Part 8 Bertemu Dani

1761 Kata
Ponsel Arga berdering nyaring saat kami berjalan bersama menuju lift. Dia mengangkat telfonnya dan sepertinya ngobrol beberapa saat. Sementara aku menunggunya di depan lift. "Sorry, Len. Lama," ucapnya setelah menutup ponselnya. "Nggak apa-apa kali. Dari siapa, Ga? Serius banget kayaknya," tanyaku basa basi. "Dari pacarku." "Oh. Kamu udah punya pacar ternyata?" "Udah, Len. Tapi dia di luar kota. LDR," ujarnya. Aku hanya mengangguk menanggapinya Lampu lift mulai naik ke atas, dan tak lama lift pun terbuka. Kami masuk ke lift dan segera turun ke bawah. Jam kantor baru saja selesai. Saat keluar lift, aku melihat Adit sedang berdiri modar - mandir di depan pintu masuk. Aku menepuk bahu Arga dan menyuruhnya melihat ke Adit. Arga mengangguk sambil menyunggingkan sebelah bibirnya. Adit yang melihat kami lalu melambaikan tangannya. Kami mendekat ke Adit yang sepertinya sudah lama menunggu kami. "Maaf Pak, lama," kataku basa basi. "Nggak apa - apa, Len. Ah iya, kamu udah cerita ke Arga?" tanya Adit tak sabaran. Aku mengganguk sambil melihat Arga yang dari tadi diam sambil menatap mobil Adit yang terparkir di depan. "Gimana, Ga?" tanyaku yang melihatnya seperti menatap hal ganjil di luar. "Sepertinya Adik Bapak kabur. Karena jasad orang itu belum diketemukan, bahkan keluarganya tidak tau keberadaannya," kata kata Arga sontak membuat ku dan Adit kaget. "s**t! Keterlaluan emang Dani! Nggak pernah berubah!" Adit terlihat sangat marah lalu segera mengambil ponsel yang ada di sakunya dan melakukan panggilan. Ia berbicara agak menjauh dari kami. Sedangkan Arga, masih diam mematung sambil tetap melihat ke mobil Adit. Aku yakin ada sesuatu di mobil itu. "Terus gimana, Ga? Kita harus lakuin apa?" tanyaku ke Arga. "Kita mesti cari jasadnya. Kalau nggak gitu, arwahnya nggak bakal tenang," ucap Arga serius. "Gimana kalau kita datengin TKP nya, Ga?" Arga mengangguk, setuju pada usulku. Tak lama Adit kembali bersama kami dengan raut wajah yang kesal. Sepertinya dia habis marah- marah. "Pak, Bapak tau lokasi tabrakannya?" tanyaku. Adit mengangguk lalu mengajak kami pergi ke sana. Aku dan Adit naik mobilnya, sedangkan Arga memilih naik motornya sendiri. "Dit, apa nggak sebaiknya kita lapor polisi? Mungkin bisa cepet nemuin nya?" tanyaku ragu. "Enggak. Aku nggak mau adikku masuk penjara, kita cari sendiri!" ucapnya tegas. Aku tidak menjawab lagi, karena Adit saat ini sedang kalut dan bingung sekali terhadap apa yang sudah adiknya lakukan. Tak lama kami sampai ke TKP yang sudah diberitahukan oleh Dani, Adik Adit. Dan ternyata Dani juga sudah ada di sana. Kami segera turun dari mobil dan menghampiri Dani yang sedang tengak tengok mencari sesuatu. "Yakin disini, Dan?" tanya Adit. "Iya Kak. Aku yakin banget di sini," ucap Dani ketakutan. "Huft ... Jurang? Gimana cara kita nyari? Kita nggak bisa lakuin cuma berempat aja!" kataku bingung. Mereka bertiga menatapku, pasti mereka sependapat dengan perkataan ku barusan. "Terus gimana dong, Kak?" Dani makin panik. "Jalan satu satu nya kita panggil polisi," ucap Arga datar. "Tapi ...." kalimat Dani terhenti, dia malah menangis. Aku tau bagaimana perasaannya. Bagaimana bingungnya dia di saat seperti ini. Aku mendekati Dani, menyentuh bahunya sambil mengusapnya pelan. "Dani, kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan, kasian orang yang kamu tabrak, dia juga harus dikuburkan dengan layak. Kasian juga keluarganya, mereka pasti bingung nyariin orang itu. apa jadinya kalau itu menimpa keluargamu?" Dia malah tambah menangis histeris. Karena iba, aku memeluknya sambil membelai punggungnya. "Jangan takut, Dan. Kalau kamu mengaku dan bicara baik baik sama keluarganya mungkin mereka akan memaafkan kamu. Siapa tau hukuman kamu jadi lebih ringan." Melihat Dani, aku jadi teringat Agung, adikku, mereka sepertinya seumuran. "Tapi Kak, aku takut di penjara Kak. Gimana kuliahku? Aku malu sama semuanya. Aku malu sama keluargaku. Mereka pasti benci sama aku. Aku malu sama temen-temen ku." Dia masih menangis dan kali ini suaranya terisak karena terlalu lama menangis. "Aku janji, keluargamu tidak akan melakukan apa yang seperti kamu pikirkan. Mereka selalu ada buat kamu, karena kamu adalah keluarga. Dalam keadaan seburuk apa pun, keluarga tidak akan meninggalkanmu. Kamu harus yakin dan percaya itu." aku masih memeluknya sambil mengelus punggungnya lembut, bahkan aku mengecup kepalanya. Entah mengapa, aku makin teringat Agung, karena dia pun sering menangis saat dia masih sekolah jika sedang dalam masalah. Dan aku pun melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan pada Dani sekarang. Perlahan suara tangisnya mereda. Aku melepaskan pelukanku lalu menatapnya dalam. "Panggil polisi aja, Kak. Aku pasrah." kata Dani lemas. Aku tersenyum lega mendengarnya. Bagaimanapun Dani memang harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukannya. Adit menghampiri Dani lalu memeluknya erat. "Kakak nggak akan ninggalin kamu, Kakak akan selalu ada buat kamu, Dek.." ucap Adit bergetar. Jujur aku terharu melihat situasi ini. Adit meraih ponselnya lalu menghubungi polisi. Sambil menunggu polisi, kami duduk di atas batu yang ada di dekat hutan. Semilir angin berhembus pelan di sekitar kami. Aku merapatkan badanku sambil menutup kedua lenganku dengan tanganku sendri. "Len ... Pakai ini." Adit memberikan jas nya kepadaku. "Hah? Eh ... Nggak usah. Gak papa kok," kataku menolak. "Pakai, Len. Dingin..m Nanti kamu masuk angin." Kali ini Adit sedikit memaksa. Terpaksa aku menurut Ponsel Arga kembali berdering. Dia menerima telfon agak menjauh, tak lama dia kembali. Rasanya sedang ada masalah dengan kekasihnya. Wajah Arga terlihat tidak bersemangat sejak pagi. Hm, semoga mereka baik-baik saja. "Eum ... Pak Adit. Maaf, saya harus pergi sekarang," ucapnya sungkan. "Mau kemana, Ga?" tanyaku. "Aku harus ke Jogja sekarang, Len. Penting," katanya serius. "Oh gitu, ya udah nggak apa-apa, Arga. Kamu pergi aja. Makasih, ya udah bantu. Makasih banget, Ga!" kata Adit sambil menepuk bahu Arga. "Iya Pak, nggak apa-apa. Kalau saya bisa, pasti saya bantu Pak. Kalau gitu saya pamit ya, Pak." Arga menjabat tangan Adit dan Dani bergantian. "Kamu hati- hati ya, Len, " ucap Arga sambil membelai kepalaku. Aku hanya mengangguk. Arga pergi ke tempat motor nya terparkir, kemudian melaju dengan kecepatan tinggi. Ada apa ya? Sepertinya ada masalah serius. Pikirku. Setelah Arga pergi aku hanya menatap sekelilingku. Sunyi. Hanya suara dedaunan yang terdengar berisik karena tertiup angin. Tak lama mobil polisi datang. Bahkan ada 3 mobil polisi. Setelah Pak polisi turun dari mobilnya, Adit berbicara kepada mereka tentang apa yang terjadi. Segera saja, beberapa anggota turun untuk menelusuri jurang dan beberapa tempat di sana untuk menemukan jasad itu. Aku masih duduk sambil melihat mereka dari kejauhan. Dani menghampiriku, terlihat mata nya berkaca kaca. Ketakutan, cemas, sedih bercampur jadi satu. Ku ulurkan tanganku di bahunya lalu dia menyandarkan kepala nya di bahuku. Aku membelai kepalanya lembut. Tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. Kami sibuk dengan pikiran kami masing masing. Adit berdiri melihat kami dari kejauhan hanya melemparkan senyum kepadaku saat aku menatapnya. "Kak Lena ... Kak Lena bisa liat hantu, ya?" tanya Dani memecah keheningan kami. "Ya gitu deh," jawabku sekenanya. "Rasanya gimana, Kak? Pasti seru ya, Kak?" tanya Dani mulai mencoba tegar di tengah kegundahan hatinya. "Seru apanya. Stress tau. Eh.. Ngomong ngomong,  Kakakmu takut banget ya sama hantu?" tanya ku berbisik sambil menatap Adit yang masih diam memperhatikan kami. "Itu mah nggak usah ditanya, Kak. Orang Kak Adit tuh paling anti sama yang begituan, aku ajak nonton film horor aja pulangnya dia nggak mau tidur sendiri." Dani ikut berbisik sambil menatap Adit juga. "Hehehe.. Payah banget sih." aku terkekeh geli mendengarnya. lalu menceritakan kejadian saat kemarin di Apartement Adit. "Hah? Masa? Hahahahaha.. " Dani malah tertawa lebar. Seolah melupakan sejenak rasa bersalahnya. "Hust. Jangan keras keras, nanti aku diomelin sama dia," kataku sambil menutup mulut Dani yang tidak berhenti tertawa. "Oke oke... Tapi... Ppttt... Bhaaa hahahaha."  Dia malah makin keras tertawa. Aku tutup mulutnya dengan tanganku sambil ku tarik kepalanya di pangkuanku agar tawanya tidak terdengar ke mana mana. Adit menatap kami heran, lalu mendekat. "Kalian lagi ngomongin apa sih? Sampai gitu ketawanya?" tanya Adit menatap curiga pada kami. "Enggak kok. Ngobrol biasa aja kok," jawabku sambil kucubit perut Dani agar diam. "Eum ... Iya, nggak ngobrolin apa apa kok, Kak. Kak Lena ini lho. Lucu banget," kata Dani masih berusaha menahan tawanya. Adit menatapku sambil menaikkan satu alisnya. Aku hanya melemparkan senyum kepadanya. Tak lama, polisi datang dan berhasil menemukan jenazah orang yang di tabrak Dani yang sudah dimasukan ke kantung mayat yang biasa kulihat di Tv, saat polisi mengotopsi korban pembunuhan. Dani kemudian ikut mobil polisi untuk dimintai keterangannya. Dia menatapku dan Adit sejenak. Terlihat wajahnya sedih. Segera kupeluk dia.. "Jangan takut, Dan. Besok aku ke sana, ya. Mau aku bawain apa?" tanyaku sambil menahan air mata. "Makasih, Kak Lena. Beliin aku burger ya," pintanya dihiasi dengan senyuman. Sepertinya Dani sudah ikhlas dan pasrah terhadap nasib nya nanti. Dani segera dibawa ke mobil polisi. Air mataku jatuh, aku berpaling ke arah lain untuk menyembunyikan kesedihanku. Dani sebenarnya tidak sengaja melakukan itu, dia panik sehingga dia pergi begitu saja. Tapi aku salut, sekarang dia malah sangat berlapang d**a mengakui perbuatannya. Semoga hukuman untuk nya bisa lebih ringan. Adit juga terlihat lebih lapang d**a pada apa yang menimpa adiknya. "Len ... Aku anter kamu pulang dulu, ya " kata Adit. Aku mengangguk pelan. Kami segera masuk ke mobil Adit, meninggalkan tempat itu. "Oh iya, makasih ya, Len," ucapnya sebelum mesin mobil dinyalakan. "Iya Dit. Nggak apa - apa. Aku seneng kok bisa bantu." "Makasih juga buat support kamu ke Dani. Dia jadi lebih tegar menghadapi ini semua. Aku nggak akan mungkin bisa melakukan itu ke dia. Walau kami kakak adik, tapi kami nggak pernah sedekat itu." "Dani itu mengingatkanku sama adikku sendiri. Nggak tau kenapa, mereka keliatan mirip dari sifat dan tingkah lakunya." Adit menyalakan mesin mobilnya. "Kamu berapa bersaudara memangnya, Len?" tanya Adit. "Aku 2 bersaudara. Aku sama Agung aja, Dit. Dia sekarang udah kerja juga. Tapi karena kesibukan masing masing jadi jarang banget ketemu," terangku. "Oh. Orang tua kamu kerja di mana?" tanya Adit sambil fokus menyetir namun sesekali melirik ke arahku. Aku terdiam beberapa saat. Setiap kedua orang tuaku di sebut, rasanya dunia terhenti. "Len? Lena ...." Adit membuyarkan lamunan ku karena melihatku bengong saja sedari tadi. "Eh ... Iya. Maaf." "Kamu kenapa, Len?" "Orang tuaku. Udah meninggal, Dit. 3 tahun yang lalu. Karena kecelakaan," ucapku dengan nada pelan. "Eh ... Maaf ya, Len. Aku turut berduka cita," kata Adit sungkan. "Nggak apa - apa kok, Dit." kembali senyuman tersungging di bibirku. Aku lalu menceritakan tentang kehidupanku pada Adit. Sudah kepalang basah, dan mungkin ini waktu yang tepat. Saat SMU aku sudah bekerja partime sebagai penyiar radio, karena keluargaku bukan termasuk keluarga berada. Aku memang sering sekali aktif di berbagai kegiatan positif sejak SMU. Pengalamanku saat bekerja di Cafe dan di Kantor notaris pun kuceritakan ke Adit. Sampai hubunganku dengan Ari. Sepanjang perjalanan pulang aku menceritakan kisah hidupku ke Adit tanpa sungkan dan malu. Sampai kami tidak sadar bahwa Rumah kos ku sudah terlihat. Adit menghentikan mobilnya. Dan kembali mengucapkan terima kasih padaku. Aku lalu turun dari mobilnya dan melambaikan tanganku saat aku akan masuk ke Rumah. ======= Sampai di dalam, ternyata teman teman ku sedang ngobrol di ruang tamu. "Hai semua," sapaku. "Lena, Dari mana? Kok baru pulang?" tanya Kukuh basa basi. "Biasa nih, ada perlu dulu tadi. Ya dah, aku masuk dulu ya. Capek banget," kataku sambil memijat bahuku sendiri. "Iya Len. Istirahat dulu deh," sahut Rena. Aku pamit ke mereka yang ada di sana lalu masuk ke kamarku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN