Di dalam bayangan gelap ingatan Yiven, lampu tidur kecil Maria di sudut kamar kos memancarkan cahaya oranye lembut, hampir tak terlihat, namun cukup untuk menggarisi lekuk tubuh telanjang yang saling bertaut. Udara di ruangan itu terasa berat, bukan karena panas, melainkan dipadati oleh aroma feromon yang menguar dari pori-pori mereka. Wangi alami tubuh Maria, kini bercampur aduk dengan aroma maskulin Yiven—keringat dan kayu cendana—menciptakan wewangian yang memabukkan, sebuah parfum pribadi yang hanya tercipta untuk mereka berdua malam itu. Jemari Yiven, kasar namun penuh pemujaan, mulai melakukan pemetaan di punggung Maria. Ia melacak setiap ruas tulang belakang gadis itu seolah sedang membaca peta harta karun yang sakral. Menghafal setiap lekukan dan setiap getaran yang merambat di

