Part 6 Apartemen Adit

1209 Kata
Pak Adit membuka pintu Apartemen nya, ia mengisyaratkan agar aku masuk terlebih dahulu. "Silakan masuk ...." Dengan langkah ragu aku memasuki kediamannya yang terbilang besar dan mewah. "Duduk dulu, Len. Aku ganti baju dulu, ya," ujarnya lalu masuk ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang tamu. Mungkin itu kamarnya. Enak banget tempatnya. Maklum lah, dia kan Ceo perusahaan besar. Wajar saja tempat tinggalnya seperti ini. Tidak bisa dibandingkan dengan diriku yang hanya remahan rengginang. "Sorry, Len. Lama. Oh iya kamu mau aku masakin apa?" tanyanya sambil berjalan ke dapurnya yang berhadapan langsung dengan tempat di mana aku duduk sekarang. Dia sekarang memakai kaus lengan pendek dan celana panjang yang terbuat dari kain yang halus. "Apa aja deh, Pak. Yang penting cepet mateng. Aku udah laper," ujarku sambil ikut berjalan ke dapurnya dan duduk di meja makan yang berhadapan langsung dengan nya. "Eum ... Ada satu syarat tapi," katanya serius. Dengan menatapku intens. Tuh bener kan, ada udang di balik rempeyek. "Apa ya, Pak?" "Stop manggil aku Bapak! Kita lagi nggak di kantor, Len. Panggil aja Adit, biar lebih enak didenger. Aku belum setua itu kali," ucapnya diakhiri dengan senyuman nya yang manis. Nyess. Entah kenapa aku terpesona dengan senyuman nya kali ini. Sial. "Eum ... Iya Pak, eh ... Adit!" kataku sungkan. Dia membuka kulkas dua pintunya. Kulihat dari tempatku duduk, isinya penuh bahan makanan. Ini beneran? Dia bisa masak? "Eum ... Oke. Aku masakin capcay aja gimana, Len?" tanyanya masih sambil menatap dalam kulkasnya. "Boleh." Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum. Segera dia mengeluarkan bahan bahan makanan untuk membuat capcay. Dengan cekatan dia memotong sayur sayuran. Aku sampai melongo dibuatnya. "Pak. Eh ... Dit. Sejak kapan kamu bisa masak?" tanyaku heran bercampur kagum. Dia sedikit tersenyum geli mendengar pertanyaan ku dan melihatku ekspresi ku. "Udah lama, Len. Setelah aku mulai tinggal sendiri, Eum ... Sekitar 5 tahun yang lalu," terangnya sambil menatap ke langit langit sebentar, lalu melanjutkan masak lagi. Praaaanngggg!! Terdengar bunyi vas bunga jatuh. Sepertinya dari ruang tamu. Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Adit pun melihat ke arah yang sama. "Dit? Siapa?" tanyaku heran. Karena ku pikir di tempat ini hanya ada kami berdua saja. "Aku cek dulu coba." Ia yang hendak beranjak memeriksa, malah kutahan. "Biar aku aja," kataku, kemudian beranjak menuju tempat vas bunga itu jatuh. Tidak ada apa pun yang membuatnya jatuh. Angin? Masa iya? Butuh angin topan agar vas ini jatuh, sedangkan di sini, jendela saja tertutup rapat. Vas bunga ini cukup besar dan berat. Jadi tidak mungkin jatuh sendiri. Ku amati sekelilingku. Di sudut ruangan sosok yang tadi di mobil sedang berdiri di sana. Ih ... Kok bisa ngikut ampe sini juga sih. Mending kabur aja deh! Aku sedikit berlari kecil ke tempatku semula duduk. "Len? Kenapa?" tanya Adit bingung melihatku aneh. "Eh ... Eum. .. Enggak apa-apa. Hehehe," kataku bohong. "Len? Kenapa? Jawab!" paksanya. "Yakin? Beneran mau tau?" "Iya." "Jangan takut lho, Dit." Aku mencoba memperingatinya akan apa yang segera kuberitahukan padanya. Dia mengangguk pelan. Seperti ragu ragu, tapi memang ingin tahu. "Yang di mobil, ngikut ke sini," ucapku pelan, berbisik Dia menghentikan kegiatannya sebentar lalu menatap ke vas tadi jatuh, wajahnya berubah pucat. Cukup lama dia diam dengan posisi itu, dan tentu membuatku takut. Bagaimana kalau dia kesurupan? "Dit? Adit?" Aku terus memanggil dan mencoba menyadarkannya dari lamunannya sendiri. "Eh. Iya, Len?" Dia seperti kaget dengan panggilanku dan juga gugup. "Kenapa?" tanyaku coba memastikannya. "Eng ... Enggak apa-apa, Len. Bentar lagi mateng nih," katanya lalu meneruskan masak lagi. Aku yakin dia ketakutan. Ternyata reaksinya terhadap 'mereka' di luar dugaan ku. Dia lebih takut dariku, padahal dia tidak melihat sosok nya langsung. Gimana kalau dia liat langsung, ya. Huft! Payah nih. ======= 15 menit masakan matang dan siap tersaji di piring "Hm ... Kayanya enak nih," ucapku menatap makanan yang ada di hadapanku. "Makan deh. Katanya laper." Tanpa komando dua kali, aku segera melahap masakan Adit. 2 kata untuk menggambarkannya. ENAK BANGET! Aku benar benar tidak menyangka kalau seorang Ceo sebuah perusahaan besar pinter masak. Walau masakannya sederhana tapi rasanya bintang lima. Dalam sekejap makanan ku habis tak tersisa. Adit hanya senyum senyum geli melihatku makan dengan lahap nya. "Mau nambah?" tanyanya. "Enggak. Kenyang," ucapku sambil menyandarkan punggungku ke belakang dan mengelus elus perutku. "Gimana? Enak nggak ?" tanyanya. "Top banget, Bos. Belajar di mana sih, Dit? Buka restoran aja. Pasti laku," kataku terus memuji masakannya. "Kamu nih. Masak cuma hobi aja, Len. Belum ada niat buat aku bisniskan, " katanya sambil membereskan meja makannya. Wah, kalau gini berasa aku ini bosnya deh. wkwkwkwk. Dia lalu ke belakang mencuci bekas piring yang kotor. "Eum ... Dit, Aku balik sekarang aja, ya. Naik taksi aja nggak apa-apa.. Jadi kamu nggak usah antar ke Kos," kataku sambil membereskan barang barang yang ada di tas. "Eh ... Nanti, Len. Tungguin," katanya gugup. "Hah? kenapa? Aku pulang sendri nggak apa-apa kok." Aku agak heran melihatnya jadi buru buru mencuci piring. "Aku anter aja." Aku diam beberapa saat. Ini orang kenapa, ya? Aneh. "Yuk ... Aku anter aja," ucapnya lagi sambil mengelap tangannya yang basah dengan celemek yang dia pakai, lalu melepas celemek nya dan berlari kecil ke kamar. Tak lama dia keluar dengan pakaian yang berbeda. Lebih rapi karena ditambah sebuah jaket levis yang makin menambah kesan cool di wajahnya. "Yuk. Pulang sekarang," ajaknya. Aku pun pasrah. Kami keluar apartemen, lalu berjalan menuju parkiran mobil. Sebuah mobil berhenti di depan kami. Pengendaranya keluar, seorang pria yang sudah berumur. Lalu memberikan kunci mobil ke Adit. "Kita naik mobil ini," ajak Adit lalu masuk ke mobil ini. Aku ngikut saja. Walau dengan pikiran yang bingung. Jangan-jangan Adit takut naik mobil nya sendiri. Saat di dalam mobil dia banyak diam. Sesekali aku mencuri pandang kepadanya yang sedang fokus menyetir. "Alamat kos kamu mana, Len?" tanya nya memecah kesunyian "Eh ... Itu loh, deket kantor. Sebelum minimarket." Aku agak kaget dengan pertanyaannya yang tiba tiba. Sekarang ini sudah pukul 21.30. Kembali hening. Hanya suara musik pelan dari mobilnya yang memecah kesunyian. "Ini ... Mobil siapa?" tanyaku penasaran. "Mobilku. Tadi sopir di rumahku yang anter," terang nya masih fokus menyetir. "Oh ...." Setelah menempuh beberapa kilometer, kami sampai di kos ku. "Yang itu, Dit," terangku seraya menunjuk rumah kontrakan ku. Adit menepikan mobilnya. Dan akhirnya kami sampai juga. "Makasih, ya, udah dianter sampai sini. Makasih juga makan malamnya," ucapku sebelum aku turun dari mobil. "Len!" Tiba-tiba dia menahan tanganku. Aku yang tadi hendak turun akhirnya menoleh lagi ke arahnya sambil menaikkan sebelah alis "Eum. .. Yang di mobil ku tadi, masih ngikut nggak?" Tanyanya ragu ragu. Aku pun segera menyapu pandang ke mobil bagian belakang secara keseluruhan. "Enggak kok. Dia nggak ada di sini. Udah, Kamu jangan takut gitu. Pulang sana." Dia mengangguk lalu melepaskan pegangan tangan nya dan tersenyum. "Kamu hati-hati, ya,"ucapnya balik. Aku tersenyum kecil. "Harusnya aku yang bilang gitu kali." Aku segera turun dari mobil Adit dan menoleh sebentar ke arahnya untuk melambaikan tangan, memberikan salam perpisahan. Setalah mobilnya pergi menjauh, aku segera masuk ke rumah. Pintu ku buka, hanya ada Nadiya saja di rumah, dia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya. "Lena ... Baru pulang? Gimana tadi?" tanya nya masih fokus dengan beberapa kertas di hadapannya. Aku duduk di sampingnya lalu merebahkan punggungku ke belakang. "Huft! Remuk," ucapku datar. "Apanya, Len?" tanya Nadia lalu menoleh ke arahku "Badan ku, Nad." "Eh ... Kenapa, sih? Ya ampun mukamu kok gitu. Kenapa Len?" Dia baru sadar kalau aku luka luka Aku lalu menceritakan kejadian tadi padanya. "Ya ampun Lena. Tapi nggak apa-apa kan?" tanya Nadiya cemas. "Lecet doang, Nad." Melihat rumah sepi aku jadi heran. "Ngomong ngomong, pada ke mana nih? Tumben nggak keliatan yang lain?" tanyaku sambil tolah toleh. "Biasa! Lagi pada kencan, " tukas Nadia sinis. "Hehehehe. Nasib JONES ya, Nad," kataku ke Nadiya, kemudian diikuti tawa kami berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN