Langit biru diserta awan putih menghiasi cakrawala siang ditengah lautan. Mentari menyengat menguapkan air lautan yang berdesir menyentuh lambung kapal. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat langit yang menyatu dengan lautan. Seakan kapal itu melaju di lautan yang tak berujung. “Kemungkinan besar ini ulah para perompak!” Ujar Madrin, sang nahkoda yang ikut turun. Kapal itu cukup besar dengan lambung lebar, ia yakin bahwa ini kapal pedagang. Namun yang diherankan adalah penghuninya. “Periksa setiap sudut kapal dan ambil semua barang yang tersisa!” Warman memberikan perintah. Lalu lima orang melompat ke dek kapal dan menelusup memasuki kabin-nya. “Tak ada mayat dan tak ada darah, kemana para pelautnya?” Ujar Sintha kepada siapapun yang mau menjawab pertanyaannya. “Pasar

