Bab 7

1096 Kata
“Metha..!!” Roy menyerukan nama istrinya dengan suara nyaring, hingga membuat wanita hamil itu segera menghampiri. “Iya Mas,” Metha berdiri di hadapan suaminya sembari mengeringkan tangan pada daster yang ia kenakan. “Duduk!!” Metha tidak membantah, ia menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya. “Kamu jangan ganjen ya, apalagi kalau lagi di hadapan teman-temanku!” Metha mengernyitkan dahi tidak paham dengan maksud Roy. “Mas, maksud kamu apa? Aku gak paham,” “Alaaahh… gak usah sok polos deh kamu, jelas-jelas aku lihat Abi tersenyum terus ke arah kamu, apa namanya itu kalau bukan karena kamu yang ganjen!” Roy mencekal lengan Metha hingga membuatnya meringis menahan sakit. “Mas, aku gak kayak gitu. Tolong, lepasin lengan aku ini sakit, Mas,” Roy menghentakkan lengan Metha dengan kasar dan membuat wanita itu nyaris terjatuh. Roy segera bangkit meninggalkan Metha yang masih mengusap-usap lengannya menahan perih. Pria itu tidak suka melihat tatapan memuja yang ditunjukkan Abi kepada istrinya, ingin sekali rasanya ia mencungkil bola mata pria itu. “Bisa-bisanya dia menatap istriku secara terang-terangan, apa dia menyukai Metha?” monolog Roy yang kini sudah berada di dalam kamar. Tokk!! Tokkk!! Tokk!! Metha segara mengusap air mata dan merapikan tatanan rambutnya yang berantakan, ia harus segera membuka pintu. Jangan sampai Roy menjadi geram jika mendengar suara ketukan terus menerus. “Benu, sama siapa?” Metha celingukan mencari tahu dengan siapa adik sepupunya datang. “Sendirian, Kak. Aku gak disuruh masuk nih?” tanya remaja yang baru duduk di kelas X menengah atas. “Oh, hehe.. ayo masuk,” Benu mengikuti langkah kakaknya ke dalam dan langsung duduk di sofa ruang tamu. “Kamu kapan datang? Gimana kabar kakek dan nenek? Sehat aja kan?” “Kak, biasakan kalau bertanya itu satu per satu, udah kayak wartawan aja,” ujar Benu sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel yang ia bawa. Metha hanya bisa mengulum senyum, malu. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar cerita tentang keluarganya yang ada di daerah seberang. “Ini dari nenek, buat hadiah pernikahan katanya,” Benu menyerahkan sebuah bingkisan yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Metha. “Apa ini?” Benu mengangkat bahunya, karena ia sendiri tidak tahu isi dari bingkisan itu. “Nanti deh baru kakak buka. Kamu sudah ketemu ibu dan ayah, belum?” tanya Metha lagi. “Sudahlah, kalau belum gak mungkin aku tau kalau kakak tinggal di paviliun ini. Oh ya, mana suami kakak?” Benu melihat ke arah kamar yang ia yakini jika itu adalah kamar milik kakaknya. “Ada di kamar, mau kakak panggilkan?” Benu menggelengkan kepala menolak, ia tidak mau mengganggu istirahat kakak iparnya. Benu dan Metha pun larut dalam perbincangan dan sesekali tertawa. Sejenak Metha bisa melupakan kesedihan hatinya yang diciptakan oleh suaminya sendiri. PRANG!! “Berisik!!!” Metha dan Benu terkejut dengan suara pecahan serta teriakan seseorang. Dan pintu kamar seketika terbuka lalu munculah Roy dengan tampang acak-acakkan, khas orang baru bangun tidur. “Bagus, suami masih ada di rumah, kamu berani bawa laki-laki lain dan tertawa bahagia,” Roy berjalan menghampiri istrinya dan menatap nyalang pada Benu. “Mas, kamu salah paham,” ucap Metha dengan suara lirih. “Kenalkan saya Benu, Mas. Adiknya kak Metha,” Benu menyodorkan tangannya hendak mengajak Roy salaman. “Adik? Hahahaha, Metha ini anak tunggal, bagaimana mungkin dia bisa punya adik. Alasan basi,” Roy menepis kasar tangan Benu hingga membuat Metha terkejut dan menutup mulutnya. “Saya adik sepupunya, tapi sejak kecil ayah dan ibu yang rawat saya, Mas. Saya harap Mas gak akan memamarahi kak Metha. Kalau begitu saya permisi Mas, Kak,” Benu melangkah keluar dari rumah. Metha segera menyusul adiknya itu, ada yang harus ia bicarakan. “Benu, tunggu!” “Kenapa kak?” “Kakak bisa minta tolong sama kamu? Tolong rahasiakan kejadian hari ini dari ayah dan ibu, kakak mohon,” Metha menangkupkan tangannya di depan d**a, ia sangat berharap agar Benu bisa diajak kerja sama. Benu mengehla nafas, ia menatap iba kakaknya lalu mengangguk. Mungkin untuk kali ini ada baiknya ia membantu sang kakak, apalagi rumah tangga kakaknya masih seumur jagung, dan tidak baik jika sampai berantakan. “Terima kasih banyak ya,” Benu mengangguk lalu pergi meninggalkan kediaman Metha. “Siapa dia?” baru saja Metha hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, namun langkahnyanhafus terhentinsebba dikejutkan oleh pertanyaan suaminya, yang belum juga bisa mempercayainya. “Mas, bukannya sudah dijelaskan tadi kalau itu Benu, adik sepupuku. Kalau memang Mas gak percaya, ayo kita tanya ayah dan ibu,” Metha sudah lelah dengan sikap Roy yang sejak tadi selalu mencurigainya. Bukankah dia tidak mencintai Metha, lalu mengapa selalu saja Roy menuduh gak yang tidak tepat kepadanya. “Sudahlah, aku malas berdebat denganmu, Metha. Oh ya, Minggu depan kita akan pindah ke kota,” tukas Roy kemudian dan berbalik kembali menuju kamar. Saat sampai di ambang pintu kamar, Roy menghentikan langkahnya dan kembali menatap Metha yang masih berdiri di ruang tamu. “Oh ya, jika sampai di kota jangan pernah mengaku kalau kau adalah istriku. Paham?” Metha mendelikkan mata tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Roy, bagaimana mungkin ia tidak diakui sebagai istri sedangkan mereka sudah menikah meski belum secara negara. “Tapi kenapa, Mas?” “Karena aku sudah memiliki calon istri dan dua bulan lagi kami akan menikah. Jangan banyak protes, sudah baik aku tidak menceraikanmu,” Metha menitikkan air mata, dadanya sangat sesak, rasanya begitu nyeri seperti sedang diremas. Isakan kecil menemaninya yang tengah meratapi nasib rumah tangganya. Jika boleh meminta, ia tidak ingin ada dalam posisi seperti ini, menjadi istri namun tidak diakui. ~ Satu Minggu kemudian. “Barang-barang yang mau dibawa gak ada yang ketinggalan, ‘kan?” tanya juragan Pratman pada putrinya. “Iya ayah, semuanya sudah siap,” jawab Metha dengan mengulas senyuman palsu. Sebenarnya setelah peringatan yang dilontarkan Roy, batinnya sudah tidak lagi tenang. Setiap pergantian hari, rasanya neraka semakin dekat padanya. “Nak, jangan lupa untuk istirahat ya. Gak boleh capek, vitaminnya diingat untuk minum, ingat ada kehidupan baru yang sedang kamu persiapkan. Kalau ada apa-apa langsung telepon kesini,” ujar Bu Lina dan memeluk tubuh anaknya yang semakin hari terlihat kurus. Metha hanya bisa mengangguk dan menahan air matanya agar tidak menetes. Sedangkan Roy sudah jengah melihat drama yang sedang terjadi, ingin sekali rasanya untuk segera pergi meninggalkan perkampungan ini tanpa mengajak istrinya. “Ayah, Ibu, kalau begitu kami pamit pergi dulu, takut kemalaman sampai kota,” Roy menyalami satu persatu mertuanya dan berpura-pura memasang wajah sedih. “Munafik!” batin Metha jengah melihat sikap suaminya yang penuh dengan kepalsuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN