Part 9 Lapas

2555 Kata
Kaki ku seperti ditarik dengan kuat oleh sebuah tangan yang dingin. Hingga kepalaku terbentur ranjang dengan keras. "Aw," erangku sambil memegang kepala. Terasa darah mengucur deras dari pelipis kanan ku karena menutupi pandangan mataku. Aku segera beranjak dari posisiku sekarang. Aku benar benar terjatuh dari ranjang dan ini bukan mimpi. Siapa yang menarik kaki ku? Kuamati sekeliling kamarku yang gelap. Tampak di sudut dekat pintu, aku melihat benda berkilat. Kuamati lekat lekat dan kupincingkan mata agar bisa melihat apa yang ada di sana. Astaga! Dia sosok yang kulihat di rumah xxx. Kenapa dia ada di sini? Aku segera meraih lampu di meja samping ranjang dan menyalakannya dengan cepat. Saat lampu menyala, sosok itu hilang. Fyyuhh!! Semoga aku hanya halusinasi saja. Perlahan aku berdiri dan keluar kamar menuju ruang tamu, karena di sana ada kotak obat yang disediakan oleh pemilik rumah. Aku mengambil perban dan obat merah, dengan cermin kecil aku mengobati luka ku sendiri. Saat menatap cermin, aku kembali terkejut karena sosok yang membawa pisau itu kembali muncul di belakangku. Tentu aku menjerit. Saking kaget dan takutnya sampai sampai kaca di hadapanku terjatuh pecah. Aku kembali berteriak histeris saat dia mendekatiku. "Hwa! Pergi! Pergi!" Aku berteriak histeris. Beberapa pintu terbuka, ternyata teman teman ku terbangun mendengar teriakan ku yang cukup keras. "Len? Lena? Ada apa, Len?" tanya Nadiya cemas. Aku memeluknya sambil menangis. "Ada apa?" tanyanya lagi. Aku masih saja menangis. "Ya ampun berdarah, tuh,"suara Rena yang berdiri di belakang Nadiya terdengar jelas. Laras mengambil sapu lalu membersihkan pecahan kaca di lantai. Sementara Diah ke belakang mengambil air minum untuk ku. "Minum dulu." "Lena, kenapa bisa berdarah gini?" tanya Nadia cemas. "Diobatin aja dulu, Len," kata Diah lalu mengambil perban dan obat merah di meja. Aku diam saja karena masih shock dengan kejadian barusan. Aku harus memberitahu Arga tentang kejadian ini. Aku juga tidak menceritakan ke teman teman ku, karena takut mereka terkena teror sepertiku juga. Aku hanya mengatakan kepada mereka kalau aku jatuh dari ranjang. Dan sejauh ini mereka percaya dengan ucapan ku. Setelah semua tenang, kami kembali tidur. Aku minta tolong pada Nadiya, agar malam ini bisa tidur di kamar nya. Aku masih takut jika sosok tadi muncul kembali. Untung Nadiya mau mengerti dan memberikan sedikit tempat untuk ku di ranjang nya. Walau sempit, akhirnya aku bisa tidur nyenyak juga sampai pagi. =============== Pagi nya kami berangkat kerja seperti biasa, berangkat bersama sama. Sampai lobi kantor karena asyik bercanda dengan mereka aku tidak memperhatikan jalan, dan ... Bruughh!! Kembali aku menabrak seseorang. Dan lagi lagi aku tidak sampai jatuh karena tangan kokoh nya meraih tubuh ku yang hendak jatuh. Lagi. "Maaf, Pak Adit," ucapku tidak enak karena sudah dua kali kejadian ini terulang. Dia tidak menjawab malah sibuk melihat luka di pelipis ku. "Lho kepala kamu kenapa?" tanya Adit. "Eum ... nggak apa-apa. Kurang hati-hati aja semalem, Pak," ucapku. Lalu mencoba melepaskan pelukan Adit karena beberapa mata menatap kami sedari tadi. Teman teman ku juga bisik bisik sambil senyum senyum ke arah ku. Aku tau apa yang mereka pikirkan. "Yuk," ajak ku ke mereka. "Eh, Lena! Nanti jadi, kan nengok Dani? Dia ngarepin banget kamu dateng," katanya. "Jadi kok Pak. Pulang kerja nanti saya ke sana," sahutku. "Kita bareng aja, Len. Kan saya juga mau ke sana," pintanya sambil menatap teman teman ku yang sedang memperhatikan kami berdua. "Eum ... Iya Pak. Kalau gitu kami permisi," kataku lalu menarik Nadiya dan yang lain karena masih bengong. Adit tersenyum melihatku menjauh, aku dapat melihat senyuman nya dari kaca yang ada di sekitarku. Kebanyakan dinding pemisah di kantor ini memang terbuat dari kaca yang cukup tebal. Entah apa alasan nya. Saat di dalam lift, semua meledekku karena keakraban ku dengan big bos akhir akhir ini. Mereka pun sudah tau perihal kejadian yang menimpa Dani, adik Adit. Sampai ruangan, aku tidak melihat Arga di mejanya, padahal ini sudah jam masuk kantor. "Ndi, Arga mana?" tanyaku penasaran. "Nggak berangkat Len. Masih di Jogja katanya" Aku hanya ber-oh-ria lalu kembali ke tempat ku dan mulai bekerja seperti biasa. ======== Sore nya, saat pulang. Ternyata Adit sudah menungguku di Lobi. Dia menatapku dalam, saat aku keluar dari lift. Teman teman ku saling melemparkan senyum nakal ke arahku. "Ehem ...." "Sukses, Len!" "Pepet terus, Len," kata Laras. Yang lain tertawa cekikikan. "Udah, Len? Yuk kita pergi sekarang," ajak Adit saat aku sudah dekat dengan nya. Aku hanya mengangguk lalu menoleh ke teman teman ku yang masih memandangi kami dengan tatapan yang nakal. "Ya udah, Len. Kita balik dulu ya. Kamu hati-hati," pamit Diah. "Dadah Lena," kata mereka bersama sama sambil cengar cengir nggak jelas. Adit mengulum bibirnya sambil menatap ke bawah. Dia tersenyum? Manis banget kalau dia senyum seperti itu. "Ya udah, yuk, " kata Adit lalu berjalan ke depan. Dia membukakan pintu mobil untuk ku. Dan memandangiku terus saat aku masuk ke mobil. Duh, kok aku jadi deg deg'an gini yah? Jantungku berdegup lebih kencang. Ayolah Lena ... Jangan kegeeran gitu lah. Kamu tidak sepadan dengan pria ini. Dia terlalu perfect untukmu. Sadar diri, Lena? Kuucapkan kalimat itu berkali kali dalam hati. Kuakui, Adit memang sempurna. Dari semua segi, aku tidak melihat kekurangan dari nya. Cuma 1 itu, ketakutannya terhadap makhluk halus, padahal dia tidak bisa melihatnya. Wanita mana yang tidak tertarik kepadanya. Dan wanita bodoh mana yang menolaknya? Tidak ada. Entah sejak kapan aku jadi simpatik kepadanya. Apakah aku juga jatuh cinta kepadanya? "Aahh ...." aku sedikit berteriak frustasi karena pikiranku tadi. "Len? Kenapa?" Shit!! Aku lupa kalau aku sedang bersama pria yang sedang kupikirkan tadi. "Eh ... Nggak apa- apa. Cuma agak pusing aja sama kerjaan tadi," kataku bohong. Aku menjadi kikuk di hadapan nya tidak seperti kemarin. "Emang Andre ngasih kerjaannya banyak banget, ya? Sampai kamu pusing gitu," katanya tersenyum sambil mengacak acak rambutku. Nyeeess Perlakuannya yang seperti itu yang membuatku makin meleleh. Dan membuatku makin salah tingkah. "Ah iya, nanti mampir beli burger dulu, ya. Kemarin Dani pesan itu," kataku mencoba mengalihkan kegugupanku di depan Adit. "Oke." Tak lama Adit membelokkan mobilnya ke sebuah kedai makanan waralaba yang menjual burger. Kami memesan dengan drive thru sehingga tidak perlu repot turun dari mobil. "Kamu mau yang apa, Len? Sekalian aja," kata Adit. "Eum ... Double cheese burger aja," pintaku. "Oke. Double cheese burgernya 3 ya, Mba. Sama soft drink nya juga." Setelah pesanan kami siap, Adit membayar lalu memberikan kantung burger itu kepadaku, segera dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Butuh 10 menit kami sampai di Kantor polisi tempat Dani sekarang ditahan.Dia sudah ditetapkan menjadi tersangka dan tinggal menunggu sidang 2 minggu lagi. Kami lalu masuk ke ruang tunggu di sana. Aku memainkan ponsel yang ku genggam untuk membunuh waktu. Tak lama Dani keluar sudah memakai baju tahanan. Hatiku teriris sakit melihat keadaannya. Aku segera berdiri untuk menyambut pemuda itu. "Ya ampun, Dani. Kamu nggak apa- apa, kan? Kok lebam gini? Kamu diapain di dalem?" Aku panik melihat kondisi wajah Dani yang babak belur seperti habis dipukuli orang. "Nggak apa- apa kok, Kak Lena. Biasa, ribut sama napi lain. Gini deh jadinya. Hehehe." walau wajahnya berantakan tapi dia selalu tersenyum. Seolah itu bukan masalah besar untuknya. "Ya ampun. Minta dipindah aja ruangannya," pintaku masih memandangi lukanya. " Kak Lena, aku nggak apa- apa. Luka gini doang mah kecil," kata Dani santai. "Kamu nggak usah khawatir gitu, Len. Dani mah jagoan berantem. Udah biasa mukanya bonyok gitu," jelas Adit yang lebih paham atas kondisi adiknya itu. "Oh gitu. Hmm. eh ... Kita tadi udah beli burger lho. Yuk kita makan bareng bareng," ajak ku lalu menarik tangan Dani menuju kursi yang tadi ku duduki. Aku membuka bungkusan burger yang tadi kubawa lalu memberikannya ke Dani. Dia menerimanya sambil tersenyum senang. Aku membuka yang lainnya juga lalu memberikan ke Adit. "Makasih ya, Kak. Kirain Kak Lena nggak jadi ke sini," kata Dani sambil mulut penuh burger. "Ya jadilah Dani. Kan aku udah janji kemaren," kataku juga ikut memakan burger di tanganku. "Eh kepala Kak Lena kenapa?" tanya Dani khawatir. "Oh ... Ini? Jatuh dari kasur semalem," jawabku santai. "Yakin Kak? Luka kaya gitu karena nggak sengaja jatuh dari kasur? Kok kayak terbentur keras banget sih, Kak?" tanya Dani membuka perban di kepala ku untuk memeriksa lukaku. "Eum ... Iya yakin. Udah ah. Makan lagi burgernya. Dingin nggak enak loh." Dani menutup perban ku lagi dan melanjutkan makan burgernya. Aku melihat saus ada di ujung bibir Dani karena ukuran burger yang cukup besar sehingga tidak muat masuk sepenuhnya ke mulut. Segera ku ambil tissue dari dalam tas ku, lalu mengelap bibir Dani yang belepotan. "Makan kaya anak kecil aja," ucapku sambil mengelap mulutnya. Dia hanya tersenyum. Lalu saat menengok ke Adit, ternyata dia juga sama aja. "Kamu juga, sama aja kaya adikmu. Belepotan ke mana mana." Aku mengelap mulut Adit juga. "Ehem ... ehem." Dani berdehem sambil melirik kami berdua. "Eh ... Kenapa reaksi kamu gitu, Dek?pas Lena ngelap bibir kamu, kamu biasa aja, tapi pas Lena ngelap bibir Kakak kok kamu heboh?" Adit protes dengan reaksi Dani yang seolah meledek kami berdua. "Ya jelas bedalah, Kak. Aku nggak mungkin punya perasaan sama Kak Lena, sedangkan Kakak? Eum ... Bisa jadikan kalau ternyata kalian berdua ada hubungan spesial, diliat dari kedekatan kalian ini." Dani menatap kami dengan tatapan menyelidik. "Tunggu ... Jadi menurut kamu, aku ini nggak menarik buat kamu?" tanyaku agak sewot dengan kalimat Dani barusan. "Buat aku sih enggak, Kak Lena, karena mengingat umur Kak Lena yang lebih tua dariku. Aku kurang suka sama perempuan yang lebih tua. Jadi aku nggak mungkin suka sama, Kak Lena," kata Dani cuek. "Eh ... Nggak enak banget itu bahasa nya 'tua'. Aku belum tua tua amat kali. Enak aja ngatain aku tua!" Ku jitak kepalanya karena kesal. Dani malah tertawa lebar. "Oke oke. Aku ganti. Cukup berumur," kata Dani saat tawanya terhenti. "Eh.. Sama aja itu. Cukup berumur sama dengan tua!" kataku sewot. Adit hanya tertawa melihat kami berdebat. "Eh Kak Adit. Besok kalau mau nyari calon istri yang kayak Kak Lena tuh. Asik orangnya, aku setuju banget deh," kata kata Dani membuat wajah ku merona. "Kamu nih. Ngeledek Lena sama aku terus." Adit melempar Dani dengan bungkus burger yang diremas remas. "Eh, kenapa kalian nggak jadian aja sih?" Dani malah makin menjadi meledek kami. Aku pukul lengannya. Dia hanya tertawa terpingkal pingkal. Adit hanya geleng geleng kepala melihat tingkah adiknya. Sekitar satu jam kami ada di sana ngobrol ke sana ke mari dengan Dani. Saatnya jam besuk habis. Kami segera pamit ke Dani karena harus pulang. Saat kami akan keluar, Dani menarik tangan ku. "Kak, besok-besok main sini lagi, ya," pinta Dani, kulihat matanya berkaca kaca menahan air mata. Aku memeluknya sambil membelai punggung nya lembut. "Iya, pasti aku ke sini lagi. Kamu jaga diri baik-baik, ya, di sini. Jangan berantem mulu. Entar nggak ganteng lagi kalau mukamu bonyok kaya gini," kataku sambil menekan luka di wajah nya. "Siap nyonya,"katanya sambil senyum. Adit pun pamit ke Dani. Mereka bersalaman lalu berpelukan. Kami meninggalkan Dani dan segera menuju ke parkiran mobil. "Makan dulu yuk, Len," ajak Adit saat kami sudah di dalam mobilnya. "Boleh. Kamu mau masakin aku lagi?" tanyaku. " Not today. Aku capek banget. Kita makan ke restorant aja, ya,"ajaknya. "Oke." Kami menuju restorant langganan Adit. Katanya sih begitu. Dia juga menceritakan kalau makanan di tempat itu enak sekali. Adit termasuk pemilih dalam hal makanan, jadi jika dia sangat menyukai suatu tempat makan, berarti semua makanan di sana pasti berkualitas. Saat kami memasuki restorant itu, Adit sudah disambut hangat oleh pemiliknya. Mungkin. Dari segi pengamatan ku. Karena kulihat pakaiannya cukup rapi dan berkelas dan semua pelayan nya juga memanggil nya dengan sebutan Bos. "Wah ... Adit! Lama nih nggak ke sini," sapa pria itu. Dia seperti warga keturunan. Agak ala ala prancis gitu mukanya. Tapi bahasa indonesia nya benar-benar fasih sekali. "Iya nih, Rob. Sibuk banget akhir-akhir ini. Masih ada tempat nggak? Kangen masakanmu," kata Adit ke pria itu. "Pasti ada buat kamu. Eh, siapa ini? Baru kali ini kamu bawa wanita ke sini lagi setelah Jena," tanya pria itu sambil menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jena? Siapa, ya? "Ini Lena, Lena. Ini Rob, pemilik restoran sekaligus sahabatku." Aku mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan nya. "Lena." "Robert. Panggil aja, Rob," katanya ramah. "Duduk di mana nih aku? Udah laper, Rob," kata Adit sambil tengak tengok di dalam restoran. "Sana aja tuh. Tempatnya asyik buat berduaan," ledek Rob sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Apa maksudnya itu? Kami mengikuti Rob sampai ke sebuah meja yang ada di luar restoran tapi suasana nya sungguh romantis. Baru kali ini aku makan di tempat seperti ini. Mirip roof top tapi berada di samping restoran. Rob menarik sebuah kursi lalu mempersilahkan ku duduk. "Terima kasih," ucapku. Ia kemudian memanggil pelayan nya lalu memberikan buku menu yang cukup tebal. Kuamati lekat-lekat. Astaga ... Makanan apa pula ini?Namanya susah susah banget. Udah gitu panjang banget lagi. Aku garuk-garuk kepala melihatnya. Ini sama pusingnya kayak Mas Andre ngasih aku deadline kerjaan kemaren. Milih makanan aja pusing gini? "Kamu mau makan apa, Len?" tanya Adit. " Eum ... Apa, ya? Aku ikut kamu aja deh," kataku pasrah. Mending dipilihin daripada salah pilih. Udah gitu nama makanannya ribet ribet, takut salah ngomong. Maklum aku cuma rakyat jelata, boro-boro makan di restoran, melirik saja bisa membuat dompetku tipis. Ehem, hiperbola, gaes. Aku menutup buku menu lalu memberikan ke pelayan tadi. Adit tersenyum melihatku lalu dia memesankan makanan yang entah apa. Aku saja tidak mengingatnya sama sekali saat pelayan itu pergi. Rob pamit karena harus menemui tamu yang lain. Tinggal aku dan Adit saja berdua. Adit memandangiku dari tadi dengan tatapan yang dalam. Duh, kalau gini aku bisa bisa grogi diliatin dia terus. "Dit." "Hm ...." "Bisa nggak, kamu berhenti ngeliatin aku terus," pintaku yang bahkan tak melihatnya saat mengatakan itu. "Kenapa?" "Nggak apa - apa. Risih aja diliatin kaya gitu," kataku berusaha menutupi perasaanku ini. Adit hanya senyum tertahan dengan mengulum bibirnya. Duh, aku makin terpesona dengan kharisma nya. Sial! Kenapa aku harus jatuh cinta dengan bos ku sendiri? Setelah hidangan tersedia di meja kami. Adit segera melahapnya. Dia ini benar-benar kelaparan?Perasaan baru aja tadi kami makan burger. Kami ngobrol santai lagi dan tidak terlihat ada kekakuan dalam obrolan kami. Sampai saat aku melihat seseorang yang sangat familiar. Tari? Kenapa harus dia yang muncul disaat mood ku lagi bagus. Sepertinya dia melihatku dan ternyata dia menghampiriku. "Eh ... Lena? Kamu di sini? Wah hebat juga ya, bisa godain orang kaya, jadi bisa makan di tempat mewah gini." Kalimat tari membuatku geram. Tapi aku berusaha menahan diri untuk marah. "Mending kamu pergi! Aku males liat wajah pengkhianat di sini," ucapku dengan memalingkan wajahku. "Eum. Sorry, Len. Kalau kamu dendam sama aku gara-gara aku ambil Ari. Tapi sekarang aku udah punya gantinya yang lebih kaya dari Ari, kamu bisa ambil lagi Ari. Aku udah nggak butuh dia," katanya dengan tatapan mengejek. Lalu datanglah pria dengan memakai setelan jas mahal sama seperti yang di pakai Adit. Tari bergelayut manja di lengan pria itu. Adit beranjak dari duduknya. Lalu menyapa pria yang bersama Tari. "Lama nggak ketemu, Vic," sapa Adit. "Eh Pak Adit, Eum ... Iya, gimana kabar nya?" tanya pria itu. "Baik. Gimana bisnis kamu?" tanya Adit dengan penuh wibawa. "Ah iya, mungkin lusa saya akan ke perusahaan Bapak. Saya ingin menawarkan kerjasama," kata pria itu. "Hm ... Kita bahas masalah kerjaan di kantor aja ya. Ah iya, Lena. Sini sayang," kata Adit lalu mengulurkan tangan nya kepadaku. Apa? Sayang dia bilang? Aku berdiri dan meraih uluran tangan nya. Tari menatapku bingung. "Ini calon istriku. Alena. Maaf kami permisi dulu ya, kapan kapan kita ketemu lagi. Permisi,"ucap Adit lalu menarik tanganku dan pergi meninggalkan mereka yang terpaku di sana. Setelah membayar makanan tadi tentunya. Adit membuka kan pintu mobil untuk ku. Dia menyentuh pinggangku agak mendorong lembut sedikit tubuh ku untuk masuk ke mobilnya, karena aku masih bergeming dari tadi. "Sorry, Len. Aku bilang gitu, mereka harus di kasih pelajaran. Sebel dengernya," ucap Adit kepada ku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Adit mengantarku pulang ke kos. Lalu segera pamit pulang. Sampai kos jantungku masih berdegup kencang, aku masih tidak percaya atas apa yang terjadi barusan. "Cie ... Yang habis nge-date sama big bos," ledek Laras yang mendapati ku senyum senyum dibalik pintu. Aku hanya senyum senyum saja lalu masuk ke kamar. Laras mengikutiku ingin mendengar ke mana saja aku dan Adit tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN