"Tapi-"
"Tidak ada tapi, sekarang cepat mandi, aku sudah membuat janji dengan pemilik butik. Kamu harus keliatan cantik dan elegan di depan teman-teman mama." Sikap Kalman yang suka memerintah semaunya ternyata tidak berubah, dari Darlina masih sebagai sekretaris hingga kini gadis itu menjadi istrinya.
"Aku paling tidak suka jika kamu tidak mematuhi keinginanku. Aku hanya menyuruhmu untuk mengisi daya ponselmu. Apa itu susah?" tanya
Kalman.
Wanita yang diajak bicara itu terdiam, tadi siang ia memang lupa untuk mengisi baterai ponselnya karena masih merasa kesal dengan kejadian di kantor.
"Lain kali jangan lakukan lagi, aku mau ponsel kamu selalu aktif saat kuhubungi."
"Aku ...."
Kalman mengangkat tangannya, "Tidak usah kamu teruskan, aku tau apa yang akan kamu katakan. Pasti mau minta maaf, iya, kan?"
Darlina lagi-lagi hanya bisa mengutuk Kalman di dalam hati, tapi dia memilih diam karena tak ingin berdebat dalam suasana bangun tidur seperti ini.
"Kamu mau aku mandi atau mau terus mengomeliku?"
"Aku mau memandikan kamu "
Seketika Darlina melotot. "Nggak ada akhlak!" makinya.
Mendengar perkataan Darlina, Kalman spontan menjewer kuping sang istri.
"Coba ulangi siapa yang nggak punya akhlak?"
"Anda yang nggak punya akhlak! Jewer kuping orang sembarangan," jawab Darlina dengan kesal sambil memegangi kupingnya yang terasa panas.
Kalman tak peduli dengan Darlina yang meringis, ia pun segera menarik tangan gadis itu dan menyuruhnya untuk segera mandi.
Dengan masih menekuk wajahnya, Darlina kemudian menghilang ke kamar mandi dan tak lama kemudian ia pun sudah siap untuk pergi bersama Kalman.
"Kamu boleh memilih gaun malam yang kamu mau nanti di sana. Butik itu adalah butik langganan mamaku. Yang datang ke sana artis-artis dan juga istri-istri pejabat. Mamaku mau menantunya tampil cantik di depan teman-temannya malam ini."
Darlina tak menyahuti, dia berjalan cepat menuju kamar Aulia untuk berpamitan.
"Hei, kamu dengar tidak perkataanku?" tanya Kalman setengah berteriak.
“Iya, saya dengar, Mas. Nggak usah teriak- teriak segala. Saya nggak budek," jawab Darlina dengan kesal.
Kalman pun hanya menghembuskan napasnya dengan kasar, ia merasa kesal bukan main dengan sikap istri kontraknya itu. Dia membiarkan Darlina berpamitan dengan Aulia, sementara ia memilih untuk menunggu di mobil.
Diperjalanan keduanya memilih untuk diam, hingga akhirnya mereka pun tiba di sebuah butik yang cukup besar. Darlina mengenali butik itu adalah butik milik desainer ternama. Harga pakaian di sana bisa jutaan bahkan ada yang puluhan juta karena Darlina kebetulan salah satu followers i********: butik tersebut.
Gadis itu mencubit tangannya sendiri, 'mimpi apa aku bisa masuk ke butik impianku,' batinnya tak percaya.
"Hallo, Mas Kalman. Tante sudah menunggu, mamamu semalam sudah menelepon tante." Saat mereka masuk, seorang wanita cantik dengan penampilan modis menyambut mereka.
Darlina mengenalinya sebagai Lestari Dewi sang pemilik butik. Diam-diam ia mengagumi wajah Tante Lestari yang begitu cantik meski usianya tak lagi muda.
"Jadi, ini istrimu, cantik juga, sayang agak sedikit kurus. Kamu harus lebih memperhatikan makannya, loh, Kalman."
Kalman hanya melongo mendengar saran Tante Lestari, dia kemudian menatap tubuh Darlina yang memang agak sedikit kurus. "Heh, makanmu kan super banyak, tapi kenapa kamu masih kurus sih?" bisik Kalman yang dijawab dengan angkatan bahu oleh Darlina.
"Maaf ya, waktu kalian menikah tante nggak bisa datang. Tante masih di Paris waktu itu," kata Tante Lestari sambil memeluk pinggang Alina dan membawa gadis itu.
"Nggak apa-apa, aku tau Tante sibuk. Kalau soal kurus, Tante nggak tau aja kalau dia makan mirip kuli yang udah nggak makan seminggu," jawab Kalman.
Tante Lestari tentu saja tertawa geli menanggapi perkataan Kalman. Wanita itu mengibaskan tangannya, "Kalau dia makan banyak, nggak akan sekurus ini. Mamamu cerita, Darlina sekretaris kamu di kantor tadinya. Kamu pasti selalu menyuruhnya mengerjakan ini dan itu. Dia pasti kelelahan dan menahan lapar karena kamu."
"Astaga, Tan-"
"Sudah, sekarang kita ke ruangan tante aja. Tante sudah memilihkan beberapa gaun malam yang cantik juga ada cemilan yang kamu pasti suka," kata Tante Lestari lalu berjalan membawa mereka ke ruangan pribadinya yang berada di lantai dua.
Seperti yang Tante Lestari katakan, di ruangan yang berfungsi sebagai ruangan pribadi merangkap ruang kerjanya yang cukup besar itu sudah ada beberapa manekin yang memakai gaun malam yang berbeda. Semua gaun itu sangat indah di mata Darlina. Bahkan salah satu gaun yang dipakai manekin itu mirip dengan gaun cinderella yang pernah ia lihat di film.
"Wah, gaunnya cantik semua,Tante," puji Darlina kagum.
"Tentu, pengantin barunya saja cantik begini, jadi Tante harus buatin gaun yang juga cantik," kata Lestari, "bagaimana kalau kita coba dulu yang ini?"
Lestari memperlihatkan gaun malam modern ball gown yang terlihat mewah dan modern dengan warna putih yang berdekatan dengan gaun yang mirip dengan milik Cinderella.
"Ini cantik, seperti muat denganku," katanya tanpa memperhatikan gaun yang diberikan oleh Tante Lestari.
"Nanti kita coba yang itu, sekarang kamu coba yang ini dulu ya."
Darlina pun langsung mencoba gaun yang diberikan oleh Tante Lestari, gaun yang indah itu tampak cantik sekali saat dikenakan oleh Darlina. Namun sayang sekali, pinggang Alina yang kecil membuat gaun itu terlihat kebesaran di tubuh mungilnya.
"Tuh, kan kurus banget, padahal gaun ini lagi trend banget deh," keluh Lestari kecewa.
"Masih ada yang lain, kan, Tante? tanya Kalman. Pemuda itu sebenarnya takjub saat melihat Darlina tampil cantik dengan gaun yang ia kenakan.
Tante Lestari mengambil gaun yang kedua, gaun dengan kerah sabrina dan detail yang elegan dan halus, berwarna putih tulang, terlihat sangat feminin. "Gaun ini cantik banget untuk acara makan malam. Apa lagi jika rambutnya disanggul dan diberi mutiara dengan hiasan bunga yang cantik."
Namun, saat Alina mencoba lagi-lagi gaun itu sedikit kebesaran di pinggangnya. Kalman menautkan alisnya, masih ada tiga gaun lagi yang belum dicoba. Ada gaun malam berwarna biru muda persis seperti gaun yang dikenakan oleh Cinderella, ada juga gaun mermaid yang menjuntai panjang di bagian belakangnya.Terakhir, gaun modern internasional berbahan satin dengan berbentuk a-line yang pasti akan membuat penampilan Alina sangat classy dan elegan.
"Apa tidak bisa jika dikecilkan sedikit, gaunnya, Tante?" tanya Kalman pada Tante Lestari.
"Tentu saja bisa, tapi apa kalian memiliki waktu untuk menunggu sampai selesai di jahit," kata Tante Lestari dengan bijak.
Kalman menatap Darlina, "Kamu suka yang mana?" tanyanya.
Alina menghela napas, jujur saja ia menyukai semua gaun indah itu. Tapi, pada akhirnya dia memilih gaun yang belum ia coba.
"Kenapa pilih yang itu? Apa boleh Tante tau?" tanya Tante Lestari. Di antara kelima gaun yang ada sebenarnya gaun yang terakhir adalah gaun yang harganya paling mahal.
"Aku suka film Cinderella, Tante. Dan model gaun yang itu persis seperti gaun Cinderella di film yang aku tonton," jawab gadis itu dengan polosnya.
Jawaban polos Darlina membuat Lestari menahan senyuman. "Baiklah, bagaimana, Kalman? Kamu setuju dengan pilihan istrimu?" tanya Tante Lestari.
"Jadi, hanya karena Cinderella?" tanya Kalman sedikit berbisik di telinga Alina.
Gadis itu mengangguk, "Kalau Mas nggak setuju, ya udah, aku juga nggak maksa. Tapi aku suka itu dan aku rasa pinggangnya juga pas denganku, jadi kita tidak akan terlambat datang ke rumah Mama Kusnita."
Kalman hanya menghela napas panjang lalu menghembuskan napasnya perlahan, "Ya sudahlah, Tante. Biar gaun yang itu saja, sesuai dengan pilihan istriku."
Tante Lestari pun tersenyum, "Baik, kalau begitu, ayo kita coba." Tante menyerahkan gaun pada Darlina. "Untukmu nanti, Tante akan siapkan pakaian yang cocok. Kamu nggak mau pilih-pilih modelnya?" tanya Lestari.
"Sudahlah, kalau untuk aku, Tante saja yang atur," jawab Kalman. Pemuda itu memang tidak terlalu peduli dengan pakaian yang akan ia kenakan. Yang paling penting malam ini Mamanya akan puas melihat anak mantunya datang dengan terlihat elegan dan tampan serta menjadi pusat perhatian.
"Kata mamamu, kalian akan bulan madu besok? Semoga ketika kalian pulang istrimu sudah 'isi' dan bisa segera memberi keturunan," kata Tante Lestari sambil memberikan atasan kemeja dengan mantel, celana chino dan sepatu formal.
Kalman hanya tersenyum mendengar perkataan sahabat mamanya itu, tanpa menjawab dia segera mengganti pakaiannya. Saat kembali ke ruang tunggu dia tidak melihat Tante Lestari, tapi tidak lama kemudian wanita yang dicari itu muncul bersama Darlina yang mengenakan gaun yang begitu pas ditubuhnya serta riasan wajah dan rambut yang di kepang dengan gaya Crown Braid yang membuat Darlina terlihat lebih elegan.
"Bagaimana?" tanya Tante Lestari.
"Cantik!" puji Kalman yang terpesona dengan penampilan Darlina yang di make up tipis yang membuat wajahnya terlihat cerah dan cantik alami.