Awalan Yang Buruk
Permulaan
Pagi ini aku masih berkutat dengan lamaran – lamaran kerja yang sudah ku kirim di beberapa email perusahaan, tapi belum ada satu panggilan kerja untuk ku. Aku Selena Aqila dua sahabat ku selalu memanggil ku Selena, ini dimulai dari awal kisah hidup ku sebelum bertemu dengannya, pria yang membuat hidup ku penuh kegilaan. Tiba – tiba suara ponsel ku berdering membangunkan ku dari lamunan.
Kring.. Kring.. Kring
“ Hmmm.. Halo”
“Halo selena, hmmm bukakan pintu mu, kami sudah di depan rumah mu” pinta Dina karena sudah menunggu lama untuk di bukaan tapi tak ada yang membukakan pintu.
“sepagi ini sudah menyusahkan” geram Selena sambil mematikan ponsel dengan kasar dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Setelah beberapa saat pintu sudah di buka, Dina dan Dini sudah masuk. Begitulah Dina dan Dini si kembar yang selalu menyusahkan hidup ku tapi entah mengapa aku menyayangi mereka berdua, sahabat dari SMA hingga saat ini. Dina yang langsung menuju lemari pendingin dan melihat apakah ada yang bisa untuk di makan.
“Ada apa, sepagi ini sudah mengganggu saja” ucap ku sewot sambil berjalan menuju sofa dan ku rebahkan tubuh ku ke sandaran sofa.
“kami punya kabar baik untuk mu, kantornya Dini memberikan dirinya bonus liburan ke bali untuk 3 orang selama 4 hari 3 malam, nah kami mau mengajak mu, dari pada dirimu berdiam diri saja di kamar” ucap Dina sambil melirik ke Dini.
“hmmm Aku tak berminat berlibur bareng kalian, terakhir ke Anyer tahun lalu kalian meninggalkan ku sendiri di hotel dan pulang bersama pria yang kalian temui di sana” keluh ku, bukan aku tak mau pergi bersama mereka, tapi mereka selalu membuat diri ku penuh masalah.
“Ayolah Sel kau kan sahabat kita, siapa lagi yang akan kami ajak untuk berlibur kalau bukan dirimu, lagian ayah ku tidak akan mengizinkan jika kami berdua saja tanpa mu” Permohonan Dini. Seperti yang ku duga, kehadiran ku pasti sebagai tameng agar mereka bisa keluar dan mendapat izin dari om Ade ayah mereka berdua.
“Gimana yaa, Aku sekarang masih menunggu panggilan kerja, dan rasanya enggak akan menikmati liburan jika pikiran ku di tempat lain”
“Nah karena lagi sibuk memikirkan lowongan pekerjaan, lebih baik sekarang kamu berlibur menenangkan jiwa biar nanti saat di terima kerja dirimu fresh”
Ada betulnya juga saran dari mereka, jujur saja sudah 1 bulan aku tak keluar rumah, hanya sibuk di layar komputer menanti salah satu panggilan kerja untuk ku.
“Sudahlah Sel apalagi sih yang di pikirkan! Lagian ya hotel dan tiket pesawat kita di tanggung, hotel bintang 5 ternama di Bali dengan uang saku juga untuk kita berlibur, jadi kamu Cuma bawa badan aja!” ucap Dini meyakinkan ku, aku tau jika aku tak ikut, pasti mereka berdua tidak akan mendapat izin dari ayah mereka, dan ku rasa ini bukan ide yang buruk untuk ku semoga.
*****
Setelah dua hari berlalu....
Sore ini aku dan Dini juga Dina akan berangkat ke Bali, entah mengapa aku tak pernah bisa tega dengan mereka berdua, mau bagaimana pun mereka berdua adalah sahabat terbaik ku, menyayangi ku ketika aku harus menerima kenyataan ayah ku meninggal saat aku duduk di kelas 2SMA dan ibu ku sakit saat aku kuliah semester 4, jika tanpa cinta dan persahabatan mereka mungkin aku tak akan sekuat ini. Mungkin mereka terlihat seperti sahabat yang buruk untuk ku karena selalu memanfaatkan kepercayaan Om Ade terhadap diriku. Tapi mereka sangat menyayangi ku dan jika aku membutuhkan teman mereka selalu ada untuk ku.Aku mengemas semua pakaian yang akan aku kenakan di Bali. Beberapa gaun pantai tanpa lengan sudah ku siapkan dan baju renang juga sepasang Bikini untuk aku berjemur di pantai. Sekitar 1 jam ku habiskan untuk bersiap – siap dan sekarang aku sudah duduk di teras rumah ku menunggu kedua sahabat kembar ku. Sekitar pukul 14.30 mobil Dina sudah berdiam di teras depan ku menunggu diriku untuk masuk, aku pun langsung bergegas menuju mobil.
setelah lama berkutat di dalam mobil karena macet nya ibu kota Jakarta, akhirnya aku dan ke dua sahabat ku sampai di parkiran bandara tujuan domestik. Untung saja kami masih bisa naik ke pesawat dan tetap pergi menuju Bali.
*****
Setelah 2 jam berada di dalam pesawat akhirnya sampai juga diriku di kota dewata. Ini liburan pertama ku di Bali setelah kepergian ayah. Aku sangat takjub dengan pulau ini, begitu eksotis dan tidak pernah membuat ku bosan untuk kembali menikmati pulau yang cantik dan indah. Aku, Dini dan juga Dina setelah mengambil koper dan keluar bandara sudah langsung di sambut oleh pegawai hotel tempat kami menginap. Semua koper dan barang sudah masuk ke bagasi mobil yang akan mengantar kami ke salah satu hotel bintang 5 di Nusa Dua. Tak begitu lama diriku sudah sampai di hotel mewah itu, kami di sambut dengan baik tidak lupa welcome drink dan handuk basah yang menyegarkan wajah ku yang lelah selama perjalanan menuju Bali. Di ruang resepsionis Dini sedang chek-in kamar, sedangkan aku berjalan mengelilingi lobby sambil memandang takjub dengan bangunan hotel yang mewah di d******i dengan marmer yang membuat kesan lebih mewah dan hidup. Begitu menikmati pemandangan aku tak sadar menabrak seseorang yang aku yakini lebih tinggi dari ku, tubuh ku hampir terjatuh tapi tak lama pinggang ku sudah di rangkul oleh sosok orang yang telah ku tabrak.
“Kalau jalan pakai mata!” yang tadinya aku terdiam memandang wajah sosok yang merangkul ku tak sengaja sedari tadi minuman ku tumpah ke kemeja yang ia pakai.
“Maaf – maaf aku tak sadar menabrak mu, maaf”
“Makanya kalau jalan pakai mata mu, jangan kaki mu saja yang bergerak sesuka hati! Karena minumanmu saya harus membatalkan pertemuan saya! Dasar wanita bodoh!!” bentaknya dengan suara yang keras sehingga sahabat ku dan beberapa pegawai hotel kaget dan menoleh ke arah suara keras dan kasar itu.
“Saya sudah minta maaf! Ga usah nge gas kayak bajaj donk! Lagian situ juga punya mata kenapa tidak menghindar malah menyalahkan diriku! Cihhh” balas ku tak mau kalah tinggi dengan suara kasarnya. Seorang pria paruh baya mendekatinya dan berbisik, mungkin aku rasa dia sekretaris pria songong yang sekarang di hadapan ku ini.
Dengan wajah kesal Pria itu meninggalkan ku setelah karyawannya mendekatinya dan membisikan sesuatu yang kurasa untuk cepat meninggalkan diriku di sini. Aku bisa melihat jika dia mungkin pria yang penting soalnya di kawal dan semua orang seperti takut menatap matanya. Tapi tidak dengan ku! Enak saja memaki ku di depan umum, padahal aku sudah meminta maaf dengan baik.