Koridor rumah sakit yang seharusnya menjadi lambang ketenangan dan harapan, mendadak bergetar oleh nada suara yang meninggi, memecah keheningan. Yiven, yang baru saja melangkah keluar dari ruangannya, anehnya langsung mengenali suara itu. Suara itu adalah suara yang mirip dengan suara menghantuinya dalam mimpi.
Di ujung koridor yang panjang, di depan meja resepsionis kecil, Nayla Jeneva berdiri. Wajahnya merah padam, menunjukkan kelelahan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar kurang tidur—ini adalah kelelahan jiwa, frustrasi yang nyata dan terpendam. Ia memegang tangan kecil Fiona, putrinya, yang tampak bingung, berdiri di tengah badai emosi sang ibu.
"Bagaimana bisa Anda tidak mengabari saya?!" tuntut Nayla. Ia berusaha keras menahan volume suaranya agar tidak mengganggu pasien lain. Dari suaranya terdengar kemarahan yang berusaha ditekan kuat.
"Saya datang dari jauh, mengorbankan jam kerja saya, dan anda baru memberitahu saya sekarang, bahwa Dokter Heri sudah tidak praktik?"
Suster Rika, wanita paruh baya yang bertugas di meja resepsionis, terlihat sangat panik. Wajahnya pucat pasi, seperti kertas yang direndam air. Ia terus membungkuk meminta maaf, gerakannya kikuk.
"Maafkan kami, Nyonya Nayla. Ini memang terjadi mendadak. Dok—"
"Tidak perlu alasan!" potong Nayla dengan cepat. "Setidaknya, pihak rumah sakit punya tanggung jawab untuk menghubungi semua pasien terjadwal apabila ada pembatalan jadwal praktek. Apalagi anda merubah dokter penanggung jawabnya tanpa persetujuan saya dulu." Suaranya mengandung nada kekecewaan yang menusuk. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai berubin, seolah tas itu kini memiliki beban seribu kilo, lalu mengusap wajahnya.
Nayla bukanlah tipe wanita yang membentak dengan amarah meluap. Merasa bersalah, akhirnya ia menarik napas berat, mencoba menata kembali kesabarannya yang menipis. Ia tahu jauh di lubuk hatinya, ia tidak marah pada pegawai rumah sakit yang hanya sedang mengerjakan pekerjaannya, ia hanya terlalu kaget saat mendengar pemeriksaan Fiona ke depannya dialihtugaskan pada Dokter Yiven Mahendra. Momok menakutkan terbesarnya, yang paling ingin Nayla hindari.
Yiven terdiam di tempatnya berdiri. Menatap dua anak-ibu yang terlihat kacau itu.
Di sisi lain, Fiona, yang menyadari ibunya sedang marah, mengeratkan genggaman tangannya. Mata polosnya menyapu koridor. Matanya berhenti pada sosok lelaki tinggi yang berdiri diam tak bergerak di ambang pintu, tak jauh dari tempatnya berdiri. Yiven.
Nayla menarik napas berat, matanya terpejam. Pergumulan batin itu berlangsung hanya sesaat, namun terasa mencekiknya. "Baiklah. Kalau begitu, saya batalkan saja janji temu hari ini. Saya akan mencari dokter spesialis lain."
Suster Rika hampir menangis, panik karena keteledorannya yang sudah membuat wali pasien kecewa. "Jangan, Nyonya! Semua jadwal dokter spesialis jantung anak, di rumah sakit ini sudah penuh. Dokter Yiven, nyonya pasti sudah melihatnya kan, di pemeriksaan sebelumnya.. Beliau adalah dokter yang sangat kompeten. Beliau—"
"Tidak," Nayla memotong dengan tegas, tanpa membuka mata. Suara itu dingin, final. "Saya akan mencari dokter lain di luar rumah sakit. Terima kasih."
Tepat pada saat Nayla hendak membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi, sebuah suara dingin menusuk telinganya. Suara itu familiar, membawa otoritas yang tak terbantahkan, dan menguasai setiap inci ruang.
"Kenapa harus begitu, Nyonya Nayla?"
Nayla seketika mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak di tengah keabadian. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu—suara yang biasanya hadir di mimpi buruknya, yang kini menjelma menjadi kenyataan.
Yiven melangkah maju, membiarkan blazer cokelatnya yang mahal tersampir di lengan, memproyeksikan aura dingin yang sempurna.
Yiven berdiri tepat di belakang Nayla, begitu dekat hingga Nayla bisa merasakan gelombang panas yang memancar dari tubuh pria itu.
"Apa Anda sebegitunya tidak percaya dengan kemampuan saya?" Yiven bertanya lagi, kini dengan nada tantangan yang jauh lebih kentara. Ia menantang Nayla secara profesional, namun di matanya tersimpan lapisan obsesi yang hanya ia yang tahu, obsesi terhadap kemiripan wajah yang tak masuk akal itu.
Nayla terkesiap. Matanya membelalak kaget. Ia telah berusaha keras, berhati-hati dalam setiap langkah, menghindari setiap jadwal praktik Yiven, hanya untuk pada akhirnya, ia justru berakhir di depan pintu labirin yang paling ingin ia hindari seumur hidupnya.
Nayla menoleh perlahan, mendapati tatapan Yiven yang dingin, menusuk, dan tak terbaca. Matanya adalah dua lubang hitam yang menghisap semua cahaya di sekitarnya.
Yiven kemudian menggeser pandangannya dari Nayla, sejenak melihat Fiona yang bersembunyi di balik rok ibunya, sebelum kembali menatap Nayla dengan intensitas yang sama.
"Saya adalah dokter yang ditunjuk sebagai pengganti Dokter Heri. Saya juga seorang spesialis jantung anak yang bisa dibilang cukup kompeten. Fiona sendiri adalah pasien yang sebelumnya pernah saya tangani. Sebenarnya apa masalahnya?"
Yiven menatap Nayla, tatapannya intens menatap setiap inchi dari wajah cantik yang pucat di hadapannya. Yiven melanjutkan, "atau... Anda mungkin punya alasan khusus untuk menolak?"
Nayla tersentak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Yiven dengan picingan mata curiga. Nayla tercekat, tak sanggup mengeluarkan satu pun suara. Ia bahkan berusaha keras hanya untuk menelan ludahnya sendiri, karena tiba-tiba terasa seperti ada batu besar yang mengganjal kerongkongannya.
Nayla menarik napas. Berusaha mendapatkan ketenangan yang tak kunjung ia dapatkan, bahkan setelah beberapa detik berlalu.
Pertanyaan itu kini terasa seperti cap panas yang membakar kulitnya. Sebuah pengakuan pahit bahwa semua pelariannya selama enam tahun ini bisa saja berakhir sia-sia, jika ia menghindar sekarang.
.................................