Pagi ini saat hendak berangkat ke kantor, Laras yang hobi menyalakan TV saat subuh masih membiarkan benda itu menyala. Dia bilang, dia tidak suka keheningan. Dan suara TV mampu membuat keadaan tidak terlalu sunyi. Itu memang benar sih. Salah satu kebiasaan ku juga, saat ditinggal di rumah sendirian. Namun acara pagi ini membuatku mengajak mereka buru-buru ke kantor, tanpa sarapan.
"Kurang ajar orang ini!" umpatku lalu mematikan TV dan segera mengambil tas yang biasa kubawa kerja.
"Kenapa, Len?" tanya Nadia yang sedang mematutkan diri di depan cermin ruang tamu.
"Ayok berangkat sekarang!" Aku segera melangkah keluar rumah diiringi teriakan Nadia yang menggema di dalam rumah.
Langkah kubuat cepat saat memasuki sebuah gedung perkantoran besar itu. Beberapa orang mulai mondar mandir di sekitarku, namun tak kuhiraukan mereka semua. Bahkan sesosok wanita berpakaian rapi, mirip karyawati yang berdiri di tengah lobbi, kutabrak begitu saja. Tak ada waktu melayani hantu yang tidak jelas asal usulnya ini. Jeritan dari wanita di belakang, juga taj mamou menghentikan langkahku untuk segera sampai lantai atas.
"Pak Adit. Lena Pak!" Sebuah suara yang kuyakini berasal dari salah seorang temanku, bahkan tak menghentikan langkah ini menuju lift. Apalagi nama Adit yang baru saja kudengar, terasa sedikit membuatku lega. Setidaknya, saat teringat pria itu, aku merasa lebih tenang. Hanya saja sekarang, itu tidak bertahan lama.
Pintu lift terbuka, aku segera masuk tanpa menunggu teman-teman yang sedang berlari mengejar ku. "Tunggu, Len!" jerit Diah, dan tepat saat pintu lift ini tertutup. Aku yakin mereka akan menaiki lift lain yang ada di samping.
Saat pintu lift terbuka, aku segera berjalan angkuh menuju ruangan kerjaku. Memang, hanya tempat itu yang ingin ku datangi dengan cepat. Pintu kubuka kasar. Netra ku mengedar ke segala penjuru ruangan. Dan akhirnya aku menemukan orang yang kucari. Orang yang membuatku murka pagi-pagi sekali.
Handi sedang duduk di depan komputer meja kerjanya. Earphone terpasang di telinganya, yang membuat kepalanya mengangguk angguk, mengikuti alunan musik favoritnya.
Bak terselubung api, aku berkobar-kobar mendekat ke Handi. Ia yang tidak menyadari kedatanganku hanya diam sambil asyik menyanyi dengan suara falsetonya.
Aku melepaskan earphone yang menyumpal telinganya. Sontak Handi terkejut, matanya melotot dan segera beranjak dari duduknya.
"Apa sih, Len?!" tanyanya sambil melotot tajam ke arahku. Sadar aku telah merusak momen santai nya, tapi aku tidak peduli.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Cap tangan berwarna merah tercetak jelas di sana. Tangan Handi terangkat ke atas, ia seperti hendak membalas perlakuanku barusan.
"Kenapa? Mau balas? Silakan! Dasar manusia nggak punya otak!"
"Ada apa sih, Len? Dateng dateng main gampar aja. Kamu kesambet setan mana, sih?" Raut wajahnya menyiratkan rasa emosi, bingung dan kesal menjadi satu.
Di ujung ekor mataku, beberapa orang mulai mengelilingi kami dari jarak jauh. Mereka pasti heran sekaligus menjadikan momen ini sebagai tontonan gratis di pagi hari, yang nantinya berlanjut menjadi gosip hangat seantero kantor.
"Ada apa sih ini?" tanya Arga yang kini berdiri di dekat kami berdua.
"Tau nih, Lena. Aneh!"
"Kamu belum nonton TV, Ga? Lihat channel TV sebelah sekarang!" perintahku ke Arga.
Arga menaikkan alis nya lalu berjalan mengambil remote TV dan menyalakan benda datar yang tertempel di tembok tengah ruangan.
Aku melirik Arga dan kembali menatap sinis Handi. Akhirnya Arga terpaku pada sebuah tayangan yang aku yakin sangat ia kenal sebelumnya.
Tanganku ditarik mundur ke belakang oleh seseorang. Ia menatapku nanar dan penuh kekhawatiran.
"Sayang, Kamu kenapa?" Pria yang baru kemarin meresmikan hubungannya denganku itu, tampak cemas melihatku datang ke kantor dengan berapi-api. Tak mendengarkan siapa pun yang memanggil atau menghadang tadi.
Aku mengatur nafasku yang masih tersengal sengal karena menahan marah sekaligus rasa lelah karena cara jalanku yang terkesan berlari kecil sejak datang ke kantor.
"Hei, Ada apa? Kasih tau aku." Adit membelai lembut pipiku, rupanya tak hanya adegan kekerasan yang akan menjadi topik hangat kantor ini, tapi juga kemesraan yang Adit tunjukkan padaku sekarang. Beberapa orang yang belum mengetahui hubungan kami pasti akan ber-oh- ria serempak sambil menatapku sinis. Mungkin kisah ini pantas disebut, Pangeran dan upik abu.
Dentuman keras yang berasal dari perut Handi membuat kami semua menoleh. Arga memukul Handi hingga tersungkur ke lantai.
" Gue udah bilang apa kemaren? Jangan sampai rekaman itu beredar keluar! " bentak Arga dengan suara tinggi dan membuat beberapa karyawan wanita memandangnya takut.
"Kenapa sih? Kalian itu heboh banget. Cuma kayak gitu kok, kalian kan bilang, kita nggak usah tayangin rekaman itu di sini, ya udah gue jual aja ke stasiun TV sebelah, daripada mubazir hasil kerja gue kemaren. Gue juga butuh duit kali, Ga! Len!" kata Handi dengan tatapan mengiba.
"Elu bener bener ya!" Arga hendak menghampiri Handi lagi lalu ditahan oleh beberapa orang di sana. Perkelahian ini bahkan sampai pada telinga Mas Andre. Ia keluar dari sarangnya, tatapannya bingung Mas Andre membuat beberapa orang di ruangan ini memilih menunduk dan mundur
"Kenapa sih?" tanya Mas Andre menatap kami semua satu persatu.
"Sekarang bukan cuma gue sama Lena aja yang bakal diikutin sosok itu. Tapi elu juga!!m Dan mungkin orang orang yang nonton tayangan itu!!" bentak Arga.
"Lah elu berdua mah dibikin heboh sih..m Santai aja kali. Lagian mana ada setan yang bisa bunuh orang? Itu sih cuma ada di film film horor aja."
"Diam semua! Kalian berdua ikut saya ke ruangan," kata Mas Andre tegas. "Bos, maaf. Biar saya tangani mereka berdua." Pamit Mas Andre ke Adit yang masih berdiri di dekatku.
Adit hanya mendengus sebal. Sambil mengacak acak rambutnya sendiri.
Dua orang yang telah menjalani satu ronde tinju di pagi hari, sedang di sidang oleh Bos Andre. Beberapa orang di ruangan ini masih berkumpul sambil membahas masalah barusan.
"Udah. Udah tenang belum, Len?" tanya Adit sambil merapikan anak rambutku yang berantakan.
Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan.
Dan mengangguk dan tersenyum padanya.
Lili masuk ke ruangan ini dan sedikit berbisik ke Adit. Adit yang sepertinya paham situasinya sendiri, hanya mengangguk dan tersenyum ke Lili.
"Sebentar, Li. Tunggu saya di lobbi."
"Baik, Pak."
"Kamu mau meeting di luar?tanyaku ke Adit.
"Iya. Tapi aku mau memastikan dulu kamu udah nggak apa apa," katanya lembut sambil masih menatapku dalam.
Aku tersenyum lembut, dan segera memeluknya. "Iam fine."
"Jangan khawatir, biar masalah ini diselesaikan sama Andre. Kalau perlu aku juga baka turun tangan, sayang. Jangan marah-marah lagi, ya. Aku takut," rengek Adit dan membuatku otomatis mencubit pinggangnya. Ia tertawa begitu pula aku.
"Oh iya, sayang, eum kamu bisa jemput Dani nggak? Dia kan hari udah bisa pulang. Soalnya aku bakal lembur malam ini. Nanti aku suruh supir ke kos kamu dan malam ini, kamu harus nginep apartmentku. Temenin Dani tuh. Biar nggak aneh-aneh lagi."
"Bisa kok, Dit. Nanti aku ke sana, ya. Kamu hati-hati." Adit tersenyum lalu mencium kening ku lembut. "Love you sayang."
"Love you, too."
Adit berjalan meninggalkan ruangan ini, meninggalkan tanda tanya besar di lubuk hati masing-masing teman kantorku.
Tak lama Arga keluar dari ruangan Mas Andre. Dia segera berjalan mendekat padaku. "Aku lihat-lihat, Pak Adit sama kamu ...."
"Iya, aku sama Adit udah pacaran."
"Wow, luar biasa. Ternyata dugaan ku benar, ya."
"Dugaan apa?"
"Ya tentang kalian yang sama-sama memiliki rasa. Cie."
"Eh kamu balik kapan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Semalem. " Kami berjalan menuju meja kerjaku. Aku duduk di kursi dan Arga di kursi sampingku. Lamanya dia cuti membuat kami banyak memiliki bahan pembicaraan penting yang harus diceritakan.
"Gimana nanti, Ga? Handi ... Dia ikh!"
"Aku juga bingung. Kemarin aku nambah cuti, karena nggak kuat balik ke sini. 'Dia' Menyerang ku, Len."
"Tapi keadaan kamu gimana? Gak apa-apa, kan?"
"Yah, masih. Seenggaknya masih bisa napas nih. Alhamdulillah. Semoga ke depannya nggak akan ada masalah besar lagi. Sekalipun ada, semoga kita bisa melewatinya."
Keseriusan obrolan ini terusik karena suara seseorang berdeham.
"Minggir, Arga! Kursi aku tuh," cetus Rena dengan tampang sebal.
"Minjem bentar juga. Bye!"
=======
Sesuai dengan perintah Adit tadi, Aku menjemput Dani dengan diantar supir pribadi keluarga Adit.
Sebuah mobil mewah berwarna abu abu metalik terparkir di depan kantor dan Pak Slamet yang sudah kukenal sebelumnya tersenyum ramah kepadaku. Dii membukakan pintu belakang mobil untuk ku. Serasa menjadi ratu aku pun tetap sungkan, tanpa memperhatikan sekitar, dan langsung masuk ke dalam. Yah, menghindari tatapan tajam orang lain yang mungkin tidak suka denganku yang berhasil berpacaran dengan pemilik perusahaan ini.
"Mau mampir kemana dulu, Mba?" tanya Pak Slamet sopan.
"Enggak usah, Pak. Langsung aja kita jemput Dani," sahutku sambil menatap jendela di sampingku. Jika aku pulang dulu ke kos, rasanya akan memakan waktu lebih lama. Lagi pula beberapa pakaianku ada di tempat Adit, nanti saja setelah kami sampai, aku bisa mandi di sana.
Pak slamet melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke kantor polisi tempat Dani selama ini menginap. Kasusnya selesai dengan jalan damai, walau harus mengalami beberapa proses di rumah tahanan. Tapi untungnya dia sudah bisa pulang ke rumah hari ini.
Hanya butuh waktu 20 menit kami sampai di sana. Setelah mengurus beberapa syarat dan dokumen, Dani berhasil ku bawa pulang.
Dia tersenyum melihatku, saat aku datang menjemputnya.
"Kakak iparku tersayang," ucapnya sambil memelukku erat.
"Kak Adit nggak bisa jemput, masih meeting," kataku.
"Nggak apa-apa. Sama Kak Lena aja udah cukup kok. Yuk pulang, aku udah bosen di sini," katanya lalu menggandengku keluar. Kami masuk ke mobil lalu pergi ke Apartement Adit.
Saat ini sudah pukul 18.00
Sampai di Apartement kami segera masuk ke dalam.
Dani langsung mandi lalu berganti baju dan duduk di sofa. Kami berencana akan menonton film horor bersama. Aku mandi sementara Dani memesan makanan layanan antar.
Guyuran air hangat membuatku lebih santai sekarang. Rasa lelahku hilang bersama guyuran air hangat tadi. Semua emosi dan kekesalan pun seolah ikut luruh serta.
Selesai mandi aku memakai kaos lengan panjang dan celana pendek selutut. Lalu keluar duduk bersama dengan Dani di ruang tengah.
"Pizza nya udah dateng nih, Kak. Ayok kita makan," ajak Dani. Sambil menonton film kami menikmati pizza di hadapan kami.
Malam semakin larut, sesekali aku menoleh ke pintu, dan ke ponselku. Menunggu Adit pulang. Tumben dia selarut ini, batinku. Namun tak berapa lama, pintu di ujung koridor itu terbuka. Dan orang yang sejak tadi kutunggu, akhirnya pulang juga.
Aku yang sedang bersandar pada lengan Dani, lantas mendapat tatapan tajam Adit.
"Eh, Jangan deket deket. Minggir minggir," kata Adit berdiri di hadapan kami sambil berkacak pinggang.
"Kenapa?" tanya Dani heran tapi kami masih saja fokus dengan film yang kami tonton.
Adit menarik tanganku, lalu menyeret ku masuk ke kamarnya.
"Eh ... Adiit! Apaan sih? Aku lagi nonton film," rengekku.
"Kamu nih, aku pulang, bukannya disambut malah mesra mesraan sama Dani."
"Ya ampun sayang, yang mesra- mesraan siapa? Kamu cemburu sama adik kamu sendiri?" tanya ku heran.
"Yaelaah Kak Adit. Cemburu sama aku? Hm.. Aku sama Kak Lena cuma nonton film doang kok," bela Dani yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar yang memang tidak di tutup.
Adit berjalan ke arah Dani, lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.
Dia berbalik lalu berjalan ke arahku dan tiba tiba memelukku erat.
"Kangen," bisiknya. Sedikit terkejut dengan sikapnya barusan. Dia memang tidak bisa ditebak.
"Aku juga kangen. Eh. Kamu udah makan belum?" tanyaku sambil melepaskan pelukan Adit.
"Udah kok. Kalian udah makan?" tanya Adit.
"Udah kenyang, makan pizza. Ya udah, mandi gih. Buruan." Sambil kudorong Adit masuk ke kamar mandi.
Malam ini aku tidur di Apartement Adit lagi. Aku tidur di kamar dan kedua kakak beradik itu tidur di sofa depan. Rasanya aku masih bermimpi dan enggan bangun dari mimpi indah ini.