Metha dan Bik Ijah berangkat ke dokter kandungan dengan diantar sopir kantor yang sengaja dikirimkan oleh Roy. Sepanjang jalan Metha begitu takjub melihat pemandangan kota yang dipenuhi oleh bangunan tinggi. "Bik, apa masih jauh?" tanya Metha yang mulai merasa kurang nyaman. "sekitar dua puluh menit lagi, Nyonya. Ada apa?" Bik Ijah menyadari perubahan raut wajah Metha yang mulai pucat, ia segera mengambil minyak kayu putih yang sengaja dibawanya lalu menggosokkan pada leher majikannya. "Saya agak mual, Bik. Biasanya saya tidak pernah seperti ini yang mual kalau naik mobil." Metha mulai membekap mulutnya, mencoba menahan sesuatu yang sejak tadi bergejolak dan ingin segera dikeluarkan. "Pak, bisa menepi dulu? sepertinya nyonya ingin muntah," titah Bik Ijah sembari terus memijit-mijit ten

