Mobil yang dikendarai oleh Roy tiba di depan rumah minimalis berlantai dua. Metha melepaskan sabuk pengamannya dan hendak keluar dari mobil, namun Roy menahan tangannya.
“Ada apa, Mas?” tanya Metha denga dahi mengernyit.
“Ingat apa pesanku sama kamu?”
“Aku gak boleh ngaku kalau aku ini istri kamu kan ,Mas?” tanya Metha meyakinkan, meski hatinya perih saat harus menutupi sebuah kenyataan.
“Pintar. Oh ya, kalau ada yang tanya bilang saja kamu itu asisten rumah tangga. Eum… orang yang aku tolong di jalan, gitu lebih tepatnya ya, ingat jangan sampai lupa!” Roy kembali mengingatkan dan Metha hanya bisa menganggukkan kepalanya samar.
“Harus kuat, harus kuat, harus kuta,” batin Metha menguatkan dirinya.
Roy turun dari mobil dan diikuti oleh Metha. Seorang wanita renta keluar dari dalam rumah dengan langkah tergopoh-gopoh.
“Selamat datang Tuan, mari bibi bantu,” ujar wanita renta yang ternyata adalah pelayan di rumah Roy.
“Gak usah bik, ini biar saya yang bawa. Bibi bawa barang Metha aja,”
“Metha?” beo bik Ijah.
Roy mendengus, ia lupa jika ini pertama kalinya Metha datang ke rumahnya otomatis tidak ada yang mengenalnya kecuali tiga sahabatnya.
“Ini namanya Metha, dia pelayan baru di rumah ini. Pelayan khusus untuk mengurusi segala kebutuhan saya, paham bik?”
Bik Ijah mengangguk paham, matanya menelisik penampilan Metha yang tidak menujukkan sebagai seorang pelayan. Meski tinggal di pedesaan, tetapi gaya pakaian Metha tidak menunjukkan seperti gadis kampung.
“Mari Non, saya antar ke kamar.”
“Oh ya Bik, nanti kamar Metha yang di dekat tangga saja ya, jangan di belakang.” Ujar roy lagi mengingatkan.
“Tapi Tuan, bukankah itu kamar tamu?’
“Jangan bantah, ikuti saja apa yang saya katakan.”
Setelah mengatakan hal itu, Roy segra melangkah meninggalkan dua wanita beda genersi itu di garasi.
Bik Ijah segera mengajak Metha untuk masuk ke dalam dan menunjukkan letak kamarnya. Setelah memastikan Metha sudah masuk ke dalam kamar, wanita renta itu meninggalkannya seorang diri.
“Selamat datang di dunia sandiwara yang begitu kejam, Metha,” monolog Metha mengutakan diri sembari mengulas senyum sendu. Perlahan tangan lembutnya merepikan pakaian yang ia bawa ke dalam lemari sambil sesekali mengusap air yang sudah menetes di pipinya.
TOKK!!
TOKK!! TOKK!!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Metha, ia segera beranjak dari ranjang hendak membuka pibtu. Namun, tangannya belum sempat memegang handel, pintu itu terbuka sendiri. “Mas,” sebut Metha dengan nada lirih.
“Kamu jangan panggil aku dengan sebutan mas jika ada orang lain, biasakan panggil aku dengan sebutan tuan seperti bik Ijah,” jelas Roy memeperingati Metha.
“Tapi Mas,”
“Aku tidak suka mendengar bantahan, perbiasakan semua itu mulai dari sekarang. Ingat pernikahan kita terjadi karena atas dasar paksaan bukan kemauan,” lagi-lagi Roy menghujamnya dengan katakata yang menyakitkan.
Tidak ada yang bisa Metha lakukan selain mengangguk menyetujui segala perraturan yang dikatakan suaminya itu.
“Bagus kalau kamu mengerti. Persiapkan dirimu, karena nanti malam aku ingin mrnikmati tubuhmu,” “Mas…”
“Ingat aku tidak suka bantahan. Jangan lupa jika kau adalah istriku,” setelah mengatakan hal itu, Roy segera pergi meninggalkan Metha seorang diri.
Metha luruh di lantai sambil memeluk lututnya, isakan pilu terdengar di balik pintu kamar. Sekuat tenaga Metha meredam suaranya agar tidak memantik kecurigaan yang lainnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis, belum sampai beberapa jam ia berada di rumah Roy, tapi sudah banyak hal yang membuatnya sakit. Terlebih ketika Roy meminta agar malam nanti ia harus melayani kebutuhan batinnya, sungguh harga dirinya seperti sedang dicabik-cabik. Ia adalah seorang istri, namun hanya sesaat untuk sekedar sebuha nafsu selebihnya ia akan dianggap layaknya seorang pembantu.
Lelah menangis dan merapikan pakaian yang tak seberapa jumlahnya, sebab Roy beralasan akan membelikannya pakian yang baru dan lebih bagus jika tiba di kota. Metha membaringkan tubuhnya, semenjak dirinya hamil ia lebih mudah Lelah dan pusing. Seringkali Metha mengeluhkan kondisi fisiknya pada Roy, nmaun pri itu bersikap tak acuh. Terkadang saat dirinya menginginkan sesuatu Roy akan memarahinya dengan alasan manja sehingga Metha sering meminta tolong Benu untuk mencarikan apa yang ia idamkan.
Tokk!
Tokk!
Tokk!!
“Neng Metha… Neng…bibi buka pintunya ya,”
Karena tidak ada jawaban, membuat bi Ijah membuka pintu secara perlahan, dan tampaklah wanita hmil itu tengah tidur dengan lelpanya. Bik ihaj memindai wajah Metha, entah mengapa ia merasa iba dengan wanita yang ada di hadapannya. Nalurinya mengatkan jika Metha sedang tidak baik-baik saja.
“Neng.. ayo bangun, ini sudah sore. Gak bain tidur sampai maghrib,” Bik Ijah mengguncang perlahan kaki Metha hingga membutanya terbangun. Matanya ia usap perlaha dan dikerjapkannya. Metha bangkit serentak saat melihat Bik Ijah yang tengah berdiri di dekat rnajangnya.
“Maaf Neng, bibi ngagetin ya?” tanya Bik iJah dengan lembut.
Metha tidak langsung menjawab, meliankan mencoba utnuk mengingat Siapa yang ada di hadapannya dan sedang di mana ia sekarang. Perlahan ia menghela nafas saat sudah sadar sepenuhnya.
“Neng gak apa-apa kan?”
Metha mengangguk dengan senyum yang mengembang, ia mempersilahkan bibi untuk terlebih dahulu keluar karena ia akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Di dalam kamar mandi Metha menatap wajahnya dengan mata yang sedikit sembab dan menghela nafasnya dengan kasar.
“Selamat datang di dunia penuh sandiwara Metha. Anak bunda baik-baik di perut ya, bunda pastikan hanya kebahagiaan yang menyelimutimu, sayang.” monolog Metha dengan megulas senyum paksa.
Roy sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi serta tangan yang memegang ponselnya. Metha berpura-pura tidak melihat, ia segera menuju dapur membantu Bi Ijah mempersiapkan makan malam. ternyatanRoy menyadari kehadiran Metha tetpai pria itu memilih diam dan ingin melihat apa yang hendak istrinya lakukan.
Metha dengan senyum mengembang membantu bik ijah mengeksekusi bahan masakan yang kebetulan adalah makanan kesukaannya.
“Bik, boleh saya yang masak sup buntutnya? Kebetulan sudah ebberapa hari ini saya ingin sekali makan ini,” pinta Metha penuh harap yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh wanita renta itu.
Roy mendengar sayup-sayup suara tawa dari dua orang wanita beda generasi itu hingga membuatnya bangkit berdiri dan mendekati sumber suara, ia begtiu penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan. Nampak Metha bisa tertawa lepas saat Bik Ijah tengah mencolek hidungnya dengan adonan kunyit hingga menyisakan warna kuning pada wajahnya. Diam-diam Roy ikut tersenyum melihat tingkah mereka yang konyol dan secara tidak sengaja pula Metha menangkap wajah Roy yang tersenyum, seketika wajah Roy berubah masam lalu pergi menuju kamarnya.