Siang telah tiba ketika Maya melangkah menuju pelataran rumahnya. Semerbak wangi aroma melati terasa begitu segar di hidung Maya. Wajar, beberapa hari ini Maya hanya mencium aroma serbuk kayu dan minyak pelamir di Astana Giri Mandala. Langkahnya tegas menegaskan segala asa yang telah tuntas di hatinya. Ketika ia memasuki pintu rumahnya, ia tak mendapati siapapun disana. Maya berpikir bahwa semuanya sedang keluar, mungkin salah satu dari dayangnya, entah Nyi Sasmi, Ranti atau Yuli ada di dapur rumahnya. Maya enggan berlama-lama, wajahnya begitu kusam karena debu musim kemarau tertiup oleh sentuhan angin muson timur. Maya merebahkan tubuhnya di ranjang, sejenak ia meluruskan punggungnya. Lalu ia bangkit kembali dan memikirkan kesialan apa yang akan menimpanya. Maya tak sengaja menu

