Part 9 : Susno

1582 Kata
Susno   “Bagaimana dengan pasokan kayu dan batu kita, Ki?” tanya Raden Susno kepada kaki tangannya.   “Kita kekurangan banyak batu, Raden. Menurut para pekerja, logam-logam kita terlalu tumpul untuk memecahkan batu-batu itu.” Tukas Ki Palinggar.   “Sarjito,” Susno memanggil salah satu ajudannya. Sarjito dengan sigap berdiri dan menghaturkan salam hormatnya kepada sang Adipati. “Pergilah ke pasar Rabaya, beli seluruh besi yang ada disana. Lalu tempa menjadi palugada dan bagikan kepada seluruh tukang kayu!”   “Baik, Raden!” Sarjito mengangguk lalu undur diri dari tenda Raden Susno.   Raden Susno terlihat kusut dari hari ke hari. Blangkon yang ia kenakan terlihat miring karena ia sering kali menggaruk rambutnya. Pertanda bahwa beban pikirannya terlalu berat. Beskapnya yang berwarna hitam terasa compang-camping karena posisi duduknya yang berubah-ubah. Melihat hal itu, Ki Palinggar memberikan wejangan bagi pemimpinnya.   “Anda terlihat muram hari ini, Raden?” Ujar Ki Palinggar Jati yang kelihatan lebih cerah daripada Raden Susno sendiri. Ia mengenakan Beskap merah marun dengan blangkon kuning keemasan.   “Yah, aku tahu. Belum selesei masalah ini, masalah itu tiba-tiba muncul.” Keluh Raden Susno.   “Apakah tentang Raden Candrakanta dan Masayu Maya?”   “Hmn,” Susno menggumam. “Aku berpikir, Prabu seharusnya tak menyatakan hal itu.”   “Aku dengar, Masayu setuju dengan keputusan Prabu,” ucap Ki Linggar yang tetap tenang di tempat duduknya.   “Ya, ia anak yang baik. Tetapi,,, Candra enggan untuk menerima keputusan Prabu.” Raden Susno mulai terbuka dengan masalahnya.   “Tentu saja Raden Susno. Keputusannya untuk besanan dengan anda memang berat, namun tentu saja kita harus menerimanya.” Tukas Ki Linggar, “tetapi kudengar, putri Prabu Aryawangsa adalah seorang gadis yang cantik. Beberapa tahun lalu aku pernah melihatnya. Aku yakin, Raden Candra akan menyukainya!”   “Benarkah? Aku bertemu dengan Masayu Ratna ketika ia masih menyusu di gendongan Ratu.”   “Hmn, yah, tentu saja. Namun ia menjadi gadis yang cantik jelita sekarang. Tetapi aku ragu dengan pasangan Masayu Maya nanti!?” Ki Palinggar mengungkapkan perasaannya. Ia adalah seorang amangkurat dan abdidalem. Usianya sudah uzur dan kebijaksaan telah mengalir dalam nadinya. Ia sering ditugaskan untuk utusan kediplomatikan ke Kedaton atau Kadipaten lainnya. Tentu saja, matanya telah berpengalaman dalam mengatasi sifat manusia, tidak ada menipu dirinya. Ki Palinggar merasa, ada sesuatu yang berbeda dari diri Raden Sahastra yang ia temui beberapa tahun lalu. Mata Raden Sahastra selalu memincing ketika menatap seseorang, seolah ia sedang memikirkan bagaimana orang tersebut memandang dirinya. Bagi orang awam kebanyakan, hal itu biasa saja. Namun bagi seorang Amangkurat seperti Ki Palinggar, semuanya terasa berbeda.   “Apa yang engkau ketahui tentang Pangeran, Ki Palinggar?” Tanya Susno.   “Tentu saja, ia akan menjadi seorang Prabu di kemudian hari. Namun,,,” Perkataan Ki Palinggar terhenti, ia tak sanggup untuk menambah beban berat yang dipikirkan oleh Susno saat ini.   “Katakan Ki, untuk itulah engkau kuangkat sebagai Amangkurat. Tugasmu adalah memberikan nasihat padaku!” Tukas Susno mengingatkan Linggar.   “Mohon maaf Raden, engkau pasti mengingat kejadian di masa lalu. Ketika anda mengusir dayang astana bernama Dewi Sanjaya ke hutan Batara.” Ujar Ki Palinggar.   Susno kembali bersandar dan menatap langit-langit tendanya untuk menerawang masa lalu. “Ya, aku ingat. Waktu itu Yudha Aryawangsa masih berupa pengeran, namun ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan ratu sekarang, Ratu Padmi.”   Susno memberi jeda sejenak untuk ceritanya, “waktu itu Dewi sedang mengandung anak haram dari Prabu Yudha Aryawangsa, namun kala itu aku berkhianat dengan membiarkannya hidup di hutan Batara.”   “Disaat bersamaan, Prabu kala itu mengutus pasukannya untuk memenggal setiap kepala dari keluarga Sanjaya, yang menjadi salah satu keluarga peningrat di Kedaton Ardaka.” Sela Ki Palinggar.   “Yah, aku tahu rencananya. Aku seorang tumenggung di pasukan Manggalayuda kala itu. Aku sendiri juga hadir di setiap rapat majelisnya. Prabu Aryawangsa terdahulu begitu geram dengan ulah Dewi Sanjaya. Prabu berpikir bahwa keluarga Sanjaya ingin mengambil suksesi kehormatan tahta di Kedaton Ardaka. Prabu juga berpikir bahwa niat keluarga Sanjaya untuk menempatkan Dewi sebagai dayang Astana adalah untuk memikat hati pangeran Yudha.”   “Namun semua itu keliru, bukan?” Ki Palinggar nenyela lagi.   “Yah, aku juga tahu. Yudha sendiri yang memintaku agar Dewi Sanjaya tetap hidup. Aku berencana mengirimnya ke kota-kota merdeka di Swarnadwipa, namun Dewi menolak. Ia lebih senang hidup dan mati di Jawadwipa, tanah kelahirannya. Kudengar ia tinggal bersama adik-adiknya di Hutan Batara.” Tukas Raden Susno.   “Itulah kenapa, kelompok mereka disebut brandalan Batara.” Ki Palinggar Jati berkata seakan menemukan jawaban yang ingin ia dengar. “Ratu Padmi begitu geram soal hal ini. Ia menganggap semua itu adalah salah dari anda, Adipati. Aku mendengar bahwa Putra mahkota Kedaton Ardaka sangat dekat dengan Ratu Padmi. Tentu saja, pangeran adalah putra kandungnya. Namun aku khawatir, sifat pangeran Hastra sama kejamnya dengan Ratu Padmi.”   “Yah, Padmi Rasakiwi. Keluarga Rasakiwi waktu itu sangat dekat dengan keluarga Kedaton. Aku ingat ketika ayah Padmi mengutuk kejadian itu di hadapan Prabu,,, dan Prabu terpengaruh olehnya. Itu tak lebih dari seorang...”   “Penghasut,,,” sela Ki Palinggar Jati.   “Hmn, benar sekali.”   “Aku berdoa kepada Dewa-Dewi agar kita semua selamat, Raden Susno.”   Susno terdiam sejenak, ia mencoba memikirkan segalanya yang terjadi. Termasuk kemungkinan yang akan terjadi terhadap kedua pewarisnya. Candra akan menjadi pewaris Kadipaten Yudanta ini ketika beristri Ratna nanti. Namun yang Susno khawatirkan bukan putranya, melainkan putri bungsunya, Mayalisa Abikusno. Jika ia dipingit, Maya akan diboyong ke Ardaka dan dijadikan Bendara Ratu Ayu disana. Suatu saat ia akan menjadi seorang Ratu di sisi Sahastra. Tugasnya adalah melahirkan putra-putra mahkota dan mendampingi Prabu menjalankan roda pemerintahan. Tetapi, apakah itu niat dari keluarga Rasakiwi untuk menghapuskan garis keturunan Abikusno. Susno hanya memiliki dua orang penerus sekarang setelah putra sulungnya ia relakan bergabung dengan ksatria Mangkujiwo.   “Aku teringat kepada Prabu Yudha sewaktu muda dulu.” Susno mulai bercerita kembali.   “Anda mengenalnya dengan baik, Raden.”   “Yah, kami berkuda bersama dan berlatih bersama layaknya seorang teman. Lalu ia pernah bercerita tentang dayang Astana-nya yang cantik jelita.”   “Tentu saja, Raden. Ia adalah Dewi Sanjaya.” Sela Ki Palinggar.   “Iya, benar. Waktu itu hubungannya tak direstui karena ayahandanya sudah menobatkan putri keluarga Rasakiwi sebagai istri Yudha kelak. Sebenarnya, ia begitu mencintai Dewi Sanjaya. Namun takdir berkehendak lain. Ia harus merelakan pujaan hatinya terasingkan.” Tukas Raden Susno.   “Hmn, anda begitu mengetahui cerita itu, Raden. Dan sekarang, mereka menganggap pelarian keluarga Sanjaya sebagai kejahatan. Apakah anda mengenal Tumenggung di prajurit kesatuan Manggalayuda saat ini?”   “Raden Rupadi,,,” kata Susno namun ia melupakan nama belakangnya.   “Rasakiwi, Raden,” Sela Ki Palinggar.   “Apa!?”   “Ya, ia adalah adik dari Ratu Padmi dan kabarnya ia dekat dengan Prabu. Bahkan Prabu lebih mendengar ucapannya daripada mendengar nasihat dari amangkurat atau abdidalem-nya.” Jelas Ki Palinggar Jati.   “Ini tak bisa dibiarkan. Prabu harus bersikap adil kepada siapapun.”   “Tapi kenyataannya tidak, mereka menyebarkan isu bahwa keluarga Sanjaya telah berubah menjadi brandal Batara. Prajurit Manggalayuda bereaksi dengan menyisir setiap sudut hutan Batara. Namun akhirnya, brandalan ini meninggalkan Hutan Batara. Terdengar desas-desus bahwa mereka berlayar ke daratan liar Borneo.”   “Borneo, mengerikan. Kehidupan disana sungguh kejam. Banyak suku yang akan memenggal kepala para pendatang.” Susno merasa gerah dengan perkataannya sendiri, ia berbicara seraya menegakkan badannya.   “Tentu saja, raden. Namun apakah anda tahu bahwa Dewi Sanjaya melahirkan seorang putri, mereka akan menjodohkannya dengan seorang anak tetua suku disana. Lalu, pasukannya akan menjadi miliknya,” ujar Ki Palinggar.   “Perang akan segera terjadi jika tidak dihentikan.”   “Tentu saja, raden Susno. Ardaka sendiri yang menyulut api permusuhan, merekalah yang akan memadamkannya. Aku dengar, Raden Candrika menangguhkan sumpahnya untuk bergabung dengan prajurit Manggalayuda. Ia akan berlayar ke Borneo untuk mengejar gerombolan ini.” Tukas Ki Palinggar Jati.   “Apa!?” Susno terkejut. Putra sulungnya akan berangkat berperang di garis depan. Tak dapat dibayangkan seperti apa liarnya daratan Borneo. Pernah tersiar kabar bahwa saking liarnya, ular saja sebesar batang pohon mahoni. “Darimana engkau mendengar hal itu, Ki?”   “Maaf Raden Susno, seorang amangkurat seperti hamba mempunyai kemampuan untuk berbicara dengan sesama amangkurat lain dari jarak jauh. Aku mendengarnya bisikan dari Ki Sastramandira dari Kedaton Ardaka.”   Raden Susno membanting punggungnya di sandaran kursi. Ia tak sanggup berpikir lagi, ia sudah kehilangan keturunan putra sulungnya. Sekarang, ia harus mengkhawatirkan nyawa putranya. Mayang, ada apa dengan putra-putrimu ini? Ujar Susno dalam hatinya, ia mencoba berbicara dengan mendiang istrinya yang lebih dulu meninggalkan dunia. Susno begitu rapuh sekarang. Ia juga mulai berpikir yang tidak-tidak. Menurutnya, Prabu Aryawangsa menghadiahkan Kadipaten Yudanta kepadanya sebagai tanda terima kasih karena telah menunaikan tugasnya, yaitu berbohong kepada Prabu terdahulu tentang kematian Dewi Sanjaya. Sekarang, keturunan Sanjaya akan berbalik merebut tahta Kedaton Ardaka. Sungguh miris rasanya memikirkan hal sekeji itu. ++++ Kali ini author akan menjelaskan bagaimana dunia yang tergambar di Jawadwipa versi author yang sedikit gila ini :^^   Semoga membantu khayalan para pembaca sekalian ^^   @ Jawadwipa terdiri dari 9 wilayah :    1. Kedaton Ardaka, pemimpin dan penguasa Jawadwipa.    2. Kadipaten Batavia    3. Kadipaten Pala    4. Kadipaten Yudanta    5. Kadipaten Wikasita    6. Kadipaten Samudra    7. Kadipaten Antanapura    8. Kadipaten Arundaya    9. Kadipaten Reksanawarma   @ penokohan :   ■ Kedaton Ardaka :     keturunan :   -Prabu Yudha Aryawangsa   -Ratu Padmi Aryawangsa   -Raden Pangeran Sahastra Aryawangsa   -Raden Ayu Ratnasastra aryawangsa     abdidalem :   -Tumenggung Bajragini (tewas diprolog)   -Yodi   -Paing (tewas diprolog)   -Ki Harsono (mantri astana)   -Ki Sastramandira (amangkurat II)   -Empu Padwa Agnaya (amangkurat I)   -Raden Rupadi Rasakiwi (Ksatria dan tumenggung Manggalayuda, adik ratu Padmi)   -Candrika (Prajurit mangkujiwo, putra Raden Abikusno   -Bajang (teman Candrika)   -Buyung, alias Bagas (pengurus istal kuda, teman kecil sekaligus teman rahasia Ratna.   ■ Kadipaten Yudanta   keturunan :   -Adipati Susno Abikusno   -Raden mas Candrika Abikusno (bergabung dengan Mangkujiwo)   -Raden Bagus Candrakanta Abikusno   -Raden Masayu Mayalisa Abikusno   -Raden Ajeng Mayang Abikusno (Mendiang istri Susno)     abdi :   - Ki Palinggar Jati (Amangkurat   - Sarjito (pesuruh)   - Nyi Sasmi (dayang utama)   - Yuli (Dayang)   - Ranti (Dayang)   ■ Brandal Batara/Keluarga Sanjaya   -Sintha Dewi Sanjaya   -Warman Sanjaya (Paman Sintha)   -Wardi Sanjaya (Paman Sintha)   -Dewi Sanjaya (Mendiang ibu Sintha)   -Simla     Istilah : -Prabu : Raja -Mangkubumi : perdana menteri, tangan kanan Prabu. -Amangkurat : Penasihat -Dayang : Pelayan wanita -Kacung : pelayan pria   Keprajuritan : -Mangkujiwo : pengawal khusus prabu. -Manggalayuda : pasukan garis depan dalam penyerangan -Jagabaya : pasukan bertahan          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN