Mobil sedan mewah hitam Yiven masih meluncur membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Yiven duduk di kursi penumpang belakang, matanya menatap kosong ke luar jendela.
Jika sesuai rencana, sepuluh menit lagi, mobil mereka akan sampai di mansion keluarganya di Pondok Indah. Namun, wajah wanita di restoran tadi, mengacaukan kompas di kepalanya. Wajah itu—wajah yang bagai pinang dibelah dua dengan kekasihnya yang telah tiada, memaksanya mengingat apa yang telah ia hilangkan.
"Pak," suara Yiven terdengar parau, memecah keheningan kabin. "Jangan pulang dulu. Putar arah ke daerah Pondok Cina, tolong."
Sopir itu tampak bingung sambil melirik Yiven lewat spion tengah, namun ia tak berani membantah. "Baik, Tuan."
Mobil berbelok, meninggalkan jalanan protokol yang terang benderang, menyusup masuk ke jalan-jalan yang lebih sempit dan padat.
Lima belas menit kemudian, mobil itu berhenti di pinggir jalan yang agak gelap, di depan sebuah bangunan kos-kosan tua berlantai dua.
Yiven menurunkan kaca jendela sedikit. Aroma jalanan itu masih sama—bau aspal basah, debu, dan samar-samar aroma nasi goreng dari pedagang kaki lima di ujung jalan.
Matanya terpaku pada satu titik: sebuah jendela tua di salah satu kamar.
Kamar nomor tujuh.
Dulu, jendela itu adalah mercusuar baginya.
Dulu, di balik jendela itu, ada tawa renyah Maria yang menyambutnya. Ada kehangatan tubuh mungil yang selalu memeluknya setiap kali ia kelelahan akan jadwal kuliah yang padat.
Ada desah napas dan keringat cinta yang menyatukan mereka di atas kasur busa yang tipis.
Kini, jendela itu gelap gulita.
Tirainya tertutup rapat, entah siapa yang menghuninya sekarang, atau mungkin kamar itu kosong, sama kosongnya dengan hati Yiven saat ini.
Suasana di sana memicu kenangan sensual masa lalu mereka yang begitu kuat. Yiven seolah bisa merasakan kembali tekstur kulit Maria di ujung jarinya, dan suara bisikan manja gadis itu di telinganya.
Hanya karena melihat wajah yang serupa dengan Maria tadi, entah setan apa yang merasukinya, rindu yang selama ini ia tekan kuat-kuat ke dasar sanubari, meledak tak terkendali malam ini.
Namun, sebelum ia tenggelam lebih dalam dan melakukan hal bodoh seperti turun dari mobil, Yiven menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Cukup... bisiknya pada diri sendiri. Ini penyiksaan!
"Jalan, Pak. Kita pulang," perintahnya dingin, menutup kembali kaca jendela yang memisahkan masa lalunya dengan realitas hampa yang ia miliki sekarang.
......................................
Sesampainya di pelataran rumah mewah keluarga Mahendra, Yiven turun dengan langkah gontai.
"Terima kasih, Pak. Anda boleh pulang," gumamnya singkat pada sopir, sambil menerima kunci mobilnya.
Yiven kemudian melangkah cepat menembus pintu masuk yang megah, melewati lantai marmer yang dingin dan memantulkan bayangannya yang kesepian.
Tidak ada yang ia pedulikan. Ia buru-buru menaiki tangga menuju kamarnya, mengunci pintu, dan membiarkan keheningan menyergapnya.
Namun, yang terngiang-ngiang di otaknya tetaplah kenangan Maria.
Untuk menenangkan diri—atau mungkin, untuk menyiksa diri lebih dalam—Yiven berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia menggeser panel tersembunyi di bagian belakang, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang kuncinya selalu ia kalungkan di lehernya.
Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu.
Aroma kertas tua menguar. Di sana, tersimpan harta karun yang jauh lebih berharga daripada seluruh aset Mahendra Group : ikat rambut kecil berwarna biru, tiket bioskop yang tintanya memudar, dan selembar foto polaroid usang.
Yiven mengambil foto itu.
Di sana, terekam abadi wajah Maria yang sedang tertawa lepas ke arah kamera. Matanya menyipit membentuk bulan sabit yang indah.
Mata itu... mata yang sama persis dengan wanita bernama Nayla tadi.
Namun, Maria di foto ini terlihat hangat, penuh cinta, dan miliknya sepenuhnya. Berbeda dengan Nayla yang menatapnya curiga dan dingin seperti orang asing, seolah Yiven adalah hama yang harus dijauhi.
Yiven merosot duduk di tepi ranjang, matanya mulai memanas.
"Apa kamu sudah tenang di sana, Maria?" bisiknya lirih pada lembaran foto itu. "Apakah wanita tadi hantu yang kamu kirim untuk menghukumku?"
Jempol Yiven mengusap wajah Maria di foto itu, perlahan dan penuh kelembutan, seolah takut merusak senyum di sana. Dadanya sesak oleh rasa bersalah dan cinta yang tak punya tempat untuk pulang.
"Semoga aku tak pernah bertemu dengan wanita itu lagi," ucap Yiven, suaranya bergetar menahan perih. "Jika harus bertemu wajah yang mirip denganmu lagi, sedangkan aku tahu, dia bukan kamu... mungkin aku bisa gila, Maria."
Yiven merebahkan tubuhnya, menarik selimut sebatas d**a. Ia mendekatkan foto polaroid itu ke pipinya, memejamkan mata, dan membayangkan bahwa dinginnya kertas foto itu adalah kehangatan kulit pipi Maria.
Ia merindukan tekstur kulit yang nyata. Ia merindukan napas hangat itu.
Kerinduan itu begitu menyakitkan, begitu mendalam, hingga akhirnya kesadaran Yiven mulai mengabur. Ia tertidur dengan foto itu tetap menempel di dadanya, membiarkan otaknya yang lelah mulai bekerja, merekonstruksi sentuhan Maria yang ia dambakan ke dalam sebuah mimpi.
Dan malam itu, alam bawah sadarnya membawanya kembali ke masa lalu, menghidupkan kembali sentuhan yang paling ia gilai.
.......................................