Part 11 Nembak

1800 Kata
Sinar mentari pagi yang masuk melalui celah celah jendela membuatku mataku mengerjap dengan berat. Tangan kokoh Adit masih melingkar di pinggangku. Hembusan nafasnya yang hangat membuatku nyaman sehingga mengurungkan niatku untuk beranjak dari posisiku sekarang. "Hm ...." Adit menggumam, dia sedikit bergerak, walau tetap tidak melepaskan pelukan nya dariku. Aku menggeliat lalu berbalik menghadapnya. "Pagi, Alena," sapa nya saat mata kami bertemu. "Pagi, Adit," sahutku sambil tersenyum kepadanya. Cup Kembali dia mendaratkan kecupan di keningku seperti semalam. "Aku ke toilet dulu, ya," ucapku lalu menyingkirkan tangan Adit dan menyibakkan selimut yang menutupi kami. Dengan langkah gontai, aku berjalan ke toilet yang ada di kamar nya. Toilet nya saja luas dan nyaman. Ada kaca yang cukup besar di sana. Aku mengamati wajahku yang lebam lebam. Ku sentuh pelan, sakit. Tok ... Tok ... Tok ... "Len, Kamu mau mandi sekalian?" tanya Adit dari balik pintu. Perlahan aku mendekat ke pintu dan membuka pintu kamar mandi. "Aku kan nggak bawa baju ganti, Dit," ucapku. Dia berdiri di depan kamar mandi dengan salah satu tangannya menekan tembok di sisi pintu kamar mandi. "Eum ... Aku ada baju. Sebentar aku ambil," katanya lalu menuju ke lemari pakaiannya. Setelah memilih beberapa baju dan celana, dia kembali ke kamar mandi lalu menyerahkan nya padaku. "Punya siapa?" tanyaku menyelidik. "Eum ... Ada deh. Pakai aja lah," katanya lalu berjalan keluar kamarnya. "Apa maksudnya dia ngomong gitu? Baju siapa sih ini? Jangan jangan baju pacar dia yang sering nginep sini juga! Dasar cowok! Di mana mana sama aja," Gerutu di dalam hati. Lalu aku segera mandi dan memakai baju yang di berikan Adit dengan terpaksa. Tentu dengan menekuk wajah. Setelah selesai. Aku menggulung rambut ku ke atas dengan handuk karena masih basah. Aku segera keluar kamar, dan kulihat di meja Adit ada hairdryer. Kupakai saja untuk mengeringkan rambutku. Dengan pikiran yang macam macam, aku kembali memikirkan siapa pemilik pakaian yang kupakai ini? Aku jadi marah-marah nggak jelas. Pintu kamar dibuka oleh Adit. Aku hanya meliriknya sekilas lalu melanjutkan mengeringkan rambutku. "Len ... Sarapan dulu, yuk," ajaknya. "Hm ...." Aku hanya menggumam dengan malas malasan. "Len ... Kamu kenapa?" tanya Adit lalu mendekatiku. "Nggak apa-apa. Oh iya, Nanti aku balikin bajunya. Siapa nih? Aku langsung pulang aja buat ganti baju," kataku lalu hendak pergi. Adit menarik tanganku. "Hei ... Kamu kenapa sih, Len? Kok jadi sewot gini?" tanya Adit heran. "Nggak apa-apa. Aku nggak enak aja pakai baju orang yang nggak kukenal. Nanti dia ngomel ngomel lagi, bajunya kupakai tanpa ijin," jawabku ketus. Adit mengulum bibirnya menahan senyum, seperti biasa. Entah kenapa kali ini aku tidak terpesona pada senyumannya, justru aku kesal dibuatnya. "Tenang aja, Len. Kinar nggak akan marah kok bajunya kamu pakai. Lagian juga dia lagi luar negri. Balik paling kalo liburan aja," jawab Adit lembut. "Oh jadi namanya Kinar?" "Iya, pemilik baju ini namanya Kinar. Dia emang sering nginep sini kalau pas balik dari Aussie, jadi ya bajunya banyak yang di sini." Hatiku panas mendengar penjelasan Adit. Dengan santai nya dia mengatakan hal itu di depanku. Seolah itu hal yang biasa saja baginya. "Kamu kenapa? Eum ... Kamu cemburu, ya, sama Kinar?" tanya Adit serius. "Enggak!" Dia itu peka nggak sih? Masa iya harus aku jelasin lagi apa yang kurasakan sekarang? Setelah semalam dia tidur di sampingku, memeluk bahkan mencium keningku? Dan sekarang dengan santainya dia menceritakan wanita lain di hadapanku. Dia pikir hatiku ini terbuat dari batu? "Ngaku aja, Len. Kamu cemburu kan?" Ledek Adit. "Enggak ah. Ngapain juga cemburu?kita kan nggak ada hubungan apa apa!" kataku tegas. Adit mendekatiku, ia terus mendekatkan wajah nya ke wajahku, lalu tiba tiba dia mencium bibirku. Aku diam saja menerima ciuman dari Adit. Rasanya nyaman sekali dan aku pun menikmatinya. "Aku sayang kamu, Len. Cuma kamu." Kalimat itu terlontar dari mulut Adit sesaat setelah dia mencium bibirku. "Terus siapa Kinar?" Aku masih mengerucutkan bibirku karena sebal. "Hehehe ... Kinar itu adik bungsuku, sayang," kata Adit sambil memencet hidungku. "Hah?" aku kaget. "Kamu cemburu sama adikku sendiri tau. Hehehe." Adit makin tertawa geli melihat wajahku yang memerah karena malu. "Ih ... Kamu jahat!" Rengekku lalu aku memukuli dadanya yang bidang. Dia malah menarik tubuhku ke dalam pelukannya. "Maaf ya. Aku sayang kamu, Lena," ucapnya lembut dekat dengan telingaku. "Aku ... Aku ... Aku juga sayang kamu, Dit." Walau ragu aku juga mengakui perasaanku kepada Adit dan memeluknya lebih erat. "Ya udah, kita sarapan dulu yuk. Aku udah bikinin sarapan buat kamu." Dia menggandeng tanganku menuju ke dapur. Kami sarapan bersama dengan diiringi obrolan ringan. Baru ku tau kalau Adit ini tiga bersaudara, Dani dan Kinar adalah Adiknya. Orang tuanya memiliki perusahaan besar di luar negri sehingga mereka jarang berkumpul bersama. "Oh iya. Kamu nanti tidur sini lagi ya, Len," pintanya. "Eh, Kok gitu? Aku mau beresin rumah, Dit. Udah mirip kapal pecah tuh. Kasian kalau nanti temen temen pada balik," kataku. "Enggak usah. Nanti aku suruh orang ke sana buat beresin semua. Kamu nggak usah ke sana dulu. Aku takut kamu kenapa kenapa lagi," kata Adit serius. "Eum ... Terus baju kerja ku gimana? Aku balik ke sana buat ambil bajuku aja, ya," kataku memelas. "Nggak usah! Nanti kita beli aja. Sekalian beli yang banyak, jadi kalau pas kamu nginep sini nggak usah bingung baju ganti." Dan aku kembali terpaku, tak mampu menjawab perkataannya lagi. Setelah makanan habis, aku beranjak akan mencuci piring yang kotor. "Eh, Nggak usah, kamu duduk aja di sofa. Kaki kamu kan masih sakit," kata Adit. Memang sih masih nyeri. Akhirnya aku menurut saja. Aku duduk di sofa lalu menyalakan TV. "Aku mandi dulu ya, Len. Jangan ke mana-mana!" ancam Adit sambil menunjukku. "Iya emang aku mau ke mana?" tanyaku dengan polos nya. Dia tersenyum lalu masuk ke kamarnya. Selesai dia mandi, dia duduk di sampingku lalu mengulurkan tangannya di belakang ku. Tangannya yang satu menggenggam tangan ku juga. "Dingin, Len," katanya lalu makin merapat kepadaku. Tangannya memang agak dingin saat menyentuhku. Dia menciumi punggung tanganku lembut. Aku masih tidak memindahkan tatapanku dari layar TV di depan. Padahal hatiku sudah tidak karuan, berdekatan dengan Adit seperti ini. "Dit," panggilku manja. "Hm?" Dia masih fokus menatap layar TV sambil tangannya masih menciumi punggung tanganku. "Kita pacaran nih?" tanyaku memperjelas hubungan kami. "Menurut kamu?" Adit menatapku, "kan aku udah bilang tadi, aku sayang kamu. Kamu juga sayang aku, kan?" Aku mengangguk. "Sejak kapan kamu suka sama aku?" Pertanyaan ku membuat senyum tersungging di bibirnya. "Eum ... Sejak kapan ya, Len," gumamnya sambil menatap ke langit langit mencari jawaban yang tepat. Beberapa detik berlalu, namun tak kunjung terlontar kalimat apa pun dari mulut Adit, membuatku geram. "Adit ... Lama banget jawabnya!" rengekku. Dia tertawa lalu memelukku erat. "Mau tau sejak kapan?" Aku mengangguk cepat. "Sejak pertama kali kita ketemu di lift," katanya yakin. "Pertama kita ketemu di lift?" tanyaku ragu. Dia mengangguk yakin sambil menatapku dalam. "Bohong! Kita bahkan nggak kenal. Bohong banget kamu ih," kataku sebal sambil melipat tanganku di depan. "Kamu nggak percayaan banget sih, sayang. Beneran! Memang sih, awal aku lihat kamu ngomong sendri, aku agak heran, ini cewek cantik cantik kok gila, ya, pikirku." Aku langsung memukul lengannya. Dia terkekeh lalu memelukku. "Denger dulu, sayang," pintanya "Oke. Lanjutin," kataku melepaskan pelukannya lalu kembali menyilang kan tanganku di depan dadaku. "Entah kenapa, saat aku lihat kamu waktu itu, jantungku berdebar kencang, Len. Dan semua diperkuat saat kedua kalinya kita ketemu di lift waktu kamu menenteng sepatu sambil lari lari masuk ke lift, saat itu aku ngeliat kamu lucu banget, gemesin. Dan saat aku liat kamu di ruang rapat, aku makin suka sama kamu. Ditambah lagi saat ketemu kamu di Cafe waktu kamu ribut sama mantan kamu. Terus semua bertambah seiring berjalannya waktu dan semakin intens nya kita ketemu selama ini. Apalagi kamu bisa se-akrab itu sama Dani, Aku makin sayang ke kamu," katanya sambil menatap mata ku dalam. Sejauh yang kulihat, semua perkataannya jujur, dia juga terlihat tulus. Aku mengangguk, pertanda mengerti. "Kamu sendiri sejak kapan?"tanya Adit balik ke aku. "Eh ... Aku? Sejak kapan, ya?" Aku mikir sambil menatap langit langit, sama seperti dia tadi. "Heh ... Lama bener mikirnya?" reaksi Adit sama sepertiku tadi, kesal. "Hehe. Sejak ... Kamu narik tanganku waktu kamu dateng ke ruangan ku tempo hari" jawabku. "Serius? Kok bisa, Len?" Tanya nya heran. "Mana kutau. Namanya juga perasaan, nggak bisa milih kapan harus muncul," Kataku cuek. Adit tertawa kecil. "Eh. .. Kita ke Mall yuk. Belanja baju buat kamu,"ajaknya "Eum ... Tapi kakiku belum sembuh banget, Dit," kataku ragu sambil menatap kaki ku lekat lekat. "Aku gendong nanti." lalu dia beranjak dan mengulurkan tangan nya kepadaku. ====== Saat di Mall dia menggandeng tangan ku terus lalu sesekali saat aku berhenti berjalan karena pegal atau sakit dia segera membopongku tanpa malu malu. Malah aku yang malu karena semua orang di sana menatap kami. Kami memasuki sebuah butik pakaian dengan brand terkenal, Adit menyuruhku duduk dan dia yang memilihkan beberapa baju untuk ku. Dia bahkan tidak meminta pendapatku akan baju yang dia pilih. Aku biarkan saja lah. Lagi pula dia inih yang bayar, terserah dia aja. Hanya butuh waktu 1 jam, Adit sudah membeli beberapa potong pakaian kerja untukku, pakaian santai, sepatu, sendal dan beberapa pakaian dalam. Ups. Dia lalu mengajakku makan di cafe yang ada di Mall. ======= Kami segera pulang ke Apartement Adit. Karena hari sudah sore dan lelah sudah bergelayut manja di tubuh kami. "Nih ... Ponsel buat kamu. Pasti kamu mau kabarin temen temen kamu kan, kalau kamu nggak balik kos malam ini," kata Adit sambil mengulurkan sebuah iphone yang mahal kepadaku. "Eum ... Aku nggak mau nerima, Dit," kataku dengan kembali menyodorkan kotak dengan gambar ponsel mahal itu. "Kenapa, sayang?" Tanya Adit heran. "Aku nggak mau kalau semua pemberian kamu itu dianggep aji mumpung buat aku, aku nggak mau orang orang berfikir kalau aku pacaran sama kamu karena sering di kasih barang barang mahal. Dikira cewek matre. Aku mau ponsel lama ku aja, ini simpen kamu. Aku nggak mau," kataku lagi Dia menatap iphone yang ada di tangannya. Dan menghela nafas perlahan. "Ya udah kalau gitu," ucapnya pasrah. "Aku pinjem ponsel kamu aja sini. Aku mau telfon temen ku aja. Kemaren siapa yang ngabarin kamu aku di Rumah sendirian?" tanyaku. Dia memberikan ponsel miliknya. "Nadiya ...." Aku mencari nomer hp Nadia dan menghubunginya untuk memberitaukan keberadaanku. Dan aku juga meminta dia untuk membawakan ponsel serta beberapa proposal yang ada di meja kamarku besok. "Hah? Serius kamu, Len? Kamu ada di Apartement Pak Adit? Wah ... Aigoo!" "Biasa aja kali, Nad, heboh banget," Ucapku santai sambil berjalan ke dekat jendela, memandang suasana di jalanan dari tempat ku berdiri. "Terus kalian jadian, Len??"tanya Nadiya lagi. "Iya. Tapi jangan kasih tau siapa siapa dulu, aku nggak enak kalau mereka tau," kataku sambil melihat Adit yang sedang ada di dapur membuat sesuatu. "Iya, Len. Beres. Pasti Laras bakal heboh banget kalau tau kamu jadian sama Pak Adit." Nadia terkekeh di seberang sana. "Hehehe. Biar aja. Oh iya, kalian balik kapan?" "Nanti malem, Len, semua juga lagi di jalan katanya. Ya udah, nanti lagi ya, Len. Aku mau jalan lagi nih,"kata Nadia. "Oke, Nad, kamu hati-hati, ya. Salam buat semua. Bye." Adit mendekati lalu melingkarkan tangannya di pinggangku. "Di luar hujan. Aku udah bikinin coklat anget, sayang," ucapnya berbisik di telingaku. Aku berbalik menghadapnya. "Makasih, ya." Dia tersenyum lalu menyentuh pipiku lembut dan kembali mencium bibirku. Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Malam yang romantis, bersama pria yang manis. Aku tidak menyangka pria di hadapanku ini sekarang telah menjadi kekasihku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN