Part 5 : Padmi

2058 Kata
Padmi   Tubuhnya yang indah dipenuhi peluh yang setia merajam setiap kulit kuning langsatnya. Matanya coklat menatap sayu ke awang-awan ketika sang Prabu mulai menghisap p****g s**u kecoklatannya. Bibirnya mendesah merasakan setiap hentakan tubuhnya menunggangi sang Prabu yang sejenak melepas kekuasaannya.   Ketika malam tiba seperti inilah tugasnya, melayani dan melepaskan kepenatan Prabu yang seharian menghadapi tugasnya. Usianya masih empat puluhan, namun tubuhnya masih begitu kencang dan nafsunya berkobar ketika berada di ranjang. Rahimnya sudah menelurkan seorang pangeran dan seorang putri. Namun hasratnya untuk mempunyai buah hati masih memuncaki setiap angan liarnya.   Rambut Padmi tergerai indah ketika decitan ranjang yang melelahkan terdengar nyaring. Pinggulnya bergoyang merangsang kejantanan sang Prabu yang sesekali muncul dan tenggelam di balik liang kewanitaan lembabnya.   Sudah sejak tiga tahun lalu, Prabu menyukai posisi itu. Menurutnya, tenaga Prabu sudah tak semuda dahulu. Sehingga saatnyalah Ratu Padmi memberikan pelayanan bagi suaminya. Membangkitkan hasrat Prabu bukanlah mudah bagi Padmi yang masih kencang. Sesekali ia harus memijat kejantanan sang Prabu atau menelan batang itu bulat-bulat. Setelah menegang, barulah Padmi melancarkan aksinya.   “Ahhhh,,, seperti itu ratuku. Terusss,,, huaahhh!” Prabu Aryawangsa mendesah sembari meremas kedua buah d**a istrinya.   Gerakan Padmi semakin liar ketika kedua p****g susunya menjadi permainan jemari nakal sang Prabu. Sehingga tubuhnya tergoncang untuk menghujam semakin cepat. Lalu seketika liang kewanitaannya serasa padat oleh cairan yang mencair memenuhi rongga lembabnya. Rongga itu berdenyut pelan, lalu kencang. Sejenak Padmi menghentikan gerakan tubuhnya. Desisannya menyelinap dari sela bibirnya dan lengkuhan menandakan puncak nafsunya.   Ia gelisah, ketika tubuhnya terangkat oleh kejangan nikmat yang melanda tubuh sintalnya. Dadanya membusung sehingga serangan jemari Aryawangsa semakin gencar terasa. Ketika nafsunya memuncak, ia menumbangkan tubuhnya ke atas tubuh penguasanya. Bibirnya yang lembut bersatu dan dengusan menekan nafasnya.   “Auuhhhhh, padukaaa!” bisiknya penuh nada rayu.   “Semangat sekali engkau akhir-akhir ini, ratuku!” Ujar Prabu sembari mendorong tubuh ratunya kembali ke posisinya. Tak pelak buah d**a Padmi kembali menggantung dan menjadi incaran sang Prabu.    Tak ada perintah lagi, baru saja Padmi mencapai puncak. Sekarang ia harus melayani Prabu-nya kembali. Tubuhnya kembali bergoyang walau nafsunya tak sebesar awalnya tadi. Setidaknya ia harus tetap menggoyangkan pinggulnya sampai sang Prabu mencapai puncaknya.   Sang Prabu memang perkasa. Dahulu kala, Padmi selalu menantikan saat malam tiba. Saat dimana sang Prabu menindih tubuhnya dan ia mengerang di dekapan suaminya. Sekarang Prabu masih sama, namun ia enggan mengambil posisi puncak karena faktor usia.   Tubuh Padmi melompat-melompat mengikuti setiap tepukan di persatuan tubuhnya. Sesekali ia menatap b***************n Prabu yang menghujam di liang kewanitaannya. Hal itu membuat nafsunya bangkit kembali setelah puncaknya tadi. Di tambah lagi, kini Prabu duduk dari pembaringannya. Bibirnya menghisap p****g s**u istrinya dan kumisnya menyentuh kulit buah d**a Padmi.   Padmi semakin terangsang ketika jemari nakal Prabu menyelip di sela belahan pantatnya, memainkan kulit anusnya yang sensitif. Rasa geli bercampur nikmat begitu terasa ketika tepukan nakal dari telapak tangan Prabu menampar bongkahan pantatnya.   Lalu tak lama setelah itu. Sang Prabu mengerang. Hisapan di p****g susunya semakin keras disertai goyangan lidah yang menyapu ujung kerasnya. Gigi sang Prabu menyeka bagian sensitifnya ketika cairan kental mulai menghujam bagian kewanitaannya.   Sang Prabu kelojotan ketika Padmi menggoyangkan pinggulnya secara memutar~~seakan memeras setiap cairan yang keluar dari batang kejantananya. Padmi tahu bagaimana reaksi sang suami jika hal itu terjadi. Prabu mendengus kencang lalu merebahkan diri di ranjang. Wajah Prabu tersenyum girang diikuti senyum penuh kepuasan dari ratunya.   Gusti Kanjeng Ratu Padmi adalah seorang permaisuri dari Kedaton Ardaka. Ia adalah putri dari Adipati Wardoyo yang berkuasa di Kadipaten Batavia. Sifatnya begitu anggun dengan mata coklat tajam dan penuh kesinisan. Namun ia begitu menyayangi keluarganya, terutama Sahastra. Sebagai seorang Ratu, wajib untuknya mengajarkan budi pekerti kepada Sang Raden Pangeran. Untuk putrinya sendiri, ia tak begitu peduli karena kelak putrinya akan dinikahi oleh seorang Raden dari keluarga ningrat manapun.   Usianya masih empat puluhan, namun tubuhnya masih kencang layaknya seorang bidadari. Keseharian rambutnya selalu tergelung rapi dengan kebaya penuh manik dan jarik indah bermotif batik.   “Haaahhh, terima kasih, ratuku.” Bisik Yudha Aryawangsa yang menempelkan pipinya tepat di buah d**a mengkal Ratunya.   “Kenapa paduka Prabu harus berterima kasih?” Jawab Padmi yang membusungkan dadanya sehingga p****g susunya menyentuh bibir Yudha Aryawangsa.   “Karena engkau telah memberiku seorang pangeran dan seorang putri. Terlebih lagi, engkau tak pernah bosan melayaniku.” Sang Prabu mendekap erat tubuh istrinya. Ia merasakan aroma hangat dari tubuh istrinya yang dipenuhi peluh itu.   “Sudah menjadi tugasku, paduka Prabu.” Padmi mengusap rambut suaminya. Rambut sang Prabu hanya dapat diusap ketika berada diranjangnya. Tak ada orang yang berani mati mengenaskan jika mengusap rambut sang Prabu ketika ia duduk di singgasana.   Sejenak pasangan Prabu dan Ratu itu terdiam menikmati jalinan cinta yang telah tumbuh 21 tahun lamanya. Lalu Padmi sang Ratu angkat bicara, “apakah benar paduka ingin mengunjungi Yudanta?”   Prabu yang setengah mengantuk menjawab sekenanya, “ya, itu sudah semacam tradisi.”   “Tetapi, apakah tidak terlalu berbahaya jika paduka jauh dari dinding Kedaton Ardaka? Alangkah baiknya paduka mengirim titah itu kepada adipati Yudanta.” Ujar Padmi memberi nasihat kepada sang penguasa.   Prabu melepaskan pelukannya dan terbaring terlentang di ranjangnya. Matanya menatap awang-awang yang disinari cahaya lilin yang temaram. Lalu ia berkata, “Kakek buyutku, Prabu Kresno berkuda tujuh hari tujuh malam untuk menjemput Mangkubumi-nya di Paramasta. Kakekku membuka jalur para penguasa untuk menawarkan posisi berharga itu kepada Adipati Sastrawijaya, dan ayahku mengendarai kudanya sendiri ketika arak-arakan ke Matawirya. Sedangkan aku malah mengirim merpati untuk mengundang sahabatku Susno Abikusno untuk menduduki posisi Mangkubumi di Kedaton Ardaka.”   Prabu Yudha menarik nafasnya sejenak. Lalu ia meneruskan alasannya kembali, “posisi mangkubumi sangat penting, ia adalah penasihat dan sebagai wakilku di singgasana jika aku berhalangan. Keputusannya adalah keputusanku. Dan aku akan menjemput seorang prajurit Manggalayuda terbaik yang pernah aku kenal.”   Sang Ratu hanya terdiam sembari menekuk wajahnya di lengan sang Prabu.   “Aku dengar! Susno mempunyai dua orang putra dan seorang putri. Seorang putranya sudah mengabdikan dirinya sebagai prajurit Mangkujiwo. Aku berencana menikahkan Hastra dan Ratna dengan kedua putra-putri Susno sisanya!” ujar sang Prabu.   Hal itu ditanggapi serius oleh Ratu yang mengangkat kepalanya dari sandaran lengan sang Prabu. Sang Prabu keheranan melihat Ratunya yang mendadak berubah, “ada apa, ratuku?”   Padmi terduduk di ranjangnya. Matanya sayu menerawang diantara sinar lilin yang temaram. Di pikirannya, ia tak menyadari bahwa putra-putrinya sudah dewasa. Ia tak menyangka bahwa ia baru saja menyapih Ratna, lalu sekarang putra-putrinya sudah dewasa dan siap untuk menikah.   “Tidak apa, paduka Prabu. Aku tak menyangka bahwa waktu berjalan begitu cepat dan sudah saatnya putra-putri kita menikah.” Ujar Padmi sembari menatap mata suaminya.   “Dan tentu saja, cepat atau lambat. Kita akan menimang seorang cucu.” Ucap Yudha lirih sembari merengkuh kembali tubuh istrinya untuk kembali ke pelukannya.   •••   Pagi itu, hiruk pikuk para Dayang Astana dan Kacung berlalu lalang. Mata Padmi terasa lelah ketika ia harus berpikir semalaman tentang putra-putrinya yang akan menikah, atau lebih tepatnya dinikahkan. Rambutnya selalu tergelung rapi, dengan hiasan manik emas bermata berlian di tusukan gelungnya. Kebayanya berwarna hijau tua dengan renda bunga yang indah. Lalu jariknya membungkus rapi kaki jenjangnya. Seakan seluruh pakaian mahal itu menutupi usianya yang mulai menginjak setengah baya.    Padmi melangkah menyusuri sebuah selasar untuk menemui putrinya yang mungkin sedang tidur di pagi yang cerah ini. Padmi selalu keras terhadap Ratna karena Ratna dikenal bengal dan susah untuk diatur. Sebagai seorang Raden Ayu, tak baik jika ia terbangun ketika matahari sudah meninggi. Langkah selop Padmi menghujam lantai kayu tempat putrinya tertidur. Padmi memandang pintu kamar putrinya selalu tertutup dan terkunci rapat. Sehingga tak ada seorangpun yang berani mengetuknya.   Dengan rasa kesal, Padmi mengetuk pintu kamar putrinya. Suaranya keras dan tak sabar. “Ratna!” Teriaknya dari luar pintu.   Tak ada pergerakan apapun. Hanya lengkuhan manja saja yang terdengar dari telinga Padmi, “bangun Ratna! Hari sudah siang!”   Ratna akhirnya menyerah. Terdengar suara langkah lunglai dari kamar putrinya. Suara langkah itu mendekati pintu dan seketika pintu terbuka.   Padmi dengan mata tajam penuh amarah merangsek masuk kamar putrinya. Sungguh tak disangka, kamar Ratna berantakan dan tidak seperti kamar seorang putri keluarga ningrat lainnya. Bahkan kamar para dayang saja tidak seberantakan ini. Hal ini karena Ratna melarang para Dayang untuk memasuki kamarnya, apapun alasannya.   Hanya Padmi saja yang berani memasuki kamar Ratna karena secara runtutan, Padmi adalah ibu kandung Ratna.   “Kenapa berantakan seperti ini!” Seru Padmi yang memandang jijik kearah kamar putrinya yang berantakan.   Ratna dengan santainya menguap saja, lalu ia duduk di ranjangnya dan terbaring kembali.   Melihat hal itu, Padmi sang Ratu sangat marah. “Hei, bangun! Bersihkan tubuhmu dan temui ibu di ruang makan. Sekarang!” Padmi tak habis pikir dengan kelakuan Ratna saat ini. Ia melihat Ratna yang ogah-ogahan untuk bangkit, lalu meninggalkan putrinya yang pemalas itu sendirian.   Ratu Padmi berjalan dengan langkah penuh amarah meninggalkan padepokan tempat putrinya tinggal. Di Astana Kedaton Ardaka, Ratna dan Hastra tinggal di masing-masing rumah Joglo di areal Astana. Berbeda dengan Padmi dan Sang Prabu yang tinggal di bangunan Joglo utama. Kemewahan selalu ada bagi para pewaris keluarga Kedaton Ardaka ini.   Ratu Padmi melangkah menuju rumah Joglo milik putranya, Raden pangeran Sahastra Aryawangsa. Di rumah itu, semua terlihat rapi dan indah dipandang mata. Tidak seperti rumah yang ditinggal Ratna yang selalu berantakan. Padmi berpikir bahwa Ratna sebenarnya bukan putrinya karena sifatnya sungguh berbeda dengan kakaknya. Ratna hanya patuh kepada sang ayah saja, itu saja karena sang ayah adalah seorang penguasa di Ardaka ini.   Langkah Padmi disambut oleh putranya yang santun. Beskapnya terlihat rapi dan blangkonnya terlihat gagah menutupi rambutnya. Badannya juga tegap berisi sehingga Padmi bangga sudah melahirkan putra yang gagah perkasa.   “Selamat pagi, Ibu. Ada apa pagi-pagi sekali engkau kemari!?” Sambut Hastra kepada Padmi, ibunya.   “Anakku sang pangeran dan pewaris Kedaton Ardaka. Ibu ingin berbicara denganmu dan Ratna. Tapi Ratna sepertinya...”   “Bangun kesiangan lagi,” sela Hastra sembari memandang rumah Joglo milik Ratna. “Sepertinya adinda begadang semalam suntuk.”   “Ya, ibu tak habis pikir dengan ulah Ratna. Ia akan dinikahkan dengan putra dari Kadipaten Yudanta. Bagaimana jika sifatnya masih seperti itu?” Padmi menggeleng serasa tak percaya jika putrinya tak berubah jika sudah menikah nanti.   “Hmn, Yudanta ya.” Hastra melipat tangannya sembari berpikir, “mungkin para nelayan miskin disana akan mengajarkannya cara memancing dan menjala ikan.”   “Huss, jangan bicara sembarangan. Ia tetap Raden Ayu Kedaton Ardaka dan ia juga adik kandungmu.” Sergah Padmi.   Bibir Hastra hanya melengkung sinis. Seakan ia tak percaya bahwa ibunya masih saja membela Ratna yang bengal dan pemalas itu.   “Putraku, apakah ayah sudah memberitahumu soal pernikahanmu dengan salah satu putri dari Adipati Susno?” Tanya Padmi kepada putra kesayangannya.   “Tentu saja, ibu. Aku putra dan pewaris tahta Kedaton Ardaka. Entah suka atau tidak, aku harus menikahinya. Demi kelangsungan dan kejayaan Kedaton Ardaka ini!” Hastra berkata dengan bangga. Walau sebenarnya kata-kata itu sebagai pancingan agar ibunya bangga terhadap dirinya.   “Ibu sangat bangga denganmu, nak. Mungkin engkaulah anak ibu, tidak seperti Ratna yang pemalas.” Padmi berkata sembari memeluk lengan kekar putranya yang telah tinggi tubuhnya melebihi dirinya. “Tapi ibu khawatir?”   Hastra mengubah raut wajahnya. Sepertinya ia begitu lihai merebut hati ibunya, “apa yang engkau khawatirkan ibu? Tenang saja, ayah yang akan membawa calon istriku kemari dan Ratna akan tinggal di Yudanta bersama suaminya. Ibu tak perlu khawatir tentang hal itu!”   “Bukan itu yang ibu khawatirkan!” ujar Padmi sembari mendudukan dirinya di kursi kayu. Hastra tidak ikut duduk. Ia tahu sopan santun, sehingga ia berlutut di pangkuan sang ibu. Matanya tajam menatap wajah ibunya yang mengkerut. “Ibu khawatir dengan jabatan Mangkubumi yang akan diberikan ayahmu kepada Adipati Yudanta.”   “Kenapa dengan Raden Adipati Susno Abikusno, ibu? Kata ayah ia dahulu adalah seorang prajurit Manggalayuda terbaik.”   “Tidak sebaik itu. Ia pernah berkhianat kepada Kedaton.” Mata Padmi menatap tajam kepada anaknya. Lalu ia berpaling menatap indahnya taman Palasari yang terhampar di hadapan rumah joglo putranya. Ia teringat saat dimana ia masih sangat muda. Ketika itu Susno diminta untuk membuang Ratih yang telah menggoda calon suaminya pada saat itu. Ratih yang kala itu mengandung janin hasil hubungan gelap dengan Raden Mas Pangeran Yudha Aryawangsa mendapatkan hukuman mati. Namun utusan dari Kedaton yang kala itu adalah Ksatria temanggung Susno Abikusno tidak menjalankan tugasnya. Susno yang seharusnya mendapat tugas menghukum Ratih atas nama Prabu. Ia enggan untuk melaksanakan tugasnya karena sang pangeran Yudha Aryawangsa memohon padanya. Susno masih menganggap Raden mas pangeran Yudha Aryawangsa sebagai temannya, sehingga Susno melepaskan Ratih di hutan Batara. Hutan yang dipenuhi binatang buas yang dapat mencelakakan siapa saja.   Cerita itu secara simpang siur merebak ke seluruh penjuru Ardaka, bahkan ke seluruh penjuru Jawadwipa. Ratih adalah seorang p*****r belia yang begitu cantik sehingga pangeran jatuh cinta padanya.   “Berkhianat tentang apa, ibu!?” Ujar putranya sehingga lamunan Padmi terpecah.   “Ah, tidak. Itu cerita lama, sekarang mungkin Adipati Susno sudah berubah, putraku. Buktinya, upeti dari Yudanta tak pernah terlambat satu haripun.” Ujar Padmi sembari membenahi blangkon putranya agar terlihat lebih rapi.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN