Pagi itu, kabut tipis menggantung rendah di luar jendela apartemen Alena. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah memberi isyarat bahwa hari ini bukan hari biasa. Ia masih memandangi foto lama yang ditemukan kemarin sebuah jejak dari masa lalu yang telah lama dikubur. Wajah pria dalam foto itu adalah wajah yang pernah muncul dalam cerita samar dari masa kecilnya. Pria yang hanya disebut dalam bisikan dan doa. Adrian duduk di seberangnya, memutar cangkir kopi yang sudah dingin. Ia belum berkata apa pun sejak melihat foto itu. Tatapannya kosong, seperti memproses potongan puzzle yang tidak pernah disangka akan terhubung. "Apakah mungkin... ayahku menyembunyikan sesuatu sebesar ini dariku?" gumamnya akhirnya, suaranya serak. Alena mengangkat bahu, menunduk. “Aku pun tak tahu harus

