Roy dan Metha sudah berada di paviliun yang ukurannya juga tidak kalah besar. Sepasang pengantin baru itu sudah berada di dalam kamar, Metha masih terus terisak dan itu membuat Roy geram.
"Bisa diam gak?" bentak Roy yang membuat Metha terkejut dan mendongakkan wajahnya menatap pria yang kini sudah menjadi suaminya, meski belum sah di mata hukum.
"Ma..s.."
"Apa?? Jangan pikir aku ini mencintaimu, supaya kamu tahu aku sudah memiliki tunangan dan tahun ini kami akan menikah!"
Metha semakin terkejut, ia tidak menyangka jika Roy hanya ingin mempermainkannya. Suara isakan kembali terdengar dan kini jauh lebih besar.
"Ka..kamu jahat, Mas. Lalu kenapa kamu bilang kalau kamu menyukaiku, Mas? Ke...kenapa??" Metha menatap Roy dengan tatapan mengiba, berharap jika yang dikatakan oleh suaminya hanya luapan emosi semata.
"Jawabannya karena gue gak mencintai Lo! Dan kali ini gue muak! Arggghhhh!!" Roy menjambak keras rambutnya, seandainya waktu bisa diputar kembali, sudah dipastikan semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Berhentilah menangis dan tidur! Gue bosan dengar suara tangisan Lo dari tadi!" ucap Roy seraya membaringkan tubuhnya di sebuah ranjang besar.
Akhirnya Metha ikut membaringkan tubuhnya, mereka saling membelakangi dan tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Perlahan mata mereka terpejam dan terbuai dalam larutnya bunga tidur.
Sedangkan dilain tempat, Septi gadis yang dijanjikan Roy untuk dinikahi sedang bersenang-senang di sebuah club' malam bersama teman-temannya. Hingga waktu menjelang subuh, barulah ia pulang ke apartemen dengan ditemani oleh seorang pria tampan yang memeluk tubuhnya dengan begitu posesif.
Sebelum betul-betul berpisah, mereka sempat berciuman panas dan melakukan hubungan badan. Septi tidak mencintai Roy, tetapi membutuhkan uangnya demi menopang gaya hidupnya yang hedon.
Sedangkan pria yang kini sedang bergelut di atas ranjang adalah kekasih gelapnya, namun sayang suami orang.
Bagi Septi asalkan dompet tebal, semua bisa diatur.
"Terima kasih sayang sudah memuaskan ku, nanti aku transfer," ujar pria yang bernama Andi, suami dari sahabatnya sendiri Femi.
"Oke sayang,"
Selepas kepergian Andi dari apartemennya, Septi memilih tidur tanpa membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa perang ranjang.
Metha terbangun ketika sinar matahari bersinar tepat di wajah ayunya. Metha mengusap-usap matanya, dan membukanya secara perlahan.
Tangannya ia rentangkan dengan posisi tubuh masih berbaring, ia terkejut saat tangannya menyentuh sesuatu di sebelahnya. Metha langsung menoleh dan nyaris berteriak melihat seorang pria ikut tidur di sampingnya.
Metha bangkit dan duduk, ia memperhatikan dengan saksama sosok yang masih tertidur.
"Mas Roy," ucap Metha lirih.
Seketika semua kejadian semalam terlintas di kepalanya. Suara helaan nafas terdengar dari bibir ranum Metha, penyesalan hanya itu yang terlintas. Ia hanya bisa merutuki diri yang bisa terkena dalam nafsu sehingga membuatnya melakukan kesalahan terbesar di dalam hidup.
Metha turun dari ranjang, dan menuju kamar mandi hendak membersihkan diri.
Langkahnya masih tertatih, ada rasa nyeri di bawah sana. Lagi-lagi kejadian saat dirinya melakukan penyatuan melintas, air mata mulai menetes bersamaan dengan guyuran shower yang membasahi tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan diri, Metha keluar dari kamar hanya mengenakan handuk. Semalam ibunya sudah mempersiapkan beberapa pakaian untuknya, yang bisa ia gunakan untuk hari ini.
Metha sepertinya belum terbiasa jika kini ia sudah menikah dan berada satu kamar bersama seorang pria.
Roy yang mulai sadar sebab punggungnya mulai panas karena sinar matahari, perlahan mulai mengerjapkan mata dan membukanya perlahan.
Roy terkejut melihat punggung putih mulus beserta b****g besar yang seksi terpampang di depannya. Ia menelan salivanya, dan kembali mengusap mata hendak meyakinkan jika apa yang dilihatnya itu nyata.
Metha membalikan tubuh lalu terkejut saat melihat sepasang mata yang mendelikkan mata menatapnya.
"Aaahhhhh!!!" Metha berteriak dengan kencang lalu cepat-cepat meriah handuk yang sengaja ia lepaskan tadi dan mulai membalut tubuh polosnya.
Metha segera berlari masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa pakaian yang akan ia kenakan. Sedangkan Roy lagi-lagi mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ah sial!!" umpat Roy dan bangkit dari tidurnya.
Ia berdiri di dekat jendela sembari menunggu Metha keluar dari kamar mandi.
"Hufht, maafin gue Septi, gue khilaf. Tapi gue pastikan kalau hanya ada Lo di hati gue," gumam Roy.
Tidak lama kemudian Metha keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, ia menundukkan wajahnya karena malu. Wanita itu segera keluar dari kamar membiarkan Roy membersihkan diri.
Metha berjalan menuju dapur, dapat ia lihat jika ibunya sudah menyiapkan sarapan untuknya dan juga Roy, sang suami.
"Ah ibu, makasih banyak.." gumam Metha melihat beberapa menu sarapan.
Metha duduk sendirian sambil menunggu suaminya datang, ia memainkan ponselnya hanya untuk sekedar mencari hiburan.
Betapa terkejutnya Metha saat melihat begitu banyak postingan orang kampung yang memberitakan dirinya telah berbuat zina dengan pria asing.
Suara helaan terdengar dari bibirnya, air mata menetes membasahi pipinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan orang tuanya, harus menanggung malu atas perbuatannya.
"Maafkan aku ayah, ibu.." lirih Metha sembari menghapus air mata yang terus menetes.
"Ada makanan gak?"
Metha terkejut mendengar pertanyaan Roy, ia segera menghilangkan jejak air matanya.
"A...ada mas. Ibu sudah siapin," jawab Metha terbata.
"Huh! Gimana kamu ini, bisa-bisanya sarapan disiapkan oleh ibuk, terus kamu gunanya apa?" tanya Roy ketus, hingga membuat Metha terasa sesak.
"Maaf.." hanya itu yang bisa Metha ucapkan.
Roy tidak lagi mempedulikan, ia memilih menikmati sarapannya karena sebentar lagi teman-temannya akan menjemputnya untuk ke lokasi proyek. Sedangkan Metha hanya bisa menatap sarapan yang sudah disiapkan oleh ibunya.
"Lo gak akan kenyang, kalau hanya lihatin tu makanan. Mending gak usah banyak drama deh, eneg gue lihatnya!" ujar Roy dengan tatapan sinis dan membuat Metha semakin tenggelam menundukkan wajahnya.
Sungguh ia tidak tahu jika pria yang kini menjadi suaminya memiliki sifat seperti ini, yang selalu kasar padanya.
Roy telah menyelesaikan sarapannya dan segera pergi meninggalkan Metha sendirian di meja makan. Tidak berselang lama suara gaduh terdengar dari luar paviliun, Metha penasaran lalu segera menuju ke sumber suara.
Ternyata sudah ada Tian, Dio dan Abi yang datang menjemput Roy.
"Eh neng Metha, maaf kalau kami berisik jadi mengganggu," ujar Tian merasa sungkan.
"Oh gak apa-apa, Mas. Ya sudah kalau begitu saya tinggal ke dalam," Metha segera masuk dan membiarkan ke empat pria dewasa itu melanjutkan perbincangannya.
Ponsel Metha terus berdenting, begitu banyak notifikasi pesan yang masuk membuat Metha segera mengaktifkan mode senyap.
"Ada apa ya? Kok rame-rame banget pesan yang masuk," guamm Metha lalu mulai melihat isi pesannya.
Metha hanya bisa menghela nafas membaca tiap umpatan dan cacian yang dikirimkan.
"Dasar perempuan munafik!"
"Perempuan murahan!"
Dan banyak lagi pesan yang ia terima, dan semua itu dikirimkan oleh teman-teman sekolahnya.
"Giliran diajak pacaran sehat gak mau, alasannya lagi gak mau pacaran. Tapi di ajak zina malah mau, dasar jalang!"
Pesan yang dikirimkan oleh Seno, pria yang berulang kali mengajaknya untuk berpacaran begitu menusuk hatinya.
"Sehina itukah diriku ini?" monolog Metha melihat begitu banyak pesan yang belum ia baca, dan pesan group yang menandai namanya.
Metha segera menonaktifkan ponselnya dan kembali masuk ke dalam kamar.
Roy sudah pergi ke lokasi proyek bersama teman-temannya. Tiba disana, ia pun disambut dengan umpatan oleh ibu-ibu yang ikut bekerja di lokasi proyeknya.
"Ganteng-ganteng gak ada akhlak!"
"Duh awalnya mau saya jodohkan sama anak saya, tapi kalau sudah seperti ini bersyukur banget, anak saya terbebas dari pria m***m kayak dia!"
"Kasian neng Metha ya, dia kan polos banget pasti di paksa sama pria m***m ini!"
Roy kesal, rasanya ia ingin mengumpat dan menjawab semua tuduhan-tuduhan palsu yang dilontarkan.
Ingin sekali ia berteriak "Kami sama-sama mau dan suka."
Namun Abi menahannya, pria alim itu menyentuh pundak Roy lalu menggelengkan kepala.
"Gak usah, yang ada nanti Lo makin di hina. Mending diam saja, itu jauh lebih baik,"
Akhirnya Roy memilih acuh dan tidak menghiraukan segala jenis hinaan yang ia dengar.
"Mending fokus kerja, biar cepat selesai dan bisa balik ke kota," ungkap Tian mengingatkan.
"Metha..buka pintunya, Nak. Ini ibu," Bu Lina sejak tadi mengetuk pintu kamar anaknya, namun tidak kunjung dibuka.
Bu Lina mencoba untuk menghubungi suaminya, namun tiba-tiba ia mendengar langkah kaki dari dalam kamar anaknya, dan suara handle pintu yang dibuka.
"Ibu.."
Metha kembali menangis dan berhamburan ke dalam pelukan Bu Lina.
"Tenang sayang, jangan nangis terus nanti kamu sakit," Bu Lina menghibur putrinya, meski sebenarnya ia juga sangat hancur melihat keadaan anaknya.
"Maafkan Metha buk..aku gak kuat begitu banyak yang mengumpatku, Buk..."
"Sabar Nak, kamu sedang diuji. Banyak-banyak berdoa supaya bisa melewatinya dengan baik, ya sayang,"
Metha mengangguk lalu mengajak ibunya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Apa ayah tahu kalau ibu kesini?" Bu Lina mengangguk menjawab pertanyaan Metha.
Terlihat ada kelegaan di wajah gadis itu dan terbitlah seulas senyum yang menghilang sejak semalam.