Mobil sedan mewah hitam Yiven masih meluncur membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Yiven duduk di kursi penumpang belakang, matanya menatap kosong ke luar jendela. Jika sesuai rencana, sepuluh menit lagi, mobil mereka akan sampai di mansion keluarganya di Pondok Indah. Namun, wajah wanita di restoran tadi, mengacaukan kompas di kepalanya. Wajah itu—wajah yang bagai pinang dibelah dua dengan kekasihnya yang telah tiada, memaksanya mengingat apa yang telah ia hilangkan. "Pak," suara Yiven terdengar parau, memecah keheningan kabin. "Jangan pulang dulu. Putar arah ke daerah Pondok Cina, tolong." Sopir itu tampak bingung sambil melirik Yiven lewat spion tengah, namun ia tak berani membantah. "Baik, Tuan." Mobil berbelok, meninggalkan jalanan protokol yang terang benderang, menyusup m

