Part 21 : Maya

3416 Kata

Siang telah tiba ketika Maya melangkah menuju pelataran rumahnya. Semerbak wangi aroma melati terasa begitu segar di hidung Maya. Wajar, beberapa hari ini Maya hanya mencium aroma serbuk kayu dan minyak pelamir di Astana Giri Mandala. Langkahnya tegas menegaskan segala asa yang telah tuntas di hatinya.   Ketika ia memasuki pintu rumahnya, ia tak mendapati siapapun disana. Maya berpikir bahwa semuanya sedang keluar, mungkin salah satu dari dayangnya, entah Nyi Sasmi, Ranti atau Yuli ada di dapur rumahnya. Maya enggan berlama-lama, wajahnya begitu kusam karena debu musim kemarau tertiup oleh sentuhan angin muson timur. Maya merebahkan tubuhnya di ranjang, sejenak ia meluruskan punggungnya. Lalu ia bangkit kembali dan memikirkan kesialan apa yang akan menimpanya.   Maya tak sengaja menu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN