Kami berangkat kantor bersama-sama naik mobil Nadiya. Menjadi teman satu kos membuat kami makin kompak.
Teman-teman ku akhirnya tau, jika aku terkadang bisa melihat makhluk astral, sehingga jika aku bicara sendiri mereka sudah paham dan yang pasti tidak menganggap ku gila.
Sampai di lobby kantor, kami masih bercanda seperti biasanya.
Mereka meledekku dengan Ari yang agak membuatku kesal.
Aku berjalan paling depan lalu berbalik dengan ngomel-ngomel ke mereka.
"Udah deh, nggak usah ngomongin dia terus!" gerutu ku kesal sambil berjalan mundur.
"Len...!!" teriak Laras.
Dia seperti memperingatkan ku akan sesuatu di depanku yang akan ku tabrak.
Saat aku berbalik ...
Bruuuggggh!
Aku menabrak seseorang yang familiar.
Pak Adit!!
Mampus lu Lena!
Aku menabraknya walau tidak sampai jatuh, karena Pak Adit sudah ke buru menangkap ku duluan.
Sehingga posisinya seperti dia sedang memelukku.
"Eh ... Maaf Pak," ucapku dengan perasaan bersalah. Segera ku menjauh dengan menundukkan kepala.
"Nggak apa-apa," sahutnya dengan menyunggingkan senyum, walau aku
Dia kemudian melepaskan ku lalu permisi karena akan keluar kantor. Kemudian dia menuju mobilnya.
"Duh Lena ... Seneng banget bisa di peluk Big boss. mau!" rengek Laras.
Aku hanya diam tak tau harus menjawab apa. Sedangkan yang lain hanya senyum senyum nakal.
"Apa sih?" tanyaku ke mereka.
Mereka hanya menggeleng sambil tetap senyum senyum.
Saat di depan lift.
Aku melihat pemandangan yang cukup membuat nyaliku ciut.
Mereka masuk lift, tapi aku hanya diam mematung sambil menatap ke dalam sana. Karena di sana ada sosok Ibu ibu seperti tempo hari.
"Lena! Masuk ayok!" teriak Rena dengan posisi akan menekan tombol agar lift tertutup.
"Eh. Eum. Aku nanti aja, ya. Ada yang ketinggalan," kataku menutupi ketakutan ku.
Akhirnya mereka naik tanpaku.
Kakiku lemas sekali. Bahkan aku sampai jongkok di tempat.
"Lena? Kamu kenapa?" Tiba tiba ada seseorang yang sudah berdiri di depanku.
Arga.
Dia mengulurkan tangannya kepadaku. Dan akhirnya aku berdiri kembali di bantu olehnya. Lalu ada seseorang lainnya yang kurasa ada di belakang kami. Di ujung ekor mataku, aku melihatnya
Pak Adit.
"Kamu kenapa, Len?" tanya Arga.
"Itu. .. Eum, Tadi di lift. Itu loh, Ga," jelasku gugup.
Karena Pak Adit ada di belakangku, aku hanya tidak ingin dianggap aneh lagi.
"Oh yang di lift? Nggak apa apa kok. Kadang emang suka muncul, tapi nggak jahil," jawabnya santai.
Lalu Arga menoleh ke belakang kami.
"Selamat pagi, pak," sapanya ke Pak Adit.
"Pagi juga." Pak Adit tersenyum.
Sedangkan aku tidak berkata apa- apa. Sepertinya Pak Adit hanya mengambil barang yang tertinggal di mobilnya. Sementara aku gugup karena kejadian tadi.
Lift terbuka kembali.
Aku agak mundur ke belakang, bahkan sedikit menabrak Pak Adit yang ada di belakangku.
Sambil berpegangan di lengan Arga. Sosok itu masih ada di sana. Aku kembali lemas.
"Ayok masuk, Len. Nggak apa apa. Ada aku kok," ucap Arga meyakinkanku.
"Tapi, Ga," rengek ku sambil menggeleng pelan.
"Dia kenapa sih?" Pak Adit jadi penasaran melihatku aneh sepertinya.
"Oh. Eum... Lena trauma naik lift, Pak. Jadi seperti ini," kata Arga bohong.
Arga lalu menuntunku masuk, sambil merapalkan doa. Dan sosok itu ku lihat menghilang. Aku bisa bernafas lega sekarang, hanya saja badan ku masih lemas.
Perlahan Arga menuntunku masuk diikuti Pak Adit juga.
Saat ada di dalam lift aku bersandar di tembok lift.
"Eh Len. Katanya kalian pindah kos ya, jadi bareng bareng serumah?" tanya Arga mencoba mengalihkan pikiran ku tentang makhluk tadi.
"Iya, Ga, deket sini kok."
"Gimana di kos baru? Betah, kan?" tanya Arga.
"Hm. Entahlah. Baru aja dateng udah dapet sambutan. Semoga aja sih nanti 'mereka' nggak bikin aku kaku tiap hari," ucapku agak lebih santai.
"Oh iya Len, nanti kita ada liputan di luar. Di rumah *****" kata Arga ragu.
Rumah itu memang terkenal angker. Satu keluarga meninggal karena di bantai oleh perampok dan banyak orang yang bilang kalau rumah itu menjadi angker setelah kejadian itu.
"Hah? Di sana? Astaga. Nggak ada tempat yang lain?" tanyaku kaget.
"Enggak.. Udah di putusin Mas Andre kemaren. Makanya aku ngajakin kamu."
"Lah.. Kok kamu ngajakinnya aku, Ga. Ya ampun Arga. Aku ketemu yang kayak tadi aja aku kaku, nggak bisa gerak apalagi yang di rumah itu," bisikku agar tidak di dengar Pak Adit.
"Tenang aja, Len. Kan ada aku, lagian juga nggak ada yang mau Len. Masa aku sendirian?" katanya sambil menaik turunkan alisnya.
Aku hanya mendesah kesal sambil menutup wajahku.
Lift terbuka. Kami sampai di lantai ruangan kami. "Mari Pak, kami duluan." Arga pamit ke Pak Adit.
Pak Adit tersenyum lalu mengangguk.
Dia memang baik, sopan dan sepertinya menghargai anak buahnya.
Aku hanya melemparkan senyum kepada Pak Adit, walau masih malu, tapi tidak boleh bersikap kurang ajar, bukan, kepada atasan.
=======
Aku, Arga dan Handi berangkat ke TKP. Dengan langkah yang berat dan malas aku mengikuti mereka.
Kami naik motor. Aku membonceng Arga. Sedangkan Handi naik motornya sendiri.
Setelah menempuh perjalanan 40 menit, kami sampai di lokasi.
Dari luar rumah ini terlihat, eum... Menyeramkan pastinya.
Rumput sudah meninggi tak terawat, cat tembok yang pudar. Entah apa warna dasarnya karena sudah tidak keliatan jelas.
Kami masuk ke rumah itu, karena sepertinya pintu gerbangnya tidak di kunci.
"Ga. Yakin nih?" tanyaku lagi.
Entah sudah ke berapa kalinya aku menanyakan pertanyaan yang sama.
Arga hanya mengangguk dan fokus ke rumah itu.
Handy menyalakan kameranya dan mulai merekam.
"Len, dimulai aja deh.. Di sini kayanya bagus buat kita liput. Nanti baru kita muterin rumah ini terus masuk ke dalam," kata Arga.
"Hmm. Iya terserah kamu aja deh," ucapku pasrah.
"Tenang aja, Len. Jangan gugup, Arga udah biasa di tempat ginian," tambah Handi.
Saat kamera on, aku mulai menjelaskan tentang rumah ini dan berbagai rumor yang tersebar di masyarakat.
Aku mencoba setenang mungkin di depan kamera. Walau aslinya aku dag dig dug tak karuan.
Karena aku sudah melihat beberapa sosok yang sedang memperhatikan kami sedari kami masuk tadi.
Cuuut!!
Kamera dimatikan lalu kami berjalan keliling rumah ini.
Di atas pohon yang ada di samping rumah, aku melihat sosok wanita sedang duduk sambil menggoyangkan kakinya, ia menyeringai menatap kami.
Aku mengeratkan peganganku di lengan Arga sambil menunduk.
Arga melihat ke arah yang membuatku takut.
"Bentar lagi ya," pinta Arga lembut.
Aku hanya mengangguk.
Handi masih fokus dengan kameranya, merekam semua tempat di sini, setiap sudut tak luput dari nya.
Terdengar tawa riang anak kecil di sekitar ku.
"Ga..."aku menatap Arga.
Dia mengangguk, tanda bahwa dia juga mendengarnya.
"Yuk masuk dalem," kata Handi yang ternyata sudah ada di pintu samping rumah.
Arga membukanya, ternyata tidak dikunci. Perlahan kami masuk ke dalam. Menyusuri setiap ruangan.
Di sebuah kamar, ada sosok lain yang sedang duduk di kursi goyang.
"Ih kok kursinya gerak sendri," pekik Handi.
Mungkin yang dia lihat hanya kursi yang bergoyang sendiri, tapi tidak bagi ku dan Arga. Tapi kami tidak berkomentar apa apa.
Kami pindah ke kamar sebelahnya.
Kami melihat ada seorang pria dengan membawa golok ditangannya.
Badannya penuh percikan darah.
Dia menoleh kepada kami lalu menyeringai dengan seringai mengerikan.
Aku dan Arga mundur teratur, Handi bingung melihat reaksi kami.
Sosok itu berjalan mendekati kami.
Kami makin mundur.
"Han ... Balik." perintah Arga ke Handi.
"Hah? Kenapa sih? Tinggal kamar ini aja kok yang kita rekam. Bentar, Ga." Handi masih fokus menatap sekeliling kamar ini sambil terus merekam.
"Len. Lari!" perintah Arga.
Aku segera berlari keluar rumah, Arga menarik Handi keluar.
Aku menabrak sosok wanita yang tadi di kamar sebelah, tapi rasanya bagai menabrak angin. Dan sekelilingku menjadi dingin. Aku makin mempercepat lari ku.
Sampai keluar rumah masih saja aku dikejutkan beberapa anak kecil yang ikut berlarian mengejarku. Aku makin takut dan mempercepat langkahku. Sampai sampai aku tidak sadar kalau aku sudah ada di jalan.
Bruuugggh! Sesuatu menghantam tubuhku hingga berguling ke jalan beraspal.
"Lena!" teriak Arga dan Handi bersamaan, samar, namun aku dapat mendengar mereka. Aku mengerjap, dan melihat mereka berlari ke arahku.
"Ya ampun, Len. Kamu nggak apa apa?" tanya Arga yang menopang kepalaku di pangkuannya dengan raut kecemasan yang tak henti henti nya.
"Astaga... Len?" Suara pria lain, terdengar nyaring. Saat kulihat sepertinya dia yang menabrakku. Tetapi kenapa dia mengenali ku?
PAK ADIT?!
Jadi Pak Adit yang menabrakku?
"Maaf, aku nggak liat jalan. Lena tau tau udah lari di depan mobilku. Ayok kita bawa ke Rumah Sakit," kata Pak Adit panik.
"Ah... Ssh." Aku mengerang kesakitan sambil memegangi kepalaku.
Tanpa dikomando lagi aku diangkat Arga masuk ke mobil Pak Adit.
Aku masih menahan rasa sakit di sekujur tubuhku. Pak Adit sepertinya cemas sekali melihat kondisiku.
"Bentar ya, Len. Bentar lagi kita sampai. Tahan dulu ya," katanya sambil sesekali menatapku yang duduk di samping nya. Sementara dia berusaha tetap fokus dengan kemudi nya.
Tak lama kami sampai di Rumah Sakit terdekat.
Pak Adit buru buru turun lalu berlari ke pintu sampingku. Lalu dibukanya dan segera menggotongku masuk ke dalam.
Ada beberapa perawat yang menawari kursi dorong tapi Pak Adit tidak menggubrisnya malah berteriak meminta di antar ke IGD.
Pak Adit masih membopongku dan mendekapku erat.
Sampai di ruang IGD aku lalu dibaringkan di kasur putih dengan berbagai peralatan lainnya.
Bau khas Rumah Sakit sangat menyengat.
Saat Pak Adit akan pergi. Entah kenapa aku malah menahan tangannya dan menatapnya dalam.
Seolah aku tidak ingin dia pergi dari sisiku.
Dia tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku.
"Ya udah, aku temenin di sini." kalimatnya terdengar bergetar
Tak lama dokter dan perawat masuk dan memeriksa kondisiku.
Setelah memberikan suntikan dan mengobati beberapa luka di kepala dan tanganku, dokter itu berkata pada Pak Adit kalau semua baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya luka ringan saja.
Dan aku pun sudah diperbolehkan pulang.
Ternyata Arga dan Handi menyusul kami ke Rumah Sakit.
Kami bertemu mereka saat mereka bertanya ke loket pendaftaran.
"Len? Gimana?" tanya Arga cemas
Sambil berlari ke arahku.
"Nggak apa apa kok, Ga. Cuma lecet lecet aja," sahutku dengan suara berat.
Ya walau lecet juga sakit kali. Nyeri semua sebadan. Bayangin aja ditabrak mobil walau nggak kenceng kenceng amat. Tetep aja sakit.
"Huft.. Untung deh kalau gitu.. Ya udah aku anter pulang," kata Arga lagi.
"Eum.. Biar saya saja yang antar. Lagipula saya yang nabrak tadi." Pak Adit mengalihkan perhatian kami.
"Eum.. Nggak usah, Pak," kataku sungkan.
"Nggak apa apa. Lagian lebih baik kamu dianter naik mobil aja. Kamu juga belum fit, kan?" kata kata Pak Adit ada benarnya juga.
Kalau aku naik motor bareng Arga, badanku bakal kaku lagi. Karena jarak tempuh yang lumayan jauh.
"Iya, Len. Bener juga kata Pak Adit. Ya udah kalau gitu, aku balik duluan ya, kamu hati hati," ucap Arga lalu pamit ke Pak Adit.
Handi pun melakukan hal yang sama.
Setelah Arga dan Handi menjauh, Pak Adit lalu mengajakku menuju mobil nya dan mengantarku pulang.
"Kalian jadi ngeliput di rumah itu ternyata?" tanya Pak Adit disela keheningan kami di mobil.
"Jadi Pak, kan itu salah satu acara terbaru di stasiun TV kita nanti," sahutku masih menatap jalanan di depanku.
"Kamu ini... Indigo?" pertanyaan Pak Adit mampu mengalihkan perhatianku sesaat dan menatapnya.
"Bukan. Tapi saya bisa melihat mereka," ucapku santai.
"Jadi waktu di lift kemaren itu. Kamu ngobrol sama setan?" tanyanya ragu.
"Hm.. Sebenernya awalnya saya nggak sadar kalau yang saya ajak ngobrol, Eum.. Setan ... Setelah Bapak negur saya, baru sosok itu menampakan wujud aslinya," ucapku.
Dia terlihat mengangguk sambil berfikir.
"Udah lama bisa liat makhluk astral?"
"Ya lama Pak, dari kecil. "
"By the way, gimana hasil liputan tadi? Ada makhluk astral di sana?"
"Nggak usah ditanya, Pak. Sampai sampai saya lari ke jalan saking takutnya," sahutku santai. Pak Adit terkekeh mendengar ku
Namun, aku menekan tengkuk, merasakan hawa aneh di belakang ku. Dari sudut mataku, ada seseorang sedang duduk di belakang.
Aku menoleh perlahan.
Dan ternyata benar, ada sosok yang sedang duduk sambil menunduk. Wajahnya rusak. Badannya penuh luka luka. Seperti habis tergilas mobil dan bahkan truk.
Aku menutup mulutku dan menatap ke samping jendela.
"Kenapa, Len?" tanya Pak Adit.
"Maaf Pak. Ini mobil Bapak?" tanyaku masih menutup mulutku.
"Iya Len. Kenapa?"
"Pernah kecelakaan, ya mobil nya?" tanyaku mencoba mencari tau kenapa sosok itu masih aja di sana.
"Eum.. Kemaren di pakai adikku seminggu. Nggak tau aku nya. Selama aku yang pegang sih belum pernah kenapa napa." Pak Adit agak bingung dengan perkataanku.
"Kapan kapan tanyain deh Pak, sama Adiknya. "
"Em ... emang kenapa, Len?"
"Tuh .. ada yang ngikut di belakang. Wajah sama tubuhnya hancur," kataku masih tetap menutup mulut.
Pak Adit melirik ke belakang. Lalu bergidik ngeri.
"Yang bener, Len?" tanyanya.
"Iya bener, Pak. Bapak mau saya kasih liat?" tanyaku. Sepertinya Pak Adit ini benar benar ketakutan.
Aku agak terkekeh dalam hati.
"Ih kamu nih. Masa kasih liat hal hal kayak gitu. Enggak ah." kalimatnya bergetar menutupi ketakutannya.
"Eh.. Len... Kamu udah makan belum?" tanya Pak Adit masih gugup.
"Ya belom lah Pak. Baru aja jam setengah 7. Dari tadi juga kan aku sama Bapak."
"Kita makan dulu,"ajaknya.
"Ya boleh deh."
"Mau makan apa, Len?" tanya Pak Adit sambil tengak tengok kanan kirinya.
"Terserah Bapak aja."
Kami memutar mutar mencari tempat makan. Dan begitu rencana yang kudengar tadi.
Tapi berkali kali Pak Adit selalu melewati Restoran atau Cafe. Seperti tidak berniat berhenti.
"Pak.. Jadinya makan di mana? Kita udah ngelewatin Restoran sama Cafe dari tadi nih."
"Eum.. Aku bosen makan di sana. Cari yang lain aja ya," ucap Pak Adit gugup.
Entah sejak kapan panggilan kami yang tadinya saya dan bapak berubah menjadi Aku dan Kamu.
Aku sudah mengajaknya makan di warung tenda pinggir jalan, tapi Pak Adit menolak dengan dalih takut tidak higienis.
Huft. Ini orang niat ngajak makan apa cuma pengen muter muter doang sih?
"Pak ... Aku udah laper." Aku mulai merajuk manja kepadanya.
Tak peduli dengan harga diri dan martabatku, aku benar benar lapar. Sedangkan Pak Adit hanya berputar putar saja.
Senyum tersungging di wajahnya melihatku yang kelaparan.
"Eum.. Kita ke Apartement ku aja ya. Aku masakin aja deh," katanya lalu membelokkan mobil masuk ke pelataran parkir.
Hah? Apartemen dia?
Dia ini emang sengaja berencana ngajak aku ke Apartemen nya atau hanya kebetulan saja?
Karena baru saja dia mengajakku ke Apartement nya dengan hitungan detik kami sudah ada di parkiran Apartementnya.
"Yuk, turun," ajaknya saat sudah mematikan mesin mobilnya.
Sedangkan aku masih bengong saja.
Ragu ragu untuk mengikutinya.
Aku belum begitu mengenalnya. Aku takut dia punya niat buruk kepadaku.
"Eh.. Malah bengong. Ayok ... Katanya laper?"
"Eum.. Tapi Pak.. Aku... Eum.."
"Tenang aja, aku udah jinak kok. Aku nggak bakal macem macem sama kamu. Kamu jangan takut," katanya meyakinkan ku.
Lalu dia turun dari mobilnya dan menuju ke pintu mobil di sampingku lalu membuka pintu itu.
Dengan ragu ragu aku melangkah turun dari mobilnya.
Serius nih? Aku diajak ke Apartement nya?
ASTAGA! MIMPI AKU SEMALAM?
======