BAB 12 MAKAN MALAM SOSIALITA

1109 Kata
Mereka tiba di rumah Mama Kusnita, penampilan sederhana namun anggun membuat Darlina tampak begitu bersinar seperti seorang ratu. Mama Kusnita yang melihat penampilan menantunya tampak sangat bahagia sekali. Bagaimana tidak jika saat ini semua mata yang menatap berdecak kagum saat melihat kecantikan Darlina. "Ya ampun, Jeng. Menantu Jeng memang sangatlah cantik, ya. Nggak nyangka loh ternyata lebih cantik dari Silvia, pantas saja Kalman mengganti mempelai wanita di hari pernikahannya," komentar salah satu teman Mama Kartika. Mendengar nama Silvia disebut wajah Kalman tampak datar sementara Mama Kusnita bersikap tidak peduli. Sejak awal dia memang tidak terlalu setuju jika anaknya akan menikah dengan Silvia. "Sini duduk dekat Mama, Sayang," ajak Mama Kusnita. Darlina pun langsung melangkah dengan anggun dan duduk di samping mertuanya. Sementara Kalman ikut duduk di samping Darlina. "Darlina ini, selain seorang sekretaris Kalman yang handal dia juga pintar sekali memasak loh, Jeng," ucap Mama Kusnita dengan bangga. "Wah, paket lengkap dong, Jeng. Udah cantik, pinter masak, pinter kerja. Tinggal nunggu dikasih cucu saja." "Iya dong, Jeng. Doain aja sepulangnya mereka bulan madu saya langsung dapat cucu," sahut Mama Kusnita bersemangat. Acara makan malam benar-benar berjalan dengan sangat lancar. Mama Kusnita merasa sangat puas karena Alina juga sangat supel dan memiliki attitude yang baik sehingga ia tidak malu kepada rekan sosialitanya. Sementara Kalman bersikap perhatian dan romantis karena ingin memperlihatkan kebahagiaannya pada Tante Kiki-temannya silvia, dia yakin sekali kalau wanita itu pasti akan memberikan kabar tentang dirinya pada Silvia. "Eh, gimana arisan kita lusa? Di rumah Jeng Kusnita, kan?" tanya Nyonya Risa. "Gimana kalo di rumahku aja, Ma," usul Kalman. "Darlina bisa menyiapkan makanan buat temen-temen Mama. Sekalian nyicip masakannya juga, iya kan, Sayang," kata Kalman sengaja mencium tangan Darlina ketika menyadari Tante Kiki mengarahkan kamera ponselnya pada mereka. Kalman ingin Silvia melihat kalau dia bisa bahagia meski tanpa dirinya. "Eh, Darlina apa nggak keberatan, Nak?" tanya Mama Kusnita. "Nggak dong, Ma. Aku nanti bakalan masak yang banyak bersama Mbak Theana dan Mbok Marinem," jawab Darlina. Wajah Mama Kusnita pun berbinar seketika, dia bisa membanggakan masakan menantunya pada teman-teman nya nanti. "Baiklah kalau begitu, lalu kalian kapan mau pergi bulan madu? Mama nggak mau nunggu lama-lama loh. Kalian jangan nunda kehamilan, ya," kata Mama Kusnita dengan tegas membuat Kalman menelan salivanya. Bagaimana bisa mamanya meminta anak. Sementara statusnya dan istrinya hanya pernikahan kontrak setahun saja. Kalman tersenyum menutupi keresahannya kemudian menjawab pertanyaan mamanya. "Kami berangkat besok, Mah." Semua yang mendengar jadi tersenyum nakal dan menggoda pasangan pengantin baru itu. Saat ini mereka jadi pusat perhatian dan pusat pembicaran yang tak ada habisnya. Selesai makan, para wanita berpakaian mewah itu duduk sambil bercerita di ruang tamu. Darlina pun ikut bergabung sementara Kalman memilih beristirahat di kamar. Seorang wanita berhijab duduk di samping kanan Darlina. "Apakah kamu bahagia, Darlina?" tanyanya membuat Darlina mengerutkan kening. "Saya Mila, mamanya Azril." Sontak mata Darlina melotot sempurna, dia sedikit gugup, tapi dengan cepat ia menguasai dirinya. Sebisa mungkin Darlina bersikap biasa saja, dia tidak boleh menunjukkan kekagetan sebab ditegur tiba-tiba oleh Mamanya Azril. "Azril begitu mencintaimu dan berencana akan segera melamarmu. Akan tetapi kamu malah menikah dengan orang lain." Tante Mila menatap Darlina tanpa tersenyum. "Tapi Azril yakin sekali kalau kamu terpaksa menikah dengan bosmu itu, jadi dia memutuskan untuk tetap menunggumu." Dada Darlina terasa sesak mendengarnya, sekuatnya dia menahan diri agar tidak menangis agar tidak mempermalukan mertuanya. "Darlina, Tante mohon. Jangan buat Azril memiliki harapan semu. Temui dia dan katakan padanya untuk mencari pengganti di-" "Sayang, ini bagus yang mana?" tanya Mama Kusnita menghentikan ucapan Tante Mila. Darlina bersyukur selamat dari mamanya Azril, dia segera menunjuk kalung yang memiliki liontin mutiara kecil dengan dilingkari emas murni. Terlihat simpel tetapi mewah. "Ini, yah?" Mama Kusnita mengangkat kalung pilihan Darlina. Darlina mengangguk, mengiyakan. Setelah itu dia tidak mau lagi menoleh ke kanan karena takut kembali pada pembahasan tentang Azril yang akan membuatnya bersedih. Awalnya dia benar-benar bersemangat untuk berinteraksi dengan teman sosialita mertuanya, tetapi kehadiran mamanya Azril membuat ia merasa kurang nyaman. Apa lagi saat acara selesai, hati Darlina makin tak karuan karena Azril datang menjemput mamanya. Untuk beberapa saat mereka beradu pandang membuat Kalman menggenggam tangan istrinya erat. Kalman menatap Darlina tajam seolah mengatakan jangan pedulikan lelaki lain selain dirinya. Meski hatinya belum puas dengan menatap wajah yang di rindukannya, Darlina tak bisa berbuat apa-apa. Dia tau Kalman tak bisa di ajak kompromi meski bertahan sesaat saja untuk melihat Azril pergi. Kalman menarik tangan Darlina kembali masuk ke rumah. "Kamu apa-apaan sih, melotot sampai tidak berkedip lagi menatap lelaki itu!" bisik Kalman setelah berada di dalam rumah. "Emang salahku di mana? Dia lelaki yang sangat kucintai dan aku sangat merindukannya, jadi wajar dong kalau aku memelototinya," jawab Darlina kesal. "Darlina ... Kamu itu istriku!" "Istri kontrak, dan itu hanya setahun!" Pembicaraan mereka terhenti karena Mama Kusnita berjalan mendekati mereka. "Kalian jangan pulang, ya. Kita ngobrol-ngobrol dulu." Mama Kusnita menarik tangan Darlina untuk duduk di sofa. Setelah semua teman-teman Mama Kusnita pulang, mereka pun hanya tinggal bertiga saja. "Mama tadi nggak bercanda soal keturunan loh, Nak. Kamu sudah menikah sah dengan Darlina secara agama dan negara. Jadi, kalau dalam hati kamu masih menanti Silvia, Mama marah. Ingat ya, perusahaan itu masih atas nama Mama. Kamu hanya CEO di sana. Jadi, kalau kamu masih mengharapkan Silvia, mama nggak segan-segan untuk menendangmu dari perusahaan. Dia itu bukan perempuan baik-baik. Jika dia perempuan yang baik, tidak akan mungkin meninggalkanmu di hari pernikahan kalian. Mama nggak mau dapat malu lagi, kamu paham kan maksud Mama?" Mama Kusnita berbicara panjang lebar dan dengan sangat tegas pada putranya. Kalman menarik napas panjang, di dalam hatinya memang masih sangat mencintai Silvia dan Entah sampai kapan wanita itu akan mengisi hatinya. "Oh iya, Darlina sayang, kamu benar-benar tidak keberatan memasak untuk teman-teman Mama, Nak? Kalau tidak bisa nggak apa-apa nanti mama pesan di restoran langganan Mama saja," kata Mama Kusnita yang nada bicaranya langsung berubah saat bicara dengan Darlina. "Mama tenang saja, nanti Darlina akan buatkan beberapa macam masakan untuk teman arisan Mama, ya. Lagi pula kan ada Aulia sekarang di rumah, nanti dia bisa bantu-bantu." Mama Kusnita mengelus pipi menantunya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Makasih ya, Sayang. Maaf, ya. Mama belum sempat bertemu adikmu. Sekarang dia sudah kelas tiga SMA, kan? Nanti suruh dia kuliah di Jakarta saja biar bisa bareng sama Katharina. Mama yang akan membiayai kuliahnya,” ucap Mama Kusnita tulus. Katharina adalah adiknya Kalman, saat mereka menikah dia tidak ada karena sedang mencari keberadaan Silvia. "Terima kasih, Ma. Nanti akan kutanyakan pada Aulia." "Oh iya, tadi kamu terlihat serius sekali dengan Jeng Mila. Kalian membicarakan apa saja?" tanya Mama Kusnita. Darlina membuka mulut hendak berbicara, namun saat melihat mata Kalman yang berkilat dia segera menutup mulutnya kembali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN