BAB 4 - Pertemuan Yang Menghancurkan

1048 Kata
Yiven Mahendra melepas kacamata bacanya dan memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Baru sebulan ia kembali menginjakkan kaki di tanah air dan mulai bekerja di Rumah Sakit Arga, namun rasanya energi tubuhnya sudah terkuras habis. Bukan, ini bukan sekadar kelelahan fisik akibat jadwal praktik yang padat. Ini adalah kelelahan jiwa dari enam tahun pelariannya ke luar negeri—sekolah spesialis, mengubur diri dalam tumpukan jurnal medis— yang nyatanya tidak berhasil menyembuhkan apa pun. Ia kembali ke Indonesia dengan harapan bisa berdamai dengan masa lalu. Namun, duduk di kursi kebesarannya saat ini, di ruangan yang sunyi ini, bayangan masa lalu justru semakin mencekiknya. Yiven menghela napas panjang, memakai kembali kacamatanya. Ia melirik layar monitor yang menampilkan data pasien: seorang anak perempuan, kasus rujukan Dokter Heri. Ia seharusnya tidak praktik hari ini. Namun karena Dokter Heri mendadak berhalangan, Yiven terjebak di sini untuk memeriksa satu-satunya pasien yang sudah terjadwal. "Fiona Starla," gumamnya pelan, membaca nama itu tanpa minat. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. "Permisi..." suara wanita yang lembut namun ragu terdengar. Yiven mendongak malas, siap memberikan anggukan formal. Namun, gerakan itu terhenti di tengah jalan. Seperti rekaman film yang diperlambat seribu kali lipat, Yiven tertegun melihat siapa yang baru saja membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita muda dengan tubuh kurus yang mendekap anak perempuan kecil di gendongannya. Rambutnya berbeda, gayanya berbeda, namun mata itu... bentuk wajah itu... Jantung Yiven berhenti berdetak. Paru-parunya lupa cara menarik napas. Tatapannya dan wanita itu bertemu. Yiven bisa melihat pupil mata wanita itu melebar drastis, dipenuhi teror murni. Tanpa satu kata pun, wanita itu berbalik dengan gerakan menyentak yang panik. Ia memeluk anaknya erat-erat dan berusaha lari keluar ruangan secepat kilat. Aneh, seolah-olah ia baru saja melihat iblis. Karena gerakan berbalik yang terlalu tiba-tiba dan panik, kaki wanita itu tersandung karpet pintu. Tubuhnya limbung ke depan. Ia akan jatuh, dan anak dalam gendongannya akan terbentur lantai keras rumah sakit. "Awas!" Refleks Yiven bekerja lebih cepat dari akal sehatnya. Ia memutari meja, dan menerjang ke depan dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Dalam hitungan detik, sebelum tubuh wanita itu menghantam lantai, lengan kekar Yiven sudah menyambar pinggangnya. Yiven menarik tubuh itu ke dalam dekapannya, menahan berat dua manusia sekaligus—ibu dan anak itu—agar tidak jatuh. Yiven memejamkan mata, menahan air mata yang mendesak keluar. Tanpa sadar, ia justru memeluk wanita itu semakin erat. Ia membenamkan wajah wanita itu—dan anak dalam gendongannya—ke dalam d**a bidangnya sekuat tenaga, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita ini akan berubah menjadi asap dan menghilang lagi. Namun, tubuh dalam pelukannya itu kaku. Dingin dan menolak. Wanita itu tidak membalas pelukannya; ia menegang, seolah sentuhan Yiven adalah racun yang mematikan. “Dokter?” Suara yang terdengar bingung dan tegas, memecah gelembung emosi Yiven. Yiven tersentak. Ia membuka mata dan menguraikan kedua lengannya perlahan. Yiven menatap mata bulat wanita di hadapannya. Mata yang familier, tetapi sorotnya asing, seolah-olah sama sekali tidak mengenal Yiven. Wanita itu segera mundur, menciptakan jarak. Dengan tangan gemetar namun terampil, ia merapikan rok anaknya dan memastikan putri kecilnya baik-baik saja. “Saya berterima kasih Dokter telah menahan saya, sehingga saya dan anak saya tidak jatuh... Namun apa yang dokter lakukan barusan, bisa saja menyakiti anak saya.” ucap wanita itu. Suaranya sopan, namun dingin. Yiven terpaku. Lidahnya kelu. "Apa... Kau tidak mengenalku?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sarat akan keputusasaan. Wanita itu mendongak dan mengerutkan dahi. Wajahnya terlihat keheranan. “Tentu saja saya tidak mengenal Anda, Dokter. Hari ini adalah hari pertama saya bertemu dengan Anda," jawabnya tegas. "Terima kasih sekali lagi atas bantuan Dokter tadi, tapi maaf… Saya rasa, saya masuk ke ruang praktik dokter yang salah. Hari ini saya ada jadwal temu dengan Dokter Heri.” Dunia Yiven runtuh seketika. Ia menarik napas dalam-dalam. Ketika akhirnya ia bicara, itu adalah suara paling lirih dan putus asa. “Aku… Yiven. Yiven Mahendra.” Wanita itu hanya tersenyum tipis—senyum sopan yang diberikan kepada orang asing. “Salam kenal, Dokter Yiven. Saya baru saja diberitahu bahwa Dokter Heri tiba-tiba absen. Karena pemeriksaan ini tidak mendesak, saya permisi. Saya akan menjadwalkan ulang saja.” Wanita itu tersenyum sopan, lalu membalikkan badan. “Maria Christie!” Langkah wanita itu terhenti sejenak. Ia menoleh sedikit, hanya memperlihatkan profil samping wajahnya. “Jika Dokter bermaksud memanggil saya, sepertinya Dokter keliru. Saya bukan orang yang Dokter maksud," ujarnya dingin. "Saya juga merasa tidak nyaman dengan perlakuan Dokter barusan. Permisi.” Wanita itu berjalan pergi. Ambang pintu itu, yang tadinya dipenuhi harapan, kini terasa seperti ruang hampa udara. Yiven hanya bisa menatap nanar punggung yang menjauh, lalu ke koridor yang telah kosong. Ia ditinggalkan dalam kekosongan ruang yang terasa mencekiknya, meninggalkan udara dingin yang terlalu kejam untuk dihirup. Terhuyung-huyung, Yiven berjalan menuju meja kerjanya. Dengan gerakan kasar dan putus asa, jemarinya menyambar mouse, matanya menatap nanar ke layar monitor yang masih menampilkan data pasien. Ia membuka tab Data Wali Pasien, dan mencari nama ibu kandung dari Fiona Starla. Mata Yiven menyipit, membaca barisan huruf di layar itu berulang-ulang. Di kolom nama ibu, tertulis sebuah nama yang asing. Nama yang sama sekali berbeda. “Ah. Bukan… Dia bukan Maria…” Dia bukan Maria Christie. Sama sekali bukan. Tubuh Yiven merosot di kursi kerjanya. Ia menengadah, menatap langit-langit putih dengan pandangan kabur. Logikanya mulai bekerja, menyusun benteng pertahanan untuk melindungi kewarasannya. Tentu saja itu bukan Maria. Maria sudah tiada. Ia tidak boleh lupa: Malam itu… Mobil itu, dan insiden itu… Telah merenggut nyawanya. Jadi tidak bisa, dan tidak akan mungkin Maria kembali muncul di hadapannya. Namun, kenapa mereka terlihat begitu mirip satu sama lain? Tanpa sadar, kepala Yiven menunduk, semakin dalam. Matanya berkabut, karena butiran bening yang mendesak keluar dari pelupuk. Ia menarik napas panjang, berjuang mengisi paru-parunya, yang penuh sesak oleh rasa bersalah yang tak termaafkan. Maria Christie… Satu nama yang pernah menjadi pusat dunianya. Satu nama yang ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Dan kini, satu nama yang seolah bangkit dari mati surinya untuk menghantui Yiven dalam wujud orang lain. Pertemuan ini bukan kebetulan; ini adalah siksaan. Di kesunyian ruang praktik itu, Sang Dokter Jantung yang hebat itu menangis seperti anak kecil. Tuhan pasti sedang menghukumnya dengan memperlihatkan wajah yang sangat mirip itu. Untuk mengingatkannya lagi, apa yang dulu telah ia hilangkan dari hidupnya, selamanya. ...................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN