Aku sangat berharap pagi hariku mendapatkan pesan cinta seperti biasanya dari Jujung. Tetapi, sudah hampir pukul delapan pagi, ponselku yang sedari tadi bergetar pun tak menunjukkan bahwa pesan yang masuk adalah dari jujung, melainkan pesan lain yang menurutku tak begitu penting. Aku jadi tidak bersemangat untung bangun. Aku kehilangan kebiasaan pagiku, membuatku tidak berselra untuk melanjutkan aktivitas.
Walau tahu Jujung tak akan lagi mengirimiku pesan untuk mengucapkan selamat pagi, aku tetap menatap ponselku dengan posisi masih berbaring di atas tempat tidur, bahkan aku masih memakai selimutku di pagi hari di mana matahari sudah bersinar dengan terang.
Aku belum sepenuhnya sadar dari rasa kantukku, karena semalam aku hanya tidur sekitar dua jam saja. Aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Bagaimana bisa, pikiranku sedang tidak karuan. Ditambah semalam ketika aku melihat Jujung sedang mengetik pesan untukku tetapi tak juga aku terima, di situ lah aku merasa sangat berharap Jujung dapat kembali mengirimkan pesan untukku. Bahkan belum ada satu hari saja aku sudah merindukan laki-laki itu.
Aku sadar. Seberapa kali berharap, Jujung tak akan mengiriku pesan lagi untuk pagi ini. Aku pun menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Kuembuskan napasku terlebih dahulu sebelum aku bangun. Rupanya kepalaku terasa sedikit pusing ketika aku mulai terduduk. Yah, selain karena banyak pikiran tak karuan, tidur yang kurang juag emmbuatku merasa pusing seperti ini. Anehnya, aku tidak merasakan kantuk.
Aku pun segera bangkit dari kasur. Tak perlu melihat bayangan wajahku di depan cermin, karena kau sudah bisa menebak bagaimana tidak ada senyuman untuk pagi ini yang kuhadiahkan untuk diriku sendiri. Tidak ada keceriaan yang mengawali pagi hariku.
Aku langsung mengambil handuk karena ingin langsung mandi saja mengingat sudah hampir pukul sembilan sementara aku ada kelas perkuliahan pagi ini di jam sepuluh. Sebelumnya, kuputuskan untuk menyisir rambut dan menguncirnya dengan tali rambut milikku yang ada di atas meja. Ah, mengambil tali rambut membuatku melihat sebuah foto yang terpajang di meja belajarku, sebuah foto dengan senyuman lebar di sana, dengan aku dan Jujung yang nampak ceria.
Foto itu diambil entah kapan, jujur saja aku lupa karena seringnya kami mengambil foto untuk mengabdikan momen. Aku pikir, foto itu diambil sekitar dua tahun yang lalu ketika kami masih belum lama berpacaran. Terlihat sekali aku dan Jujung masih sedikit terlihat polos dengan gaya berpakaian khas zaman dahulu. Sekarang, yah lumayan sekali kami bisa tumbuh bersama dan mengikuti trend pakaian masa kini.
Aku tak tadi pergi ke kamar mandi walau handuk sudah melingkar di bahuku. Kuputuskan untuk duduk di kursi di meja belajar. Aku kembali meratapi nasib. Ya, mungkin terdengar berlebihan. Tetapi jujur saja, selama ini aku tidak pernah merasakan kehilangan sosok kekasih semenyakitkan ini. Walau kata orang kematian adalah kehilangan yang sesungguhnya, tetapi mengakhiri hubungan dengan Jujung juga bukan sebuah kepura-puraan dalam kehilangan. Akan sama sakitnya, yang lebih sakit adalah kehilangan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya tentang penyebabnya.
“Jung, kok kamu jahat banget sih,” kataku pada sebuah foto tak bernyawa itu. Walau ucapanku berakhir dengan kekehan, tetapi siapapun akan tahu dengan mendengarnya sebagai kekehan yang mengerikan.
Sebelumnya aku tidak pernah menangis, apalagi ketika aku bersama dengan Jujung. Banyak sekali tawa yang kami ciptakan, tetapi kali ini laki-laki itu justru membuatku menangis di pagi hari seperti ini.
Perlu beberapa menit bagiku untuk membiarkan air mata ini mengalir. Ketika sudah cukup, kuusap pipiku dengan kasar untuk menghapus air mata tidak berguna itu. Sedetik kemudian aku baru sadar, jika ku tidak boleh terlalu meratapi akan hal ini. Dari awal memang hubunganku dengan Jujung hanya sebatas sepasang kekasih yang bisa kapan saja putus. Harusnya aku tahu jika konsekuensi terburuk dari sebuah hubungan akan berakhirnya hubungan itu.
Bermenit-menit lamanya kuhabiskan waktuku di dalam kamar mandi, mencari kesegaran agar bisa mengahdapai hari-hariku yang akan dimulai hari ini tanpa semnagat dan senyuman dari Jujung. Tidak menutup kemungkinan bahwa mulai hari ini juga aku akan berusaha menghindari laki-laki itu walau hanya melintas di depanku. Aku tidak boleh terlihat lemah walau pada kenyataannya aku masih dan akan terus mengharapkan Jujung untuk tetap bersama diriku selamanya. Hanya saja lawanku adalah takdir, di mana perjodohan Jujung dan Della pasti sudah ada restu dari orang tua keduanya. Siapapun juga tahu, bagaimana sulitnya menembus restu yang seudah terbangun itu. Aku hanya bisa pasrah dan bertahan untuk menjalani hidup tanpa laki-laki itu.
Seribu kali kukatakan bahwa aku bisa hidup tanpa Jujung, tetapi seribu kali juga aku berharap jika Jujung masih bisa kembali kepadaku dan kita akan bersama-sama lagi seperti beberapa hari yang lalu.
Aku sudah siap dengan hari ini. Pakaian yang kupakai seperti biasanya, tetapi mendadak aku jadi teringat jika beberapa kali aku dan Jujung berjanjian mengenakan warna pakaian yang sama agar terlihat jelas bagi orang-orang bahwa kami adalah sepasang kekasih yang selalu bahagia. Dan sekarang, lagi-lagi hal itu tidak akan ada lagi.
Oya, Jujung juga beberapa kali sering menjemputku untuk berangkat ke kampus bersama. Seringnya jika kami ada kelas di jam yang sama, jadi agar tidak menyusahakan salah satu dari kami juga. biasanya, kami akan pergi mampir untuk makan sarapan dahulu sebelum sampai ke kampus. Lagi-lagi semua tempat rekomendasi Jujung selalu cocok di lidahku. Bisa dibilang jika seleraku dan Jujung memang sangat mirip. Dan lagi-lagi, sayang sekali dengan kemiripan selera kami, tidak menjamin bahwa kami bisa hidup bersama untuk waktu yang lebih lama.
Mengingat itu membuat perutku terasa keroncongan. Aku baru ingat jika malam tadi memang aku tidak makan. Terakhir, aku makan roti bawang dari Mas Taeyoga yang bahkan hanya beberapa gigitan dan sampai sekarang aku belum makan apa-apa lagi bahkan untuk meminum air pun rasanya aku belum melakukannya sejak kemarin.
Dasar kamu, Titik!
Kenapa aku jadi seperti ini, padahal aku selalu berusaha untuk menajga pola makan dan minumku. Mengingat aku adalah mahasiswa perantauan yang hidup sendirian, jadi aku harus benar-benar menjaga tubuhku agar tetap sehat dan selalu fit. Tetapi karena Jujung, aku bahkan sampai tidak ingat kapan terakhir kali aku minum air putih yang biasanya bisa setiap jam aku menghabiskan satu botol air mineral.
Aku masih ingin sehat dan waras. Cepat-cepat aku ambil botol air mineralku yang ternyata semuanya kosong. Aku pun pergi ke dapur untuk mengambil air di dalam dispenser yang memang disediakan di rumah kost ini.
Menegak air putih pun rasanya tak sesegar biasanya. Dahagaku memang hilang, tetapi jika teringat akan Jujung, rasanya aku yang ingin menghilang saja.