“Apakah yang kita lakukan ini benar paman?” Ujar Sintha sembari memandang birunya laut yang menyatu dengan langit cakrawala.
“Ya, benar!” Ujar Warman sembari mengasah goloknya dengan batu berminyak. “Engkau harus menikah dengan salah satu pangeran suku Amuntai. Lalu setelah tahu engkau ratunya, kita akan menyerang Jawadwipa dan mengembalikan kembali tahtamu.”
Sintha terdiam. Ia menikmati sejenak desiran angin yang menyentuh rambutnya yang terikat rapi. Matanya bulat besar dan pipinya sedikit lebar, namun parasnya cukup cantik jika dibandingkan dengan para gadis Kedaton. Namun ia tak pernah tinggal disana. Hidupnya berada di kedalaman hutan Batara bersama para pengikut setianya, atau lebih tepatnya pengikut ibu dan pamannya.
Perawakan Sintha cukup lugas dengan lengan yang sedikit lebar dan paha yang jenjang. Ia mengenakan pengikat di kembennya sehingga buah dadanya tak terlontar ketika ia bergerak. Kain jariknya hanya sebatas lutut sehingga tak menggangu pergerakan kakinya. Di sampingnya, busur panah dan anak panah selalu terjaga. Lalu sebilah belati untuk melindungi jika pertarungan berada di dalam jangkauannya.
Matanya setajam elang dan gerakannya secepat macam kumbang. Tak pelak, ia dijuluki Macan Kumbang Betina dari Batara. Usianya sudah menginjak 27 tahun namun belum sekalipun ia merasakan hangatnya seorang pria. Ibu dan pamannya berdalih, ia adalah seorang putri Prabu dan seorang pria ningrat kelak yang akan menikahinya, bukan berandalan hutan yang tak memiliki kehidupan.
Sintha dan kelompoknya disebut sebagai brandalan Batara. Mereka tinggal di pucuk pepohonan dan sesekali turun jika ada mangsa mendekat. Dahulu ibunya yang memimpin, namun Sang ibu tewas, lalu digantikan pamannya. Pamannya adalah adik setia dan bersumpah akan mengembalikan tahtanya kembali. Namun mereka hanyalah segerombolan brandal yang jumlah tak lebih dari satu kompi.
Sintha dan beberapa pengikutnya sedang dalam pelayaran menuju Borneo. Sebuah pulau besar dengan banyak penguasa hidup disana. Sang paman, Warman mendengar berita bahwa Kepala Suku Amuntai sedang memilih pasangan untuk putra pertamanya. Sehingga Sintha akan mengikuti sayembaranya.
“Tetapi, bagaimana jika mereka tak mau mengikuti perkataan kita!” Sergah Sintha yang berdiri kasar di atas dek kapal. Ia sekarang berbicara dengan pamannya yang terfokus dengan goloknya.
“Tenang saja! Suku Amuntai adalah yang terbaik dan terbesar di daratan Borneo sana, suku-suku lain akan mendengar perkataan sang kepala Suku Amuntai yang akan jatuh kepada suamimu kelak.” Jawab Warman.
Sintha enggan mendebat sang paman lagi. Pikirannya kacau balau ketika mendengar ia harus dikawinkan dengan salah satu suku terbesar di daratan Borneo. Sesungguhnya Ia sendiri tak tahu bagaimana caranya menjadi seorang istri. Sedari kecil hidupnya terlunta-lunta dihutan Batara. Hidup berpindah-pindah untuk menghindari para prajurit Kedaton yang selalu membayangi. Namun selama ini, ia yakin bahwa perkataan sang ibu benar adanya. Wajahnya mewarisi ayahnya dan kecakapannya mewarisi sang ibu.
Sang ibu berpesan padanya, bahwa ayahnya adalah Aryawangsa, Prabu Kedaton Ardaka dan penguasa Jawadwipa. Dahulu ibunya menjalin cinta terlarang dengan sang Prabu yang masih berupa pangeran. Namun sang Prabu menolak dan membuang Ibunya ketika masih mengandung dirinya. Lalu sang pangeran Aryawangsa dinikahkan dengan seorang Raden Ayu dari keluarga ningrat. Tak ada harapan bagi sang ibu saat itu. Lalu sang paman yang kala itu menjadi seorang perampok memberinya sedikit harapan, sang paman berjanji akan membalaskan dendam kepada penguasa Ardaka, karena telah membuang adik beserta Sintha yang masih berbentuk janin di dalamnya.
Pengejaran besar-besaran dimulai ketika tersiar kabar bahwa Warman mengambil alih ibunya. Lalu mereka melarikan diri ke hutan Batara untuk bersembunyi. Sesekali mereka ke kota untuk mencuri dan merampok, lalu kembali lagi. Maka dari itu mereka disebut brandalan Batara.
Sintha tahu, betapa sakitnya sang Ibu waktu itu. Cintanya dicampakan lalu dibuang begitu saja, ia tak lebih baik dari seonggok sampah. Namun sekarang, harapan itu kembali bersinar. Sedari remaja, ia dilatih menggunakan panah dan belatinya. Entah berapa jantung pernah menjadi sasarannya, entah juga berapa nyawa pernah ia hilangkan. Namun hal itu sebagai pembelaan dirinya terhadap para prajurit yang mencarinya.
Tubuh Sintha tidak terlatih sebagai seorang putri. Bahunya sedikit lebar dengan tubuh tinggi menjulang. Kakinya sedikit besar namun lincah dan senyap ketika melangkah. Hidungnya pesek dengan lubang kecil sehingga memudahkannya untuk menahan nafas jika ingin menyelinap. Rambutnya lurus dan selalu terikat rapi. Sempat ia ingin memotong pendek rambutnya namun sang paman menolaknya. Menurut sang paman, walau sekuat pria, Sintha tetaplah wanita dan wanita harus memiliki rambut yang panjang.
“Paman!” Panggil Sintha sekali lagi.
“Hmn,” sang paman mendengar namun hanya menjawabnya dengan deheman lagi.
“Kenapa kita tidak menyerang mereka sendirian! Kelompok kita cukup kuat dan aku bisa menyelinap masuk ke Kedaton.” Ujar Sintha yang gusar.
Warman terkekeh keras mendengar pernyataan ponakannya itu, “ya, aku tahu. Engkau memang ahli menyelinap dan kau bisa dengan mudah menguliti Yudha Aryawangsa. Lalu apa yang akan kau lakukan setelah membunuh sang Prabu biadab itu?”
Bibir Sintha tak bergerak sedikitpun dari rahangnya. Ia sadar bahwa terbunuhnya sang Prabu hanya akan menimbulkan pergolakan besar di Jawadwipa.
“Apakah engkau akan duduk di tahta Kedaton Ardaka dan semuanya akan berlutut kepadamu!? Tentu tidak! Ardaka mempunyai 17 Kadipaten dan beberapa kota yang tidak akan diam jika penguasa mereka terbunuh. Lagipula, Prabu pasti punya pewaris lainnya dan juga banyak raden dari banyak Kadipaten ingin menduduki tahta itu.” Kata Warman panjang lebar.
Sintha mengerti sekarang. Mungkin ia harus bersabar dengan semua ini. Lagipula, ia juga tak ingin hidup terus-terusan dalam pengejaran. Namun ia tetap ingin membalaskan dendam ibunya. “Terus, apa yang harus kulakukan jika aku menikah dengan putra suku Amuntai itu?”
Sang paman meletakan goloknya dan melangkah kearah Sintha, “ikut aku?”
Sintha mengikuti pamannya. Mereka melangkah melewati dek kapal yang layarnya terus berkembang sepanjang waktu. Lalu mereka menuruni dek menuju kabin bawah. Kabin cukup ramai dengan bilik-bilik berupa kamar para penumpang. Namun penumpang kali ini lain dari biasanya. Mereka segerombolan perampok dan brandal yang berlayar menuju Borneo.
Sintha melewati bilik-bilik tanpa pintu itu satu persatu. Entah erangan kesakitan atau erangan kenikmatan terdengar hampir di seluruh bilik penumpang itu. Sekilas Sintha melirik ke arah salah satu bilik. Ia melihat seorang p*****r sedang digumuli dengan dua orang pria sekaligus, tanpa ampun. Tentu saja pria-pria itu adalah pengikutnya yang haus akan nafsu belaka. Seorang pria sedang menghujamkan kejantanan besarnya kearah rongga kewanitaan p*****r itu dan seorang lagi sedang memaksa kejantanannya memasuki mulut p*****r itu, sehingga p*****r itu berkali-kali tersedak karena kasarnya perlakuan sang pria. Setiap bilik sama saja, bahkan ada seorang wanita yang di bantai oleh tiga orang pria. Kebanyakan dari mereka menangis tak tahan oleh hentakan para pria brandal itu.
Entah kenapa? Warman sengaja memilih kapal dengan fasilitas pelacuran di dalamnya. Menurutnya ia sadar bahwa anak buahnya butuh sedikit hiburan.
Akhirnya, mereka berdua telah sampai disebuah pintu di ujung buritan kapal. Pintu itu tetap tak berpintu namun tertutupi oleh tirai sutra berwarna merah muda. Dengan rasa canggung Sintha memasukinya.
Aroma kayu manis yang dibakar sangat menyengat, namun cukup menenangkan bagi Sintha. Matanya menyapu perabotan sekitar ruangan. Semua tersusun rapi dan terselimuti kain beledu berwarna merah jambu. Semuanya tersusun rapi berikut ranjang besar dan empu di tengah ruangan. Sintha merasa ruangan ini adalah ruang paling mewah diantara lainnya. Kamarnya yang berada di dek saja tak semewah ini.
Lalu dari balik sebuah bilik yang berada di dalam ruangan itu. Keluarlah seorang wanita dengan pakaian sutra. Wajahnya cantik walau usianya tak lagi muda. Ia mengenakan kain penutup kepala berwarna merah berhiaskan kelingan emas di beludrunya. Bibir dan hidungnya tertutup kain transparan berwarna merah muda, sehingga senyum sang wanita semakin menggoda. Pakaiannya bukan pakaian khas Jawadwipa, ia mengenakan sehelai kemben transparan sehingga p****g s**u kemerahannya tercetak di buah dadanya yang besar dan menggantung sempurna. Ditambah lagi dengan celana tunik berwarna merah ketat sehingga bongkahan pantatnya menggoda. Pemandangan itu seharusnya menarik perhatian Warman, namun Sintha tahu sang paman tak tertarik lagi dengan wanita. Ia pernah tertangkap oleh Kedaton dan mereka melakukan hukuman kebiri untuknya. Hal itu juga menjadi motivasi sang paman untuk menghancurkan Kedaton Ardaka.
“Ini Simla, ia dari Persia. Ia akan mengajarimu menjadi seorang wanita sesungguhnya.” Ujar sang paman sembari mencium tangan Simla yang berlenggok mesra dihadapannya.
Sintha tak tahu harus berbuat apa. Namun Simla mungkin akan membantu dirinya.
“Inikah! Raden Ayu yang pernah engkau ceritakan, Warman?” Ujar Simla yang dengan langkah anggun seperti sebuah tarian dari timur tengah.
“Iya benar!” Ucap Warman yang memandang Sintha didekati oleh Simla.
“Buka pakaianmu, putriku!” Kata Simla lirih.
Sintha kebingungan. Ia menatap pamannya sejenak lalu beralih ke arah Simla.
“Tunggu dulu,” ujar Warman. Sintha menghela nafas sejenak. Lalu berkata kepada Sintha, “aku akan keluar. Selamat berjuang, putri!”
Sintha dipenuhi rasa kecanggungan ketika Warman meninggalkan ruangan. Ia tak tahu apapun soal hal-hal seperti ini. Ia dididik layaknya seorang prajurit dan tak pernah sekalipun menjalin hubungan kepada pria manapun.
“Ayo! Buka semuanya.” Seru Simla tak sabar.
Lalu dengan pelan, Sintha mulai melucuti pakaiannya. Dari mulai kembennya hingga jarik yang sebatas lututnya itu.
Simla menggeleng sejenak sembari memandang tubuh Sintha yang telanjang dihadapannya. “Ada apa dengan buah dadamu, kau terlalu sering menggunakan kemben ketat sehingga daging kembar kesayangan pria ini mengeras seperti batu. Kau harus biarkan dia menggantung bebas di dadamu.” Simla berkata dengan nada penuh rayu.
Sintha semakin bersingsut. Lengannya mengapit kedua buah dadanya sehingga makin mengisut saja. Lalu Simla memberi masukan lagi, “jangan seperti itu! Dorong dadamu kedepan agar lebih terlihat menggoda.”
Sintha tak mampu berkata, walau di dalam batinnya sekalipun. Ia hanya mengikuti kata-kata Simla untuk membusungkan dadanya. “Nah seperti itu, sekarang kau terlihat lebih seksi!”
Simla meraba buah d**a Sintha. Jemari lembutnya menyentuh p****g s**u kecil berwarna coklat kehitaman itu. Sintha bergidik ngeri ketika sentuhan tangan halus Simla menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Hmn, aku akan menjadikanmu seorang putri!” Ujar Simla berjanji seraya menahan dagu Sintha agar tegak lurus dengan matanya.
•••
Tubuh telanjang Sintha diurapi dengan umbi bengkoang dalam jumlah besar. Lalu Simla mencukur bulu-bulu halus yang menempel di sekujur tubuh Sintha, kecuali bagian kewanitaan dan rambutnya. Rambut Sintha juga tak luput dari balutan merang yang berbau apak, namun bagus untuk menghaluskan rambut.
Sintha terbaring terlentang ketika jemari Simla mengurapi seluruh tubuhnya. Aroma kayu manis sangat menenangkan, sehingga ia hampir saja tertidur. Namun beberapa kali Sintha harus tersentak ketika jemari Simla menyentuh daerah sensitifnya.
“Badanmu sangat seksi jika terawat, kupastikan pangeran akan menyukaimu di pandangan pertamanya!” Ujar Simla sembari menyibukan diri mengurapi tubuh Sintha.
Lalu terbeslit pikiran di benak Sintha untuk menanyakan sesuatu pada Simla. “Seperti apa pria di daratan Borneo itu?”
Sejenak, Simla menghentikan aktivitasnya. Ia duduk disebuah bangku pendek dan Sintha bangun dari posisinya yang tengkurap. Simla sepertinya ingin menceritakan sesuatu yang penting bagi Sintha, “mereka pendiam dan pemalu. Namun ketika waktunya tiba, kejantanan mereka melebihi kekuatan seekor kuda!”
Sintha bergidik, ia tahu kuda itu seperti apa. Dalam hatinya, ia mungkin saja mengalahkan para pria di medan pertempuran, namun tidak jika diranjang. Ia sempat melihat bagaimana lemahnya seorang wanita di dekapan pria. Wanita akan menggeram penuh kelelahan seraya merasakan hentakan tak tertahankan dari tubuh pria. Dapat dikatakan bahwa hidup wanita akan terpasung ketika ikatan pernikahan itu tiba.
Tetapi tidak untuknya, suku Amuntai sangat besar dan terdiri dari suku-suku yang tunduk kepadanya. Apabila saatnya tiba, ia bersama pasukannya akan berlayar melintasi Laut Jawa dan merebut kembali tahtanya. Seperti pesan ibu dan pamannya.
Yang jelas, sekarang ia hanya perlu menafsirkan dirinya sebagai seorang putri. Putri yang cantik dari Jawadwipa dan akan dipinang oleh seorang pangeran dari Suku Amuntai di daratan Borneo.
====
Tubuhnya terbalut kebaya indah dari Jawadwipa. Bahannya dari sutra dengan renda bunga menghiasi setiap lekuknya. Rambutnya tergelung membentuk sebuah konde kecil di belakang kepalanya. Riasannya tipis dengan gincu menggores di bibirnya. Jarik, kemben dan stagennya sangat rapi membentuk tubuh bagian bawahnya.
“Kau terlihat cantik sekarang,” puji Simla dengan senyum menggulung di bibirnya.
Sintha menjawab dengan senyum tipis. Pandangannya menatap cermin di hadapannya. Ia begitu terkesima dengan riasan Simla yang menurutnya~~tiada duanya.
Lalu Sintha berdiri, ia menatap lekuk tubuh indahnya yang selama ini tertutupi oleh pakaian perang yang menyatu dengan dirinya. Biasanya, Sintha hanya mengenakan kain yang terlilit di tubuhnya, lengannya dibiarkan terbuka sehingga menghitam tersengat sinar matahari, lekuk buah dadanya tertekan oleh kemben yang diikat terlalu kencang agar tak menganggu pergerakannya.
Dalam kekagumannya, ia merasa tubuh indah ini bukan dirinya. Tak menyangka Sintha dapat tampil secantik dan seanggun ini. Semua itu berkat bantuan dari Simla yang memoles dirinya dengan sedemikian rupa.
“Putra tetua pasti akan langsung jatuh cinta denganmu, den ayu Sintha?” ujar salah satu pelayan bawahan Simla~~atau lebih tepatnya disebut p*****r lautan. Usia dan lekuk tubuhnya sama seperti Sintha, namun pengalamannya di ranjang sangatlah berbeda.
“Den Ayu,” Sintha bergumam sebagai tanda keheranan. Seharusnya, tak ada siapapun yang tahu keberadaan mereka disini, termasuk para awak kapal.
“Mereka telah mengetahui semuanya, nduk. Termasuk Aku, Asih dan seluruh penghuni kapal.” Ujar Simla sembari menepuk bahu Sintha, “Wardi telah memberitahukan semuanya kepada kami. Menurutnya, tak perlu ada yang ditutupi mulai sekarang.”
Sintha terdiam dalam keterkejutannya. Wardi adalah adik dari Warman, tentu saja secara tak langsung ia juga seorang paman bagi Sintha. Namun Wardi celudikan, tidak seperti Warman yang bersifat tenang. Perangainya liar dan sering berkelakar tanpa arti. Menurut Sintha, paman Wardi lebih baik menjadi seorang pelawak di Pasar Kutowinangun, ketimbang bergabung dengan brandalan Batara yang memberontak melawan Kedaton.
“Aku akan pergi menemui pamanmu?” Ujar Simla undur diri meninggal Sintha dan Asih di dalam kamar bernuansa merah muda itu. Aromanya kayu manisnya begitu kental sehingga membuat siapa saja betah didalamnya, terutama para lelaki.
Sebelum Simla mencapai ambang pintu. Wardi menyeruak masuk melalui pintu yang seharusnya dilewati oleh Simla. Hal itu membuat Simla beringsut mundur dan membiarkan Wardi masuk dengan wajah merah karena mabuk.
Wardi Sandjaya namanya. Tubuhnya kurus kering dan pendek untuk ukuran pria dewasa. Keriput mulai menyeruak di sela wajahnya yang dihiasi dengan gigi tonggos dan bibir lebar. Pantas saja ia sering membocorkan rahasia karena ia cukup sulit untuk menutup bibirnya.
Perangainya sangat liar dan susah diatur, ketika ia memasuki kamar Simla, ia serta merta memeluk tubuh sintal Simla dan melancarkan ciuman dileher pemimpin di antara p*****r lautan itu. Simla tak serta merta marah, ia malah tertawa terbahak bersandiwara sembari mendorong tubuh salah satu pria yang berkuasa di kelompoknya itu.
“Haaahhh!!! Ketangkap kau!!!” Ujar Wardi sembari menyesap leher dan meremas bongkahan p****t Simla.
“Ahhh, Kang Wardi. Malu aaahh kang! Ada Sintha disini,” Simla menolak sembari menjauhkan tubuh Wardi yang mabuk.
Wardi yang mendengar pernyataan Simla langsung terdiam, ia menatap wajah Sintha yang meremang penuh amarah dari pantulan kaca cermin di kamar Simla. Asih hanya terdiam menunduk dan berdiri disamping Sintha yang duduk.
“Tinggalkan kami berdua!” Seru Sintha dengan suara lantang. Sehingga dalam sekejap ruang kamar milik Simla hanya menyisakan Sintha dan paman kecilnya.
“Paman,” ujar Sintha yang sudah bangkit dan berdiri dihadapan Wardi. “Paman tahu akibatnya jika mereka mengetahui rencana kita? Cukup Nyi Simla saja yang tahu, jangan beritahu kepada semua penghuni kapal, apalagi awak kapal.”
“Begini, putriku. Duduklah!” mendadak perangai Wardi berubah bijaksana, entah benar atau hanya bersandiwara. Sintha tanpa sadar mengikuti pernyataan Wardi sang paman kedua. “Engkau tahu apa pekerjaan para p*****r ini?”
“Tentu saja, mereka melacur dan menjual selangkangannya kepada para penumpang kapal.” Sergah Sintha.
“Nah, engkau tahu bukan!? Memang aku ini tak seperti pak lik Warman. Ia gagah, tinggi dan besar, sedangkan aku kurus, cungkring dan kurang makan. Warman bisa saja membunuhku atau meninggalkanku di hutan Batara sendirian. Namun ia, engkau, dan kalian semua membutuhkanku. Tahukah engkau? Siapa yang menyuruh kalian semua berlayar ke Borneo?~~~tentu saja aku. Aku bermaksud menggandakan pasukan kita agar lebih mudah mengobrak-abrik Ardaka, sesuai dengan dendam kesumat ibumu.”
Tetapi aku tetap tidak menyukaimu, Wardi. Nasihatmu selalu rumit dan tak mudah dimengerti, Sintha membatin namun tak ada lisan yang terucap di bibir gincunya. Sehingga ia hanya terdiam menyimak pamannya memberi wejangan.
“Raden ayu Sintha Dewi Sanjaya,” Wardi menyebut nama lengkap seakan Sintha adalah ratu bagi Kedatonnya. “Disana engkau akan dipinang oleh salah satu putra Tetua dan rakyatnya menjadi milikmu. Aku sengaja memilih suku Amuntai karena kekuasaan mereka mengendalikan suku-suku lainnya. Ingat! Jika engkau ingin mengendalikan lebah, maka kendalikan dulu ratunya. Engkau mengerti sekarang?”
Pak lik Wardi memang kusut, namun ia tak bodoh. Wajar jika paman Warman masih mempertahankannya. Sintha tak berucap, ia hanya mengangguk pelan saja dan mengguman dalam hatinya.
“Satu hal lagi,” tambah Wardi beberapa saat sebelum ia bangkit dan keluar ruangan. “Aku memberitahukan kepada seluruh awak kapal beserta para p*****r laut ini. Bahwa engkau-lah sebenarnya pewaris Kedaton Ardaka, dan kabar baiknya mereka akan bergabung dengan kita. Sehingga secara tak langsung semua yang ada di kapal ini adalah milikmu sekarang. Belum lagi aku merasa iba dengan para p*****r ini. Jika mereka mengikuti kita, mereka akan mendapatkan tempat yang layak di Borneo sana. Engkau dapat menjadikan mereka dayang atau apapun itu, yang jelas mereka dapat terlepas dari lembah nista ini.”
Sintha setuju dengan hal yang satu ini. Mau tak mau, Sintha adalah seorang wanita dan wanita pasti akan mengerti sesama wanita. Wardi lalu undur diri meninggalkan Sintha yang tercengang dengan perkataan pamannya itu. Memang benar, paman Wardi tak bisa bertarung, kerjanya hanya mabuk dan main wanita. Namun otaknya pintar sehingga paman Warman mengajaknya. Semoga keberuntungan selalu menjaga kami semua.
Langit biru mengambar dan menyatu dengan birunya lautan di setiap ufuknya. Angin melaju kencang seiring dengan layar yang mengembang. Kapal yang ditunggangi Sintha memecah setiap riak ombak yang menghadang.
Dalam keteguhan hatinya, Sintha keluar dari kamarnya. Langkahnya tertahan karena harus menyesuaikan dengan kain jarik yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Kain jarik batik dengan motif bunga-bunga yang bermekaran. Lalu di bagian atasnya, Sintha mengenakan kebaya sutra berwarna hijau tua dan selendang sutra hijau muda. Sanggul mengikat indah rambutnya, walau tak sebesar sanggul-sanggul ratu kedaton.
Kali ini, ia harus melewati bilik para penumpang kapal yang sebagian besar adalah pengikutnya. Mereka yang berpapasan terkejut dan menunduk kepada Sintha yang terlihat elok melebihi biasanya. Sintha hanya melepaskan senyuman saja kepada para pengikutnya tersebut. Pamannya membawa sekitar 20 orang saja, itu sudah termasuk Sintha, Wardi dan Warman sendiri. Pasukannya banyak yang mati atau tak bersedia mengikuti. Warman memang membenci perbudakannya, para pasukan brandal Batara tercipta dari kesetian atau ketidakpuasan dengan Kedaton, sehingga mereka memberontak. Namun akhir-akhir ini Prajurit Manggalayuda menggeledah seisi hutan Batara, sehingga keberadaan para brandalan ini terusik. Banyak yang mati disana, namun lebih banyak prajurit Kedaton yang mati. Semua itu membuat para brandal harus menyingkir dari Hutan Batara untuk sementara waktu.
Semua harapan berada di pundak Sintha sekarang. Ialah yang diharapkan membujuk pangeran dari Borneo agar mau memberikan pasukannya kepada para Brandal ini. Dengan begitu, mereka akan dengan mudahnya mengobrak-abrik Kedaton Ardaka.
Langkah Sintha terhenti ketika ia barusaja keluar dari kabin kapal. Udara panas menyengat namun anginnya sejuk. Walau sejuk, Sintha merasa kegerahan karena pakaian serba tertutup ini. Ia menatap beberapa orang pengikutnya beserta pamannya berada di ambang dek kapal. Posisi mereka menatap lautan dan mata-mata mereka terlihat mengawasi sesuatu. Sintha lalu mendekatinya.
“Kosong, kurasa?” Ujar Wardi yang memperjelas pandangannya dengan sebuah teropong panjang yang ia pinjam dari nahkoda kapal. Setelah puas, Wardi memberikan teropong itu kepada Warman, kakaknya.
Janggut Warman bergerak dan kumisnya serasa berat ketika ia memincingkan matanya melewati teropong itu. Lalu perhatian teralih kepada Sintha yang berada di belakang mereka semua.
“Ada apa ini, paman?” Ujar Sintha. Semuanya berbalik menoleh Sintha, beberapa dari mereka mengangguk memberi hormat dan meninggalkan kerumunan.
“Lihatlah?” Ujar Warman sembari mengulurkan teropong besi yang dibalut dengan tapestri beludru itu. Sintha mendekat dan meraihnya. Hatinya was-was penuh dengan rasa penasaran ketika ia mulai mengintip dari celah bulat teropong.
“Ah! Kapal!?” seru Sintha.
“Ya, benar. Tapi kosong, lihat layarnya yang kusut. Kurasa kapal itu baru saja dirampok.” Ujar Wardi yang memincingkan matanya menatap luasnya lautan.
“Apa kita dekati saja?” Warman berkata.
“Tidak,” tolak Wardi. “Siapa tahu itu jebakan. Mungkin para pelautnya sedang bersembunyi di lambungnya menunggu kita mendekat dan menyerang kita. Aku lebih setuju jika kita bakar saja.”
“Jangan, kapal itu berharga mahal jika dijual.” Warman berdalih dan setujui oleh pasuan sekitarnya dengan cara mengangguk-anggukan dagunya.
“Kita harus mendekat,” tukas Sintha yang masih saja meneropong jauh disana.
“Tidak, den ayu Sintha.” Tolak pamannya yang bertubuh kurus. “Terlalu berbahaya, bisa saja itu utusan dari Kedaton untuk membunuh kita semua.”
Kali ini giliran Wardi yang menyandra pemikiran para pengikutnya. Mereka mengganti pihaknya kepada Wardi yang cukup cerdas menerka apa yang akan terjadi.
“Lihatlah paman!” perintah Sintha sembari mengulurkan teropongnya ke Wardi. “Gulungan temali di tiang utama, terlihat kusut dan hampir mustahil untuk dirapikan ditengah lautan. Hanya pelaut bodoh yang merusak jalinan temali layarnya sendiri.”
Wardi dengan sekejap menarik teropong itu dan mengintip menembus lautan. Memang benar, temali yang mengikat layar dengan tiang terlihat kusut dan hampir mustahil dirapikan. Jika ingin merapikan tali itu para pelaut harus bersandar atau menunggu angin mereda. Tak sanggup jika merapikan tali-talian itu dari atas lautan yang berangin seperti ini. “Baik, kita dekati.”
“Putar haluan!!!” Seru Warman yang tak sabar ingin segera mengetahui sebuah kapal yang terombang-ambing tanpa tuan.