Kontrak [Bab 4]

1185 Kata
“Kau telat 5 menit,” ucap Glen saat Akiko baru saja sampai di cafe dengan nafas terengah-engah. Lalu pandangan pria itu tertuju pada Ethan yang setia menggandeng tangan Akiko. "Aku tidak tahu kalau Mr. Eloise sudah memiliki cucu," kata Glen sambil terus mengunci pandangan pada Ethan karena sejak tadi anak itu menempel pada Akiko dengan manja, bahkan jelas-jelas memeluk Akiko erat seolah tidak mau dilepaskan. "Ini bukan anakku," tegas Akiko, lalu beranjak mengantar Ethan ke bangku lain agar Glen tidak merasa terganggu. Setelah memastikan Ethan mendapat makan dan minum yang dia pesan, barulah dia kembali ke hadapan Glen. "Nona Eloise, aku menyuruhmu datang ke sini bukan untuk buang-buang waktu," Glen menatap jengkel karena Akiko hanya memperhatikan Ethan saja, bahkan gadis itu sempat menyuapi Ethan dengan lembut tanpa memerdulikan Glen. "Sorry," ucap Akiko. "Siapa dia?" tanya Glen sambil melirik Ethan. "Ethan, dia tersesat jadi aku akanmengantarnya pulang setelah ini," mendengar jawaban Akiko, Glen semakin memberikan tatapan menginterogasi. “Memangnya aku mengizinkanmu pergi?” pertanyaan itu membuat Akiko sontak mengerutkan alis bingung, tapi beberapa detik kemudian gadis itu teringat kalau Glen adalah Tuan, artinya dia berhak mengatur semaunya. "Dengar ini, Nona Eloise—" "Akiko, namaku Akiko," potong gadis itu kesal karena Glen terus menyebut marga keluarganya. "Aiko," panggil Glen sengaja. "It's, Akiko, Sir," tekan Akiko kembali setelah Glen salah menyebut namanya. "Panggil aku Glen. Lagi pula, aku bebas memanggilmu semauku. Nama Aiko jauh lebih cocok untuk wajah manismu itu," mendengar ucapan Glen, Akiko hanya menghela nafas gusar. Sekeras apa pun dia menegaskan, Glen tidak mau dengar kalau bukan dari kemauannya sendiri. "Terserah saja, asal jangan panggil marga keluargaku," ucap Akiko sehingga Glen terkekeh pelan. "Kenapa? kau tidak mau menggunakan marga itu lagi karena Mr. Eloise sudah menjualmu demi perusahaan? Hahaha bodohnya Mr. Eloise melepas berlian indah sepertimu," Glen tertawa sambil mengusap wajah Akiko. Pria itu pasti merasa sangat senang sudah merendahkan lawan bicaranya. Kemudian, Glen memberikan sebuah kertas bukti kontraknya dengan Akiko. "Baca kontrak ini baik-baik," ujarnya. 1. Kontrak berlaku sampai Glen Mckenzie yang mengakhirinya. 2. Akiko Eloise, sepenuhnya menjadi hak milik Glen Xander Mckenzie. 3. Semua biaya hidup Akiko akan ditanggung oleh Glen Xander Mckenzie. Akiko agak bingung membaca poin terakhir kontrak tersebut, jika Glen mau membiayai hidupnya maka dia tidak perlu repot-repot mencari kerja lagi. Namun, tidak mungkin Glen mau melakukan hal sebaik itu tanpa sebuah imbalan. "Bagaimana?" tanya Glen. "Beri aku pengecualian," pinta Akiko, ingin menulis aturan tentang apa yang tidak boleh Glen lakukan selama kontrak. "Satu," tegas Glen. Terdengar egois, tapi daripada tidak sama sekali lebih baik Akiko menulis pengecualian paling penting. "No s*x," tegas Akiko. "Aiko, padahal poin tujuanku adalah untuk itu. Jadi untuk apa aku membawamu pergi? Menatap wajah cantikmu saja tidak akan membuatku puas," bingung Glen yang sebenarnya tidak terima dengan permintaan Akiko. Namun karena merasa tidak terlalu keberatan, Glen hanya menyimpan catatan kontrak itu di sakunya seolah setuju. "Aku bisa bekerja di perusahaanmu," ujar Akiko sambil memberikan berkas-berkas miliknya termasuk data prestasinya selama ini. Glen membaca semua berkas itu, tidak menyangka ternyata gadis di hadapannya memiliki banyak keahlian. Hal tersebut membuat Glen bingung kenapa Mr. Eloise memberikan putri keduanya jika dia gadis yang nyaris sempurna? "Oke, ayo pergi sekarang," ajak Glen, lalu pergi begitu saja meninggalkan Akiko yang segera mengajak Ethan untuk ikut dan mengantar pulang setelah tau alamat rumahnya. Sementara itu Glen duduk di mobil menunggu Akiko selesai dengan urusan terakhirnya sebelum mulai kontrak. Akiko memencet bel rumah Ethan sambil mengetuk pintu beberapa kali karena tidak ada orang datang, padahal dia sedang buru-buru karena Glen menunggunya di mobil. "Aku tidak ingin pulang, Kak …," lirih Ethan memeluk kaki Akiko erat. "Kau tidak bisa pergi bersamaku, kau tau? Aku tinggal bersama orang lain yang tidak akan setuju jika kau ikut," jelas Akiko yang yakin bahwa Glen tidak akan mau memberikan izin agar Ethan tinggal bersamanya. Akhirnya pintu terbuka, tapi teriakan seorang wanita membuat Akiko kaget sebelum memberikan sapaan. "Anak kurang ajar!" bentaknya. Seorang wanita paruh baya langsung menyeret Ethan masuk ke dalam rumah, tanpa peduli anak itu menangis sejadi-jadinya berusaha melepaskan diri. Namun, tangisannya justru membuat sang Mama semakin marah. Akhirnya, dia memukul Ethan menggunakan tongkat baseball sambal tubuhnya penuh lebam. "I'm sorry, Mama …," isak Ethan sambil melirik ke arah Akiko seolah menjelaskan kalau beginilah nasibnya juga pulang. Akiko menyesal, seharusnya dia bawa saja Ethan tanpa bertemu dengan mamanya. "Stop! aku akan menelepon polisi," ancam Akiko sambil melindungi Ethan sehingga wanita itu berhenti melayangkan tongkat baseballnya beberapa saat. Namun, wanita itu justru memukul Akiko juga tanpa peduli hal lain. Untung saja, dia berhasil melindungi kepala sehingga hanya tangannya saja yang terluka. "Tidak perlu ikut campur urusan keluarga kami!" bentaknya sambil berusaha mengambil Ethan dari Akiko. "Bagaimana bisa aku tidak ikut campur jika kau memukulnya di depan mataku?!" hardik Akiko. Pantas saja Ethan takut pada mamanya, dia saja nampak seperti orang gila yang tidak punya hati. Sedangkan wanita itu langsung menatap sinis pada Ethan. "Kau mengadu pada orang lagi, hah!?" Dia berjalan mendekati Akiko dan Ethan sehingga Akiko memutuskan untuk segera keluar dari rumah itu secepatnya. Namun, Mama Ethan sudah lebih cepat berlari menutup pintu. "Aku menyesal punya anak sepertimu!" geramnya pada Ethan. "Memangnya, dia mau punya Mama sepertimu? Tidak!" balas Akiko yang sudah puncak emosi. "Kau memutuskan untuk merawatnya sejak masih dalam kandungan, lalu kenapa kau memperlakukannya begitu buruk ketika sudah lahir? Jangan berani hamil jika tidak ingin menjadi Ibu,” lanjutnya. "Punya hak apa kau mengaturku? Kau tidak tau apapun, bodoh!" jawaban wanita itu membuat Akiko semakin kesal. "Aku tau, aku tau bagaimana sakitnya punya orang tua mengerikan sepertimu," mendengar balasan Akiko, wanita itu semakin tersulut emosi. "Masih bocah, tidak perlu sok dewasa!" cibirnya. "Umurku memang jauh lebih muda darimu, tapi kau yang dewasa ini justru tidak punya akal sehat. Apa kau tidak kasihan pada Ethan?" tanya Akiko. "Bawa saja anak itu pergi, dia hanya pembawa sial. Karena dia lahir, suamiku menganggap kalau aku sudah tidak menarik." Dia menunjuk suaminya yang sedang berjalan sempoyongan sambil mabuk dan merokok, bahkan bau alkohol sampai menyeruak ke seluruh ruangan. "Dasar p*****r," desisnya saat menatap mama Ethan. Tentu saja, wanita itu langsung emosi dan berlari memukul suaminya sendiri tanpa ambun menggunakan tongkat baseball. Darah sudah berceceran di lantai, tapi wanita itu masih melampiaskan amarah seperti menggila, sedangkan Akiko memeluk Ethan erat saking takutnya melihat kejadian mengerikan itu. "Papa …," lirih Ethan melihat papanya tewas di tangan mamanya sendiri. "Sekarang seluruh hartamu menjadi milikku, pria tua tidak tau diri sepertimu memang pantas mati," Setelah merasa puas, wanita itu mengalihkan pandangan pada Akiko dan Ethan yang masih duduk di pojok ruangan. Akiko bergidik ngeri melihat bagaimana kejamnya wanita itu. Kemudian wanita itu mulai melayangkan tongkat baseballnya kembali. Menghantam tubuh Akiko yang berusaha melindungi Ethan. Bayangannya kembali ke masa lalu, di mana dia harus meringkuk menahan sakit dari siksaan orang tuanya. "Ahhh …," desis Akiko merasa tubuhnya hancur karena pukulan demi pukulan. Namun, saat matanya sedang tertutup rapat-rapat untuk menahan sakit, tiba-tiba pukulan itu berhenti. Matanya terbelalak kaget saat melihat darah keluar dari mulut Mama Ethan, lalu munculkan Glen dari belakang sambil melepas pisau panjang yang menancap di perut wanita itu. “Tanganku jadi kotor,” geram Glen sambil menatap Akiko datar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN