Menantikan Pesan

1013 Kata
Malam ini aku sedang tidak baik-baik saja. Aku pikir aku tidak akan pernah merasakan sakit hati ketika aku bertemu dengan Jujung, tetapi naasnya aku malah merasakan kesakitan yang teramat menghambat pikiranku. Sejak tadi aku hanya meringkuk di atas kasur dengan tubuh yang diselimuti dengan kain tebal berbulu. Aku tidak mandi, bahkan sejak pulang dengan taksi online sendirian tadi, aku sama sekali tak mampir ke kamar mandi. Aku langsung tergeletak tak berdaya di atas kasur, kemudian menangis, dan memutuskan untuk tetap di sini saja, menghabiskan malam bersama dengan hatiku yang sedang kesakitan. Keadaan kamarku pun gelap. Tidak ada lampu yang kunyalakan entah lampu utama atau lampu tidur. Aku membiarkannya. Gamang sendirian dalam kegelapan, menyadari bahwa kebahagiaan yang pernah aku dan Jujung impikan ternyata memang hanya impian. Jujung akan menjadi milik orang, bukan diriku, tetapi Della. Padahal, aku masih ingat betul bagaimana kami mengkhayal bersama akan masa depan. Kami memang berkhayal agak jauh, tentang keluarga dan kebahagiaan. Ternyata memang benar apa kata orang, jangan pernah terlalu berharap pada orang lain. Aku terlalu berharap pada Jujung untuk bisa terus bersamaku, bahagia bersamaku, bersedih bersama walau hampir tidak ada kesedihan selama kami berpacaran, dan yang pasti adalah menua bersama. Mungkin kami memang bisa menua bersama, tetapi bukan untuk menua bersama-sama dengan hubungan yang spesial, hanya sebatas dua orang tanpa status yang berusia sebaya, yang akhirnya sama-sama berusia tua, bukan untuk bersama. Kolase kebersamaanku dengan Jujung tiba-tiba saja tergambar jelas di langit-langit kamar yang gelap gulita ketika aku menyibakkan selimutku. Ada aku dan Jujung yang sedang duduk di pinggir trotoar. Aku ingat betul saat itu, saat di mana kami berdua sedang menunggu abang tukang jualan sempol untuk datang. Yah dan memang benar, abang tukang jualan sempol itu tak lama datang. Aku dan Jujung sama girangnya. Sempol adalah salah satu dari sekian banyak jenis makanan yang sama-sama menjadi favorit kami. Adonan tepung dan telur itu sama seperti hubungan kami kala itu, menyatu dengan sempurna dan menjadi perpaduan perbedaan yang sungguh nikmat. Ya, memang benar jika Jujung adalah tipe laki-laki kalem dan manis, sedangkan aku bisa dibilang bar-bar untuk ukuran perempuan dan kadang juga manja. Tetapi dengan sifat kami yang berbeda, kami bisa bersatu dan bersama dalam beberapa tahun, tanpa pernah ada konflik yang besar. Tetapi sekali lagi, kami harus dipisahkan oleh perjodohan. Aku tidak yakin, apakah aku masih bisa duduk di pinggir trotoar bersama Jujung untuk menantikan abang penjual sempol. Bahkan untuk pergi membeli sempol sendirian pun sepertinya aku tidak akan sanggup. Karena untuk pertama kali aku makan dan tahu makanan bernama sempol, itu semua juga dari Jujung. Dunia persempolan adalah Jujung. Ini baru sempol, belum yang lain seperti tahu telur dan tahu campur. Makanan kesukaan kami, berawal dari Jujung pastinya. Aku mengembuskan napas cukup panjang. Sampai sekarang aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana aku hidup tanpa Jujung. Setiap hari, setiap waktu, setiap detik, bahkan saat kami tidak sedang bertemu, Jujung selalu ada di sampingku dengan segala pesan singkat yang memenuhi ponselku. Tapi sekarang semuanya sepi. Tidak ada lagi yang akan mengucapkan selamat pagi dengan kalimat khasnya yang selalu sama. Tidak ada lagi yang bertanya padaku apakah aku sudah makan, apakah aku sudah belajar, dan mengapa aku belum tidur. Bahkan sampai sekarang yang hampir tengah malam, ponselku sama halnya denganku, kesepian tanpa pesan dari laki-laki bernama Juwana Alugawa itu. Aku memutuskan untuk bangkit dari kasur. Tak peduli dengan aroma keringat karena seharian di kampus dan aku malah hanya berbaring di atas kasur tanpa berganti pakaian, kali ini aku berjalan untuk menyalakan sklar lampu. Mendadak, kegelapan yang ada menjadi terang, menyilaukan mataku yang sekarang masih menyipit saking silaunya. Tetapi, sesilau apapun lampu utama di kamarku ini, kegelapan masih mengganderungi hatiku. Aku berjalan menuju cermin. Di sana, terpampang bentuk tubuhku yang sama sekali tidak rapi. Rambutku berantakan khas orang yang baru saja bangun tidur, tetapi wajahku sama sekali tak segar. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul satu malam. Sudah lewat tengah malah dan sudah berganti hari. Ponselku yang ada di atas meja belajar pun masih tenang. Biasanya akan menyala menandakan ada pesan masuk tiap data seluler belum kumatikan, yang berarti Jujung akan mengirimiku pesan dan bertanya mengapa masih online. Kadang aku terkekeh karena di saat Jujung tanya mengapa aku belum tidur, rupanya dirinya sendiri pun juga belum tidur. Katanya sih, ia suka terbangun tengah malam karena ingat dengan diriku, lalu ia akan membuka ruang obrolan kami. Lalu ketika ia iseng mengirimiku pesan dan masih masuk pesan itu, ia akan bertanya mengapa tidak kumatikan data seluler di ponselku. Katanya itu bisa menyebabkan radiasi, walau sebenarnya aku tidak tahu apakah benar atau hanya akal-akalan Jujung saja. Sekarang itu semua tinggal kenangan. Aku dan Jujung sudah putus, yang berarti tidak akan ada lagi segenap perhatian yang akan aku terima dari Jujung. Aku benar-benar sendirian. Aku memutuskan untuk mengambil ponselku. Kugeser layarnya, kubuka ruang obrolanku dengan Jujung. Pesan terakhir dari laki-laki itu adalah tadi pagi, ketika dirinya mengucapkan selamat pagi padaku seperti biasanya. Aku jadi tidak sabar, aku ingin melihat apakah nanti ketika sudah pagi Jujung akan mengirimiku pesan untuk mengucapkan selamat pagi lagi atau tidak. Ah, tentu saja tidak. Aku terlalu berharap. Dasar bodoh. Saat kulihat ruang obrolanku dengan Jujung, di sana tertera bahwa Jujung masih online. Untuk apa malam-malam begini Jujung online? Apakah dia sedang tidak bisa tidur dan sedang memikirkanku? Dan atau dia ingin mengirimiku pesan? Ah, lagi-lagi aku terlalu berkhayal! Tapi tunggu, sebentar. Yang tadinya Jujung sedang online, kenapa sekarang ada keterangan dia sedang mengetik di ruang obrolanku? Mataku mmebulat dan berharap jika pesan dari Jujung akan segera aku terima. Aku sangat yakin jika Jujung sedang mengetuim pesan untuk ia kirimkan padaku. Tidak apa jika pesan itu seperti pesan-pesan sebelumnya yang berisi omelan dan pertanyaan mengapa aku belum tidur. Aku berharap, aku tidak akan kehilangan momen ini. Tetapi setelah beberapa saat, mengapa Jujung berhenti mengetik dan pesannya tidak juga aku terima? Aku yakin sekali tidak ada yang salah dengan sambungan data selulerku. Aku bahkan mengeceknya beberapa kali, tidak ada yang salah dan internet di sini lancar-lncar saja. Jadi, apakah benar Jujung benar-benar tidak akan mengirimkan pesannya padaku? Kenapa begitu? Bukannya dia sudah mengetikkan pesan itu? Mengapa tidak kamu kirimkan padaku, Jung?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN