Malam kembali menjelang tetapi belum ada tanda-tanda jika Roy pulang. Metha masih setia menunggu di meja makan berharap bisa melewati makan malam bersama. Bukti usaha tidak menghianati hasil sepertinya benar adanya. Tepat pukul tujuh malam suara deru mesin mobil milik Roy terdengar, Metha segera bangkit dan menuju pintu utama. Wanita hamil itu mengulas senyum bahagia, dengan langkah semangat ia membuka pintu. Namun senyum yang tadi mengembang berubah menjadi lengkungan ke bawah. Ekspektasinya terlalu tinggi karena yang ia lihat bukan hanya Roy seorang, melainkan dengan seorang wanita anggun dan elegan dan sedang merangkul lengan Roy, suaminya. "Mas eh Tuan." Metha memaksakan dirinya untuk tersenyum meski ada yang sakit di dalam dadanya. "Hmm.." Roy hanya bergumam lalu masuk melewati

