Part 7 Ngikut

1022 Kata
Pagi ini suasana kantor agak sibuk dari biasanya. Aku pun sedang mengerjakan beberapa hal sehingga untuk ke toilet saja harus kutahan, jika memang belum diujung. Braaaakk!! Terdengar suara pintu depan divisi kami dibuka dengan kasar. "Lena mana???" teriak seseorang yang baru datang. Semua orang menghentikan aktifitas mereka masing masing lalu menatap pria yang baru saja masuk. "Lena bos? Itu.." kata Mas Andre sambil menunjuk ke arahku yang sedang menatap layar komputerku serius. Aku mendengar Pak Adit datang mencariku tapi tak kuhiraukan, karena aku benar benar harus menyelesaikan pekerjaanku hari ini juga. "Len!! Dicari boss" teriak Mas Andre dari kejauhan. Mas Andre sedang ada di meja Arga, sedang membahas pekerjaan juga. Karena aku tidak bergeming, Adit mendekatiku. Lalu tanpa basa basi menarik tanganku. "Ikut aku.." katanya. Dia menarik tanganku keluar dari ruangan kami. "Eh.. Eh.. Lho Pak.. Ada apa ya? Saya ada kerjaan Pak.. " Aku berusaha menolak walau aku pasrah saja di tarik begitu olehnya. Semua orang menatap kami dengan pandangan yang bermacam macam. Dia tidak menjawab hanya terus menarik tanganku keluar ruangan divisi kami lalu berhenti di dekat lift tak jauh dari ruanganku berada. "Len... " Katanya frustasi. Dia berkacak pinggang lalu memegangi kepalanya seolah sedang mengalami masalah yang berat. "Ada apa ya Pak?" tanyaku bingung. Ini di kantor jadi aku harus memanggilnya seperti yang lain. "Len.. Aku harus gimana? Sosok itu ngikutin aku terus Len! Aku sampai nggak bisa tidur semalem." ucapnya serius. Kulihat wajahnya agak pucat dan terdapat lingkar hitam di matanya. Berarti dia benar benar nggak bisa tidur semalem. "Eum.. Bapak udah tanya adik Bapak?kejadian nya gimana sebenernya?" tanyaku. "Udah.. Iya katanya dia nabrak orang tapi dia udah urus semuanya. Dia juga udah tanggung jawab ke keluarga korban, Len.. Jadi kenapa sosok nya ngikutin aku terus sih?" tanya nya kesal. "Hmm.. Yakin Pak? Adik Bapak tanggung jawab?" tanyaku. Karena kulihat sekarang sosok itu ada berdiri tidak jauh dari kami, memandangi kami dengan ekspresi yang entah bagaimana aku menjelaskannya. Dia seorang pria muda terlihat dari postur tubuhnya. Hanya saja aku tidak dapat mengenali wajahnya karena rusak parah. "Maksud kamu? Adikku bohong?" tanya Pak Adit. "Ya mana saya tau Pak. Sekarang gini, kalau Adik Bapak tanggung jawab, mana mungkin sosok itu terus ngikut sampe sini" kataku sambil menatap di tempat sosok itu berdiri. "Len? Dia disini?" Adit merapatkan tubuh nya kepadaku. "Enggak kok.. Nggak ada" kataku bohong.  Kasian juga, Dia pasti ketakutan banget kalau aku bilang sosok itu ngikut juga sampai sini. "Eh.. Pak.. Jangan deket deket donk. Nanti apa kata orang?" kataku sambil tengak tengok dan agak menjauh darinya. Kulihat dari divisi ku ada beberapa orang yang mengintip. Ah, sial.. Mereka pasti berfikir yang tidak tidak melihat kami seperti ini. "Trus aku harus gimana, Len? Bantuin donk" kata Adit memelas. "Hm.. Ya nanti deh. Saya coba nanya ke Arga, Dia kan lebih paham, Dia juga lebih berani dan bisa komunikasi sama mereka" kataku. "Ya udah kalau gitu, nanti aku tunggu pulang kerja di Lobi. Beneran lho, Len.." katanya sekali lagi. Aku mengangguk lalu pamit kembali ke ruanganku. Adit pun berjalan masuk ke lift, kembali ke ruangannya juga. Sampai di ruanganku, semua mata menatapku. "Eheeem..." Terdengar bunyi siulan. Mereka pasti mengira yang tidak tidak. "Aku nggak ada hubungan apa apa sama, Bosss!!" kataku ke mereka semua. Mereka malah tertawa geli melihat reaksiku. "Ada juga nggak papa Len.."sahut seseorang. "Tau ah.." Jawabku ketus. Aku lalu berjalan ke meja Arga. "Ga.. Boss minta tolong.." kataku berbisik. "Kenapa emang?" Dia yang sedang sibuk melihat komputer akhirnya menoleh ke arahku. Lalu aku menarik kursi yang ada di sebelah Arga dan berbicara padanya serius. "Semalem dia diikutin.. Mobilnya habis di pake Adiknya terus nabrak orang. Sosoknya masih ngikutin terus, bahkan ampe kantor tadi" kataku dengan suara pelan. Arga tampak berfikir. "Nanti coba aku liat keadaan nya" "Keadaannya siapa, Ga?" tanya ku bingung. "Ya si Boss sama mobilnya. Aku juga perlu ketemu sosok itu. Tanyain aja sekalian maunya apa" katanya santai lalu melanjutkan pekerjaannya. "Ya udah, nanti balik kantor ya. Aku balik kerja lagi" kataku sambil menepuk bahu Arga. Arga hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari komputer dihadapannya. "Eh.. Len.. Len... Sini deh!" Baru beberapa langkah aku berjalan, Arga memanggilku lagi. Akhirnya aku balik lagi. "Lihat nih" kata Arga menatap layar komputernya. Ternyata dia sedang mengedit hasil rekaman kami kemarin dirumah xxxx. Apa yang kami lihat dikomputer lebih menyeramkan di banding yang kami lihat langsung. Entah kenapa bisa berbeda. "Handi!!!" panggil Arga. Handi pun mendekat. "Apaan sih?" "Lihat nih.. Kemaren Loe ngeliat kaya gini?" tanya Arga ke Handi. Handi menggeleng pelan sambil menatap layar di depan dengan ekspresi heran. Di layar komputer yang kami lihat, saat kami mengawali liputan, aku berdiri di depan kamera yang dibawa Handi dan ternyata dibelakangku ada sosok menyeramkan yang ikut berdiri menatap kamera juga. Lalu beralih ke halaman, ada beberapa pocong yang sedang berjejer rapi disana. Bukan hanya satu atau dua saja. Tapi banyak sekali. Saat didalam rumah, ada sosok wanita yang menggantung di dapur dengan darah yang terus menetes dari mulutnya, tak jauh dari sana beberapa anak kecil juga berlarian di dalam rumah dengan wajah yang menyeramkan. Dan dikamar, sosok yang kami lihat memegang pisau, ternyata sudah berdiri tepat didepan kamera sambil menyeringai lebar. Tidak tahan melihatnya, sehingga aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Deggg!! "Ga... Argaaa" Aku menarik lengan baju Arga sambil masih menatap ke arah yang kutatap. Di depan ruangan divisi kami, sosok itu muncul sambil membawa pisau yang berlumuran darah sambil menyeringai kepada kami. Arga kaget. "Gimana donk, Ga. Kenapa dia muncul disini sih?" Rengekku. "Eh.. Kenapa sih? Dia siapa?" tanya Handi bingung. Aku bersembunyi di lengan Arga. Yang ini bener bener serem. Baru pernah aku lihat yang seperti ini. Arga seperti membaca beberapa doa. Walau ku rasakan badannya juga bergetar. Apakah dia juga takut sepertiku? "Udah aman, Len" katanya. "Eh.. Ada apa sih? Kalian liat apa?" Handi masih bingung karena kami tidak menjawab pertanyaannya. Perlahan aku menengok ke sosok tadi berdiri dan benar dia sudah tidak ada disana. Baru aku bisa bernafas lega. "Kayanya kita nggak bisa siarin liputan kemaren deh guys" kata Arga cemas. "Iya, setuju Ga.. Bisa bisa kita yang di ikutin terus" kataku yakin. "Eh.. Jangan donk. Kita udah capek capek kesana, lagian juga hasilnya bagus gini lho.. Bakal naik rating nya Ga!!" Handi tidak setuju dengan ide kami. "Nggak! Kita cari tempat lain! Tapi yang ini nggak boleh tersebar!" "Tapi Ga.." "Elu mau di ikutin terus sama sosok tadi? Kalau mau, sama elu urus sendiri! Gue nggak ikutan!" bentar Arga. Handi hanya diam dan pasrah dengan perintah Arga. "Ya udah, aku balik ke meja ku ya, Ga.."kataku pelan. Kaget juga melihat Arga semarah ini. "Iya len.." Kali ini dia lebih lembut. Aku hanya tersenyum lalu kembali dengan pekerjaanku yang sempat terhenti tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN