Dengan perasaan gugup, senang, dan takut, Akiko duduk di sebuah gang sepi untuk menenangkan diri. Setelah bertemu dengan Kakaknya tadi, Akiko langsung pergi dan bersembunyi agar tidak mereka bertemu lagi. Menjaga jarak dengan Keinara adalah keputusan paling benar. Dia yakin, Keinara pasti langsung mencarinya sekarang apalagi dia lupa meminta nomor agar bisa saling menghubungi.
“Kakak … Sebenarnya aku masih ingin merasakan pelukanmu,” lirih Akiko sambil mengusap wajahnya gusar. Kouma, anjing ras besar itu terlihat khawatir dan memberikan tatapan lembut sehingga Akiko memeluknya erat.
“Terima kasih, Kouma,” ucapnya. Karena tidak ingin buang-buang waktu lagi, Akiko segera berdiri untuk menemui Vian di rumah sakit. Namun, seorang preman bertubuh besar tiba-tiba menghadangnya.
“Apa yang kau lakukan di tempat sepi seperti ini, Nona Cantik?” tanyanya dengan senyuman menyeringai. Mengetahui ada bahaya, Kouma menggonggong sambil terus berusaha melindungi Akiko yang begitu waspada. Sayangnya tubuh besar Kouma justru membuat Akiko kewalahan, anjing itu terlepas sehingga talinya diambil alih oleh preman.
“Lepaskan anjingku,” pintar Akiko.
“Boleh, tukar saja dengan tubuhmu,” titah preman tersebut sambil menarik tali Kouma dengan kencang hingga anjing itu kesakitan. Karena tak mau salah bertindak, Akiko diam beberapa saat untung berpikir bagaimana mengambil Kouma dan kabur dari sana tanpa terluka. Akhirnya, gadis berambut pendek itu melihat ada sebuah mobil hitam terparkir di depan gang sana.
“Akan kuberikan uang, tapi lepaskan anjingku,” mohon Akiko sambil berjalan ke samping sambil terus berjaga-jaga.
“Sayangnya saat ini aku tidak butuh uang, aku butuh pelampiasan,” jawab preman tersebut sambil menatap ke langit seolah sangat puas bisa mendapatkan gadis secantik Akiko. Namun, hal itu membuat Akiko punya kesempatan untuk kabur keluar dari gang.
“Hei! Jangan lari!” teriak preman sambil terus menggenggam tali Kouma, sementara Akiko segera menemui seorang laki-laki yang tengah bersandar di mobil hitamnya.
“Sir! Please help me,” pinta Akiko dengan nafas terengah-engah. “Anjingku sedang dalam bahaya, tolong bantu aku.”
“No,” jawaban singkat itu membuat Akiko terdiam tak percaya.
“Apa?” tanyanya memastikan.
“Aku tidak mau buang-buang waktu untuk menolongmu,” mendengar jawaban itu, Akiko memundurkan langkahnya perlahan. Jika dilihat dari postur tubuh dan gaya bicaranya, dia yakin pria itu punya keahlian khusus untuk bela diri. Namun, kenapa dia tidak mau membantu? Apa dia takut terluka?
Dengan kecewa Akiko kembali ke arah gang dan mengatur nafasnya. Yang menjadi alasannya tetap menjalani hidup dengan baik saat ini adalah Kouma, jadi apa gunanya dia jika pergi tanpa Kouma? Akhirnya setelah memantapkan diri, Akiko kembali berlari ke dalam gang sambil membawa tongkat kayu besar. Entah dia bisa selamat atau tidak, yang penting dia berusaha mengambil Kouma.
“Bodoh sekali,” gumam pria yang tak lain adalah Glen Xander. Pria itu sedang ada urusan menemui seseorang, tetapi dia justru tidak sengaja melihat Akiko masuk ke dalam gang sepi. Karena penasaran, dia mengikuti Akiko dan mendapati gadis itu sedang berada dalam situasi sulit. Namun, bukannya membantu dia malah menonton dengan santai.
“Dia pasti mati, iya, ‘kan?” tanya Glen pada asisten pribadinya, Hans, setelah suara tembakan terdengar beberapa kali,
“Tidak, Tuan,” jawaban Hans membuat Glen menajamkan penglihatan. Ternyata benar, Akiko keluar dari gang hidup-hidup walau tangannya terluka karena tembakan yang meleset. Sementara itu Glen merasa tidak percaya bahwa Akiko mengambil resiko yang sangat besar demi menyelamatkan seekor anjing, gadis itu seolah tak takut pada kematian. Parahnya, Akiko tidak mengenali Glen hanya karena dia memakai masker.
“Kita bawa dia sekarang, Tuan?” tanya Hans.
“Biarkan dia bebas sebentar, nanti malam adalah waktu terakhirnya untuk menikmati hidup,” tegas Glen sehingga Hans langsung menyetir mobilnya pergi. Di samping itu, Akiko tengah berjalan ke rumah sakit terdekat untuk mengobati lukanya. Walau tidak parah, tapi tetap saja mengganggunya untuk beraktivitas.
Setelah selesai berobat, gadis berambut pendek itu menuju halte bus. Namun, kartu bus yang baru dia isi justru hilang. Kemungkinan jatuh saat melawan preman tadi, sayangnya di kota ini semua bus tidak menerima pembayaran cash.
“Tolong minggir, Nona, semua orang menunggu di belakangmu,” perintah supir bus mengetahui antrian panjang. Saat ingin keluar, tiba-tiba seorang anak laki-laki menggandeng tangannya.
“Pakai punyaku saja,” ujar anak itu sambil memberikan kartu, kemudian mereka pergi duduk bersama.
“Terima kasih sudah membantuku, jangan sampai hilang ya,” Akiko memasukkan sejumlah uang ke dalam saku anak itu. “Siapa namamu? Apa kau sendirian?”
“Ethan, umurku 9 tahun. Aku sendirian karena Mama dan Papa tidak menyukai aku,” jawaban itu sontak membuat Akiko kaget. Setelah diperhatikan, ternyata anak ini memiliki banyak luka di tangan dan wajahnya.
"Dia … sama seperti aku," gumam Akiko dalam hati, dia paham kalau anak ini pasti memiliki masalah dalam keluarga dan sering mendapat kekerasan. Anak sekecil ini tentu masih jujur pada siapapun tentang masalah yang ada di rumah.
"Aku Akiko," dia menyambut jabatan tangan Ethan dengan lembut. Namun, tiba-tiba Ethan menangis sehingga membuat orang-orang dalam bus menatapnya aneh seolah berpikir Akiko menyakiti Ethan atau semacamnya.
"Kenapa menangis?" tanya Akiko berusaha menenangkan Ethan.
"Kakak sangat lembut," ternyata Ethan senang karena ada yang memperlakukannya dengan lembut. Selama ini dia mendapat perlakuan buruk dari keluarganya sampai memiliki trauma, bahkan tangan mungil itu sampai gemetaran karena menahan tangis agar tidak terdengar banyak orang.
"Kemarilah," Akiko tersenyum tipis sambil mengangkat Ethan ke pangkuannya, dia paham betul bagaimana rasa sakitnya jika dibenci keluarga sendiri.
Akiko tidak menyangka ada yang bisa menyakiti anak selucu Ethan, padahal Akiko pikir dia adalah satu-satunya anak yang tidak hidup dengan baik sejak kecil. Gadis itu mengusap air matanya yang menetes tanpa sadar, lalu mengusap-usap rambut Ethan pelan hingga anak itu mulai tenang.
"Kakak sama denganku, iya, 'kan?" tanya Ethan sehingga Akiko terdiam sebab bingung kenapa Ethan bisa sadar kalau nasib mereka sama. Mungkin karena perasaan anak kecil itu sangat tajam jadi bisa tau perasaan satu sama lain walau baru saja bertemu.
"Sakit sekali ... Aku takut Mama dan Papa marah, aku tidak mau hidup lagi. Kakak pasti juga ingin mati, iya kan?" lanjut Ethan.
"Tidak baik berkata seperti itu," sahut Akiko, padahal dia merasa ucapan Ethan ada benarnya juga. Namun, tidak pantas rasanya jika anak sekecil ini sudah memikirkan soal kematian.
"Kakak juga menyembunyikan banyak sekali luka seperti aku," lirih Ethan lagi sambil membuka satu kancing bajunya. Di sana nampak luka lebam cukup serius, sepertinya dari benda tumpul. Mungkin Ethan melihat ada bekas yang sama di d**a Akiko sehingga berani berkata demikian.
Tanpa sadar, Akiko sudah sampai di tempat tujuannya. Akan tetapi, Ethan tidak mau melepaskan pelukannya karena merasa sangat nyaman bersama Akiko walau gadis itu menahan sakit bekas tembakan. Akhirnya, mau tidak kau dia harus membawa Ethan turun dari pada bingung di dalam bus.
"Aku akan mengantarmu ke kantor polisi, okay? Kau jelaskan saja semuanya pada polisi supaya mereka tau tentang orang tuamu. Sekarang aku harus buru-buru untuk menemui seseorang," ujar Akiko.
"Tidak bisakah Kakak saja yang menjadi mama-ku?" pertanyaan itu membuat Akiko tersenyum tipis. Pemikiran anak kecil itu sama saja, mereka pasti menginginkan orang tua baik supaya bisa tumbuh sehat sampai dewasa. Namun, Akiko saja tidak hidup dengan baik, lalu bagaimana bisa mengurusi Ethan? Belum lagi urusannya dengan Glen Xander.
Niatnya Akiko ingin menemui Dokter Vian terlebih dahulu, tapi sepertinya dia akan telat menemui Glen 30 menit lagi. Apa yang akan dia lakukan pada Ethan sekarang? Membawanya menemui Glen? Bagaimana reaksi pria itu jika dia membawa anak kecil saat bertemu nanti?