Pagi ini kami berangkat bersama ke kantor. Dengan status baru ini, maka kebersamaan kami akan makin intens untuk beberapa hari ke depan. Atau untuk selamanya, kuharap. Awalnya aku masih agak sungkan, tetapi Adit justru ingin kami terus bersama-sama. Dia menjadi lebih protektif padaku. Hari ini aku mengenakan baju yang kemarin dia beli. Kupatutkan diri di depan cermin dan menatap diriku sendiri yang terlihat berbeda dengan balutan pakaian mahal ini. Bahan yang lembut, terasa nyaman dan tidak panas jika kupakai, membuatku terus melebarkan senyum.
"Yuk, berangkat," anaknya sambil menatapku. "Cantik."
"Terima kasih."
Adit terbiasa mengendarai mobilnya sendiri. Bukan tipe bos yang harus memakai supir pribadi. Sehingga, kami pun hanya berdua saja di mobil menuju kantor. Jalanan sudah cukup padat, ini memang sudah masuk jam kantor, dan banyak sekali orang yang memulai aktifitas pagi ini. Jam sibuk.
Kami sampai di pelataran parkir kantor. Adit berhenti di depan pintu lobbi, ia turun lalu menyerahkan kunci mobilnya pada security yang berjaga di depan. "Pagi, Pak," sapa nya sambil menundukkan sedikit tubuhnya.
"Pagi." Adit lantas menjulurkan tangannya padaku. Berharap aku meraihnya, dan walau ada sedikit ragu, aku benar-benar menyambut tangan Adit. Walau dengan wajah sedikit tertunduk. Karena beberapa orang di sekitar kini menatap ke arah kami dengan tatapan bermacam-macam.
Kami mulai berjalan masuk lobbi. Beberapa staf menyapa Adit seperti biasa. Dan Adit juga membalas sapaan mereka dengan antusias. Tangannya terus menggenggam tanganku. Kami berjalan berdampingan sejak masuk lobbi hingga menuju lift.
"Dit, jangan gini, ah. Aku nggak enak dilihat yang lain," bisikku.
"Kenapa? Kan, aku bosnya di sini? Jadi aku berhak melakukan hal ini di kantorku sendiri. Apalagi kamu kan pacar aku. Kecuali kamu pacar orang, mungkin aneh, Len. Dan kalau mereka nggak suka, aku nggak peduli."
Sampai di depan lift, sudah ada beberapa orang yang mengantri akan masuk ke dalamnya. Mereka tidak menyadari kedatangan Adit di belakang, hingga saat lift terbuka, semua orang buru-buru masuk. Adit yang masih menggandeng tanganku dengan santai nya masuk dan berdiri di lift paling depan. Semua orang di dalam heran melihat kami.
"Pagi Pak Adit," sapa mereka saat kami di dalam lift.
"Pagi ...," sahut Adit datar.
Aku hanya diam sambil menundukkan wajah. Aku merasa risih mereka menatapku aneh. Sekarang ada situasi yang sangat tidak membuatku nyaman selama bekerja di kantor ini.
Adit yang melihat sikapku, menoleh.
"Sayang. .. Kamu yakin kaki kamu udah sembuh?" tanya Adit dengan tatapan lembut.
"Udah kok. Lagian ini juga aku banyak duduk aja nanti di kantor." Ku balas menatapnya singkat.
Beberapa orang di dalam lift menatap kami dengan pandangan yang macam macam.
Tapi Adit seakan tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentang kami. Ia justru terus memperlakukan ku dengan baik, sangat. Seolah ingin menunjukkan status kami.
Lift terbuka di lantai 3.
Adit masih menggandengku keluar lift dan mengantarku ke ruangan ku.
"Ya udah, aku balik ke ruangan ku ya, sayang. Kamu baik baik di sini, kalau butuh apa apa kabarin aku secepatnya." Aku hanya mengangguk, menanggapi.
Dia mengecup keningku saat akan pergi. Hatiku begitu bahagia.
Beberapa teman kantorku yang sudah ada di ruangan, menatapku heran.
Dan reaksi mereka tentu saja senang, bahkan beberapa menyoraki ku.
"Makan makan Lena ... Cie." ledek Handi.
Aku hanya tersenyum sambil meletakan jari telunjuk di depan mulutku.
"Wah wah. Yang udah resmi," sindir Nadia.
"Hah?!"
"Lena! Kamu ... Ih," rengek Laras lalu memelukku.
"Nad ... Hape sama proposal ku udah dibawain, kan?" tanyaku.
"Tuh aku taruh di mejamu kok," sahut nya sambil mengangkat dahunya ke arah sudut milikku.
"Wah, nggak nyangka. Kamu jadian sama bos. " cetus Diah.
"Gimana ceritanya, Len?" tanya Laras.
Aku menarik napas panjang, duduk di kursi kosong dan mulai antusias bercerita. Semua hal ku katakan pada mereka, bahkan sampai detil apa saja yang kami lakukan di apartment Adit.
Mereka juga antusias mendengarkan, bahkan reaksi mereka begitu ramai saat Adit melakukan hal-hal romantis padaku.
Inilah kisah cintaku dengan bos pemilik perusahaan ini. Aditya. Sejauh ini semua berjalan mulus, walau rasanya aneh, karena kami berbeda kasta. Bahkan aku sempat ragu. Aku takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan Adit. Dan rasa cemas juga mulai masuk ke sanubari, bagaimana reaksi keluarganya nanti. Mengetahui Adit menjalin hubungan dengan rakyat jelata seperti ku. Apakah mereka akan menerima ku? Atau kami akan dipisahkan, bak film film romantis yang pernah ku tonton, dan novel-novel yang pernah k*****a.