BAB 1 - Kata-Kata Yang Membunuh

1019 Kata
"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif." Suara operator itu terdengar seperti vonis mati di telinga Maria Christie. Sudah puluhan kali ia mencoba, namun Yiven Mahendra—kekasihnya selama tiga tahun ini—seolah lenyap ditelan bumi tepat di hari jadi ketiga mereka, hari ini. Tidak ada ucapan selamat, bahkan dalam bentuk sebuah pesan singkat yang mampir ke ponselnya. Kado? Pelukan atau kecupan hangat? Ia bahkan sama sekali tidak mengharapkannya. Ia hanya berharap tidak terjadi hal buruk, pada kekasihnya yang tidak bisa dihubungi itu. Detik demi detik berlalu, Maria menatap nanar gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menjulang di depannya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hawa dingin menusuk tulang, tapi tak sebanding dengan debar jantungnya yang kian liar. Di tangan kanannya, Maria meremas sebuah kotak transparan kecil berhias pita merah. Di dalamnya, benda putih panjang dengan dua garis merah tegas seolah sedang menertawakan nasibnya. Ini hari jadi ketiga kita, Yiven... Dan aku hamil!!! Sebenarnya kau di mana?... Maria menguatkan hati. Tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Yiven saat mendengar kabar ini. Apakah ia akan senang? Apakah ia akan menerimanya? Atau.. Tidak. Tidak mungkin. Walaupun Yiven orang yang cuek, ia bukan orang yang akan melakukan tindakan tidak bertanggung jawab. Terlebih saat mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Setelah hanyut dalam pikirannya beberapa saat, Maria melangkah menembus koridor kampus yang sepi, menuju lantai tiga. Kelas Yiven. Tempat terakhir dimana Yiven—senior jurusan kedokteran yang terpaut tiga tahun darinya itu—kemungkinan berada, walaupun belakangan, Yiven selalu disibukkan dengan Koas-nya. Langkah Maria terhenti di depan pintu kelas yang remang-remang. Beruntung, di sudut ruangan, ia melihat Yiven sedang bersandar pada satu-satunya jendela besar, di ruang kelas itu. Sembari mengembuskan napas gugup, Maria memutar gagang pintu, mendorongnya, dan berjalan mendekati Yiven hingga hanya tersisa beberapa langkah jarak mereka, dan ia dapat mencium bau alkohol yang sangat kuat dari tubuh Yiven. “Yiven?” panggil Maria lirih. Pria itu menoleh. Wajahnya pucat, dan matanya merah. Namun tak seperti biasanya, sama sekali tak ada senyum tipis penuh candu, yang menyambutnya. Yiven malah memandang keluar jendela. "Tidak biasanya kau minum alkohol, Ven. Wajahmu pucat sekali.. Apa kau sakit?" Maria mendekat, hendak menyentuh dahi Yiven yang tampak sakit. Namun hanya bertahan beberapa detik, sebelum tangannya ditepis dengan kasar. "Apa pedulimu?" Suara Yiven sedingin es. Maria tersentak. "Tubuhmu panas, Yiven. Kau harus ke dokter—" "Berhenti berakting sok peduli, Maria! Itu memuakkan!" bentak Yiven. Maria menggigil di tempatnya berdiri, tercengang menatap Yiven yang sudah berubah menjadi monster menakutkan. “Kau kenapa?! Apa terjadi sesuatu denganmu?” Yiven mengembuskan asap putih panjang dari mulutnya. Detik berikutnya, ia menjatuhkan rokok yang masih menyala itu ke lantai, lalu menginjaknya dengan gerakan yang penuh kemarahan tertahan. Selama beberapa saat Yiven hanya menatap kedua mata Maria lurus-lurus, dengan pandangan kosong. Lalu turun ke bibir merah ranum Maria. Kemudian, lebih cepat dari gerak tercepat kesadaran Maria mampu mencerna, Yiven maju dan menautkan bibirnya ke bibir Maria dengan sangat kasar. Hisapan demi hisapan, gigitan demi gigitan terasa menyakitkan bagi Maria. Ia yang kesakitan, terus berusaha mendorong d**a tegap Yiven yang seperti batu kokoh. Namun tak berguna, Yiven terus merengkuhnya dengan seluruh jangkauan kedua lengan. Rasa getir darah terasa jelas dalam ciuman yang dalam itu. Saat Yiven kemudian melepaskan ciumannya, membuka paksa jaket jeans Maria, dan melemparnya ke lantai, ia sedikit teralihkan saat mendengar dentuman benda kecil yang terjatuh keluar dari saku jaket Maria. Tuk. Kotak transparan itu tergeletak di sana. Menampilkan dua garis merah yang sangat jelas di bawah cahaya lampu redup. Yang bahkan orang bodoh bisa memahami maksud dua garis yang ada di testpack itu. Mata Yiven menyipit tajam. "Apa itu?" Maria ragu, tapi ia cepat-cepat memungut kotak itu di lantai tanpa menatap Yiven. Jika Maria menyempatkan diri mengamati wajah Yiven, ia akan melihat mata yang menyulut tajam dengan kobaran amarah yang sama sekali tidak bisa dijelaskan. "Ini... anak kita, Yiven. Aku hamil." Maria mendongak, berharap melihat binar bahagia atau setidaknya secercah tanggung jawab. Namun, yang ia temukan adalah tatapan menjijikan yang menyeretnya dalam ketidakmengertian akan ekspresi itu. Setelah keheningan panjang, Yiven tertawa sinis, suara tawanya terdengar seperti silet yang mengiris udara. "Anak kita?!" Yiven maju selangkah, mengintimidasi Maria hingga punggung gadis itu menabrak tembok. "Bagaimana aku bisa yakin itu darah dagingku?" Dunia Maria seolah berhenti berputar. "Yiven, apa maksudmu? Kau tahu aku hanya denganmu—" "Cukup, Maria!" bentak Yiven tepat di depan wajahnya. "Apa aku sudah gila, mau menerima perempuan sepertimu? Seorang anak p*****r yang mungkin saja sudah ditiduri banyak lelaki di belakangku?!" Deg!! Dua kata yang Yiven tekankan: "Anak pelacur..." Dua kata itu, membuat Maria tidak dapat mendengar kata apa pun lagi yang Yiven ucapkan setelahnya. Telinganya berdengung hebat, seolah dua kata terkutuk itu terus terulang di telinganya seperti kaset rusak. Dari ratusan orang di kampus, yang mengenal, menghakimi, serta merundungnya, sebagai anak p*****r, Yiven adalah satu-satunya orang yang selama ini ia yakini menerimanya tanpa peduli akan asal usulnya itu. Setidaknya sampai ia mendengar dua kata itu keluar dari bibir Yiven beberapa menit lalu. Dada Maria seketika menyesak, napasnya tercekik. Ia berharap semua ini hanya mimpi yang akan segera hilang saat ia mengerjapkan mata. Namun, kesadaran menamparnya. Dunia Maria yang selama ini hanya tentang Yiven dan Yiven seorang, mulai luluh lantak di bawah kakinya, seolah tersedot ke dalam pasir hisap. Selanjutnya, Maria tidak ingat bagaimana ia bisa keluar dari gedung itu... Ia hanya tahu ia berlari, mengabaikan kakinya yang telanjang karena sepatunya terlepas entah di anak tangga mana, saat ia tertatih-tatih menuruni tangga dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Di tepi jalanan besar di depan kampus, mata besar Maria menatap kosong jalanan besar di depan kampus. Pita-pita cahaya dingin dari ratusan lampu kendaraan yang berseliweran mengabur menjadi siluet cahaya raksasa yang indah, di matanya yang mulai penuh oleh air mata. Rasa sakit di dadanya kian menusuk! Nyaris tak tertahankan. Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan rasa sakit ini?... Perlukah ia menghantamkan diri di salah satu mobil yang melaju kencang di sana? Bukankah hantaman keras itu akan membunuh seluruh saraf dan persendiannya? Bukankah itu akan menghentikan denyut pedih di ulu hatinya? Hanya butuh satu kali dorongan saja... Sedikit dorongan. Dan rasa sakit ini tidak akan lagi ia rasakan. ............................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN