BAB 10 Kamu Istriku

1037 Kata
Darlina turun dari taksi yang mengantarnya pulang, air mata yang sedari tadi ditahan kini berhamburan berebut keluar membasahi pipinya. Darlina kembali teringat dengan Asri yang mengatakan kalau ia adalah pelakor, dia yakin bukan hanya Asri tapi semua orang saat ini pasti tengah mengatakan kalau dia seorang pelakor. Sungguh, dia tidak menginginkan pernikahan ini. Dia dipaksa menikah dengan Pak Bos, dia harus kehilangan masa depannya bersama Azril, lalu kenapa dia yang disalahkan? Dia menangis di sofa hingga kelelahan. Perasaannya hancur lebur bercampur marah, tapi ia tidak tau harus menyalahkan siapa. Kemudian ia mengubah sofa yang ada di kamar itu dan membuatnya menjadi tempat tidur supaya ia bisa beristirahat sejenak. Entah berapa lama Darlina tertidur hingga akhirnya terbangun karena merasa ada seseorang yang menepuk pipinya perlahan. Darlina mengerjapkan matanya beberapa kali menatap Kalman yang sedang menatapnya. "Kamu kenapa pergi tanpa mengabariku?" tanya Kalman lembut. "Aku tidak mau lagi bekerja. Mungkin itu akan jauh lebih baik. Jika pekerjaanku bagus pun tidak akan ada yang menghargai karena pada akhirnya mereka akan berpikir itu semua karena aku ini istrimu. Sejak awal aku bekerja di perusahaan pun karena Mama yang merekomendasikan aku, bukan? Buktinya kamu bisa lihat sendiri, Mas. Tidak ada yang menghargai aku dengan tulus, karena mereka merasa aku ini bisa masuk ke perusahaan bukan karena kinerjaku. Dan pagi ini aku mendapati kenyataan jika sebagian besar karyawan mungkin saat ini akan berpikir sama seperti Asri." Kalman terdiam, ia sadar apa yang dikatakan oleh Darlina memang benar. Tidak semua orang bisa menerima kehadiran wanita itu di perusahaannya dengan baik. Apa lagi saat ini, dia mendadak menjadi istri bos menggantikan sepupunya, tentu orang akan beranggapan kalau dia telah menjadi orang ketiga dalam hubungannya dan Silvia. "Sungguh aku ingin mengatakan pada semua orang kalau aku ditinggal oleh Silvia di hari pernikahan kami dan kami memaksamu untuk menggantikannya, tapi jika itu kulakukan maka aku akan membuka aib keluargaku," jelas Kalman merasa bersalah. "Maafkan aku, maafkan keluargaku yang telah memaksamu menikah denganku." Darlina diam dengan posisi masih berbaring. "Aku berjanji akan menjagamu dari omongan orang yang ingin merendahkanmu. Karena tidak ada yang boleh menghina keluargaku." "Jangan lupa aku bukan keluargamu. Aku hanya istri yang kamu kontrak untuk menutupi malu keluargamu!" sahut Darlina sengit. "Jangan lupa, meski tak menikah denganku kamu sudah seperti keluarga bagi mamaku." "Ya, karena Beliaulah aku mau menikah denganmu!" Kalman menghela napas. "Astaga ... Apakah aku ini lelaki yang begitu buruk sehingga calon istriku kabur di hari pernikahan dan membuat kamu dengan sangat terpaksa bersedia menikah denganku?" keluh Kalman terdengar pilu. "Kamu sempurna, hanya saja kamu salah memilih pasangan." "Yang benar itu, yang bagaiman? Apakah aku harusnya menikah dengan Asri? Astaga, yang benar saja." Darlina yang tadi berwajah murung jadi tertawa kecil mendengar keluhan Kalman. Akibatnya sebuah pukulan kecil mendarat di kepalanya sehingga membuat ia menghentikan tawanya. "Sial amat sih aku, sudah dipaksa menikah kini selalu dipukul pula!" Darlina mengerucutkan bibirnya. "Lagian kamu tu senang benar melihat aku menderita." Kini gantian Kalman yang mengerucutkan bibirnya. Darlina kembali tertawa melihat wajah Kalman, dia tidak menyangka bos galak yang suka membentak itu ternyata bisa cemberut dan terlihat menggemaskan seperti itu. "Kamu kenapa tertawa lagi? Apa menurutmu kisahku lucu?" tanya Kalman gusar. "Aku tertawa senang kok, biasanya bosku yang galak ini ..." Darlina menarik kedua pipi Kalman secara bersamaan. "Bisanya cuma marah-marah doang, tapi sekarang dia terlihat menggemaskan." "Masa?" Kalman mendekat sehingga Darlina terpaksa menarik badannya. "Bukan hanya bisa marah-marah doang, aku juga bisa bikin anak loh!" "Mas ...!" Darlina mendorong d**a Kalman karena merasa kurang nyaman dengan tindakan lelaki itu. "Sana, kembalilah ke kantor, ini masih jam kerja. Aku tidak akan ke mana-mana, biarkan aku istirahat di sini saja" "Aku maunya di sini sama kamu." "Mas!" Tangan Darlina masih menahan d**a yang terus berusaha mendekat. "Kamu itu istriku dan kamu harus menuruti semua perkataanku," kata Kalman tetap bertahan pada posisinya meski didorong oleh Darlina, bahkan dia menyukai ekspresi wajah istri kontraknya itu yang memerah saat berada begitu dekat dengannya. Darlina menghembuskan napasnya. "Iya aku tau kalau aku ini istri kon-trak kamu!" tegas Darlina pada kata kontrak. “Jangan lupa kita sah di mata hukum dan agama," balas Kalman tak kalah tegasnya. "Jangan lupa kita menikah dengan kontrak! Pernikahan kita terjadi karena Mama Kusnita yang meminta. Jadi, kita bersikap seperti suami istri yang normal di depan mama dan orang lain. Akan tetapi jika di kamar, kita bisa berhenti bersandiwara sebagai suami istri, kita bebas menjadi diri sendiri." "Terserah kamu, yang penting selama setahun ini jadilah istri yang baik dan menuruti apa kataku." Kalman akhirnya menarik badannya sehingga terdengar hembusan napas lega dari Darlina. "Aku pulang agak sore, saat aku pulang aku mau kamu sudah rapi karena nanti kita akan ke rumah mama, karena Beliau ingin kita makan malam bersama di sana" "Iya," jawab Darlina singkat. "Jangan pernah matikan ponselmu!" "Iya." Kalman menghela napas panjang sebelum ia meninggalkan Darlina di kamar. Sementara gadis itu hanya menatap kepergian sang suami dengan wajah yang sedih. Ia tidak pernah menginginkan hal ini. Apa enaknya menikah karena terpaksa? Darlina tidak pernah membayangkan sebelumnya jika hal yang ia baca di novel favoritnya akan terjadi kepadanya. Wanita itu pun meletakkan kepalanya di bantal empuk kemudian ia pun memejamkan mata. Tanpa sadar wanita cantik itu pun tertidur dengan lelap dan ia pun lupa mengisi baterai ponselnya. Entah berapa lama ia tertidur, Darlina terjaga saat Kalman kembali menepuk pipinya membuat gadis itu tersentak kaget. “Mas, kok sudah pulang?” tanya Darlina heran. "Apa yang aku bilang tadi siang? Bukan hanya ceroboh, kamu ini benar-benar pelupa!" "Saya salah apa lagi, Mas?" tanya Darlina. "Ini ponselmu, kenapa kamu masih mati? Sengaja ingin membuatku khawatir?" "Maaf-" "Minta maaf lagi, minta maaf lagi!" Kalman memotong ucapan Darlina. "Ajaib, selain makan yang porsinya banyak ternyata kamu juga tidurnya unik dan lama." Darlina yang belum sepenuhnya sadar hanya menatap Kalman dengan mata yang berkedip pelan. "Buruan mandi, kita akan ke butik langganan mamaku." "Kenapa harus ke butik?" tanya Alina dengan polos. "Kita akan malam malam ke rumah Mama Kusnita, Kan? Cukup pakai pakaian yang ada saja, tidak usah berlebihan." "Mama mengadakan acara di rumah, katanya untuk menyambut dan memperkenalkan menantu kepada teman sosialitanya." "Apa?" Kesadaran Darlina langsung pulih seutuhnya, dia seketika merasa tegang karena harus berhadapan dengan sekumpulan kaum elit. "Ba-bagaimana jika nanti aku membuat kesalahan yang akan membuat Mama malu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN