bc

Sementara Aku Jadi Kamu

book_age16+
24
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
friends to lovers
doctor
drama
bxg
witty
city
office/work place
cheating
disappearance
soul-swap
superpower
affair
like
intro-logo
Uraian

"Sebenarnya kamu siapa?!" Artika menjerit atas semua yang tertahan sejak kehadiran lelaki yang menyerupai tunangannya, tapi jiwanya seperti bukan dirinya.

Setelah bertahun-tahun hidup di Amerika sebagai dokter forensik, Arjuna—yang biasa dipanggil Arju—kembali ke Indonesia hanya untuk satu tujuan, yakni menguak misteri di balik kecelakaan yang membuat saudara kembarnya, Abim.

Untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Arju terpaksa menyamar sebagai Abim dan memasuki dunia yang tak pernah ia pahami sebelumnya.

Dalam penyamarannya, Arju bertemu dengan Artika, kekasih Abim yang tanpa sadar terperangkap dalam dilema cinta, rahasia, pengkhianatan serta mimpi-mimpi ajaib akan kesialan masa depan. Dengan bekal keahlian forensiknya, Arju mulai mengurai petunjuk demi petunjuk dari laporan keuangan palsu, manipulasi proyek, hingga rekaman suara yang menghilang secara misterius.

Namun semakin dalam ia menyelidiki, semakin rumit pula perasaannya antara rasa bersalah, kebingungan, dan ketertarikan yang tak seharusnya ia miliki pada Artika. Di balik semua itu, bayang-bayang Abim tetap menghantui, seolah menuntut Arju untuk menyelesaikan misi yang belum rampung.

Kini Arju harus memilih antara melindungi saudara kembarnya atau mengungkap kebenaran yang bisa menghancurkan segalanya, termasuk hatinya sendiri.

chap-preview
Pratinjau gratis
Tiba
Langkah-langkah kaki terdengar jelas ketika roda koper Arjuna berderit pelan di lantai Bandara Soekarno-Hatta yang mengkilap. Suasana bandara begitu ramai. Setiap orang hilir mudik membawa barang bawaan, suara pengumuman terdengar sayup-sayup di udara, dan aroma campuran kopi bandara serta parfum berbagai penumpang memenuhi udara. Arjuna menarik napas dalam-dalam, menahan sejenak langkahnya di tengah arus manusia yang terus bergerak. Ia berdiri sendiri. Koper besar hitam di genggaman tangannya yang panjang. Wajahnya terlihat tenang di bawah teduh alis tegas hitam, tapi sorot matanya menyiratkan pergolakan batin yang dalam. Di sekelilingnya, dunia terus bergerak seolah tak peduli. Seorang anak kecil tertawa sambil memeluk boneka, seorang pria sibuk menelepon, dan seorang wanita muda tampak tergesa-gesa menuju pintu keberangkatan. Namun Arjuna tetap diam. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya mengembara jauh. Bayangan wajah kakaknya, Abim, terbaring lemah di ranjang rumah sakit, mendadak memenuhi benaknya. Tumpukan pesan yang tak pernah terjawab, percakapan yang tertunda, dan rahasia yang membelit mereka sejak lama… semua menyesakkan dadanya. Lalu, dengan suara pelan tapi penuh penekanan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri namun cukup untuk didengar hatinya yang keras, “Ayo, kita selesein semua ini!” Tangan Arjuna menggenggam erat gagang koper. Ia mengeraskan rahangnya, menahan amarah, duka, dan dendam yang selama ini terpendam. Perlahan, ia mulai melangkah lagi, membaur ke dalam lautan manusia yang sibuk, tapi langkahnya berbeda—lebih tegap, penuh tekad. Hari ini bukan hanya sekadar pulang ke rumah. Hari ini adalah awal dari pengungkapan sebuah rahasia yang telah membelenggu kehidupannya dan saudaranya. Dan tidak ada yang akan menghalangi langkahnya. ^^^ Setelah perjalanan panjang dan melelahkan dari Negeri Paman Sam, kaki Arjuna akhirnya menapak kembali di tanah kelahirannya. Dari Jakarta yang padat, hingga Bandung yang sejuk, perjalanannya berakhir di sebuah rumah sakit besar. Saat langkahnya baru saja menjejak lobby, seorang wanita berambut abu-abu menghampirinya. Tatapan matanya basah, bibirnya bergetar menahan haru, dan tanpa berkata apa-apa, dia langsung merengkuh Arjuna dalam pelukan hangat yang menahan duka. Dalam pelukan itu, Arjuna memejamkan mata. Ia dapat merasakan getaran yang bergejolak dalam dekapan sang ibu, rasa kehilangan yang seakan menembus tulang dan hati. Tangannya secara refleks mengeratkan pelukan itu, membalas cinta pertama yang tak pernah terganti—cinta seorang ibu yang menahan sakit mendalam atas anak sulungnya. Seketika dunia menjadi sunyi. Hanya ada suara napas terengah, dan isakan kecil yang terdengar pelan di bahunya. Arjuna mendekap ibunya lebih erat, seolah berkata tanpa suara, “Ada aku di sini, Bu. Ibu nggak sendiri.” ^^^ Dengan pakaian steril berwarna hijau muda, masker menutupi wajah, dan topi khusus menutupi rambut, Arjuna dan sang ibu berjalan pelan memasuki ruang ICU. Bau khas disinfektan dan suara alat-alat medis menyambut mereka, menambah tegangnya suasana. Di sana, terbaringlah seseorang dengan tubuh tinggi yang hanya tertutupi selimut tipis. Mesin-mesin medis berdengung pelan, sementara selang-selang tipis tersambung ke tubuhnya, seolah menjadi jembatan rapuh yang menahan batas antara hidup dan mati. Arjuna berdiri membisu, tubuhnya menegang menahan gejolak rasa. Wajah pria itu tak terlihat jelas, hanya tubuhnya yang tinggi dan postur yang familiar—cukup untuk membuat jantung Arjuna berdetak keras dan dadanya sesak. Dengan gerakan hati-hati, ia merendah, menatap leher Abim dari dekat. Di sana, tepat di bawah rahang kiri, terdapat garis merah samar, terlalu tipis untuk dianggap serius oleh dokter umum, tapi cukup jelas bagi mata Arju yang terbiasa menelaah luka-luka mati secara ilmiah Ia menggertakkan gigi pelan, mengarahkan pandangannya pada tangan kiri Abim. Kulit di sekitar ruas jari tergores. Kuku-kuku yang retak. Ada luka-luka kecil di telapak, seperti bekas menangkis sesuatu, atau mungkin mencengkeram keras permukaan kasar. Luka-luka pertahanan. “Ini nggak bisa dibiarin!” gumamnya nyaris tanpa suara sambil mengepalkan tangan erat. Ia mendongak, menatap langit-langit ruang ICU yang dingin dan sepi. Berusaha keras agar air matanya tidak leleh, menggigit bibir, dan menahan d**a yang terasa begitu pengap. Kenangan masa kecil yang samar, suara tawa yang dulu terdengar, semua terputar di kepalanya. Tak lama. Arju keluar ruangan bersama Ibu sampai wanita itu pun bingung karena terlalu singkat. Ibu kira, Arju ingin sedikit lebih lama. “Ibu… kita nggak bisa diam aja.” “Namanya takdir nggak ada yang tau…” “Ibu percaya itu?” “Uhm?” Ibu mencelang atas pertanyaan putranya yang sejatinya sudah tahunan tak saling berjumpa. Arju melena napasnya mengembus perlahan. Rasanya begitu sesak. “Pihak kantor yang bahwa Arju ke rumah sakit ini?” “Warga yang lihat di lokasi kejadian. Kemarin pihak kantor bilang kalau ke apotek untuk antar sampel,” kata Ibu masih terlihat kesedihan yang menggantung. Arju menghempaskan napasnya secara kasar. “Itu bukan job desk-nya Abim, Bu!” “Uhm?” Ibu kaget lagi. “Arju punya posisi bagus. Apa itu masuk akal?” Arju sampai berseru penuh penekanan. “J-jadi…” Tubuh Ibu bergetar. Berusaha keras merespons apa yang sedang terjadi. Arju tak langsung menyambut. Ia terdiam cukup lama, menekuri lantainya sambil memikirkan dan menimbang banyak hal dalam benaknya bersamaan dengan air mata yang leleh dari pelupuk. Meluncur cepat melewati pipinya. Lantas Arju, pria tampan yang setiap garis wajahnya begitu rupawan bagai pahatan itu menoleh, menatap sang ibu, ia tersenyum getir. “Aku mau jadi Abim.” Mulanya Ibu tak mengerti. Tatapannya kaku, kemudian mulai bergetar saat seolah mengerti ke mana arah putra bungsunya ini akan berlabuh. Matanya yang sempat layu pun beriak, seperti tak ingin memercayai asumsi kuatnya sebagai seorang ibu. “M-maksud kamu…?” Ibu berkedip berulang kali. “Ibu…” Arju menggenggam tangan Ibunya begitu lembut dan kuat sebagai bentuk penenang. “Jangan khawatir…” “Nggak gitu, Nak.” Ibu menggeleng penuh kekhawatiran. Tubuhnya gemetaran. “Kamu nggak boleh sembarangan… Ibu… Ibu sudah mulai menyiapkan ruang ikhlas…” Air mata wanita yang masih menawan di usia tua itu memelesat. “Jadi, kita berdoa aja. Kalaupun benar ada ketidakadilan, hukum Allah tidak pernah padam, Nak.” “Kalau Ibu nggak mau diperjuangkan, Aku nggak akan perjuangkan demi Ibu,” tegas Arju yang membuat Ibu terhenyak, menatap sang putra begitu dalam. “Aku akan lakukan ini semua demi Abim.” Di bawah cahaya lorong yang redup, Ibu dan Anak itu saling menguatkan meski hati keduanya sama rapuh. Suara langkah yang mendekat pelan tak mereka hiraukan, hanya ada kesunyian yang menjerat, dan janji tak terucapkan yang mereka genggam bersama.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook