Rasa pegah dan gelisah mendatangi diri Ratna saat ini. Suasana hujan gerimis membuat tubuhnya mengigil. Ia sengaja menutupi tubuh indahnya dengan kain jarik tipis berwarna putih. Rambutnya tergerai dan melengkung diujung karena seharian tergelung.
Ratna sendirian dan menunggu ditemani cahaya lilin yang menerangi ruangan yang temaram. Angin mendesau menyentuh wajahnya ketika ia membuka sedikit jendela kamarnya. Mata jalangnya menyapu ke halaman di area kedaton yang sepi di saat hujan seperti ini.
Ratna memang tinggal sendirian di rumah joglo yang dibangun di areal Astana Kedaton Ardaka ini. Ia selalu sendirian ketika malam tiba karena ia melarang para dayang untuk tinggal. Terlebih lagi karena akan ada seseorang yang datang malam ini.
Matanya sesekali melirik ke arah jendela yang sedikit terbuka untuk mengetahui siapa yang akan datang. Lalu dibalik semak yang rimbun, muncul seorang pemuda dengan tubuh basah kuyup. Lengannya lebar dan perut sedikit menggelembung. Rambut keritingnya terlihat mengerikan jika basah seperti itu. Pria itu adalah Buyung, teman sekaligus pelayan pribadi bagi sang Raden Ayu.
Dari kesekian kali, Buyung memang jauh dari kata tampan. Wajahnya menggelembung dipipi dengan bibir tebal dan gelap. Matanya juga bulat dengan alis tipis yang tak menarik. Namun, sesuatu yang menarik perhatian Ratna adalah permainan dari Buyung yang selalu membuat Ratna terkesima.
“Sstttt, masuklah lewat pintu belakang!” Bisik Ratna.
“Benar, tidak apa-apa, den ayu.” Balas Buyung yang meragu.
“Sudah cepat.” Bisik Ratna sembari menutup jendelanya.
Sesaat Ratna mengikat rambutnya sembari berlari menuju pintu belakang. Pintu belakang berhadapan dengan salah satu pohon Ulin berusia ribuan tahun. Batangnya lebar sehingga menutupi pintu belakang jika dilihat searah. Gelapnya malam tanpa penerangan rembulan membuat tubuh Buyung seperti bayangan tanpa raga. Ia berdiri merapat ke pohon Ulin sembari mengamati sekitar dan menunggu Ratna membuka pintunya.
Sesaat sebelum membuka pintu, Ratna mematikan lilinnya sehingga kegelapan merona. Lalu perlahan ia membuka pintunya. Dalam kegelapan, bayangan Buyung terlihat tepat di pohon itu.
“Ssttt, masuklah!” Bisik Ratna.
Lalu suara langkah kaki yang menyibak air terdengar nyaring dan seketika Buyung sudah memasuki rumah Ratna melewati pintu belakang. Ratna mengamati sekitar, tak ada seorangpun yang melihat, bahkan penjaga dari menara tak dapat melihat di kegelapan dan hujan seperti ini. Ratna lalu menutup pintunya dan menyalakan lilinnya kembali.
“Apakah kau memiringkan telapak kakimu?” Ujar Ratna kepada Buyung yang menggigil karena bertelanjang d**a. Sarung kain goni yang dikenakan Ratna juga basah kuyup dan berbau apek.
“Ah, tidak! ketika aku mencoba memiringkan kaki, aku hampir terjatuh.” Kata Buyung sembari memperagakan posisinya tadi. Memiringkan telapak kaki berguna untuk menghindari para pencari jejak. Jika dihutan atau dikejar musuh, mereka akan memiringkan telapak kaki mereka ketika berlari. Sehingga jejak mereka tak mungkin terlihat.
“Bodoh kau! jejakmu bisa ketahuan!” Geram Ratna sembari menjewer telinga Buyung.
“Maka itu, Ayo cepat!!!” Buyung seketika meraih tubuh Ratna sehingga mendekap padanya. Buah d**a Ratna serasa empuk ketika tertekan di d**a Buyung.
“Keringkan dulu badanmu! Bodoh.” Ratna memberontak, sehingga terlepas dari segapan Buyung yang tak sabar.
Buyung yang merasa bersalah, mengusap badannya yang basah kuyup. Tak lupa ia melepas celana karung goninya sehingga b***************n besarnya menggantung di hadapan Ratna.
Ratna tertegun ketika menatap b***************n Buyung yang menggantung. Ukurannya cukup besar dan akan semakin membesar jika tegang nanti. Di dalam keheningannya, Ratna membayangkan ketika ia pertama kali melihatnya. Dahulu bentuknya begitu kecil namun cukup membuat Ratna terperanggah.
Ketika itu, Ratna masih berusia 14 tahun dan si Buyung berusia 12 tahun. Setiap hari dan setiap ada kesempatan, lidah Buyung semakin lincah memainkan liang kewanitaan Ratna yang mulai mengeluarkan lendir nikmatnya. Lalu dalam beberapa kesempatan, tanya Ratna sesekali masuk ke dalam celana si Buyung. Tangannya mengusap burung kecil itu, sehingga sesekali Buyung mendesis. Entah desis kesakitan atau kenikmatan!? Hanya Buyung yang tahu.
Melihat hal itu, Ratna belia semakin beringas dengan melucuti celana Buyung yang terbuat dari lipatan kain jarik yang terikat dengan tali. Mata belianya tertegun ketika menatap bentuk kejantanan belia milik si Buyung. Mereka berdua, tak tahu harus berbuat apa saat itu. Yang ia lakukan saat itu hanyalah Buyung selalu menjilati daerah kewanitaan Ratna. Mereka tak tahu harus berbuat yang lebih dari sekedar itu.
Namun seiring waktu berlalu, Buyung dan Ratna melakukan hal-hal yang lebih dari kata menyenangkan. Sesekali mereka bergumul mesra di usia mereka yang sangat belia. Tentu saja semuanya berlangsung sampai saat ini.
“Den ayu,” panggil Buyung yang menatap putri majikannya terdiam.
Ratna seakan bangkit dari mimpi jalangnya. Wajahnya memerah dan melangkah meninggalkan Buyung sendirian. Ratna melangkah melewati ruang tengah dan memasuki kamarnya, lalu meletakan lilin kecilnya di meja kecil di kamarnya.
“Den ayu, mau ini!” bisik si Buyung dari balik telinga Ratna. Namun Ratna tak begitu menghiraukan bisikan itu karena b***************n Buyung yang mulai menegang membelai belahan pantatnya yang masih tertutupi oleh kain jarik.
Sesaat Ratna merasakan getaran lirih dalam tubuhnya, sehingga pinggulnya bergoyang mengikuti gesekan b***************n Buyung di alur pantatnya. Tanpa disadari, Ratna merasakan getaran yang lebih ketika jemari kekar si Buyung meremas buah dadanya dari luar kain jariknya. Rasanya begitu nikmat ketika jemari kacung kesayangannya memilin p****g susunya yang telah mencuat sedari tadi.
“Tunggu!” Ratna berkata mengikuti akal sehatnya saat ini. Ia lalu berbalik setelah sesaat ia merasakan gesekan hebat dari arah belakangnya. Kini Ratna memandang d**a si Buyung yang lebar namun tak begitu kekar, p****g susunya menggantung dan ditumbuhi beberapa bulu d**a. Ratna yang sudah terangsang membelai d**a si Buyung. Lalu terhenti ketika mata mereka bertemu. Si Buyung yang sudah terlalu lihai mempermainkan putrinya itu mendekatkan wajahnya ke arah Ratna. Namun Buyung terhenti ketika Ratna mulai angkat bicara.
“Aku akan dinikahkan?” Ujar Ratna tegas. Matanya tajam dengan getaran bibir merona di kala ia mengatakan itu.
Buyung terdiam dan menjauh beberapa jengkal dari Ratna. Darahnya berdesir kuat melewati setiap nadinya. Ia seakan tersengat petir yang menyambar ke dalam rumah. Entah kenapa, baru kali ini si Buyung akan merasa benar-benar akan kehilangan sesuatu. Nafsu membara menghilang dari balik tubuh tambunnya, ketika Ratna mengatakan hal itu.
Lalu entah perasaan apa, si Buyung berkata, “te-tetapi, den ayu pasti tak setuju dengan pernikahan itu, bukan!?”
Ratna tercengang mendengar perkataan si Buyung. Lengannya tercekat oleh jemari Buyung, seakan Buyung menginginkan jawaban cepat darinya.
“Memang, aku tak pernah setuju untuk menikah! Tetapi, itu perintah Prabu. Aku tak kuasa menolaknya.” Mata Ratna serasa sembab ketika mengatakan hal itu.
“Prabu, ayahmu. Sejak kapan kau menuruti perkataan ayahmu!?” Ujar Buyung sinis.
“Tak ada pilihan lain, Buyung. Aku akan dijodohkan dengan putra Adipati di Yudanta sana.” Perkataan Ratna itu seakan sebagai permohonan kepada teman kecilnya itu.
Buyung terdiam sejenak mendengar pernyataan putri bungsu sang Prabu. Ia ingin sekali memaksa, namun tak pantas jika dihadapan Ratna. Akhirnya ia hanya terdiam sembari mengapitkan tangannya untuk menutup burungnya yang mulai beringsut. Wajah Buyung tertunduk walau tak pernah berani menatap Raden Ayu-nya.
“Tapi tenanglah, kita akan tetap bersama.” Timpal Ratna yang melihat pergerakan emosi dari si Buyung, “engkau adalah teman kecil dan kita akan selalu bermain bersama.”
Buyung tetap terdiam dan tak begitu mengerti apa yang dikatakan Ratna. Ia hanya merasakan tubuh Ratna menyentuh tubuhnya. Sehingga kini wajah Ratna berada dihadapan wajah lebarnya.
“Tetapi den ayu, bagaimana jika calon suamimu tahu jika engkau tak perawan lagi?” Buyung berbisik.
“Aku tak akan biarkan dia meniduriku.”
“Bagaimana caranya?”
“Terserah!?” ujar Ratna sembari menarik ikatan jariknya sehingga kain itu lolos dan terhempas ke lantai. “Aku bisa berpura-pura sakit atau apapun itu!”
Buyung tercengang menatap tubuh Ratna yang berbau harum. Dadanya begitu besar dan kenyal sehingga tanpa sadar jemari kekarnya membelai daging nan empuk itu. “Bagaimana dengan aku?” Buyung bertanya seolah ia mempertanyakan nasibnya kepada sang Raden Ayu.
“Aku akan memikirkan caranya, sshhhh auhh, nanti.” Ratna berkata namun perkataannya terganggu karena jemari Buyung dengan nakalnya memainkan p****g susunya. “Tetapi jika tidak sesuai dengan kehendakku, maukah kau memenuhi permintaanku?”
“Apa saja, ratuku!” Buyung mengatakan itu sembari mengangkat tubuh Ratna di dekapannya. Ratna begitu terkesima dengan kekuatan Buyung yang seganas kuda. Memang ia seorang pengurus kuda.
“Aku akan meminta ayah untuk membawamu ke Yudanta dan disana engkau akan tinggal sebagai pengawal pribadiku. Setelah itu, kita akan melakukannya bersama-sama.” Ratna terhempas diranjangnya, lalu ia merasakan denyutan keras di buah dadanya. Kali itu Buyung yang lapar sedang menghisap p****g susunya. Lidah kasarnya menyentil bagian ujung yang terbenam di mulut si Buyung. “Auhhh, pelan-pelan sayang!”
Plok, Buyung melepaskan hisapannya. Lalu ia memandang sekilas kearah wajah Ratna yang memerah padam. “Bagaimana jika Prabu tak mengijinkan?” perkataan itu diiringi dengan usapan jemari Buyung pangkal paha Ratna. Jarinya terasa lembab karena lendir mulai membasahi area berambut itu.
“Saat itulah engkau harus berjuang untukku?” Ratna berusaha memusatkan konsentrasinya, walau seluruh tubuhnya bergetar oleh usapan mematikan di area selangkangannya. “Ahhh, kau harus pergi ke Yudanta dan jadilah seseorang tanpa nama disana, setelah itu temui aku dan aku akan mengangkatmu sebagai kacung di astana- aucchh- ku!”
Ratna tak sadar ketika jemari Buyung menyaruk ringan di liang senggamanya yang telah melebar. Lalu ia merasakan kembali denyutan, kali ini gigitan disekitar buah dadanya. Bibirnya menganga dan matanya setengah terbuka ketika menikmati sensasi menyenangkan itu. Ia lupa akan segalanya, ia lupa bahwa sudah ribuan kali Buyung melakukan hal itu. Namun ia selalu merasakan bahwa semtuhan Buyung membuatnya menderita bagai sebuah candu asmara.
Pertama kalinya ketika Ratna menikmati hisapan di buah dadanya ketika ia berusia 15 tahun. Ketika itu si Buyung bercerita bahwa ia melihat Ki Harsono, kakeknya, sedang mencucupi buah d**a salah satu dayang Astana dan dayang itu terlihat puas dengan hisapan bibir tuanya. Lalu ketika tak ada siapapun, Ratna yang ketika masih berusia belia membuka tali kembennya dan merengkuh wajah Buyung di dadanya. Semuanya berlangsung lambat ketika geligi Buyung mengigiti p****g kecilnya, hingga suatu waktu Ratna belia mulai mendesah merasakan setiap hisapan dan sapuan lidah Buyung.
Hingga saat ini, si Buyung tak pernah bosan untuk memainkan lidahnya di buah d**a Ratna yang membusung sempurna. Liurnya membasahi d**a Ratna yang makin membengkak dan mencuat putingnya. Rasa gemas melanda Buyung ketika kekenyalan kembar tersaji di hadapannya. Bibirnya tiada hentinya untuk menghisap dan menautkan lidahnya di p****g s**u Ratna.
Ratna mendesis layaknya ular yang sedang mengincar mangsanya. Tanpa sadar tubuhnya menggelinjang mengikuti irama koyakan jemari Buyung yang melesak ke arah liang kewanitaannya. Lendir beraroma anyir membangkitkan setiap dahaga nafsu yang terendap. Lalu tak lama, Ratna mengerang. Erangannya diikuti gerakan dadanya yang membusung dan getaran di sekitar pinggulnya.
“Ihhhh,, auuuuhhhhhh!” Seketika cairan kental menyeruak membasahi jemari Buyung yang tak pernah berhenti bertaut di liang Ratna. Nafsanya tak beraturan diselingi dengusan yang memuncaki nafsunya.
Buyung tahu, itu adalah tanda sang putri sudah mencapai puncaknya. Sehingga ia melepaskan gerakan tangan kekarnya. Kini jemari si Buyung hanya mengusap layaknya membersihkan sisa-sisa cairan kenikmatan yang dihempaskan oleh majikannya.
Hujan kembali mengguyur deras ketika Buyung mengganti posisinya. Kini ia membuka kedua paha milik Ratna dan bersiap menekan batang beruratnya kearah liang yang licin itu. Dalam sekali sergapan, Buyung merasakan batangnya dipijat oleh denyutan di dalam liang senggama milik Ratna.
Ratna terkesima, matanya menatap sayu kearah wajah Buyung yang memerah. Lalu hentakan begitu ia rasakan ketika Buyung-nya menggerakan pinggulnya. Mula-mula pelan, lalu bergerak seiring hujaman nafsu yang membara di diri lawannya. Ratna hanya dapat mengerang menahan nikmatnya. Erangannya senada dan seirama dengan hentakan b***************n Buyung yang mengoyak sendi berongganya. Gerakan Buyung semakin cepat sehingga ranjang kayu berderit keras dan Ratna semakin tenggelam dalam dusta nafsunya.
Buyung menatap tajam ke arah mata Ratna yang memohon kenikmatan padanya. Hentakannya seirama dengan goyangan d**a Ratna yang terlempar kesana kemari. Ia tak peduli lagi, ketika bibir Ratna meringis kesakitan atau mata Ratna terpejam. Yang jelas, saat inilah tugasnya menggauli teman kecilnya. Seperti pertama kali ia melakukannya dahulu.
Dahulu, Buyung begitu muda dan tak tahu apapun tentang permainan orang dewasa. Namun ketika jemari Ratna mempermainkan batang kejantananya, ia selalu ikut menggoyangkan pinggulnya. Lalu ia terbayang suara Ratna yang kala itu masih berusia 15 tahun. “Kenapa basah seperti ini?” Suara Ratna menggema.
“Ti-tidak tahu, de-den ayu.” Buyung terbata menjawabnya, “ta-tapi, auhh, enak sekali.”
Mendengar perkataan Buyung itu, Ratna semakin mempercepat kocokan jemarinya di kajantanan belia si Buyung. Lalu dalam sekejap, cairan putih nan kental menyeruak dari b***************n si Buyung.
Rasa yang sama seperti apa yang Buyung rasakan sekarang. Batang kejantanannya berkedut seakan cairan kental itu akan meluncur dengan cepat. Lalu dengan sigap Buyung menarik batang kejantanannya.
Ratna terkejut, ketika Buyung melompat mengangkangi buah dadanya. Lalu ketika ia membuka mata, b***************n Buyung tersaji tepat di wajahnya. Tanpa paksaan, Ratna membuka mulutnya dan jemari Buyung menuntun batangnya memasuki mulut Ratna. Sejenak Buyung menggoyangkan pinggulnya seakan mulut Ratna adalah liang senggama. Ratna mengerjap karena nafasnya tercekat. Rasa mual tak begitu ia hiraukan ketika cairan hangat berbau amis berasa asin mengalir ke kerongkongannya.
Buyung menekan keras kejantanannya kearah mulut Ratna. Ia sengaja karena si tuan putri begitu suka dengan cairan yang menjijikan ini, menurutnya.
Ratna terbatuk ketika Buyung melepas batangnya. Lendir kenikmatan milik Buyung membasahi bibirnya dan ia tak segan menjulurkan lidahnya untuk mengusap sisanya.
Petir menyambar kencang, namun petir hanyalah petir. Kerasnya mereka menyambar tak akan menakuti kedua insan yang sedang bercinta ini. Ratna tertidur lelap di balik selimutnya, ketika Buyung beranjak meninggalkan rumahnya. Kakinya serasa bergetar menuruti selasar yang tengan taman Palasari yang gelap gulita.
Lalu Buyung terkejut, ketika seseorang mamnggil dirinya. Seseorang yang telah ia kenal dan akan menjadi Prabu di tahta Kedaton Ardaka selanjutnya.
“Terima kasih, Buyung. Karena engkau telah menidurkan adik kecilku. Ia akan merengek jika tak ada yang bercerita tentang dongeng kenikmatan sebelum tidur.” Hastra berseru di bawah sebuah payung kain. Bibirnya tersenyum sinis sembari menatap penuh curiga kearah Buyung yang basah kuyub.