Bab 6

1063 Kata
Roy memilih kembali menuju paviliun, sebab tidak ada tempat tujuan yang tepat untuk sekedar menghibur dirinya. Metha mendengar suara deru mobil berhenti di depan kediamannya dan segera menuju pintu rumah. “Mas Roy,” gumam Metha dengan seulas senyum. Biar bagaimana pun ia sempat merasa takut ketika Roy memilih pergi, ia takut jika suaminya itu tidak akan kembali lagi. “Mas, kamu sudah kembali? Tanya Metha sumringah menyambut kedatangan suaminya, meskipun Roy memilih mengabaikan istrinya. Metha menghela nafas, ia berusaha bersabar menghadapi sikap Roy yang selalu cuek dan kasar pada dirinya. Roy hanya akan bersikap baik ketika berhadapan dengan mertuanya, seketika sifat malaikat akan muncul tanpa diminta. “Siapkan aku makan, aku lapar!” titah Roy sambil duduk di salah satu kursi makan. Tanpa banyak kata, Metha segera menyiapakn makan siang untuk suaminya, ia melayaninya dengan begitu baik serta tulus. Diam-diam Roy memperhatikan istrinya, wajahnya agak pucat terlihat dari bibirnya yang kering, matanya turun melihat perut rata di mana ada kehidupan baru yang bersemayam di sana, “Jangan terlalu capek, ingat ada kehidupan lain di perutmu,” tukas Roy dengan nada dingin. Metha terkejut mendengar ucapan suaminya, meski sedikit ketus namun Metha tahu ada ketulusan disetiap kata yang terucap. “Iya Mas, terima kasih karena sudah perhatian denganku,” Metha menjawab dengan sopan, ia mencoba untuk menahan diri agar tetap terlihat santai. Sebenarnya ia ingin sekali berteriak atau sekedar melompat girang menunjukkan kebahagiaan kecilnya. “Gak usah baper. Aku bilang gitu, karena kalau kamu sampai mati, nanti aku yang jadi saksi kunci dan bisa jadi aku yang akan jadi tersangkanya,” jelas Roy sembari menikmati masakan istrinya yang selalu enak. “Iya Mas, aku paham,” ujar Metha dengan mengulum senyum senang. “Kamu sudah makan?” tanya Roy yang dijawab dengan gelengan kepala. “Duduk, biar aku suapin,” Metha mendelikkan mata, ia terkejut mendengar tawaran dari suaminya, yang membuat senyum manis selalu terukir di wajahnya yang ayu.. “Cepetan, jangan sampai aku berubah pikiran.” Tidak mau melewati kesempatan emas, Metha segera mendaratkan bokongnya di sebelah Roy, rasanya ingin menangis karena merasa bahagia mendapat perlakuan manis dari sang suami. “Semoga sikapmu selalu seperti ini, Mas,” batin Metha menatap Roy. Roy dengan telaten menyuapi istrinya, meski beberapa kali terlihat wanita itu seperti sedang menahan rasa ingin muntah. “Kenapa?” tanya Roy mengernyitkan dahi. “Gak apa-apa, Mas. Hanya sedikit mual saja,” jawab Metha berusaha menelan makanannya, meski perutnya serasa seperti diaduk-aduk. Roy mendengus kesal, ia merasa istrinya sedang merasa jijik dengannya sehingga berulang kali merasa mual. “Kamu jijik ya sama aku?” Metha menggelengkan kepalanya dengan keras, seraya salah satu tangannya ia gunakan untuk menutup mulut menahan gejolak ingin muntah. Dari pada muntah di hadapan Roy, Metha memilih untuk segera berlari menuju wastafel dan mengeluarkan segala isi perut yang sejak tadi mendesak ingin segera dimuntahkan. PRANG!!! Suara pecahan piring mengagetkan Metha, sehingga ia dengan cepat membasuh mulutnya, membersihkan sisa-sisa muntah di sekitar bibirnya. “Mas, kena..” “Aku tahu kalau kamu jijik kan sama aku? Kamu pasti nganggap tangan aku kotor karena selalu berada di lokasi proyek, iya?” Metha terkejut dan menggelengkan kepala membantah semua tuduhan Roy. “Mas, aku gak pernah berpikir seperti itu, ini karena aku sedang hamil muda dan akan sering mengalami ini, Mas,” PRANG!!! Roy kembali melempar gelas ke sembarang arah hingga membuat pecahannya berceceran. Metha terkejut melihat perubahan sikap suaminya yang sudah salah paham. “Mas, tolong dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan, aku gak pernah merasa jijik dengamu, ini semua karena hormon kehamilanku, Mas. Tolong mengerti,” pinta Metha penuh harap. Namun Roy merasa seperti orang paling tersakiti, ia merasa dirinya sedang direndahkan oleh seorang gadis kampung yang kini berstatus sebagai istrinya. Roy segera masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras, menyisakan keterkejutan untuk Metha yang berdiri mematung menatap hilangnya tubuh Roy dibalik bilik. Metha menghela nafas sedih, air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Baru saja ia merasa menjadi wanita paling beruntung dengan sikap manis suaminya, namun kini harus dipatahkan lagi. “Mas, kenapa kamu seperti ini?” tanya Metha lirih sembari mengusap wajahnya. Metha mulai membersihkan serpihan beling dari piring dan gelas yang dibanting suaminya. Dengan hati-hati ia memungut satu persatu dan menyimpannya pada sebuah wadah plastik. “Roy kemana?” tanya Tian pada Dio saat melihat teras kontrakannya sudah kosong. “Mungkin pulang,” jawab Dio acuh. Mereka bertiga memang sengaja menghindar ke halaman belakang, karena semakin meladeni ucapan Roy maka akan berakibat dengan lahirnya peperangan antara empat sahabat itu. “Gue gak habis piker sama pola pikir Roy, mau enaknya doang. Lagian ngapain dia masih mempertahankan Septi yang jelas-jelas sering berkhianat,” ungkap Tian berapi-api sembari mengepalkan tangannya. “Gimana kalau kita ke rumah Roy saja? Sekalian memastikan apa dia memang ada di sana atau malah pergi,” ujar Abi memberi usul dan disetujui oleh Tian serta Dio. Mereka bertiga segera menuju kediaman Roy dan Metha mengendarai mobil milik Tian. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil mereka sudah masuk ke area paviliun. Metha yang tengah serius memunguti pecahan kaca segera beranjak menuju ruang tamu dan melihat siapa yang datang. “Teman-teman Mas Roy datang,” gumam Metha dari balik gorden. Ia segera menuju kamar, memanggil suaminya. Tokk!! Tokk!! Tokk!! “Mas, di luar ada teman-teman kamu,” ujar Metha dengan terus mengetuk pintu kamarnya. Disaat menunggu suaminya membukakan pintu, terdengar suara ketukan berasal dari arah depan. Metha langsung memilih membuka pintu agar tamunya tidak menunggu lama. “Eh Mas Abi, Mas Dio, Mat Tian, ayo masuk..” ujar Metha mempersilahkan ketiga pemuda itu masuk. “Roy mana?” tanya Abi melihat sekeliling, “itu mobilnya ada tapi orangnya gak kelihatan,” lanjut Abi lagi. “Ada apa kalian semua kesini?” tanya Roy tiba-tiba dengan wajah bantalnya. Metha yang melihat kedatangan suaminya, segera pergi menuju dapur membuatkan minum untuk teman suaminya. “Pertanyaan lo kayak gak suka banget lihat kedatangan kami,” tukas Tian sewot yang ditanggapi denagn acungan jempol oleh Roy. Tidak lama kemudian Metha datang dengan membawa nampan berisi minuman hangat beserta camilan. “Wah, kok pakai repot-repot segala sih? Tapi terima kasih ya, tau aja anak kos kayak kami gak ada makanan,” Metha menanggapi dengan senyuman ucapan Dio. Tanpa sepengetahuan Metha ada sepasang mata yang melihatnya tersenyum dan membuat hatinya menghangat. “Semoga senyuman itu tidak akan pernah pudar dari wajah cantikmu,” batin orang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN