Hilang

1068 Kata
Tiga sosok berpenampilan rapi melangkah tergesa melewati halaman parkir. Dua perempuan dan satu lelaki membawa dua keranjang parcel buah yang dibungkus rapi dengan plastik bening dan pita emas. Ketiganya naik ke mobil bagian belakang, seolah sudah tau ke mana harus duduk. Di dalam, terdapat seorang pria berperawakan tenang dengan seragam putih dan kacamata berbingkai logam menoleh menyambut mereka. "Sudah kalian beli semua?" tanyanya dengan suara dalam dan tenangnya mengalun seperti seorang ayah yang membimbing anak-anaknya. "Sudah, Pak!" jawab ketiganya hampir kompak. Namun pria muda di antara mereka, yang duduk paling dekat ke pintu, tampak ragu. Ia melirik ke arah keranjang yang kini diletakkan di pangkuannya. "Tapi... kalau di ICU boleh kita bawain oleh-oleh kayak gini, Pak?" Pak Hilman Arya, nama itu tertera di papan nama kecil di sisi d**a kirinya. Mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Daripada kita datang dengan tangan kosong? Setidaknya kita harus menghormati keluarganya," ucapnya tegas namun bersahaja. "Apapun yang terjadi, kita tetap harus bersikap sebaik mungkin. Walaupun apa yang dialami Abim nggak ada kaitannya langsung sama kita, kita ini rekan kerjanya." "Ya, Pak!" jawab mereka serempak, kali ini lebih mantap. Pak Hilman memberi isyarat kepada staf yang duduk di kursi kemudi. “Ayo, jalan sekarang! Kita ke rumah sakit.” Mesin mobil menderu pelan sebelum mulai bergerak keluar dari pelataran. Suasana di dalam sempit tapi tak sesak, hanya ada ketegangan yang merayap diam-diam. Perempuan yang berada di belakang sempat melirik lewat kaca spion tengah. "Belum ada kabar dari polisi, Pak?" tanyanya lirih. "Saya jadi kepikiran… kalau Kang Abim sampai masuk ICU…" Pertanyaan itu menggantung di udara. Pak Hilman tak segera menjawab. Pandangannya mendadak kosong, menembus kaca jendela seolah mengejar sesuatu yang jauh. Rahangnya mengeras. Tak ada anggukan, tak ada gelengan. Hanya diam. Diam yang terlalu panjang untuk disebut ragu, terlalu berat untuk disebut bingung. Keranjang buah yang semula tampak manis kini terasa aneh, seperti simbol perdamaian di tengah sesuatu yang belum mereka pahami sepenuhnya. Misteri itu masih menggantung, seperti awan tebal di atas mereka. Dan Hilman Arya... menyimpan sesuatu yang tak dikatakannya. “Kecelakaan tunggal.” “Ya?” seluruh staf yang ada di dalam mobil itu kompak berseru kaget bersamaan dengan mobil yang terhenti di depan lampu lalu lintas yang menyala merah. “K-Kang Abim kecelakaan? Di mana, Pak?” Pak Hilman membasahi bibir bawahnya sejenak sebelum berucap tenang, “Dugaan. Baru dugaan.” “Kita masih tunggu kabar,” sambungnya seolah ingin menutup pembahasan yang memang seharusnya di bahas oleh tim-nya. Naomi, Alan dan Baim yang duduk di barisan belakang saling melempari pandangan penuh arti. Komunikasi mereka bahkan tanpa perlu menggunakan suara terkait insiden misterius yang dialami rekan kerja mereka. Perjalanan menuju rumah sakit di Bandung itu berlangsung dalam diam. Tak ada satu pun dari mereka yang memulai percakapan. Hanya deru jalan dan sesekali suara klakson kendaraan lain yang menemani keheningan di dalam mobil. Keranjang buah yang tadi sempat diperdebatkan, kini diam di pangkuan mereka, seolah menjadi simbol niat baik yang terbungkam. Mobil berhenti mulus di pelataran rumah sakit. Mereka turun, berjalan cepat menuju ruang ICU dengan langkah tertahan, menahan kekhawatiran dan rasa tak enak yang menggumpal di d**a. Tapi begitu mereka tiba di lorong ICU, pemandangan yang mereka temui malah menambah kebingungan. Lorong itu... kosong. Tak ada seorang pun yang menunggu di bangku luar. Tak ada keluarga. Tak ada kerabat. Bahkan suasana rumah sakit sore itu terasa terlalu sepi, seperti waktu yang sedang membeku. "Mungkin keluarganya lagi pergi," ucap Naomi mencoba masuk akal. Ia melirik kanan kiri, berharap mendapati satu petunjuk. Namun Pak Hilman masih berdiri tegak, seperti membatu. Matanya bergetar kecil, menatap pintu ICU yang tertutup rapat. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, dan jelas, itu bukan hanya soal siapa yang ada atau tidak ada di lorong itu. “Kalian tunggu di sini. Saya dulu yang masuk ke dalam,” katanya pelan tapi tegas. Yang lain mengangguk, paham benar bahwa mereka tidak bisa bergerombol masuk ke ruang dengan pengawasan ketat seperti ICU. Mereka pun duduk diam, memangku parcel yang kini terasa terlalu meriah untuk suasana yang suram. Sesekali mereka melirik ke arah Pak Hilman yang berjalan menuju meja perawat jaga. Pak Hilman baru saja akan meminta izin dan mengenakan APD standar, ketika langkahnya mendadak terhenti setelah mendaftarkan diri untuk penjengukan yang cukup ketat di ruangan ICU. “Maaf,” ujarnya cepat. “Abim… maksud saya, Abimanyu sudah siuman?” Perawat yang bertugas hanya mengangguk kecil, wajahnya datar. “Kami tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut, Pak. Seperti itu adanya.” Jawaban netral yang terasa menggantung, tapi cukup untuk mengguncang seseorang yang sedang menyusun berbagai kemungkinan di kepalanya. Pak Hilman terdiam. Tak menjawab. Tatapannya kosong, seperti baru saja menerima berita yang membuat banyak hal runtuh di dalam pikirannya. Lalu ia berbalik, tak berkata sepatah kata pun, melangkah cepat menjauh dari meja itu. Bukan ke ruang ICU. Tapi pergi. Begitu saja. Tanpa menengok ke arah timnya yang masih menunggu dengan parcel buah di tangan. Meninggalkan lorong sepi itu… dan meninggalkan tanya yang lebih besar. ^^^ “Kamu yakin ini aman?” Ibu gemetar melihat Arju mengecek infus dan beberapa alat penunjang kehidupan lainnya untuk Abim di ambulans sambil tergoyang-goyang karena laju perjalanan. Ada pula paramedis yang siap siaga. Arju menggenggam tangan sang ibu yang sudah gelisah dalam perjalanan yang sudah memakan waktu satu jam itu. “Bu… kita ini bersama paramedis. Lagi, Aku ini dokter. Anak Ibu dokter. Ibu lupa?” Arju tertawa demi membuat suasana menjadi lebih hangat. “Tapi kamu bukan dokter manusia.” Arju semakin tertawa. Tapi tanpa suara. Sesekali ia melihat Abim yang tergeletak tenang dengan bantuan alat medis. Kemudian kembali menatap sang ibu. “Trus Aku dokter apa, Bu?” “Kamu… kamu dokter manusia yang udah nggak bernyawa.” Air mata Ibu leleh begitu saja. Tapi Ibu tetap tak bisa diam. Matanya terus menatap pintu, seolah khawatir seseorang akan datang dan membawa kabar lebih buruk lagi. Wajahnya menyiratkan satu hal, resah yang tak bisa dijelaskan. “Sebentar lagi sampai, Bu.” Abim menepuk bahu ibu pelan. “Aku udah siapkan tempat tinggal dekat sana untuk Ibu. Ibu cuma perlu nungguin Abim di Jakarta. Sisanya biar aku yang urus. Baju, dan keperluan lainnya. Ibu juga nggak perlu pakai HP lama, yang ada orang-orang bakal nyari Abim.” Mata Ibu bergetar, menatap sang putra pemilik mata indah itu. “T-trus kamu…?” “Aku?” “U-uhm,” lirih Ibu. Arju tersenyum lebar. “Aku udah bilang ke Ibu berulang kali. Aku mau selesaikan semuanya di Bandung.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN