"Mah, Mbak Theana kok enggak ke sini?" tanya Kalman mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan Azril.
"Theana tadi mau ke sini, tapi batal karena merasa lemas. Perubahan hormon serta pertumbuhan janin menjadikan rahim seorang Ibu hamil semakin besar ke arah atas pada saat memasuki bulan keempat kehamilan. Hal ini membuat seorang ibu hamil akan sering merasakan sensasi panas, serta nyeri d**a dan juga perut kembung. Nanti kalau Darlina hamil pun berkemungkinan akan merasakannya," jelas Mama Kusnita bersemangat.
"Mama sangat berharap kalian secepatnya akan memberi Mama cucu."
Darlina dan Kalman saling pandang, mengingat status pernikahan kontrak mereka yang hanya berlaku selama satu tahun ditambah lagi dengan masih ada Azril yang menguasai hatinya Darlina, maka memiliki anak adalah suatu hal yang sangat mustahil untuk mereka wujudkan.
"Mama tau kalian belum bisa saling mencintai dan Mama juga yakin kalau kalian belum melakukannya. Tapi demi Mama, tolong jadilah keluarga harmonis dan berikanlah Mama banyak cucu. Mama mohon, Nak," pinta Mama Kusnita penuh harap.
Kalman benar-benar terdiam, selama ini dia memang paling tidak bisa membantah ucapan sang Mama. Hal itu pulalah yang di manfaatkan oleh Mama Kusnita saat ini.
Semuanya berawal dari kejadian sebulan yang lalu, saat itu Mama Kusnita baru pulang dari mengunjungi panti asuhan bersama teman-temannya. Tiba-tiba saja, perhatiannya tertuju kepada calon menantunya yang sedang memasuki restoran jepang. Karena kebetulan Silvia bersama mamanya, maka Mama Kusnita berniat hendak menyapa mereka.
Akan tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar pembicaraan ibu dan anak itu, untungnya mereka sangat asyik mengobrol sehingga tidak menyadari kehadiran Mama Kusnita.
"Duh, bentar lagi kamu menikah dengan orang kaya. Akhirnya cita-cita ibu jadi orang kaya kesampaian juga. Inget ya, kamu nanti harus kasih jatah bulanan yang banyak buat ibu. Kalman itu kan orang kaya, perusahaannya cukup maju dan dia pasti punya banyak uang," tuntut Mamanya Silvia.
"Iya, Bu. Nanti aku akan merayu mas Kalman supaya dia meminta pada mamanya untuk membalik nama perusahaan menjadi miliknya. Karena perusahaan itu masih atas nama mamanya."
Mama Kusnita mengepalkan tangan menahan emosi yang ingin meluap, dia tidak menyangka kalau calon menantu dan besannya itu memiliki rencana selicik itu. Dengan cepat dia merekam percakapan mereka.
"Ya makanya itu, kamu nanti harus bisa mengeruk harta Kalman. Percuma dong punya suami tajir kalau gak bisa hidup mewah."
"Tapi, dia kan punya kakak dan adik juga, Bu. Mereka juga punya hak atas harta Mamanya Mas Kalman."
"Alaah, kamu tinggal singkirkan aja. Nanti kamu minta beberapa aset menjadi atas namamu."
"Ah, kalo itu gampang aja, Bu. Aku yakin banget deh kalo mas Kalman itu bakalan ngikutin keinginanku."
Mama Kusnita menggelengkan kepala karena merasa geram. "Sial! Rupanya mereka berdua memiliki keinginan terselubung untuk menikahi anakku. Aku harus bisa membatalkan pernikahan mereka," gumam Mama Kusnita di dalam hati.
Tak lama kemudian Mama Kusnita meninggalkan kedua ibu dan anak yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Dia berencana akan memberitahukan pada putranya, tapi mengingat Kalman telah dibutakan oleh cinta Silvia akhirnya Mama Kusnita memiliki rencana lain. Ya, kegagalan Kalman menikah dengan Silvia memang ada campur tangan Mama Kusnita di dalamnya, dengan cara memaksa Silvia untuk pergi di hari pernikahannya dengan Kalman.
Saat itu Mama Kusnita melihat Darlina yang keluar dari kamar tempat Silvia dirias, dia segera masuk dan melihat wanita yang mengenakan gaun pengantin sedang berputar-putar di depan cermin.
"Batalkan pernikahan ini!" Mama Kusnita berkata langsung pada inti pembicaraan.
"Ma-maksud tante apa?" tanya Silvia kaget.
"Aku tidak menyetujui pernikahan kalian! Aku tidak mau kamu menjadi menantuku!"
Silvia melongo menatap calon mertuanya dengan perasaan bingung.
"Berapa yang kamu mau supaya kamu pergi jauh dari kehidupan Kalman? Uang? Sebutkan berapa nominalnya! Aku akan memberikan kamu uang itu. Tetapi, saat ini juga kamu harus pergi dari kota ini sejauh mungkin. Terserah kamu mau pergi ke mana. Kamu mau ke luar negeri sekalipun akan aku siapkan segalanya!"
Mama Kusnita menatap calon menantunya itu dengan mata tajam.
"Jika aku tidak mau?" tantang Silvia dengan berani. Tentu saja dia tidak mau meninggalkan Kalman yang menjadi sumber keuangannya.
Mama Kusnita mencibir lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Kamu ada laptop? Kamu bisa putar ini ... atau ah, bagaimana jika aku kirimkan salinan filenya?"
Mama Kusnita pun segera mengirimkan beberapa file dari ponselnya yang memperlihatkan bukti rekaman ibu dan anak itu yang sedang membicarakan tentang rencana mereka untuk menggerogoti hartanya Kalman.
Silvia tersenyum meremehkan. "Tante ... Tante! Memangnya Tante pikir dengan video ini Kalman akan membenciku?"
Mama Kusnita pun ikut tersenyum. "Oh, ya? Kamu yakin? Coba kamu lihat lagi!" perintah Mama Kusnita setelah mengirim video dan foto andalannya.
Silvia segera membuka beberapa video dan foto-foto yang dikirimkan oleh Mama Kusnita . Wajahnya pun pucat seketika saat menatap layar ponsel di tangannya.
"I-ini ... dari mana Tante mendapatkan ini semua?" tanya Silvia gugup.
"Kamu tidak perlu tau aku mendapatkan ini dari mana. Yang jelas, jika kamu tidak mau pergi dari kehidupan Kalman, aku akan pastikan semua ini akan tersebar. Jika itu terjadi, Kalman akan membencimu dan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa."
Mama Kusnita yakin Silvia akan menuruti keinginannya, karena Video yang ia dapatkan dengan susah payah itu pasti akan berhasil membuat wanita itu terguncang.
Silvia panik, ia tidak bisa mengelak jika video-video m***m itu adalah dirinya dengan mantan bosnya yang bernama Gunawan. Yang tidak bisa ia duga sama sekali bagaimana bisa Mama Kusnita mengetahui kelakuannya di luar sana. Padahal ia selalu melakukan semua dengan rapi dan secermat mungkin.
"Saya mencintai Kalman, Tante. Bahkan hubungan kami juga sudah jauh. Bisa saja saat ini saya hamil cucunya Tante," ucap Silvia memelas.
Mama Kusnita kembali mencibir, "Jangan mimpi! Kamu mungkin pernah tidur dengan anakku. Tapi, apa kamu lupa jika tubuhmu itu juga dimiliki oleh banyak orang? Jangan ketinggian jika bermimpi! Nanti kamu jatuh lalu sakit. Sudah katakan berapa yang kamu minta saat ini? Aku akan memberikannya sekarang juga! Dan kamu harus pergi sejauh mungkin!"
Silvia menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, dia berpikir lebih baik menerima tawaran ibunya Kalman dari pada tidak mendapatkan apa pun sama sekali.
"Aku minta lima milyar, Tante," sebutnya yakin. "Juga sebuah rumah di luar negeri."
Mama Kusnita tertawa geli. "ah ... memang perempuan mata duitan," pikirnya . Ia pun segera mengeluarkan cek dari dalam tasnya dan langsung mengisinya dengan nominal lalu menyerahkannya pada Silvia.
"Aku akan memberikan padamu sebesar satu milyar rupiah. Kamu bisa memakainya untuk modal hidupmu. Silahkan kamu pergi ke singapura, di sana ada satu rumahku yang bisa kamu tempati. Ingat, jangan pernah kembali dan mengganggu Kalman lagi! Atau aku akan memperlihatkan sisi burukmu kepada semua orang!" ancamnya serius.
Saat itu Silvia tidak terima, tetapi ketika Mama Kusnita memberikan penawaran yaitu pergi dari kehidupan Kalman dengan sejumlah uang dan sebuah rumah yang ada di singapura, dia segera menyetujuinya. Karena dia pikir, lebih baik ia menerimanya dari pada dia tidak mendapatkan apa pun sama sekali.
Mama Kusnita menyayangi Darlina, maka dia sengaja menyiapkan putri sahabatnya itu untuk menjadi istri Kalman menggantikan Silvia. Dari gaun sampai cincin memang sengaja ia siapkan dengan ukuran Darlina agar acara berjalan dengan lancar sesuai dengan yang ia rencanakan.
Saat ini Wanita paruh baya itu sangat bahagia karena bisa menyatukan Kalman dan Darlina, selanjutnya dia akan meminta keduanya untuk memberikan seorang cucu karena dia yakin dengan kehadiran anak pasti akan memperkuat ikatan pernikahan mereka.