Alasan Yang Begitu Menyakitkan

1033 Kata
Aku masih belum sampai di kost. Setelah tidak ada kelas lagi untuk hari ini, aku tidak langsung pulang. Aku hanya duduk diam menghabiskan sisa hari di gazebo taman perpustakaan. Aku suka di sini. Gazebo tua dengan stop kontak yang tak lagi dialiri listrik, dan sebuah bohlam yang tak lagi menyala. Hampir magrib membuat langit menggelap dan aku masih nyaman duduk di sini seorang diri. Beberapa sinar lampu kendaraan yang lewat menyorotku, memberikan sekejap terang diantara gelap tanpa bintang. Sedang mendung memang. Kutatap poselku sambil menunggunya mati karena kehabisa baterai. Tidak ada satu menit, benda pipih itu berhasil menampilkan logo merek sebelum layarnya berhasil menghitam. Ponselku butuh daya. Apa bedanya denganku? Aku juga butuh tenaga agar bisa tetap bertahan hidup tanpa Jujung. Aku tidak tahu mengapa aku menjadi semenyedihkan ini. Putus dengan Jujung sama dengan berakhir sudah hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Hanya itu saja. Tetapi, mengapa aku terlihat sangat berlebihan? Aku jadi penasaran, apakah esok hari aku masih menerima pesan dari Jujung atau tidak sama sekali. Sepertinya opsi terakhir yang akan membuatku kosong besok pagi. "Titik." Ada suara yang berhasil membuatku merinding. Kata orang, waktu magrib sangat banyak setan yang berkeliaran. "Titik." Suara itu terdengar dari belakangku. Aku tidak mau menoleh. Tubuhku merinding ditambah di tempatku duduk saat ini tanpa penerangan kecuali semburat dari lampu taman. "Titik, kenapa masih di sini?" Tolong jelaskan padaku, siapa pemilik suara itu dan siapa juga yang baru saja duduk di sampingku! "Ayo, aku antar pulang." Aku tidak menjawab. Aku juga tidak menoleh padanya. Aku tak menghiraukannya karena aku takut yang ada di sebelahku bukanlah dia yang sebenarnya. "Ayo." Dia menarik tanganku, terasa hangat. "Titik, yang tadi siang tolong maafin aku. Aku bisa jelasin semuanya." Aku mulai bisa meyakinkan diriku bahwa pria yang ada di sebelahku adalah Jujung. "Kenapa?" tanyaku singkat tanpa bergerak sedikit pun. "Lihat aku." Jujung sudah meraih kedua tanganku. Ia menggeser tubuhnya dan menghadapku. "Titik, please. Tolong lihat aku," pintanya dengan nada lembut seperti biasanya. Kuembuskan napasku perlahan. Beberapa detik mataku terpejam untuk menghentikan panasnya. Setelah itu, barulah aku menoleh dan menatap wajah Jujung yang sudah sendu di hadapanku. "Kamu tahu kan kalau aku sama Della udah sahabatan dari kecil?" ucap Jujung. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Entah apa yang ia khawatirkan, sebenarnya sudah bukan menjadi urusanku karena kami tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tetapi, ucapannya itu memang membuatku tercengang, terkejut saat mendengarnya. Sebelah alisku terangkat. Jujur, aku tidak pernah tahu fakta itu. Aku tidak pernah menyangka jika Jujung dan Della ternyata sudah berteman sejak kecil. Kukira mereka berdua saling mengenal karena masa-masa menjadi calon mahasiswa baru. Namun rupanya, pertemanan mereka lebih dari itu, dan tidak menutup kemungkinan juga jika hubungan mereka ternyata lebih dari sekadar teman. Pantas saja, selama ini Della sangat dekat sekali dengan Jujung. "Kamu sama Della? Sahabatan dari kecil? Aku nggak pernah tahu," ucapku kemudian. Yang awalnya aku tidak mau memedulikan apapun lagi tentang laki-laki itu saking kecewanya, tetapi pada akhirnya aku bertanya juga. "Della nggak pernah cerita sama kamu?" Jujung malah balik bertanya. Mungkin ada kesalahpahaman. Bagaimana bisa Jujung malah balik bertanya pertanyaan itu padahal ia sendiri sadar jika tidak pernah memberi tahu ku pasal ia yang sudah kenal Della sejak kanak-kanak. "Kamu juga nggak pernah cerita sama aku." Aku pun membalas dengan lancar. Semuanya seperti dilempar-lempar. Jujung terlihat menelan salivanya. Memang benar kan, memang Jujung dan Della tidak pernah bercerita bahwa mereka sudah bersahabata sejak kecil. Aku jadi penasaran jika ada sesuatu yang terjadi, kulihat dari ekspresi Jujung saat ini. "Aku udah dijodohin sama Della dari kecil." Deg. Aku diam. Mataku berhenti bergerak, hanya menatap kedua mata Jujung yang masih saja terlihat teduh. Aku terkejut dan tidak pernah menyangka jika kalimat Jujung baru saja keluar dari mulutnya. Seperti sebuah mimpi, tetapi keterkejutan ini begitu menusuk sampai ulu hati. Aku memang sudah putus dengan Jujung beberapa jam yang lalu. Aku memang berniat untuk tidak memedulikan laki-laki itu lagi. Tetapi, kenyataan membawaku bahwa diri ini masih dan akan tetap mencintai Jujung. Perasaan ini tidak bisa hilang begitu saja walau tak ada lagi status sepasang kekasih tersemat di antara kami berdua. Aku masih mencintai Jujung, dan aku merasa sangat hancur ketika mendengar bahwa Jujung telah dijodohkan dengan Della. "Aku enggak bisa ngelawan orang tua aku, Tik," kata Jujung setelah hening menghempaskan semuanya yang ada di dalam pikiranku. Air mataku sudah menetes, entah sejak kapan. Bahkan Jujung dengan perlahan mengusap air mata yang sudah basah di pipiku. Aku tidak menolak, membiarkan usapan laki-laki itu aku rasakan mungkin untuk terakhir kalinya. Tak bisa kutahan, punggungku bergetar. Aku meringis dan menangis di hadapan Jujung. Kupukul bahunya beberapa kali tanpa perlawanan dari laki-laki itu, seolah membiarkanku melampiaskan kesakitan yang baru saja ia katakan padaku. Aku murka. Setelah beberapa kali kupukul bahu Jujung, laki-laki itu langsung memelukku untuk menenangkan diriku, tetapi aku menolaknya. Kudorong tubuh Jujung menjauh dariku. Setelahnya aku langsung bangkit dan pergi berlari dari sana, dengan keadaan langit yang sudah mulai gelap bukan hanya karena hari sudah mulai malam, tetapi karena mendung yang menerjang. Kubiarkan langkahku ke mana pun ingin pergi. Bukan ke jalan pulang, entah ke mana, yang pasti saat Jujung masih mengejarku, aku berusaha untuk kabur. Hatiku hancur. Luka yang dibuat Jujung tadi siang benar-benar masih basah, dan saat ini Jujung malah menyiramnya dengan air garam. Jelas sekali tidak ada kata baik-baik saja bagiku. "Titik!" Jujung terus mengejar dan meneriaki namaku, tidak peduli dengan orang-orang yang melihat kami karena mencuri perhatian mereka. Tangisku masih pecah. Tetesan air mata tumpah seirama langkah kaki yang kupercepat. Tidak peduli dengan langit yang mulai menurunkan hujannya, aku masih tidak mau berhenti. Namun, sialnya kakiku yang gemetaran berhasil membuatku bersimpuh jatuh ke tanah. Jujung langsung berlari dan membantuku untuk berdiri. Untuk sekadar menolak bantuannya aku tidak bisa. Aku sudah lemas. Aku pikir aku akan baik-baik saja ketika Jujung mengatakan bahwa hubungan kami harus diselesaikan. Ternyata bukan hanya putus, tetapi Jujung malah dijodohkan dengan Della, temanku sendiri. Jika sudah begini, aku tak yakin akan selalu baik-baik saja. "Titik, maafin aku," kata Jujung. Masih terus membantuku untuk berdiri. Wajahnya sama pucatnya denganku. Laki-laki manis itu memang selalu khawatir dengan keadaanku jika aku sakit barang hanya pilek. Ia sangat melindungiku. Tetapi, mengapa kini dirinya lah yang membuatku begitu hancur bahkan lebih sakit dari sakit parah yang pernah aku alami sepanjang hidup?;
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN