Ruang singgasana tahta cukup ramai hari ini karena Prabu selalu sedia menerima para tamu-tamu Kedatonnya. Prabu Yudha Aryawangsa duduk diatas kursi tahta dengan ukiran burung elang garuda di atas kepalanya. Dua buah payung berwarna kuning dan panji kebesaran Ardaka menyirat disamping kiri dan kanannya. Yudha cukup gagah dengan balutan beskap berwarna coklat tua serta blangkon dan jarik yang serupa. Kumisnya tebal tercukur rapi dan sesekali bibirnya mengunyah buah duku untuk mengusir kantuknya.
Disekitarnya beberapa Prajurit Mangkujiwo berjaga. Ikatan kepala mereka terbalut kain hitam dengan d**a telanjang memperlihatkan otot-otot kekarnya. Dua buah kelat bahu berlapis emas dan terukir burung elang garuda tersemat di kedua lengannya. Kelat bahu ini dari emas ini menandakan bahwa mereka bukan prajurit biasa. Mereka dilatih khusus sebagai benteng pertahanan terakhir untuk melindungi sang Prabu. Kelat bahu berbahan perak adalah milik para prajurit Manggalayuda dan perunggu milik para Jagabaya. Lalu di bagian tubuh bawah prajurit Mangkujiwo terbalut oleh kain sarung yang terikat oleh stagen berbandul perak. Sehingga keris dapat tersangkut disana. Senjata-senjata mereka cukup beragam. Angga dan Parja menenteng perisai besi lebar dan sebuah tombak. Candrika dan Bajang berjaga dengan keris panjangnya, lalu di belakang mereka empat orang pemanah siap melesatkan anak panahnya, jika sesuatu terjadi. Belum lagi, beberapa Mangkujiwo lain yang berkeliling mengamati setiap penduduk yang ingin melapor atau berkunjung.
Pangeran Raden Sahastra juga turut hadir. Ia duduk di jajaran Abdidalem Kedaton yang juga terlihat di ruang singgasana terbuka itu. Empu Padwa Agnaya dan Ki Sastramandira mengapit Pangeran Sahastra yang duduk bersila di bantal yang empuk, sambil sesekali menuai kudapan mereka. Mereka yang duduk disana bertugas sebagai penasihat Prabu. Atau biasanya merekalah yang sebenarnya memberikan solusi atas masalah yang dihadirkan di ruang singgasana~~Prabu, tinggal memutuskan saja.
Masalah hari ini cukup unik, ketika seorang pria tua penjual kacang rebus selalu kehilangan beberapa gepok kacangnya setiap harinya. Pangeran Hastra bertanya dengan lelucon, “apakah engkau menghitung setiap butir kacangmu sebelum berjualan, pak tua?”
Pak tua penjual kacang hanya terdiam saja mendengarkan lelucon yang dilontarkan sang pangeran. Lalu sang Prabu menimpali, “alangkah baiknya engkau menjaga selalu daganganmu. Mungkin anak-anak kecil yang nakal mencuri kacang-kacang rebusmu.”
Pak tua dengan getaran suara serak menyetujui perkataan Prabu, “itulah yang ingin kuutarakan, paduka Prabu. Anak-anak kecil itu nakal dan selalu mencuri. Hamba berharap paduka sudi memberikan hukuman kepada mereka, atau setidaknya kepada orang tua mereka, paduka Prabu.”
Prabu terkekeh dan diikuti seluruh hadirin diruangan itu. Lalu, Hastra menengahi, “semuanya belum terbukti, wahai pak tua. Jika engkau membawa buktinya, aku akan senantiasa menyambuk para bocah pencuri itu tepat dihadapanmu, sampai bocah-bocah itu memohon ampun kepadamu!” Semuanya terdiam ketika mendengar kata-kata kejam dari Raden Pangeran Hastra. Pak tua-pun juga ikut terdiam. Dibenaknya, masalah ini sebenarnya terlalu sepele untuk dibawa ke ranah Kedaton. Akhirnya pak tua penjual kacang rebus itu undur diri dengan penyesalannya.
Masalah berikutnya cukup rumit, hal ini mengenai perseteruan kedua tetangganya yang mempermasalahkan pohon rambutan di antara tanah mereka. Mereka berseteru habis-habisan sehingga melupakan seorang penguasa dihadapannya. Lalu Empu Padwa Agnaya dengan jenggot penuh kebijaksaannya berkata, “pohon itu milik kalian berdua.”
“Tidak bisa empu, kakekku yang menanamnya! Aku berhak atas buah-buahnya. Tetapi b*****t ini selalu memetiknya terlebih dahulu.” Pria pertama dengan wajah lebar dan merah karena marah berdalih.
“Apa kau bilang b*****t! Aku memetiknya karena dahannya menjulang di tanahku!” Pria kedua menyergat. Sepertinya akan terjadi peperangan jika empu Padwa tak menengahinya.
“Buahnya milik kalian berdua, terlepas dimana pohon itu ditanam,” kata Padwa. Prabu dan lainnya merasa terhibur dengan percekcokan mereka. Jarang sekali Prabu mendapat masalah seperti ini. Lalu empu Padwa berfatwa lagi, “dahan yang menjorok ke tanahmu, itu berarti buahnya milikmu,” Empu menunjuk pria pertama, “dan yang menjorok ke tanahmu, maka buahnya menjadi milikmu.” Pria kedua terkesiap karena ditunjuk oleh Padwa.
Lalu Ki Sastramandira berkata dalam keheningannya, “jika kalian tak setuju maka aku akan menyuruh orang untuk menebangnya.”
Mereka berdua terdiam mendapat wejangan yang cukup bijaksana dari para abdidalem kedaton itu.
“Bagaimana?” Prabu Aryawangsa berkata, “jika kalian tak mau pohon ditebang, maka putraku akan menebang kaki-kaki kalian satu persatu!”
“Ah, tidak paduka prabu. Kami akan mematuhinya.” Ujar salah satu pria itu. Lalu masalah mereka selesei dan mereka undur diri.
Proses persidangan cukup alot hari ini. Banyak masalah yang dihadirkan dihadapan Prabu. Mulai dari pencurian, penganiayaan, perkelahian sampai perselingkuhan. Semua masalah itu membuat Prabu dan abdidalem-nya sibuk untuk hari.
Sampai menjelang senja, ruang singgasana sudah semakin sepi, Dan Prabu bersiap untuk kembali ke padepokannya. Namun seseorang dari prajurit Mangkujiwo melangkah dihadapan prabu.
“Candrika, apa yang kau lakukan, nak?” Ujar Empu Padwa yang sudah menutup acara persidangan hari ini.
Semua mata tertuju pada Candrika yang berlutut layaknya rakyat jelata yang memohon sesuatu kepada sang Prabu. Namun sebagai rakyat Kedaton Ardaka, ia mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan masalahnya.
“Persidangan sudah selesei, Candrika?” Ujar Hastra dari samping kursi singgasana ayahnya.
“Tunggu, jelaskan masalahmu, Raden Candrika?” Prabu mengerutkan dahinya. Sepertinya ia mengijinkan Candrika berbicara.
“Paduka Prabu, Pangeran Sahastra, beserta para Abdidalem Kedaton.” Sapanya dengan penuh hormat, “hamba ingin bergabung dengan prajurit Manggalayuda dan bertempur melawan para brandal Batara.”
Prabu Aryawangsa berpikir sejenak, ia tahu bahwa Candrika dilatih oleh salah satu tumenggungnya, yaitu Bajragini si keris petir. Bajra mati mengenaskan ditangan para brandalan Batara. Lamunan Yudha terpecah oleh sergahan putranya yang kelihatan geram.
“Kau seorang Mangkujiwo.”Seru Hastra dengan suara lantang. “Sumpahmu disini, melindungi paduka Prabu. Kau tak bisa kemana-mana. Jika kau melanggar, maka hukuman mati akan menunggumu.”
“Ya, hamba tahu benar sumpah itu, pangeran. Bahkan masih berdengung di telinga hamba.” Ujar Candrika, “untuk itu hamba disini memohon agar Prabu mengijinkan hamba untuk membalaskan dendam Tumenggung Bajra.”
“Ayah!” Hastra berseru kepada ayahnya.
Prabu menghela nafasnya dan memperbaiki posisi duduknya, lalu ia berkata, “Ksatria Mangkujiwo, Raden Mas Candrika Abikusno. Aku tahu perasaanmu, tetapi engkau disumpah untuk melindungiku disini. Bukan berada di medan perang bersama Manggalayuda. Tentu saja, aku terkejut dengan pernyataanmu. Tetapi apakah engkau mendengar bahwa saru purnama lagi, kita semua akan berangkat ke Yudanta, ketempat keluargamu berada. Apakah engkau tak merindukan mereka.”
Tentu saja, batin Candrika. Aku harus membalas dendam. “Rindu akan keluarga dan sanak saudara membuat kita lemah, itu pelajaran yang hamba peroleh dari ksatria Tumenggung Bajragini, paduka prabu.”
Semuanya terdiam, termasuk Prabu Yudha Aryawangsa. Mereka semua takjub dengan kesetiaan salah satu prajurit Mangkujiwo yang masih muda ini.
“Pikirkan lagi perkataanmu, nak.” Empu Padwa berkata dengan suara lirih dan bijaksananya. “Prajurit Manggalayuda berada di barisan depan. Tugas mereka membasmi semua musuh-musuh Kedaton Ardaka dan tanah Jawadwipa. Bisa jadi, musuh-musuh itu akan membunuhmu lebih dulu, sebelum engkau menatap wajah mereka.”
“Baiklah,” Prabu menyela perkataan cengeng dari empu Padwa. “Berlayarlah bersama prajurit Manggalayuda ke daratan kejam Borneo. Tetapi satu hal, bawakan aku kepala Warman, atau kepalamu yang akan kukubur terpisah dari tubuhmu.”
Candrika tahu, tugas ini berkaitan dengan hidup dan matinya. Jika ia berhasil, maka ia akan selamat, jika tidak maka Prabu akan menghukumnya sebagai pelanggar sumpah. Lalu dari bibir tipisnya, Candrika berkata, “aku bersedia, paduka Prabu! Akan kubawakan kepala Warman si brandal ke hadapanmu!”
Melihat keberanian Candrika, Hastra yang muak berpaling dan meninggalkan ruang singgasana.
“Baik, akan kutangguhkan seluruh sumpahmu. Dan bawakan aku kepala Warman, Raja bagi para brandal. Jangan kembali tanpa kepala itu, jika tidak maka penggal sendiri kepalamu dihadapanku.” Prabu Aryawangsa merasa tertantang dengan keberanian prajurit tangguhnya.
Malam menjelang dan para penjaga saling bergantian. Candrika melangkah menuju pedepokannya seraya melucuti kelat bahu berlapis emas itu. Ia berpikir bahwa esok pagi ia tak akan memakai kelat bahu emas lagi, melainkan perak sebagai pertanda prajurit kelas dua di Kedaton Ardaka. Ia akan bergabung di bawah Ksatria Tumenggung Manggalayuda-nya yang baru. Candrika tak pernah sekalipun menyesal dengan pernyataannya. Baginya, lidah itu seperti pedang, sekali terucap tak akan mampu dihentikan.
Jalan setapak selasar menuju padepokan tempat para Mangkujiwo beristirahat cukup sepi. Sehingga langkah Candrika gontai dan santai menuju kearahnya. Lalu dari belakang sana, Bajang sahabat karib Candrika mengejarnya.
“b******n kau Candrika!” Umpat Bajang. Seketika ia meraih lengan Candrika dan menekan leher temannya kearah tiang kayu. Lalu keris tajam tersulut dari pinggang sebelum Candrika menarik kerisnya sendiri.
Candrika terpojok, menatap mata sahabatnya dengan keris menekan dilehernya. Ia tahu jika ia bergerak sedikit saja, keris berujung tajam itu akan menusuk lehernya.
“Sudah kukatakan sebelumnya.” Ujar Candrika dengan tenang. Ia tahu, Bajang tak mungkin membunuhnya. Tapi tak khayal ia juga mampu melukai Candrika.
Yang benar saja, keris Bajang mengarah ke pipi Candrika dan mengiris dagingnya. Sehingga darah mengucur pelan di pipi dan mengalir melewati lehernya. Candrika tak merasakan sakit, ia dilatih untuk menjadikan rasa sakit sebagai teman tidurnya. Raut mukanya tetap tenang menatap wajah geram teman baiknya.
“Luka itu sebagai pengingat bagimu, kembalilah hidup-hidup dengan luka yang baru, MENGERTI!” Bajang melepaskan cengkramannya dan berlalu meninggalkan Candrika ke arah dimana ia datang tadi.
Candrika hanya dapat terdiam setelah mendapatkan hadiah perpisahan dari sahabatnya. Ia mengusap darah dipipinya. Luka goresannya tak dalam, namun bisa saja menimbulkan bekas luka yang menggores dari bawah mata sampai ke dagunya. Candrika melangkah tanpa ragu, ia anggap luka itu sebagai penyemangat baginya ketika ia tertekan nanti.
Medan perang memang tak mudah. Apalagi Borneo adalah daratan asing baginya dan prajurit lainnya. Namun Candrika tak pernah gentar menghadapi setiap musuhnya. Ia melangkah untuk mempersiapkan keberangkatannya.
●●●○○○●●●
Dibawah bayang lampu sentir yang menyala dibeberapa tempat. Meja-meja berisi olahan rempah obat-obatan dan beberapa lembaran kertas berserakan. Candrika mencium aroma pahit dari setiap ramuan yang dilewatinya. Ia berada di rumah milik Ki Harsono, seorang mantri Astana yang sekarang bertugas menyembuhkan seorang prajurit yang menjadi kunci dari permasalah ini.
Yodi, prajurit muda yang mendadak gila. Ia datang ke Aatana dengan membawa kepala Bajra dan Paing. Ki Harsono yang sudah sangat uzur tak henti-hentinya menyuapi Yodi dengan ramuan grotowali yang berasa pahit di lidah dan tenggorokan. Menurutnya rasa pahit dapat mengembalikan rangsangan saraf yang terganggu.
“Bagaimana keadaannya, ki?” tanya Candrika.
“Lebih baik, ia dapat berbicara sekarang. Namun kata-katanya tak kumengerti.” Jawab Harsono sembari meletakan ramuannya di meja. Lalu ia membuka kotak kayunya untuk membuatkan ramuan yang lainnya.
Candrika menatap Yodi yang terikat di sebuah ranjang. Ia terikat sempurna hingga menggerakan kepalanya saja ia tak sanggup. Ki Harsono menekan hidung si Yodi gila agar ia membuka mulutnya, sehingga ramuannya meluncur melewati kerongkongannya.
Candrika mengabaikan Ki Harsono yang sibuk dengan lumpang dan alu-nya. Ia mendekati sang prajurit malang dan duduk di samping ranjangnya.
Seketika mata Yodi membelalak kearah Candrika, seakan ia menantangnya. Giginya menggertak marah dan lidahnya menjulur tak tentu arah. Yodi mendesis dan menggeram seperti layaknya binatang. Candrika bertanya-tanya, apa yang membuatnya seperti ini?
“Apa yang kau lihat?” tanya Candrika yang terceletuk begitu saja.
Yodi menjawab, namun jawabannya bagai desisan ular. “Ia akan datang, ia akan datang, ia akan datang, dan merebut tahtanya!”
Candrika tak sanggup mengartikan kata-kata itu. Lalu Ki Harsono mendekat dengan membawa ramuannya yang berwarna coklat tua.
“Hanya itu yang ia katakan, tak ada yang lain.” Ujar Ki Harsono yang menekan hidung Yodi dan memasukan ramuan memualkan itu ke mulutnya. Yodi merasa sesenggukan, lalu ia tertawa lantang dan tertidur pulas dalam waktu yang singkat.
“Apa yang membuatnya seperti ini?” Tanya Candrika.
Ki Harsono terdiam. Keriput di matanya menggelambir dan menatap Candrika. Lalu ia berkata, “santet.”
“Santet!”
“Yah,” tegas Ki Harsono. “Sesaat setelah ia datang ke Kedaton. Ia bercerita layaknya orang normal. Namun setelah cerita itu selesei. Ia mendadak gila seperti ini. Beberapa abdidalem meragukan pernyataannya, namun aku yakin, bahwa brandal Batara telah berlayar ke Borneo untuk mengumpulkan pasukan.”
Candrika tentu saja mendengar cerita itu. Ketika itu, Yodi keluar dari tendanya dan melihat tubuh Bajra dan Paing tanpa kepala. Lalu seseorang bersuara wanita membisik dari telinganya. Ia menjelaskan bahwa brandalan Batara sedang berlayar ke Borneo. Candrika mempercayai cerita itu sehingga ia harus bergabung ke kesatuan Manggalayuda untuk membasmi para brandal ini, terutama mereka yang sedang berada di Borneo.
“Aku merasa, santet ini bukan berasal dari daerah sini.” Ujar Ki Harsono.
“Yah, pasti dari Borneo, ki.” Tegas Candrika.
“Apa engkau yakin dengan keputusanmu tadi siang, nak?” Ki Harsono mencoba mengalihkan perhatian.
“Iya ki, aku yakin.”
“Tahukah engkau, Borneo dilingkupi hutan perawan dan berbahaya bagi yang belum berpengalaman. Wilayah daratannya lima kali lebih luas dari Jawadwipa dan dipisahkan oleh sungai-sungai yang lebar, panjang dan deras. Belum lagi penduduknya yang terdiri dari ratusan suku yang mendiami daerahnya. Aku bertaruh, mereka tak akan setuju jika kita mengusiknya.” Ujar Ki Harsono yang mengulurkan segelas tuak kepada Candrika. Tuak sangat baik untuk membantu seseorang berpikir, namun tidak untuk Candrika yang begitu kukuh dengan setiap keputusannya.
“Dua kapal layar berserta 200 prajurit Manggalayuda siap diberangkatkan esok hari, belum lagi ditambah aku dan para tumenggung. Kekuatan kami cukup besar dalam pencarian ini.” Tukas Candrika sembari menyesap tuak pemberian Ki Harsono.
“Hmn, kudengar pemimpin suku diantara suku-suku lainnya bernama Suku Amuntai. Mereka bermukim di sekitar Mahakam dan senantiasa kabur kehutan jika diserang. Di dalam hutan, mereka akan menyerang kalian dengan tulup beracun dan sarampang tajam. Aku harap, para tumenggung tak begitu gegabah dengan pengejaran dihutan.”
“Bukan suku-suku borneo yang berjumlah puluhan itu yang kami targetkan. Kami mengejar Warman, kepalanya seharga nyawaku sekarang. Kami akan memohon ijin lewat atau kita akan menyerang dan memecahkan kepala mereka, jika mereka melawan.”
Ki Harsono menarik nafas untuk menghirup aroma tuak aren yang begitu manis terasa, namun panas jika menyentuh kerongkongan. “Bijaklah dalam menghadapi mereka, aku berharap Dewa-Dewi menyertai perjalananmu.”
“Hmn, terima kasih, ki.”