BAB 2 - Bertahan Hanya Demi Satu Denyut

1199 Kata
"Anak p*****r!" Teriakan itu meledak di dalam kepalanya, lebih keras dari guntur, lebih tajam dari belati. Suara bariton yang dulu selalu membisikkan kata cinta dan janji manis di telinganya, kini berubah menjadi vonis yang mencabik-cabik harga dirinya tanpa ampun. Dalam mimpi buruk yang berulang itu, Maria melihat dirinya berdiri di koridor kampus yang gelap dan dingin. Di hadapannya, sosok Yiven berdiri menjulang. Matanya menatap Maria dengan kebencian yang murni. "Bagaimana bisa aku tahu kalau anak itu memang darah dagingku? Apa aku gila, mau menerima anak p*****r sepertimu?!" Pria itu menunjuk perutnya, berteriak dengan suara mengerikan yang menggema, sebelum berbalik dan meninggalkannya sendirian di kegelapan. "Tunggu! Yiven, jangan pergi! Ini anakmu!" Maria mencoba berteriak, tapi suaranya tercekat. Kakinya terpaku di tanah, yang mendadak berubah menjadi lumpur hisap, menariknya ke bawah... Semakin dalam... Semakin jauh... Hingga kegelapan menelan segalanya. "Hah!" Maria tersentak bangun. Tubuhnya terduduk kaku di atas ranjang dengan gerakan refleks yang kasar. Napasnya memburu, tersengal-sengal seolah ia baru saja berlari jauh. Keringat dingin membasahi seluruh wajah dan piyama katunnya, meski pendingin ruangan di kamar apartemen sempit itu tidak dinyalakan terlalu dingin. Jantung Maria berdegup gila-gilaan, memukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Ia mencengkeram dadanya, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Matanya bergerak liar menyusuri setiap sudut kamar yang remang-remang, mencari ancaman, mencari sosok Yiven yang tadi menghakiminya dengan begitu kejam. Kosong. Hanya ada lemari pakaian tua, meja rias dengan cermin retak di sudutnya, dan tirai jendela yang bergerak pelan tertiup angin dari ventilasi. Perlahan, realitas mulai merambat masuk, mengusir sisa-sisa mimpi buruk yang selalu menghantuinya selama enam tahun terakhir. Maria menghembuskan napas panjang. Tangannya masih gemetar hebat, sisa trauma yang tak kunjung sembuh. "Hanya mimpi... Itu hanya mimpi," bisiknya pada diri sendiri. Sebuah mantra penguat yang ia ucapkan setiap pagi untuk meyakinkan bahwa ia masih berpijak di dunia nyata, dan masa lalu itu tidak bisa menyentuhnya di sini. Maria menoleh ke samping. Di sana, di balik selimut tebal bermotif beruang kecil, harta karun terbesarnya sedang terlelap dengan damai. Putri kecilnya. Fiona Starla. Maria menggeser tubuhnya mendekat, gerakannya sangat pelan, takut mengusik tidur putrinya. Dalam temaram lampu tidur, ia mengamati wajah mungil itu. Kulitnya putih bersih seperti porselen, bulu matanya lentik dan panjang, hidungnya mancung dan tegas. Disentuhnya wajah Fiona dengan gerakan yang benar-benar perlahan, seolah takut setiap detail mata, hidung, mulut, dan dagu itu hanyalah khayalan, jika disentuh terlalu keras. Setiap kali melihat wajah ini, Maria merasakan perpaduan rasa sakit dan cinta yang begitu rumit. Wajah itu... adalah replika sempurna dari Yiven Mahendra, pria yang baru saja menghantuinya dalam mimpi. Garis rahang Fiona, bentuk matanya, bahkan cara bibirnya mengerucut saat tidur, semuanya adalah jejak genetik Yiven yang tak terbantahkan. Sentuhan itu terhenti saat Maria merasakan ritme napas Fiona yang sedikit lebih cepat dari anak normal. Selalu begitu. Jantung mungil di dalam d**a kecil itu sedang berjuang dua kali lebih keras daripada jantung orang lain. Kelainan jantung bawaan... Tiga kata itu adalah hantu nyata yang jauh lebih menakutkan daripada bayangan Yiven di dalam mimpi. Anaknya, yang ia lahirkan prematur dengan susah payah selama 2 hari dua malam, ternyata mengidap penyakit jantung bawaan, sehingga setiap bulannya harus menjalani pemeriksaan rutin. Maria melirik jam meja di atas nakas. Pukul 06.00 pagi. Hari ini adalah hari penting. Jadwal kontrol bulanan Fiona ke rumah sakit. Maria harus memastikan kondisi jantung putrinya stabil. Ia tidak boleh lengah sedikit pun. Dengan hati-hati, Maria turun dari ranjang. Ia berjalan ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Ia bergerak cepat. Aroma roti panggang dan s**u hangat segera memenuhi ruangan. "Meow..." Sebuah suara serak terdengar dari arah ruang tamu. Maria menoleh dan tersenyum tipis. Seekor kucing ras British Shorthair gemuk berwarna abu-abu sedang meregangkan tubuhnya di atas sofa, sambil menatap Maria dengan mata kuningnya yang malas. "Selamat pagi, Bubu," sapa Maria pada Bubu. Satu-satunya penghubung fisik ke masa lalu yang tidak sanggup ia buang. Kucing berumur tujuh tahun ini, adalah hadiah anniversary kedua dari Yiven. Yang—ironisnya—kini menjadi pendamping utama putrinya. Dulu, mereka merawat Bubu bersama di apartemen Yiven; memandikannya, memberinya makan, bahkan berdebat sengit tentang siapa yang paling disukai Bubu. Kucing itu dan semua kenangan yang dibawanya, kini berubah menjadi pengingat yang menyakitkan, betapa dalam dirinya pernah mencintai laki-laki itu. "Kau juga semakin tua, ya, Bu?" gumam Maria sambil menuangkan makanan kering ke mangkuk kucing itu. Bubu menggesekkan kepalanya ke kaki Maria, mendengkur manja. "Setidaknya kau setia. Tidak seperti tuanmu." Maria menghela napas, lalu kembali ke kamar tidur. Sudah waktunya membangunkan putri tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang, menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Fiona. "Fiona... Sayang, bangun yuk," bisik Maria lembut, mengecup kening anaknya. Fiona menggeliat pelan, mengerutkan hidungnya yang lucu. Kelopak matanya bergetar sebelum terbuka perlahan, menampilkan sepasang bola mata cokelat terang—warna mata yang sama persis dengan milik Yiven. Setiap kali Fiona membuka mata, Maria merasa seperti ditelanjangi oleh kenangan. "Mama?" suaranya serak khas bangun tidur, terdengar begitu rapuh namun manis. "Iya, Sayang. Ayo bangun. Hari ini kita harus bertemu Pak Dokter, ingat?" Fiona mengerang malas, matanya kembali terpejam separuh. "Bolehkah aku tidur sebentar lagi, Mama?" Maria tersenyum geli melihat tingkah malas putrinya. Sifat kebo alias susah bangun ini jelas bukan warisannya. Maria dulu selalu bangun sebelum matahari terbit untuk bekerja. Sifat pemalas di pagi hari ini... jelas warisan Yiven yang selalu menggerutu jika dibangunkan kuliah pagi. Maria menggelengkan kepala, mencoba mengusir perbandingan itu. "Hmm... padahal Mama mau ajak Fiona mandikan Bubu sebelum berangkat. Tapi kalau Fiona mau tidur lagi, ya sudah, Mama mandikan Bubu sendirian saja..." goda Maria. Dalam hitungan detik, Fiona langsung terduduk, matanya melebar seketika. Rasa kantuknya menguap entah ke mana. "Bubu?! Bubu sudah sembuh, Ma? Boleh dimandiin?!" Maria tertawa kecil, mencubit pipi gembil putrinya yang kemerahan. "Iya, Sayang. Pilek Bubu sudah sembuh. Dokter hewan bilang dia sudah boleh mandi." "Asyiiik!" Fiona bersorak girang. Ia segera meluncur turun dari ranjang, kaki-kaki kecilnya berlari menuju ruang tamu sambil berteriak memanggil nama kucing kesayangannya. "Bubuuuu! Ayo mandi!" Maria memandangi punggung kecil itu dengan tatapan nanar. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh kekhawatiran yang mendalam. Melihat Fiona berlari seperti itu membuatnya selalu takut. Takut jika Fiona terlalu lelah. Takut jika napasnya tiba-tiba sesak. Takut jika jantung yang tidak sempurna itu tiba-tiba menyerah. "Jangan lari-lari, Sayang! Pelan-pelan!" "Oke, Kapten Mama!" sahut Fiona dari kejauhan, meski langkahnya hanya melambat sedikit. Maria bangkit berdiri, meraih tas jinjingnya di atas meja rias. Ia memeriksa isinya sekali lagi. Dompet, ponsel, tisu basah, air minum, obat darurat Fiona, dan amplop cokelat berisi riwayat pemeriksaan jantung bulan lalu. "Baiklah. Sudah semua." Maria menarik napas, mencoba menekan firasat buruk yang berdenyut di ulu hatinya sejak mimpi tadi pagi. Ia berharap hasil pemeriksaan hari ini bagus. "Semuanya akan baik-baik saja," Maria akan memastikan anaknya baik-baik saja, karena hanya Fiona yang ia butuhkan di dunia ini. Fiona adalah satu-satunya alasan baginya untuk terus berjuang, satu-satunya denyut nadi yang membuatnya tetap bertahan hidup. Maria kemudian berjalan keluar kamar, dan mendapati Fiona sedang memeluk Bubu yang pasrah di atas karpet. Pemandangan itu begitu damai, begitu polos. Ia tidak tahu, bahwa hari ini, takdir sedang menyusun sebuah pertemuan yang akan meruntuhkan benteng pertahanannya hingga ke dasar. Garis nasib akan menyeretnya kembali ke masa lalu yang ia hindari mati-matian. Dan semua itu dimulai dengan satu langkah keluar dari pintu apartemen mereka pagi ini. ...................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN