Bab 4

1236 Kata
Satu bulan berlalu setelah pernikahan paksa antara Roy dan Metha. Pagi ini tidak seperti biasa Metha belum juga kunjung bangun, sarapan pun belum juga tersedia sedangkan Roy harus segera mengunjungi lokasi proyek yang sedikit lagi akan segera rampung. "Metha..!! Metha..!!" Roy berteriak dari arah meja makan, ia membanting tudung saji yang ada di atas meja makan. Dengan langkah tertatih Metha keluar dari kamar dan memegang kepalanya yang terasa pusing. "Ke..kenapa Mas?" tanya Metha yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. "Kenapa kamu tanya? Ini mana sarapan untukku??" Roy semakin terbakar emosi saat melihat penampilan Metha yang amburadul. "Maaf mas, aku kurang enak badan. Aku sakit Mas," Roy membanting gelas kaca ke lantai, melampiaskan amarahnya. "Ada apa ini?" tanya juragan Pratman yang kebetulan ingin menemui anak gadisnya. Roy terkejut dan gelagapan, ia segera menghampiri Metha dan merengkuh pundaknya. "Kamu gak apa-apa kan sayang? Jangan paksakan kondisi kamu kalau lagi sakit," ujar Roy berdrama. Metha ingin menangis melihat dusta yang diciptakan oleh suaminya sendiri. "Ada apa?" tanya Pratman lagi karena pertanyaan pertamanya tidak mendapat jawaban. "Ini ayah, Metha lagi tidak sehat dan gelas yang ada di tangannya tidak sengaja terlepas lalu pecah," jawab Roy memasang wajah sendu dan nada yang lembut. "Nak, kamu baik-baik saja? Kita ke dokter ya?" Pratman menghampiri anak gadisnya, dan dapat dilihat dari matanya jika anakny memang sedang tidak baik-baik saja. Metha hanya menganggukkan kepala setuju dengan usul ayahnya, sedangakn Roy mencubit lengan istrinya secara diam-diam, sebagai bentuk protes. "Auww.." jerit Metha merasakan sakit pada lengannya. "Kenapa sayang? Apa kepala mu semakin sakit?" "Bukan Mas, tapi hatiku yang sakit. Sakit oleh dustamu itu," batin Metha menangis. Pratman segera menelepon istri serta anak buahnya, agar segera membawa Metha menuju klinik terdekat. "Ayah, aku tidak bisa menemani Metha. Aku harus mengunjungi lokasi proyek," tukas Roy kepada ayah mertuanya. "Bukankah masih ada tiga temanmu yang bisa menggantikan mu?" tanya Pratman dengan tatapan sinis. Mau tidak mau Roy akhirnya mengalah dan ikut mengantar istrinya. Roy dan Metha duduk bersama di bangku tengah, sedangkan juragan Pratman yang mengemudikan mobil ditemani istrinya. "Dasar wanita merepotkan sekali, gak mau sekalian mau saja!" bisik Roy tepat di telinga istrinya. Metha hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata. Sakit itulah yang dirasakan oleh Metha, sekelebat kisah kelam kini kembali terbayang dalam ingatannya. Kini yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan. "Ayo Roy, bantu Metha turun!" titah juragan Pratman sembari membantu membukakan pintu mobil. Dengan memasang wajah termanis Roy mulai melakoni kembali dramanya. Ia menggendong tubuh Metha dan membawanya masuk ke dalam klinik. "Dokter, tolong periksa anak saya," ujar juragan Pratman sembari membantu Roy yang sedikit kewalahan menggendong Metha. Roy membaringkan Metha di ranjang kecil yang biasa digunakan oleh para pasien jika hendak diperiksa. "Maafkan aku mas, sudaha merepotkanmu," ujar Metha lirih tepat di telinga Roy. "Syukur kalau Lo sadar!" balas Roy yang kembali membuat hati Metha sakit. "Ya Tuhan, kuatkanlah aku," batin Metha. Seorang dokter pria muda menghampiri Metha yang terlihat lemah. Dokter yang dikenal dengan nama Tomi itu terlihat mengulas senyum ramah pada Metha. Roy yang melihat itu tidak suka, ia mendengus kesal dan ikut mengahmpiri sang dokter. "Disini gak ada dokter wanita ya?" tanya Roy kepada Tomi. "Kebetulan dokter wanita belum masuk, Tuan. Nanti akan masuk saat siang hari," jawab Tomi dengan ramah dan sopan. "Kalau begitu tunggu siang aja Metha diperiksanya," Roy hendak mengangkat tubuh Metha, namun segera ditahan oleh Pratman. "Roy, kenapa?" "Saya tidak rela jika istri saya disentuh oleh pria lain, Ayah. Sekali pun dia dokter," Pratman tidak mengerti dengan jalan pikiran Roy, begitu juga dengan Metha. Apakah mungkin jika Roy cemburu? Pikir Metha, sedangkan ia saja tidak pernah memperlakukan Metha selayaknya seorang suami kepada istrinya. "Roy lebih baik kamu keluar, biarkan dokter melakukan pekerjaannya. Bagaimana Metha bisa segera diobati jika kau menghalangi seperti ini. Jangan cemburu buta!" ujar Pratman menahan geram dengan tingkah menantunya. Roy tidak lagi banyak bicara tetapi tidak juga kunjung keluar. Ia hanya menonton bagaimana dokter itu mulai memeriksa kondisi Metha. "Nyonya, bisa jelaskan apa yang Anda rasakan?" tanya dokter Tomi sembari menempelkan stetoskop di d**a pasien. "Saya pusing, mual dan ingin muntah, Dok," jawab Metha dengan suara lemah. Dokter Tomi mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai paham dengan gejala yang sedang dialami Metha. "Maaf nyonya, kira-kira kapan Anda terakhir kali mendapatkan menstruasi?" Roy mendelikkan mata mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter muda itu. "Lancang sekali Anda, dokter! Bisa-bisanya bertanya hal pribadi seperti itu! Saya suaminya saja tidak pernah menanyakan itu," Roy mendekati dokter Tomi dan mencengkram jas putih yang dikenakannya. "Roy! Sekarang juga kau keluar!!" Parman menyeret lengan menantunya dan segera membawanya keluar dari ruangan. "Ayah, tapi ayah.." "Lebih baik kau di sini atau bila perlu kau pergi ke lokasi proyek saja, jangan buat saya semakin malu!" Pratman meninggalkan Roy sendiri dan segera masuk kembali ke dalam ruangan. Metha bersuara mengingat kapan terakhir ia mendapatkan tamu bulanannya. "Sepertinya hampir dua bulan lalu, Dok," jawab Metha masih belum yakin. "Baik nyonya, kalau menurut pemeriksaan saya, sepertinya Anda sedang mengandung. Tetapi untuk lebih meyakinkan, saya akan melakukan tindakan USG pada perut Anda," ujar dokter. Nampak dokter muda itu sedang mempersiapkan beberapa alat yang akan digunakan dalam pemeriksaan. "Sekali lagi saya mohon permisi untuk menempelkan gel ini pada perut Anda, nyonya," Metha hanya mengangguk kecil dan membiarkan sang dokter melakukan tugasnya. Sedangkan Roy mengintip dari luar, ia tidak pergi ke lokasi proyek seperti perintah mertuanya. Rahangnya mengeras saat melihat apa yang sedang dilakukan Tomi di dalam ruangan. "Sialan, berani-beraninya dia buka baju Metha. Pasti perempuan itu sengaja berpura-pura sakit, supaya bisa cari perhatian dengan dokter, tunggu kau!" monolog Roy yang masih mengintip melalui jendela. "Juragan Pratman, Nyonya Lina, selamat sebentar lagi Anda akan menjadi seorang kakek dan nenek. Karena anak Anda sedang mengandung," jelas dokter Tomi sembari tersenyum. Pratman dan Lina saling menatap lalu berpelukan, ada rasa bahagia dan haru mengetahui jika sebentar lagi mereka akan menyandang status baru. Metha pun ikut berbahagia mendengar kabar kehamilannya, ia mengusap-usap perut yang masih meninggalkan jejak gel sembari tersenyum. Lain halnya dengan Roy, ia terkejut mendengar kehamilan Metha. Ia belum siap jika harus menjadi seorang ayah, apalagi ia akanenikahi Septi selepas proyeknya selesai. "Apa yang harus gue lakukan? Padahal gue berencana untuk menceraikan Metha ketika kami sudah sampai di kota. Arggghh...!!" Roy secara refleks memukul tembok klinik melampiaskan kekesalannya. "Roy, kau masih di sini?" tanya Pratman yang sengaja keluar dari ruangan hendak menghubungi menantunya. "Eh a..ayah, iya aku masih di sini. Aku ingin mengetahui sakit yang diderita oleh Metha," jawab Roy lagi-lagi dengan dusta. Pratman langsung memeluk tubuh menantunya dan sesekali mengusap punggungnya. "Selamat Roy, sebentar lagi kau akan jadis pernah ayah. Metha hamil, Nak!" dengan bangga Pratman menyampaikan kabar gembira itu. "Aku sudah tau pak tua!" batin Roy. "Ah, sungguhkah ayah? Aku sangat bahagia sekali, aku harus menemui istriku sekarang juga," Roy berlalu dan masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat, ia berhamburan memeluk tubuh Metha yang tengah duduk di bibir ranjang. "Sayang selamat ya, sebentar lagi akan ada anggota baru di tengah-tengah kita," ujar Roy dengan suara gembira. Metha ikut membalas pelukan Roy, ini adalah peluang pertama yang ia rasakan setelah menikah. Metha begitu bahagia mengetahui Roy menyambut kehamilannya dengan gembira. "Kita akan membesarkannya bersama," timpal Roy lagi. "Terima kasih Mas, terima kasih banyak. Aku pikir Mas tidak akan senang dengan kehamilanku," ungkap Metha sembari mengusap air matanya. "Ah siapa bilang, Sayang. Aku sangat bahagia sekali," Roy mengecup kening Metha di hadapan dokter Tomi dan juga kedua mertuanya. Lagi-lagi Metha merasakan kebahagiaan, bisa merasakan ciuman dari pria yang ia cintai itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN