Maya
Langkah kakinya begitu ringan ketika Maya yang masih belia berlarian menyusuri pasar Rabaya. Dayangnya, Yuli terpaksa harus mencincing kain jariknya dan empat orang prajurit juga ikut berlari mengamankan sang putri.
Rambut Maya tergerai berombak mengikuti gerakan tubuhnya yang lincah. Para pedagang dan penduduk Yudanta sesekali menundukan kepala dengan maksud memberi hormat, namun tatapan Maya hanya tertuju kepada suatu Padepokan Sanggar tari yang berada di tengah Pasar Rabaya.
Sanggar Tari Putri Kembang Dadar, itulah namanya. Suara gong dan gamelan melantun merdu dari kejauhan. Di pelatarannya juga dipenuhi para penari yang anggun sedang melenggak-lenggokan tubuhnya. Tiang-tiang kayu jati menopang atap Joglo yang tinggi. Lantainya berubin batu halus yang dingin terasa di telapak kaki.
Ketika Maya memasuki pelataran luasnya, para penari muda menghentikan tari-tariannya. Mata-mata lentik nan cantik mereka menatap Mayalisa Abikusno dengan tatapan nanar karena keheranan. Apa gerangan yang membuat putri sang penguasa Yudanta itu datang kemari?
Langkah kakinya menaiki dua buah anak tangga yang memisahkan tanah halus pelataran dengan ubin batu marmer yang dihaluskan. Beberapa penari bergerak kesamping untuk memberi jalan kepada sang putri masayu. Lalu mereka semua duduk bersimpuh untuk memberi hormat kepada sang junjungan.
Tak lama, seorang wanita setengah baya dengan riasan tipis diwajah untuk menutupi keriputnya keluar dari pintu di ujung padepokan. Matanya berbinar menatap Maya yang cantik jelita yang saat ini juga menatapnya. Maya kenal wanita setengah baya itu. Badannya tegak dengan balutan selendang sutra halus mengalung disetiap lengannya. Jariknya tertata sangat rapi sesuai dengan jarak langkah kakinya. Kebaya sutra putih sangat sesuai dengan kuning langsat kulitnya. Wanita itu adalah pemimpin, pelatih, sekaligus pemilik sanggar tari Putri Kembang Dadar ini. Nyai Kumala namanya. Nama yang begitu indah dan sangat menggambarkan gerakan tubuhnya yang indah jika bergerak.
“Raden Masayu Mayalisa Abikusno, suatu kebanggaan bagi kami jika den ayu bersedia berkunjung kemari.” Ujar Nyai Kumala dengan kesantunan ala priayi. Ia menekuk lututnya dan menangkupkan tangan dikeningnya untuk memberi hormat. Sebenarnya cara hormat seperti itu hanya diperuntukan kepada para Dewa dan Dewi. Namun tidak untuk para penari ini, mereka menghormati para penonton dan pengunjung layaknya Dewa-Dewi yang akan mendatangkan kepengen-kepengan kepada Sanggar tarinya.
Maya-pun tertegun menatap kesantunan Nyai Kumala yang tiada duanya. “Nyai Kumala, tepat satu purnama lagi. Prabu Yudha Aryawangsa, Raja Kedaton Ardaka akan mengunjungi Kadipaten Yudanta.” Maya menuturkan maksudnya, “jadi, Adipati Susno ingin sanggar tari ini menjadi penari penghibur di acara nanti. Apakah engkau bersedia, Nyai?”
Mendadak, wajah Nyai Kumala berubah. Sebelumnya rautnya merasa bangga karena disambangi oleh putra sang penguasa, namun ketika Maya mengatakan maksudnya~~Kumala menunjukan sesuatu hal yang berbeda. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Matanya membesar satu seperempat kali dan bibirnya bergetar lirih. Seakan ia menyembunyikan sesuatu yang tidak diketahui oleh Maya dan lainnya. Kemudian, bibir Kumala mulai bergerak untuk menjawab kesanggupannya.
“Ya, kami bersedia Masayu Maya.” Ujar Kumala dengan hati yang sepertinya tak nyaman, “sungguh kehormatan bagi kami dapat tampil dihadapan paduka Prabu Aryawangsa.”
Maya yang lugu hanya tersenyum dan memberikan sekantung perak sebagai tanda jadi kesepakatan. Maya berjanji akan memberikan sekatung perak dan sekantung emas lagi jika waktunya telah tiba. Lalu ia meninggalkan sanggar tari itu tanpa diliputi rasa cemas dari hatinya.
Namun kecemasan berada di benak Yuli, dayang setia Maya. Ia mengamati betul perubahan wajah Nyai Kumala yang masih cantik di usianya yang setengah baya. Ditengah perjalanannya menembus keramaian pasar Rabaya, Yuli mengungkapkan kecanggungannya.
“Den Ayu Maya,” panggil Yuli.
“Hmn, ada apa, Yul?” Maya terperanggah seraya memperlambat langkahnya agar langkah mereka beriringan. Sehinga Maya dapat mendengar langsung apa yang akan dikatakan oleh Yuli.
“Den ayu tak melihat wajah Nyai Kumala tadi!?” Bisik Yuli.
“Hmn, lihat!” Tegas Maya, “ia tetap cantik, walau usianya tidak muda lagi.”
“Bukan itu den masayu Maya!?” Sergah Yuli. “Maksudnya Nyai Kumala sepertinya enggan untuk menari dihadapan Prabu nanti.”
“Tapi, ia tadi menyetujuinya.”
“Sebelum itu, den ayu.” Yuli mencoba mengingat ekspresi wajah Nyai Kumala. “Ia sepertinya enggan, namun sengaja ditutupi.”
“Ah, tidak usah dipikirkan. Yang penting dia mau menari nantinya.” Ujar Maya yang tak ingin memperpanjang pertanyaan Yuli, “ayo, kita temui ayah!”
Yuli tak mampu berpikir lagi. Ia hanya seorang dayang. Namun adakalanya ia mempunyai firasat layaknya para pemimpin ini. Tetapi ia tetaplah rakyat biasa yang tunduk terhadap penguasa. Akhirnya Yuli sadar bahwa mungkin benar kata majikannya. Semua itu hanyalah firasat yang tak berdasar saja.
Maya dan lainnya keluar dari hiruk-pikuk pasar Rabaya yang selalu ramai dengan para pengunjung. Mereka memasuki area pemukiman yang dihubungkan oleh jalur-jalur kereta pedati. Maya senang berjalan sendiri, tak seperti putri-putri dari Kadipaten lainnya yang menggunakan kereta kuda kencana untuk sekedar menengok rakyatnya. Ia senang membaur dan sering sekali melemparkan senyuman kepada rakyatnya. Dan tidak sesekali rakyatnya memberikan buah tangan berupa manik-manik atau buah segar yang baru dipetik dari kebun mereka. Maya menerima apa saja, kecuali kepengan emas dan makanan dalam jumlah besar. Menurutnya kehidupannya di Kadipaten sudah sangat tercukupi.
Rumah-rumah kayu beratapkan joglo berjajar dengan pembatas pagar bambu yang disusun membatasi setiap jengkal tanahnya. Jalan tanah yang dikeraskan dengan batu kerikil membelah pemukiman warga sehingga jalanan itu begitu ramai ketika siang tiba. Banyak bocah-bocah kecil bermain lari-larian. Hal-hal itu menarik perhatian Maya yang sesekali ikut bermain dengan mereka. Namun tidak sesekali Yuli menjelaskan Maya akan tujuan sesungguhnya, yaitu menemui sang ayah.
Pemukiman penduduk mulai sepi ketika Maya mulai berpapasan dengan para tukang kayu dan batu. Mereka bekerja untuk membangun padepokan baru untuk sang Prabu. Proses pengerjaannya masih dalam tahap perataan lahan, namun ayahnya yakin bahwa pengerjaan ini akan cepat selesei karena sang ayah mengutus seluruh tukang kayu dan batu di Yudanta. Mereka semua dipekerjakan siang dan malam dengan bayaran yang tinggi.
Di areal itu, beberapa pohon sudah dirobohkan dan akar-akar mulai dicabut dari tanah. Tanahnya mulai diratakan dan diberi batas sebagai acuan pondasi bangunan yang berdiri megah itu. Di ujung sana terdapat beberapa tukang kayu yang sedang menghaluskan kayu-kayunya. Semuanya bekerja tanpa lelah sedikitpun, tentunya diimingi dengan bayaran tinggi yang ditentukan ayahnya.
Maya melihat sebuah tenda dengan empat prajurit Jagabaya berjaga disetiap sisinya. Disamping pintu tenda terdapat panji bersimbol Ikan sura dan seekor buaya yang saling melilit bagai dua ekor ular ditengah samudra. Simbol itu merupakan simbol kebesaran Yudanta dari masa lalu hingga sekarang.
Sesaat sebelum Maya memasuki tenda, ia berpapasannya dengan kangmasnya, Candra. Seperti biasanya, Candrakanta selalu bermuka masam dan tak enak dipandang. Namun ia sebenarnya kakak yang baik bagi Maya, hanya saja sifatnya yang keras mengalahkan semuanya.
Candra hanya melewati Maya, tanpa menoleh atau menyapa sedikitpun. Ingin rasanya Maya memanggil, namun hal itu enggan dilakukan karena mengamati raut wajah dan gerakan tubuh Candra. Ia pasti baru saja selesei berdebat dengan sang ayah. Sehingga tak pantas jika Maya memperburuk suasana hatinya.
Dalam rasa kecanggungan, Maya memasuki tenda Adipati Susno. Di dalam tenda, sang ayah sedang terduduk. Kursi kerja yang besar dengan sandaran kayu ukiran dan bantalan beledu yang empuk serta meja yang cukup luas untuk mempermudah hasil kerja sang Adipati. Namun sepertinya, cara duduk sang adipati menandakan ketidaknyamanan pikirannya. Ia duduk bersandar lunglai dikursi itu dengan tangan bertumpu di lengan kursi, dan salah satu jemarinya memijat keningnya sendiri. Maya menatap keheranan, seluruh tinggah ayahnya yang sepertinya memendam seuatu yang berat.
Sejenak Maya ingin mengurungkan niatnya untuk bertemu sang ayah, namun tangannya terlanjur menyibakan kain tenda dan sang ayah menatapnya. “Maya, masuklah putriku!”
Maya menatap sang ayah, lalu menoleh ke arah Yuli dan ia berbisik, “tunggu saja diluar.”
Kemudian Maya memasuki tenda kecil yang diperuntukan sebagai ruang kerja dadakan bagi sang ayah. Langkahnya hati-hati ketika ia melangkah masuk.
Raden Adipati Susno Abikusno mengenakan beskap berwarna biru tua dengan sematan kancing berwarna emas. Jariknya sepanjang setengah betisnya dan selop hitam tersemat dikakinya. Tak lupa, blangkon biru dengan corak hitam melengkapi sandangan sang penguasa Yudanta itu. Warna yang ia kenakan sangat cocok dengan suasana hatinya yang sedang membiru. Setidaknya hanya itu yang dirasakan oleh Maya saat ini.
“Duduklah putriku!” Perintah sang Ayah. Maya dengan canggung melangkah mendekat dan menarik sebuah kursi di hadapan ayahnya. Maya hanya terdiam menunduk, tak berani menatap sang ayah yang sedang dirundung masalah.
Susno sang ayah mengambil nafas panjangnya, lalu ia mulai berbicara, “Maya, putriku. Engkau sudah berusia 14 tahun sekarang dan tak lama lagi ayah akan memilih seseorang lelaki ningrat yang akan menjadikanmu seorang istri. Namun sayang putriku, ayah tak dapat memilihkanmu seorang suami yang baik. Tapi ayah berharap, engkau bersedia dinikahi oleh Raden Sahastra, putra Prabu Aryawangsa.”
Sekejap, darah Maya berdesir mengikuti dentuman jantungnya. Ki Palinggar pernah bercerita bahwa Prabu Aryawangsa mempunyai seorang putra yang gagah perkasa, bernama Raden Sahastra. Namun ketika Maya menatap wajah sang ayah, cerita kepahlawanan dari Kedaton itu seakan sirna. Ayahnya murung tanpa sedikitpun menunjukan rasa bahagia di dalam dirinya.
“Benarkah ayah!?” kejut Maya yang menegakkan pundaknya. Ia merasa dirinya bangga karena ia akan dinikahi oleh seorang Pangeran dan suatu saat nanti pangeran itu akan menjadi seorang Prabu.
“Ya,” jawabnya singkat. Raden Susno menghela nafasnya, lalu berbicara kembali, “Ayah takut, nduk?”
Maya bangkit dan bergegas melangkah kearah sang ayah. Ia bersimpuh di pangkuan sang ayah sembari menatap sayu kearah ayahnya. “Ayah, kenapa harus takut?”
“Engkau tahu aturan seorang Prabu di Jawadwipa ini?”
Maya menjawab dengan anggukan sembari mengingat semua cerita dari Ki Palinggar. Sebelum ia mengingat semuanya, sang ayah menyela ingatan Maya.
“Jika engkau menikah dengan Raden Sahastra. Berarti engkau bakal menjadi seorang Ratu di Kedaton Ardaka. Namun seorang Prabu juga memiliki beberapa Selir yang akan membagi ranjang kalian berdua. Tentu saja, hal itu akan menyakitkan bagi wanita siapa saja.” Raden Susno memberi jeda sejenak. Maya tetap terdiam, lalu menundukan wajahnya sebagai pertanda penghormatan terhadap sang ayah. Dibalik ketenangan perangainya, hatinya serasa berbunga karena ia akan dipinang oleh seorang pangeran. Tentu saja, semua itu adalah yang paling Maya idam-idamkan selama ini. Maya kembali teringat mimpinya, ia merasa Dewa-Dewi telah mengabulkan permintaannya. Padahal ia tak pernah sekalipun memohon permintaan ini kepada-Nya.
“Apakah engkau sanggup, Mayalisa putriku?”
Maya kembali menengadah menatap wajah ayahnya. Semburat senyum terpancar di wajahnya, sehingga ayahnya terpaksa harus mengikuti senyumannya. “Maya bersedia ayah, jika itu perintah dari Prabu. Aku akan menjadi suami dan Ratu yang baik bagi pangeran kelak di kemudian hari.”
Sang ayah semakin tersenyum lebar. Jemarinya membelai rambut Maya sembari berkata, “engkau memang anak yang berbakti. Berbeda sekali dengan kangmas-mu...”
“Kenapa dengan kangmas Candrakanta, ayah?”
“Yah, tentu saja. Didalam surat itu, ia juga dijodohkan dengan putri Prabu Aryawangsa, Raden ayu Ratnasastra Aryawangsa. Tentu saja, ia tak pernah sependapat dengan ayah.” Raden Abikusno mengeluh.
“Hmn, aku akan coba bantu membujuk kangmas. Siapa tahu ia bersedia menikahi putri Prabu.” Maya mencoba berpura-pura kepada ayahnya. Tentu saja, omongan itu hanya sebagai pelepas penat bagi sang ayah. Ia tahu bahwa tak mudah sang kakak mendengar perkataannya. Apalagi menyangkut pernikahan yang dipaksakan itu.
======
“Benarkah, masayu?” Yuli berseru bahagia kepada majikan belianya itu.
“Benar Yul, aku sudah membaca titah itu dengan mata kepalaku sendiri.” Maya mempertegas ceritanya. Lalu mereka berpelukan layaknya seorang teman yang sedang dirundung kebahagiaan.
“Eh, ada apa ini kok ribut-ribut?” Ranti memasuki ruangan dapur diikuti dengan Nyi Sasmi yang selalu terlihat serius. Mereka membawa bakul berisi wortel, kubis, terong, dan kentang. Sepertinya mereka baru pulang dari pasar.
“Ini, den ayu akan dinikahkan dengan Raden Pangeran Sahastra. Itu lho, putra mahkota dari Kedaton Ardaka.” Ungkap Yuli.
“Benarkah den ayu!?” Ranti terkejut lalu meletakan bakulnya. Ia melangkah kearah Maya dan memeluknya. Mereka terasa haru biru mendapati berita bahagia ini. Namun tidak bagi Nyi Sasmi, ia tetap mengerjakan pekerjaannya, yaitu merapikan barang belajaan ke tempat penyimpanan. Dalam keheningan, mereka bertiga tertegun setelah Yuli mendapati perlakuan aneh dari Nyi Sasmi. Seharusnya ia juga merasa bahagia karena anak asuhnya akan menikahi seorang pangeran tampan dari Kedaton Ardaka.
Melihat kejanggalan itu, Maya menghentikan tawa mereka berdua dan mendekati Nyi Sasmi. Langkahnya terasa kaku dan canggung untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan dayangnya yang paling setia. “Mbok,” panggil Maya dengan nada merajuk.
“Aku sudah dengar, putriku,” jawab Nyi Sasmi dengan mata yang mulai sembab berair. “Engkau akan menikah dan meninggalkan Yudanta ini.”
Air mata Nyi Sasmi tumpah dipelukan Maya yang juga menumpahkan air matanya. Seharusnya Maya tahu, Nyi Sasmi-lah yang mengurusnya hingga sebesar ini. Kesetiannya menyerupai ibu kandungnya sendiri. Di tangannyalah Maya menjadi seorang gadis yang cantik dengan segala kesantunannya. Ia tak akan bisa membalas jasa Nyi Sasmi yang selama 14 tahun ini mengasihinya seperti anak kandungnya sendiri.
Dalam keharuan itu, Maya berbisik kearah dayang yang juga ia anggap sebagai ibu angkatnya, “setelah menikah nanti, aku akan sering datang kemari. Atau aku akan membawa Nyi Sasmi, Yuli dan Ratna untuk berkunjung ke Ardaka. Disana, kita akan bersenang-senang.”
Ratna dan Yuli juga turut hadir dengan air matanya. Air mata bahagia bercampur kesedihan akan hadirnya perpisahan diantara mereka. Maya yang paling bersedih karena tak lama lagi ia akan dibawa ke Ardaka dibawah panji Prabu Aryawangsa. Disana ia akan menikahi putra mahkota dan memberikan keturunan yang akan meneruskan garis suksesi penguasa Jawadwipa. Ia akan tua dan mati disana sebagai seorang Ratu yang kaya raya. Semua cerita bahagia itu terasa hambar disaat seperti ini. Disaat perpisahan yang akan datang tak lama lagi.
Di malamnya yang sunyi, Maya tak henti-hentinya memikirkan bagaimana wajah Raden Sahastra. Apakah ia tampan? Apakah ia bertubuh tinggi? Apakah ia gagah perkasa? Semua pertanyaan itu menggantung di pikiran sayupnya.
Malam ini, mata Maya enggan untuk tertutup. Tubuh telanjangnya tertutup oleh kain jarik yang tidak seharusnya ia jadikan sebagai selimut. Ia merasa gerah karena malam ini cukup cerah. Udara panas menguar sehingga Maya memutuskan untuk tidak menambah selimutnya. Dibalik kain jarik itu, matanya terpejam namun tak tertidur. Angannya bergulat dengan segala kemungkinan akan kenyataan yang hinggap. Hingga pada saatnya nanti ia akan menemui sang calon mempelai di singgasana pengantinnya. Lalu para tamu berdatangan dari seluruh penjuru Jawadwipa. Kemudian ketika malam tiba, sang pangeran menyentuh tubuhnya.
Maya terbayang ketika malam pertamanya tidur bersama pria yang sudah sah menjadi suaminya. Tentu saja, pikirannya cukup lugu untuk membayangkan apa yang terjadi ketika malam itu tiba. Lalu ia teringat kepada mimpinya beberapa hari lalu. Di sebuah taman bunga, seorang pria tampan merengkuh tubuhnya. Pria itu mencumbu bibir Maya seraya tangannya memainkan buah dadanya. Rasanya sungguh nikmat jika semua itu nyata, ketika jemari kekar sang pria menelisik ke kebayanya dan menemukan p****g s**u belianya.
Ketika memikirkan hal itu, tanpa sadar jemari Maya menyentuh ujung p****g susunya. p****g dengan daging kecil mencuat berwarna merah muda, namun serasa nikmat jika tersentuh oleh jemarinya sendiri. Semakin lama, nafasnya semakin berat seakan terbebani oleh segelintir hasrat yang mulai mencuat. Usianya masih 14 tahun dan bulu-bulu di sekitar rongga kelaminnya mulai menyirat. Entah kenapa, bibir rongga kewanitaan Maya semakin gatal sehingga tak pelak jemarinya menelusup di sela pahanya.
Maya terbaring terlentang, matanya menantang langit-langit dengan jalinan kayu petanang yang dimapatkan. Tangan kirinya mengusap sela-sela pahanya dan tangan satunya memelintir p****g susunya. Buah dadanya belum mengembang sempurna, namun cukup mengkal jika diremas oleh tangan-tangan tak kasat mata. Dibenaknya, ia membayangkan pangeran Sahastra sedang mencumbu dirinya. Wajahnya terbenam diantara kedua paha Maya, lalu sapuan lidah sang pangeran menyapu setiap lendirnya. Kejangan tubuh Maya semakin menguat ketika dorongan diantara rongga selangkangannya semakin kuat. Pinggulnya bergerak mengikuti getaran birahi purba yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di balik angannya, ia mencoba mengikuti gerakan tangannya yang mengusapi tubuhnya sendiri. Seakan pangeran Sahastra yang kasat mata sedang meneruskan permaian nakalnya. Ia mengusap perutnya, lalu kembali lagi ke selangkangannya. Dadanya membusung diiringi lengkuhan ringan dibibirnya. Tubuhnya bergetar ketika kedua tangannya mulai meremas buah dadanya sendiri. Lalu salah satu tangannya kembali lagi ke selangkangannya.
Jemarinya mengusap sendiri daerah yang mulai berlendir itu. Terkadang ia mengusap dan terkadang pula ia memijat. Lalu dalam sekali waktu, tubuhnya mengejang tak karuan. Seakan tenaganya tertumpah keluar dan darahnya berdesir ke ubun-ubun. Waktu seakan berhenti bergerak dan suara serangga di sekitar berhenti menggertak. Birahinya tumpah diantara lendir yang mulai menyelinap keluar dari sela rongga bahagianya. Ketika waktunya tiba, rongga itu akan dimasuki sebatang kejantanan yang akan membuatnya mendesah kelojotan. Namun angannya belum mencapai hal seperti itu. Ia masih terlalu belia untuk mengetahui semuanya.
Tubuh maya masih mengejang gelimpangan. Tenaganya habis sehingga rasa lelah melanda tubub telanjangnya. Peluh mencair di beberapa tempat di tubuhnya, sehingga ia merasa pegah malam ini. Aduh panas sekali! keluh Maya dalam batin kecilnya.
Ia memutuskan untuk membasuh tubuhnya di sumur halaman belakang. Mungkin dengan seperti itu, ia dapat tertidur pulas malam ini. Dalam keheningan ia bangkit dan melangkah ke arah pintu. Rumahnya begitu sepi karena sang ayah tidak pulang hari ini. Raden Abikusno memutuskan untuk tidur di tenda dekat lokasi pembangunan karena pembangunan harus dilakukan siang dan malam. Sehingga ia hanya tinggal bersama kakaknya dan dayang-dayangnya yang bertempat di halaman belakang.
Rasa kantuk melanda diri Maya, namun rasa gatal akan peluh akan menggangunya kelak jika tengah malam tiba. Ia bergegas melangkah membuka pintunya dan melangkah melewati beberapa ruangan. Namun ketika ia tepat berada di depan pintu kamar sang kakak. Ia mendengar suara jeritan yang tertahan. “Auchh, pelan-pelan, den.”
Maya beringsut mendekatkan telinganya kearah pintu kayu yang sepertinya terkunci dari dalam. Disamping jeritan singkat itu, ia mendengar suara ranjang yang berdecit secara beraturan. Maya penasaran dan ingin mengetuk pintu kamar kangmasnya, namun ia juga berpikir jika ia mengetuk pintu maka keributan akan terjadi. Tak ada lubang di kamar sang kakak karena melubangi kayu ulin adalah hal yang mustahil dilakukan. Hanya jendela dan pintu saja yang memisahkan sang empunya kamar dengan ruangan lain.
Jendela!!! Jerit Maya dalam batinnya. Langkah Maya mengendap dan membuka secara pelan pintu belakang. Angin sesekali berdesir di puncak pepohonan mengiringi langkah Maya yang menuju ke samping rumah. Ketika ia mengendap, ia melihat jendela kamar sang kakak yang tak tertutup sempurna. Namun kain tirainya mengagangi cahaya sentir yang menyeruak membentuk guratan di kegelapan.
Jantung Maya berdetak cepat ketika ia telah sampai di ambang jendela. Tirai dikamar Candra merupakan tirai transparan berwarna putih dan berenda. Sehingga mampu ditembus apa saja. Dengan hati-hati, Maya mengubah posisi jendelanya, sehingga kepalanya dapat memasuki sela-sela jendela. Deritan ranjang sang kakak terlihat liar sehingga tak memberi pengaruh bagi deritan di jendelanya. Lalu dalam kehati-hatian Maya memasukan kepalanya dan menatap kearah kamar kakaknya.
Betapa terkejutnya Maya ketika menatap dari balik tirai transparan yang berenda itu. Sang kakak sedang duduk dan menghujamkan pinggulnya. Entah apa yang kakaknya lakukan, Maya tak tahu. Namun ia berusaha keras untuk mengetahui siapa yang terbaring mengangkang di ranjang kakaknya. Tumpukan kain jarik yang terurai menutup pandangan Maya untuk mengetahui siapa wanita yang sedang dikerjai Candra, kakak kedua Maya.
Maya hanya melihat puncak p******a yang terlontar mengikuti hantaman keras pinggul kakaknya. Wajah sang kakak terlihat bengis, namun pipinya memerah dan sesekali liur menetes dari bibirnya. Wanita itu membusungkan dadanya sehingga buah d**a mengkal itu menjadi sasaran remasan jemari Candra. Lalu Maya mendengar bisikan lirih dari bibir sang wanita, suaranya terdengar serak sehingga Maya tak berhasil untuk memutuskan siapakan wanita itu.
“Auhhhh, Den bagus...!!! Enaaakkkk,, ahhhh!” desah wanita itu. Desahan itu membuat Candra semakin kelabakan. Ia menimpa tubuh wanita itu dan menghujamkan pinggulnya lebih cepat. Decitan ranjang kayu jati itu semakin keras, namun Maya tetap tidak mengetahui siapa wanita yang sedang b******u dengan kakaknya itu. Tangan wanita itu melingkar dan menekan di leher kakaknya sehingga membuat wajah kakaknya semakin terbenam. Maya mendengar suara kecupan dari dalam kamar, Maya yakin bahwa mereka sedang berciuman.
Entah apa yang dipikirkan Maya, sepertinya ia menikmati setiap adegan yang terpampang di hadapannya. Dari posisinya ia mengamati b***************n sang kakak yang terlihat setengahnya, menghujam menerobos liang kewanitaan sang wanita yang mengeluar lendir putih, warna yang sama seperti milik Maya beberapa saat lalu.
Maya tetap tertegun di tempatnya, sembari mendengarkan desahan dan decitan ranjang yang semakin menggeliyar. Ia tak peduli lagi dengan siapa wanita yang menggoda kakaknya. Parasnya merah merona mengiringi dengusan nafasnya. Pahanya serasa menyempit karena desakan rasa gatal menjalar di sela-sela rongga kawinnya.
Lalu Maya mendengar desahan tak tertahan dari bibir kakaknya. Sang kakak mengejang dari posisi tumpukan. Cairan kental menetes dari rongga berlendir sang wanita. Maya terkejut, namun rasa penasaran membuat dirinya untuk tetap berada di posisinya. Dalam waktu yang tak lama, sang kakak bangkit lalu merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.
Ternyata,,,
Betapa terkejutnya Maya ketika melihat wajah Yuli berada diranjang kakaknya. Wajah putihnya merona bersamaan dengan semburat senyum di bibirnya. Maya langsung berjongkok, ia tak percaya bahwa Yuli yang ia kenal, ternyata berwatak b***t. Ia telah menggauli kakaknya yang harusnya menjadi majikannya. Ditambah lagi, Yuli sudah mempunyai suami yang sedang bertugas untuk mengamankan Kadipaten Yudanta.
Tubuh Maya beringsut dalam keheningan malam. Ia serasa ingin pingsan setelah melihat sesuatu yang seharusnya tak pernah dilihatnya. Ini aib bagi keluarga, bagaimana jika ayah mengetahui? Bagaimana jika Prabu mengetahui bahwa calon mantunya pernah tidur bersama dayangnya? Bagaimana jika,,, bagaimana jika,,, bagaimana jika,,, Rasa pening melanda keningnya seiring dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Semua yang dianggap baik di hadapannya ternyata tidak sepenuhnya sempurna, Maya cukup mengetahui hal itu.