Roy dan Metha ditarik dari dalam mobil secara paksa. Kedua insan yang mengenakan pakaian secara asal itu tertunduk malu, terlebih Metha gadis desa yang terkenal santun kini harus menanggung malu akibat perbuatan tercela yang baru saja dilakukan.
PLAK!!!
Sebuah tamparan mendarat di wajah mulus Metha, sedangkan Roy hanya bisa meringis mendengar suara tangan kekar yang tercetak jelas pada pipi kekasihnya.
"Dasar perempuan murahan!!! Bisa-bisanya kamu melempar kotoran di wajah ayah! Apa ini balasan yang kau berikan untuk kami, Metha!!" Ayah Metha yang terkenal dengan sebutan juragan Pratman begitu murka.
Sedangkan wanita yang sudah melahirkannya hanya bisa menangis tergugu melihat perbuatan anak kesayangannya.
BUGH!!!
Sebuah pukulan pun mendarat di pipi pria tampan yang berasal dari kota itu.
"Dasar b******n!! Bisa-bisanya kamu melakukan ini semua dengan anak gadis saya! b*****t!!!" Juragan Pratman murka melihat wajah Roy yang hanya bisa menunduk.
Bukan hanya sekali, namun bertubi-tubi pukulan mendarat di wajah serta tubuhnya.
Dari jauh terlihat tiga temannya datang menghampiri Roy yang sudah babak belur. Dio, Tian dan Abi terkejut saat mendengar desas desus warga yang menyebutkan jika Roy kepergok dengan Metha tengah berbuat m***m.
Abi segera menghampiri tubuh Roy yang tergeletak di tanah, darah mengalir dari hidung dan sudut bibir pria itu.
"Juragan, mohon tenang. Ini tidak akan menyelesaikan permasalahan," ujar Abi melerai disaat juragan Pratman hendak melayangkan tendangan lagi.
"Ayah, a..aku minta maaf," dengan suara lirih Metha mengucapkan kata maaf.
Namun hal itu bukannya membuat juragan Pratman luluh, melainkan semakin murka. Ingin rasanya ia kembali melayangkan tamparan, namun dengan sigap Bu Lina memeluk tubuh Metha menghalangi suaminya yang hendak berbuat lebih.
"Cukup Yah, lebih baik kita ajak pulang Metha. Kita selesaikan permasalahan ini di rumah," pinta Bu Lina istrinya.
Juragan Pratman hanya bisa mengepalkan tangannya dan mengangguk samar. Juragan dan beberpaa anak buahnya segera berlalu masuk ke dalam mobil meninggalkan istri dan anaknya. Sedangkan Abi membantu Roy untuk bangun dan memapahnya masuk ke dalam mobil.
Belum sempat Abi menginjak pedal gas, tiba-tiba salah satu anak buah juragan Pratman menahan mobil mereka.
"Ada apa, Pak?" tanya Dio yang melongokkan kepala di jendela.
"Juragan minta kalian untuk segera ke rumahnya. b******n kecil itu akan segera di nikahkan dengan Nona Metha," setelah mengatakan pesan juragan, pria bertubuh tegap itu langsung pergi.
"Nikah? Gu..gue gak mau nikah sama Metha," ucap Roy terbata.
"Gila Lo Roy, kalao Lo gak mau nikahin Metha, gimana nasib anak itu??" tanya Tian geram begitu juga dengan yang lainnya.
"Tapi gue udah punya Septi, b*****t! Gi..gimana dengan di..dia," sambil meringis menahan perih Roy menjawab ucapan teman-temannya.
"Kalau Lo inget Septi, seharusnya Lo gak pernah melakukan hal ini dengan Metha. Apalagi menjadikannya sebagai taruhan," timpal Abi datar, ia melakukan mobil Roy menuju rumah juragan.
"b*****t, kenapa Lo malah bawa mobil ini ke ruang juragan??? Seharusnya Lo bawa gue ke kota sekarang juga. Kita harus kabur!!" Dengan susah payah Roy meneriaki Abi, meski sebenarnya yang terlontar malah suara kecil bagi ketiga temannya.
"Belajarlah bertanggung jawab, Roy!!" Abi meninggikan suara membentar Roy yang terus merengek untuk tidak di bawa ke ruang juragan Pratman. Tian dan Dio tak kalah terkejut mendengar Abi yang mereka kenal selama ini sebagai teman paling sabar, namun kini rasanya kesabaran milik Abi sudah habis mengahdapi tingkah Roy.
Tidak membutuhkan waktu lam, mobil yang mereka gunakan telah tiba di depan sebuah rumah megah milik juragan Pratman. Satu-satunya rumah yang paling besar dan bagus di kampung itu.
Abi, Dio dan Tian turun terlebih dahulu dari mobil, sedangkan Roy tidak bergeming. Ia enggan untuk sekedar menoleh ke arah ruang ataupun turun. Dia tidak menyangka jika ide taruhan yang ia cetuskan akan membuatnya masuk ke dalam perangkap ini.
"Roy, turunlah!" titah Tian yang mulai kehabisan kesabaran juga melihat tingkah Roy.
Roy menggelengkan kepala, ia tetap bersikukuh tidak mau dinikahkan dengan Metha.
Kali ini Dio menatap tajam Roy, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal.
"Lo turun, atau gue seret???" Roy terkejut dan ketakutan, ia meringkuk di sudut jok mobil, bersandar pada pintu.
Pria bertubuh tegap, salah satu anak buah Pratman mengahmpiri mobil anak muda itu.
"Mana si b******n kecil?" tanyanya dengan suara berat.
"Di dalam mobil," jawab Abi tenang.
Roy terus menerus menggeleng dan menatap ke arah temannya dengan tatapan memohon. Ia tidak bisa menikahi Metha, sebab dirinya sudah bertunangan dengab Septi kekasih yang sudah bersamanya selama dua tahun, dan akan menikah setelah kegiatan proyeknya selesai.
Tidak mau mengahbiskan waktu lama, anak buah Pratman yang bernama Jono segera masuk ke dalam mobil dan menarik paksa tangan Roy, sehingga membuat pria muda itu terjatuh.
"Tolong lepaskan!! Gue gak mau nikah sama dia! Lepasin, lepasiiinn gue!!!" Roy berteriak sekencangnya dengan tubuh yang terus memberontak minta dilepaskan.
Sedangkan di dalam rumah, Metha tidak habis-habisnya menangis bersujud di hadapan kaki ayahnya memohon ampun.
"Ayahh, ampuni Metha..." Air mata menetes membasahi lantai tempat Metha bersimpuh dan menciumi kaki ayahnya berulang kali.
Pratman pun hancur hatinya melihat anak gadis yang sangat ia lindungi, kini harus menikah dengan Roy. Pria yang belum ia ketahui asal-usulnya.
Bu Lina ikut bersimpuh di hadapan suaminya, ia meminta maaf karena semua ini juga kesalahannya.
"Ayah, maafkan ibu. Jika saja tadi ibu tidak meminta anak kita untuk ikut lembut, pasti semua ini tidak akan terjadi. Ayahh..maafkan ibu," isakan Bu Lina dan Metha saling bersahutan menggema di sudut ruang tamu yang besar.
"Tuan, mereka sudah datang," Budi salah satu anak buah Pratman menghampiri bosnya, untuk memberitahu kedatangan Roy beserta teman-temannya.
Juragan Pratman hanya menganggukkan kepala, seketika Budi segera keluar dan meminta Jono untuk segera membawa mereka semua masuk ke dalam.
Metha melihat ke empat pria yang ia kenal, terlebih Roy dengan wajah babak belur dan tubuh sempoyongan.
"Bawa b******n tengik itu kesini!" Jono segera mendorong tubuh Roy, hingga tersungkur tepat di depan jemari kaki Pratman.
"Tu..tuan a..ampun. Tolong be..bebaskan saya dari pernikahan ini," mohon Roy dengan terbata.
"b*****t!!"
BUGH!
Sebuah ternsanagn mendarat dengan aman di perut Roy, kemurkaan Pratman meningakan setelah mendengar permintaan pria yang sudah berani menodai anak gadisnya.
"Kau pikir anakku ini apa, ha???? Aku pun tidak rela menikahkannya dengan pria tidak bertanggung jawab sepertimu. Tapi setelah kau menodainya, kini kau mau lari dari tanggung jawab, begitu????" Pratman sangat murka, rasanya ia ingin membunuh pria yang kini tengah berbaring meringkuk memegang perut.
"Sekarang apa kau bisa mengembalikan kegadisan Metha? Bisa mengembalikan harga dirinya dan harga diri keluarga kami, bisa???" Dengan nafas memburu Pratman kembali menghujani tubuh Roy dengan tendangan.
Abi segera mendekati Pratman dan bersujud di hadapannya.
"Tuan, saya mohon hentikan. Jika tuan ingin menikahkannya, silahkan. Tapi tolong jangan lagi sakiti dia, " pinta Abi memohon.
Roy menatap nyalang ke arah Abi, ia tidak suka karena Abi berkata demikian.
"Lebih baik gue mati, daripada harus menikah dengan gadis yang gak gue cintai," ucap Roy yang bisa di dengar Abi.
"Lo harus bertanggung jawab, terserah Lo cinta atau gak, tapi Lo sudah merusaknya," timpal Abi tepat di telingan Roy.
Setelah peperangan panjang, akhirnya kini Roy dan Metha duduk berdampingan di hadapan seorang penghulu.
Tepat pukul dua belas malam, kata sah menggema di dalam ruang tamu, dengan disaksikan oleh ketiga teman Roy, para anak buah, RT setempat dan pastinya Pratman serta Lina. Kini Roy dan Metha sudah resmi menikah, dan juragan Pratman mempersilahkan kedua pengantin baru itu tinggal di paviliun yang ada dibelakang rumah besarnya, sembari menunggu masa kontrak kerja Roy habis dan akan diboyong ke kota, tempat Roy berasal.