Bab 5

1336 Kata
"Hati-hati sayang," ujar Roy membantu Metha turun dari mobil, ia memapah tubuh wanita yang sudah berstatus menjadi istrinya selama sebulan terakhir. "Terima kasih, Mas," Juragan Pratman dan Bu Lina ikut mengantar anak gadisnya untuk masuk ke dalam rumah minimalis yang dihuni oleh pengantin baru itu. "Nak, kamu pingin makan apa? Nanti ibuk buatkan," "Gak usah, Bu. Nanti kalau Metha menginginkan sesuatu, ada saya yang akan membuatkannya,” ujar Roy sangat manis. Siapa pun pasti akan sangat bahagia mendapat perlakuan yang sangat manis seperti itu, tidak terkecuali dengan Metha. Wanita yang sedang mengandung merasa bahwa kehamilannya membawa berkah yang luar biasa. Sikap Roy menjadi sangat romantis layaknya suami siaga pada umumnya. “Ya sudah kalau begitu, Nak. Ayah dan Ibu pulang dulu, kamu harus banyak istirahat dan jangan lupa vitaminnya diminum. Kalau ada apa-apa langsung telepon ibu atau ayahmu ya,” jelas Bu Lina panjang lebar sembari mengusap lembut rambut anaknya. Metha hanya menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang ibunya katakan. Roy pun selalu memasang wajah manisnya untuk menutupi topeng yang sedang ia lakonkan. Selepas kepergian kedua mertuanya, Roy segera mengunci pintu rumah dan segera menghampiri istrinya yang tengah duduk santai menikmati siaran televisi yang nyaris tidak pernah ia tengok selama menjadi seorang istri. “Senang ya merasa menjadi seorang putri,” Metha terkejut mendengar suara Roy yang menggelegar. “Jangan berpikir karena kamu hamil, jadi kamu bisa berleha-leha. Aku gak akan bersikap baik denganmu, sekalipun kau sedang mengandung!” seru Roy sembari menempelkan ujung jari telunjuknya pada kening Metha. “Mas, ta..tapi aku sedang mengandung dan aku harus banyak istirahat,” pungkas Metha membela diri. “Kamu hanya hamil, bukan sedang sekarat yang sebentar lagi akan mati. Banyak wanita di luar sana yang hamil juga tetapi tidak manja sepertimu! Lagi pula belum tentu itu anakku!” Metha tidak menyangka jika Roy akan mengatakan itu semua, bahkan meragukan anak yang ada di dalam kandungannya. Bagaimana mungkin Roy bisa berpikir sepicik dan serendah itu, tanpa terasa air mata mulai membasahi permukaan pipinya. “Mas…bisa-bisanya kamu meragukan anak yang ada di dalam knadunganku ini?” tanya Metha dengan nada tidak percaya. Roy tidak menghiraukan ucapan istrinya, ia lebih memilih untuk meninggalkan Metha dengan seribu tanya. Pria itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan membanting secara keras hingga menimbulkan suara dentuman. Metha tidak ingin masalah ini tidak menemukan titik temu, sehingga ia menyusul suaminya kedalam kamar dan ingin mengajaknya berbicara secara serius. “Mas…” panggil Metha seraya membuka pintu kamar secara perlahan. Roy tidak menjawab, melainkan memilih untuk berjalan menuju ranjang dan membelakangi istrinya yang juga ikut melangkah mendekatinya. “Mas, aku ingin bicara,” ujar Metha lagi yang sudah duduk di bibir ranjang menatap punggung sang suami. “Mas..” panggil Metha lagi seraya mengguncang kaki Roy. Namun yang Metha dapatkan adalah sebuah tendangan dan mengenai lengannya. “Auw..!!”pekik Metha menahan sakit, tetapi tidak membuat Roy merasa iba atau bersalah. Pria itu tetap tidak menghiraukan kehadiran istrinya, ia tetap bersikap acuh. “Mas, aku gak tahu kenapa kau bisa sebenci ini denganku. Dan kenapa kau bisa berpikir jika aku bukan mengandung anakmu? Ketahuilah mas, jika aku hanya melakukannya sekali dan itupun denganmu di malam kita dinikahkan,” jelas Metha dengan isakan. “Mas, apa salahku?” Roy bangkit dari tidurnya dan menatap wajah polos Metha. “Kamu bertanya apa salahmu?” tanya Roy menatap Metha dengan tatapan penuh kebencian. “I..iya Mas,” Metha begitu gugup hingga membuatnya tidak berani menatap wajah sang suami. “Pasang dan buka telingamu dengan lebar agar bisa mendengar alasanku membencimu, sehingga kau tidak perlu lagi berulang kali bertanya alasanku,” ujar Roy menggebu-gebu. Ia menjeda ucapannya dan menarik nafas dalam lalu menangkup wajah Metha agar bisa saling bertatapan. Metha berusaha untuk bisa menelan salivanya yang terasa sangat sulit. Tatapan Roy penuh intimidasi membuat nyali Metha semakin menciut. “Mengapa kau harus hadir di dalam hidupku dan menghancurkan kehidupanku!” ucap Roy penuh penekanan sembari mencengkram kuat rahang bawah istrinya hingga menimbulkan suara erangan menahan sakit. “Ma…mas, le..lepaskan i..ini sangat sakit..” dengan terbata Metha berusaha melepaskan tangan Roy dari dagunya. Roy melepas cengkramannya dengan kasar dan bangkit berdiri meningglakan Metha. “Kamu bilang aku mengancurkan hidupmu, Mas?” langkah Roy terhenti saat mendengar suara Metha yang berani menanyainya. Metha ikut berdiri dan kini mereka saling berhadapan. “Kamu mengatakan jika aku menghancurkanmu? Lalu bagaimana dengan hidupku, Mas? Bagaimana dengan masa depanku? Aku yang baru lulus sekolah dan masih ingin mewujudkan mimpiku harus dihancurkan olehmu. Oleh mu, mas!! Ku harap kau tidak lupa akan hal itu,” PLAK!! Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi mulus Metha dan meninggalkan jejak cap lima jari. “Kau saja yang begitu murahan, sehingga dengan mudahnya menyerahkan dirimu. Aku berpikir, sepertinya kau memang sengaja menjebakku malam itu, karena kau ingin aku nikahkan,” air mata Metha semakin deras, ia tidak menyangka jika Roy memfitnahnya seperti itu. Bukankah malam itu ia yang menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang, lalu kini dengan mudahnya ia memutar balikkan fakta. “Dan sekarang kau pakai hamil segala, dan aku yakin jika itu bukan anakku! Pasti kau sudah melakukannya dengan orang lain sebelumnya, lalu mengambing hitamkan diriku,” Roy terus berbicara hal omong kosong tanpa memikirkan perasaan Metha. PLAK!!! Kini gantian tangan cantik Metha melayang tepat di pipi pria yang sudah menghinanya. “Kau….!!!” Roy berteriak tidak menerima tamparan dari istrinya itu. “Cukup! Cukup hinaan dan fitnahmu itu, Mas! Bagaimana bisa kau menganggapku serendah itu, sedangkan kau yang telah merenggut keperawananku! Ini jelas-jelas anakmu, Mas. Anakmu!!” Metha berteriak tepat di wajah suaminya dengan air mata yang sudah deras mengalir. Wanita itu luruh ke lantai lalu menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Tangisan pilu begitu nyata terdengar, namun Roy sama sekali tidak memiliki rasa iba akan istri dan calon anaknya. Roy pergi meningglakan rumah tanpa memberitahu Metha, pria itu muak menghadapi kehidupan rumah tangga yang baru sebulan itu. “Memang sial bisa menikah dengannya, bukannya bisa bersenang-senang dengan uang taruhan, malah harus menanggung kehidupan orang asing pembawa sial!” umpat Roy sembari memukul stir kemudinya dengan keras. Mobil ia lajukan menuju rumah kontrakan tempat teman-temannya tinggal. Tampak Tian dan Dio tengah duduk di teras sambil menatap laptop masing-masing. Suara mobil mengalihkan perhatian kedua pria itu. “Wah, pengantin baru tumben banget kesini, ada apa nih?” tanya Dio menyambut kedatangan temannya dengan rangkulan. “Lagi suntuk dan penat gue,” jawab Roy sembari duduk di salah satu kursi yang ada. “Kenapa? Apa ada masalah?” kini Tian yang bertanya, karena jarang-jarang ia melihat Roy mengeluh sebab kehidupannya sudah begitu sempurna. Lahir di keluarga kaya dan menjadi pewaris tunggal, meski ia harus bekerja di perusahaan ayahnya dari nol tanpa menerima jabatan apa-apa selain sebagai karyawan biasa, dan kini ia sudah naik jabatan menjadi kepala pengawas. “Iya, Metha hamil,” jawab Roy datar. “Wah itu mah berita bagus namanya, lalu apa yang jadi permasalahannya?” Abi ikut bergabung dengan obrolan mereka. “Kalau dia hamil bagaimana caranya aku bisa menceraikannya? Bukankah minggu depan kita sudah harus kembali ke kota?” Kini Abi, Dio dan Tian hanya bisa melongo mendengar apa yag dikatakan oleh Roy. Dengan gampangnya ia mengatakan ingin bercerai, setelah menghancurkan masa depan Metha. “Gila lo ya, bisa-bisanya berencana mau menceraikan Metha. Seharusnya lo berpikir bagaimana cara mempertanggung jawabkannya,” Abi mulai geram dengan sikap temannya yang berbicara dengan enteng. “Tanggung jawab? Bukannya lo tahu kalau gue mau menikah dengan Septi, tunangan gue?” “Batalkan saja,” timapl Dio. “Apa lo bilang? Batalkan? Lo tahu kan bagaimana gue mencintai Septi, apapun akan gue lakukan demi dia, dan sekarang dengan mudah lo minta gue untuk membatalkannya? Lebih baik gue menceraikan Metha,” ujar Roy Ketiga pria dewasa itu sangat geram melihat sikap Roy yang menganggap enteng sebuah pernikahan. Ditambah kini istrinya tengah mengandung hasil dari perbuatannya. “Gue harap lo gak lupa kalau di agama kita perceraian sangat dilarang ketika wanitanya sedang mengandung,” ujar Abi lalu pergi meninggalkan teman-temannya. Bukan hanya Abi, karena Tian dan Dio pun ikut pergi meninggalkan Roy sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN