Bu." lanjut Asri meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu kita harus bertanya pada Darlina, dia juga harus memberikan penjelasan. Saya tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan dari pihak kalian saja." Bu Ningsih melepaskan tangannya dari genggaman Asri.
"Tidak perlu mengajak Darlina ke sini, cukup itu saja sebagai penjelasan dari pihak Darlina." Kalman menunjuk ke layar televisi yang sedang menayangkan Darlina yang sedang di dorong oleh Asri.
"Aku lah, yang telah merekam video itu, dan aku tau pasti apa yang telah kalian lakukan pada istriku." Kalman menatap ketiganya yang pucat pasi. "Saya rasa, Bu Ningsih sudah bisa mengambil keputusan untuk memberikan hukuman yang tepat untuk orang yang bersalah."
"Asri, kamu telah memfitnah Bu Darlina. Kamu bilang dia mendorongmu, tapi nyatanya kamu yang mendorong dia. Saya tidak tangkap kalau mulutmu itu begitu lihai berbohong." Bu Ningsih menatap Asri dengan geram. "Sebenarnya kalian bertiga ini sadar atau tidak, kalau yang kalian keroyok itu adalah istri bos kalian? Pemilik perusahaan ini!"
"Ma-maafkan kami, Pak," kata Nita ketakutan.
"Tapi Bu-" Asri menggantungkan ucapannya. Sepertinya dia kebingungan untuk membela diri karena video itu telah menyatakan kalau yang bersalah adalah mereka bertiga.
"Silahkan urus surat pengunduran diri kalian jika tidak diserahkan sampai jam kerja usai, maka silahkan Bu Ningsih untuk memberikan surat pemecatan tanpa pesangon sedikitpun."
"Pak!" jerit ketiganya panik.
"Jika kalian macam-macam lagi, maka video itu akan kujadikan alat untuk menyeret kalian ke penjara, paham!"
"Pak, tolong jangan pecat saya," pinta Nita dengan memelas.
"Pak suami saya sedang sakit jadi tidak bisa bekerja, saat ini cuma saya yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga juga untuk biaya berobat suami saya, Pak. Kalau saya dipecat, bagaimana nasib keluarga saya pak." Tari memohon belas kasih Kalman.
"Saya tidak mau ada kejadian seperti ini untuk kedua kalinya di kantor ini. Saya tidak mau mendengar ada yang menyebarkan rumor tentang istri saya lagi," kata Kalman pada Ningsih.
"Maafkan saya, Pak. Saya janji hal ini tidak akan terulang lagi," kata Ningsih.
Kalman berdiri meninggalkan ketiga orang yang pucat pasi itu, tidak lama kemudian dia berbalik menatap Ningsih. "Jika ada yang memfitnah istri saya lagi, maka pecat saja! Saya tidak butuh karyawan yang bisanya hanya membicarakan keburukan orang lain. Oh iya satu lagi, Darlina bukan pelakor, tapi saya lah yang memintanya untuk menjadi istri saya!" tegas Bos besar itu membuat semuanya ketar ketir.
Kalman meninggalkan ruang HRD, saat tiba di ruang kerjanya dia tidak melihat Darlina. "Ibu Darlina, mana?" tanyanya pada ketiga orang yang tengah serius menatap layar laptop.
Ketiganya saling pandang lalu menggeleng bersamaan.
Kalman segera menghubungi ponsel Darlina, tapi panggilannya di jawab oleh operator yang menyatakan kalau ponsel istrinya itu sedang tidak aktif.
Lelaki itu merasa khawatir, dia ingin sekali mencari Darlina, tapi siang ini ada meeting yang sangat penting dan harus diselesaikan sebelum ia pergi mengajak Darlina berbulan madu.
"Ah, Darlina .... Kamu di mana?"