BAB 3 - Di Balik Jubah Dokter

1126 Kata
Maria duduk kaku di kursi tunggu rumah sakit. Aroma antiseptik dan cairan infus menguap di udara, menciptakan suasana steril yang dingin, mengingatkannya pada malam-malam tanpa tidur saat Fiona dirawat intensif usai dilahirkan prematur. Saat itu, setiap tarikan napas putrinya adalah perjudian antara hidup dan mati. Perasaan tegang dan rasa bersalah yang akrab itu kembali merayap, melilit ulu hatinya. Perasaan ini seolah menjadi bagian permanen dari jiwanya setiap kali ia menginjakkan kaki di gedung putih ini. ​Maria menunduk, menatap Fiona yang kini tertidur pulas di pangkuannya. Kepala putrinya bersandar di dadanya, naik-turun dengan irama yang tenang. Wajah Fiona terlihat begitu damai, sangat kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam batin Maria. ​Ia menyisir rambut halus Fiona dengan jari-jarinya yang gemetar. Penyakit jantung bawaan Fiona adalah bekas luka terburuk baginya. Itu bukan sekadar diagnosis medis; bagi Maria, itu adalah hukuman. Hukuman tak terucapkan atas kebodohan dan cinta butanya di masa lalu. ​Jauh di lubuk hatinya, Maria meyakini satu hal: kondisi prematur dan kelainan jantung Fiona adalah hasil langsung dari depresi hebat yang ia alami enam tahun lalu. ​Ingatan itu mencoba menyeruak keluar dari kotak pandora yang ia kunci rapat-rapat. Ingatan tentang malam terkutuk itu, tentang wajah Yiven yang dingin, dan tentang dua kata yang menghancurkan hidupnya. "​Anak p*****r!..." Saat itu, stres dan kepedihan yang ia rasakan begitu hebat hingga tubuhnya bereaksi, menolak kehamilan itu, memaksanya melahirkan jauh lebih awal dari waktunya. ​"Maafkan Mama..." bisik Maria nyaris tanpa suara. "Jika saja Mama lebih kuat waktu itu... Jika saja Mama tidak menangisi b*jingan itu..." ​Maria memejamkan mata erat-erat, memaksa bayangan masa lalu itu kembali ke sudut tergelap benaknya. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang. ​Sejak memutuskan untuk hidup hanya demi Fiona, Maria telah membangun dinding tak terlihat di sekeliling hatinya. Dinding yang tinggi, tebal, dan dilapisi kawat berduri. Ia adalah seorang ibu tunggal yang hidup dalam mode bertahan—sekuat tenaga menafkahi anaknya, sekuat tenaga berlari dari bayang-bayang masa lalunya. ​Hanya Fiona. Hanya nyawa kecil ini yang penting. ​"Pasien atas nama Fiona Starla?" ​Sebuah sapaan lembut menarik Maria kembali ke masa kini. Ia tersentak kecil, lalu mendongak. ​Seorang perawat muda dengan seragam biru muda berdiri di hadapannya. Senyum ramah menghiasi wajahnya, sebuah kontras yang aneh di tempat yang penuh kecemasan ini. ​Maria segera membenarkan posisi duduknya. "Ya, saya. Ada apa, Suster? Apa sudah giliran Fiona?" ​Perawat itu tidak langsung menjawab. Ia meremas papan jalan di tangannya, terlihat sedikit ragu. "Nyonya, mohon maaf sebelumnya. Ada sedikit perubahan jadwal mendadak." ​Jantung Maria mencelos. "Perubahan? Maksud Suster?" ​"Saya baru saja mendapat kabar dari ruang operasi. Jadwal praktik Dokter Heri hari ini terpaksa dibatalkan," jelas perawat itu dengan nada menyesal. "Beliau baru saja dipanggil untuk menangani operasi jantung darurat yang tidak bisa ditunda." ​"Apa?!" ​Suara Maria naik satu oktaf. Maria panik. Ia tidak bisa menyembunyikan nada cemas. Dokter Heri adalah dokter anak spesialis jantung yang sudah menangani Fiona sejak lama, dan Maria sudah menaruh kepercayaan penuh. ​"Tapi Suster... Fiona butuh pemeriksaan hari ini. Obatnya sudah hampir habis, dan saya merasa napasnya agak berat beberapa hari ini," kata Maria, berusaha menahan agar suaranya tidak terdengar histeris. ​Perawat itu mengangguk penuh empati. "Saya mengerti kekhawatiran Ibu. Karena itu, Dokter Heri sudah meminta dokter lain untuk menggantikannya menangani pasien hari ini. Ibu jangan khawatir, dokter pengganti ini sangat kompeten. Beliau adalah dokter spesialis baru di rumah sakit kami." ​"Dokter baru?" Maria mengernyit. Insting protektifnya menyala. "Apakah dia berpengalaman menangani kasus penyakit jantung bawaan yang kompleks seperti Fiona?" “Tentu saja, Ibu. Beliau lulusan terbaik dari luar negeri, dan sangat ahli dalam kasus pediatrik." Perawat itu tersenyum menenangkan. "Sebentar lagi nama anak Ibu akan dipanggil, ibu bisa langsung masuk ke Ruang Praktik 3 ya...” tutup perawat itu dengan senyum meyakinkan, lalu berbalik pergi dengan kecemasan yang menggantung di udara. Maria menghela napas panjang. Ia tidak punya pilihan. Membatalkan janji temu hari ini berarti harus menunggu minggu depan, dan ia tidak mau mengambil risiko dengan kesehatan Fiona. “Atas nama Fiona Starla?” Suara panggilan dari pengeras suara terdengar nyaring, memecah lamunan Maria. ​Maria tersenyum tipis pada Fiona yang menggeliat di pangkuannya. "Ayo, Sayang. Kita ketemu dokter baru," bisiknya sambil menggendong tubuh mungil itu. ​Tubuh Maria yang kurus terlihat sedikit kewalahan menopang beban putrinya yang masih tertidur. Ia berjalan pelan menyusuri koridor menuju Ruang Praktik 3. ​Langkah demi langkah. Setiap ketukan sepatunya di lantai marmer seolah menghitung mundur menuju sebuah bencana yang tak ia sadari. ​Maria sampai di depan pintu kayu solid yang tertutup. Di sana tertulis papan nama: Spesialis Jantung Anak. Tidak ada nama dokter yang tertera, mungkin karena dokter pengganti itu baru. ​Tanpa ragu, Maria memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka. ​"Permisi..." ucapnya pelan sambil melangkah masuk. ​Ruangan itu dingin dan hening. Aroma kertas baru dan pendingin ruangan yang kuat menyambutnya. Deg!!! Langkah kaki Maria terhenti total tepat di ambang pintu. Tubuhnya mendadak kaku, membeku seketika seolah tersambar petir di siang bolong. ​Di depannya, dalam jarak pandang yang teramat dekat—hanya terpisah oleh sebuah meja kerja mahoni yang besar—duduk seorang laki-laki. ​Laki-laki itu mengenakan jubah dokter putih yang bersih dan rapi, kontras dengan kemeja gelap di baliknya. Ia sedang menunduk, fokus membaca berkas medis di tangannya. ​Namun, Maria tidak butuh melihat wajah itu secara utuh untuk mengenalinya. ​Garis rahang yang tegas itu... Postur bahu yang lebar dan tegap itu... Aura dingin dan dominan yang menguar dari sosoknya... ​Maria mengenalnya. Lebih baik dari ia mengenal dirinya sendiri. ​Laki-laki itu mengangkat wajahnya perlahan saat menyadari ada orang yang masuk. Ia kini mengenakan kacamata berbingkai tipis, memberikan kesan cerdas dan dewasa yang jauh berbeda dari memori enam tahun lalu. Wajahnya lebih matang, lebih tajam, menghilangkan sisa-sisa wajah mahasiswa senior yang angkuh, digantikan oleh aura seorang profesional yang sukses. ​Hidung mancung yang dominan, dan sepasang mata elang yang tajam. ​Yiven Mahendra! ​Mata Maria melebar hingga titik maksimal, pupilnya bergetar hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan, paru-parunya seolah lupa caranya bekerja. Oksigen di ruangan itu mendadak hilang, terhisap oleh kehadiran sosok di hadapannya. ​Jantungnya berdebar begitu keras, bukan lagi karena kecemasan akan kondisi Fiona, melainkan karena syok yang brutal. Rasanya organ itu ingin melompat keluar, menjebol rusuknya, dan melarikan diri dari ruangan terkutuk ini. ​Dunia di sekitar Maria berputar. Lantai tempatnya berpijak terasa bergoyang. Laki-laki yang sedang duduk itu, Yiven Mahendra, adalah sosok hantu masa lalunya yang telah menjelma menjadi sosok dokter jantung. Kebetulan, dokter jantung yang berada di ruangan tempat putrinya harus diperiksa. Bagaimana bisa? Maria menjerit tertahan dalam relung hatinya yang hancur. Kakinya gemetar hebat, nyaris tak sanggup menahan berat badannya sendiri. Air mata panas mulai menggenang di pelupuk mata, mengaburkan pandangannya yang penuh kengerian. .........................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN