Chris tersenyum menatap Dinar. "Tenang saja, tujuh turunan pun, uangku tidak akan habis," bisik Chris. Huh, takabur sekali, batin Dinar, mengerucutkan bibirnya. "Kenapa? Kamu pasti mengumpat suami kamu ini kan, di dalam hati?" tebak Chris. "Tidak ada! Sudah sana! Lihat tuh, Mbaknya sudah manggil kamu," tunjuk Dinar. Chris melihat ke arah telunjuk Dinar. Benar saja, pegawai toko itu sudah memanggil Chris dengan menunjukkan beberapa cincin di tangannya. "Saya pilih yang ini saja," tunjuk Chris, ke salah cincin dengan model yang unik. "Baik Pak. Mari ikut saya ke bagian kasir!" ajak pegawai itu, berjalan lebih dulu dari Chris. Baru saja Chris ingin melangkah, Dinar lebih dulu menarik baju bagian belakang Chris. "Ada apa?" tanya Chris, menoleh ke arah Dinar. "Apa kamu tidak salah pili

