Perjanjian Kontrak

1020 Kata
Pagi ini ku di bangun kan dari tidur ku karena ponsel ku tak henti – hentinya berdering. Ku raih ponsel yang berada di atas meja di samping kasur ku dengan mata yang masih setengah tertidur. “Halo” “Halo selamat pagi, ini dengan nona selena?” “Iya, ini dengan siapa ya?” “Sedari tadi kami menghubungi Nona, kami dari pihak rumah Sakit yang merawat ibu nona” “Hah, ada apa dengan ibu saya? Ibu saya baik – baik saja kan?!” “Ibu nona harus segera di pindah kan ke rumah sakit besar nona Selena, karena mengalami kejang dan kita harus menindak lanjuti dengan meminta persetujuan keluarga beliau” “Apa pun yang terbaik sus lakukan untuk ibu saya!!” “Baik, kami berharap nona bisa ke rumah sakit secepatnya, untuk mengurus biaya – biaya selama di rumah sakit ini dan biaya pemindahan juga administrasi di rumah sakit yang baru” “Saat ini saya berada di luar kota Sus, secepatnya saya akan kembali dan mengurus semuanya, saya minta ibu saya diberikan perawatan yang terbaik, untuk biaya akan saya urus” “Baik, nona Selena kami akan menunggu kedatangan Anda ke rumah sakit” Panggilan itu pun terputus dan membuat diri ku termenung, dari mana aku bisa mendapatkan uang secepat ini, sedangkan pekerjaan saja aku belum ada, tak mungkin kulibatkan si kembar dalam urusan ibu ku, ya tuhan ke mana aku harus mencari uang sebelum kembali ke Jakarta hari ini, dengan hati yang berkecamuk kupaksakan diri ku untuk bangkit dari kasur dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri ku, setidaknya ini yang harus aku lakukan sekarang. Setelah mandi aku segera memakai pakaian ku dan membereskan baju – baju serta barang – barang ku ke dalam koper. Hari ini hari terakhir ku di bali dan sudah mendapatkan kabar yang membuat ku harus memutar otak ku untuk mendapat kan uang yang harus aku berikan pada pihak rumah sakit. Setelah ku rasa semua sudah ku masukkan ke dalam koper, aku langsung berjalan menuju kamar si kembar, aku baru teringat semalaman aku tak bertemu dengan mereka setelah diriku di bawa paksa pria gila itu. Hah , seketika aku teringat dengan Pria gila itu, yang tadinya aku ingin berjalan ke kamar si kembar ku urungkan niat ku, dan memilih menuju kamar si pria gila. Setelah keluar dari lift dan hendak menuju kamarnya ternyata pria gila itu pun hendak keluar dari kamarnya ku rasa hari ini dia pun akan pergi meninggalkan hotel ini. Sejenak kami hanya terdiam saling menatap dari kejauhan, tak lama pria paruh baya keluar dari lift dan langsung melihat ku juga pria yang aku anggap gila. “Selena, mengapa kau berdiri saja, ayo kita masuk dulu ke kamar” ajak pria paruh baya itu dan langsung aku pun mengikutinya, termasuk pria gila itu pun masuk ke dalam kamar yang ia ingin tinggalkan. “Ada apa Selena? Apa kau ingin bertemu dengan kami?” Ucap pria paruh baya itu, sambil menerka kehadiran ku. “Mmhh.. Ibu ku membutuhkan rumah sakit yang lebih baik dan..” ucapan ku terhenti sejenak, ada rasa gagap dan hancur di dalam hati ku, tanpa ku sadari air mata ku terjatuh membasahi pipi. “Kau kesini hanya untuk memperlihatkan wajah jelek mu yang sedang menangis! Waktuku tak banyak hanya untuk menonton kau menangis” “Jacob! Jaga mulut mu! Setidaknya kau lebih baik diam jika tidak bisa berkata lebih baik” ucap pria paruh baya itu mengingatkan pria yang berada di samping ku. “Aku kesini.. Aku kesini ingin menerima tawaran dari mu, tentang pernikahan kontrak itu” dengan gugup aku melihat mata pria gila itu yang terlihat sangat tajam dan sempurna untuk pria tampan seperti dirinya, tapi sayang sikapnya sudah membuat ku muak hanya untuk memikirkan ketampanannya. “Akhirnya kau menerima juga tawaran itu, setelah dengan sombong menghina ku semalam” ledek pria itu dengan ucapan yang sangat tajam dan sinis juga menyakitkan. “Jacooob, cukup ucapan mu!” ucap pria paruh baya yang sedari tadi menggelengkan kepala menghadapi atasannya yang arogan dan kasar. “Ini semua karena ibu ku! Ibuku harus di bawa ke rumah sakit yang lebih besar untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai, dan aku terpaksa melakukan ini jika bukan karena ibu ku” tanpa melihat wajah pria itu aku beranikan melawan hati nurani ku untuk sedikit tidak tau malu menjilat ucapan ku sendiri. “Hmm oke! Karena memang aku membutuhkan mu, mau tak mau aku juga harus menerima mu” “Tapi aku memiliki persyaratan di antara kita, jika kau dan aku menjalani pernikahan entah itu di sebut pernikahan palsu atau pun kontrak, aku mau kau menerima persyaratan ku sebelum kita menikah” “Apa persyaratan mu!” “1. Tidak ada kontak fisik antara kau dan aku selama pernikahan itu berlangsung, ke 2. Tidak saling mencampuri urusan pribadi satu dengan yang lain, ke 3. Memiliki kamar terpisah” “Oke aku terima persyaratan itu sebaliknya kau juga harus menerima persyaratan dari ku juga” “Apa persyaratan dari mu!” “Kau harus menyiapkan makan pagi dan siang juga malam jika aku berada di rumah, kau harus bangun lebih pagi dari ku dan membereskan rumah karena aku tak suka rumah berdebu, dan kau tidak boleh membawa kerabat atau siapa pun ke dalam rumah tanpa seizin ku. Bagaimana apa kau sanggup menerima persyaratan ku. “Apa kau kira aku pembantu mu! Aku juga harus bekerja bukan jadi pengasuh mu hanya karena kita menikah!” “Aku akan menggaji mu ! Dan jika kau ingin bekerja silahkan aku tak akan menghalangi selama persyaratan yang ku berikan telah kau kerjakan, jika tidak lupakan saja pernikahan ini, dan kau bisa keluar dari kamar ku sekarang” “Baik, aku setuju, dan kau tak boleh komplain dengan masakan dan pekerjaan rumah yang ku lakukan” ingin sekali ku tonjok wajah nya tapi ku urungkan karena aku membutuhkan uangnya untuk memindahkan ibu, jika saja aku bekerja dan memiliki penghasilan mungkin aku tak akan mengemis seperti ini. “Oscar buatkan kami surat perjanjian antara diriku dan dirinya” pria paruh baya itu mengiyakan dan langsung meninggalkan diriku dan Jacob si pria gila di dalam hidup ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN