Walau aku tak bersemangat untuk pergi ke kampus hari ini, setidaknya aku tetap memaksakan diri agar tidak perlu membolos.
Pukul sepuluh tepat aku sudah sampai di dalam kelas. Beberapa mahasiswa sudah ada di sana. Ada Della juga, di mana dirinya jelas-jelas menatapku saat aku masuk ke dalam kelas, tetapi dia langsung memalingkan pandangannya. Della sama sekali tidak menegurku bahkan ketika aku sudah memaksakan seulas senyum untuk membalas tatapannya.
Perempuan itu duduk di dekat pintu, dengan bangku di sebelahnya yang masih kosong. Tetapi, alih-alih duduk di sebelah Della, aku memilih untuk menempati bangku lain. Rasanya memang aneh, ketika biasanya aku akan duduk di sebelah Della jika masih ada bangku kosong dan sebaliknya, tetapi saat ini aku malah menghindar.
Jelas saja, tidak perlu ditanyakan lagi, karena aku merasa begitu tidak nyaman jika harus bersebelahan dengan Della. Mungkin teman-temanku yang ada di kelas ini yang memiliki kepekaan akan dekatnya aku dengan Della berpikir jika kami berdua tengah ada masalah. Dan mungkin saja salah satu di antara mereka akan bertanya masalah apa yang sedang terjadi antara kami berdua, entah bertanya pada Della atau kepada diriku.
Sepanjang kelas aku banyak diam. Tidak pernah bisa mengalahkan aktifnya Della ketika diskusi. Aku berusaha fokus, tetapi tetap saja tidak semudah itu fokus ketika pikiranku penuh dengan bayangan sosok laki-laki bernama Jujung.
Beberapa kali aku tertinggal tentang bagaimana dosen menjelaskan materi kali ini. Bila dihitung, mungkin tak sampai lima puluh persen materi yang dibahas di kelas saat ini bisa aku pahami.
Kelas sudah berakhir, saatnya untuk jam istirahat makam siang sebelum berlanjut ke kelas selanjutnya.
Aku masih duduk di sini, di bangku ini, ketika Della duluan ngacir keluar. Entah apa yang membuatnya begitu sibuk, Della terlihat amat sangat terburu-buru. Aku tidak menyapanya, karena jarak kursi kami yang lumayan jauh.
"Lo marahan ya sama Della?" Salah seorang teman sekelasku bertanya, membuatku tersadar dari lamunan memikirkan apa yang akan dilakukan Della dengan buru-buru itu.
Aku langsung berkontak mata dengannya, kemudian menggeleng pelan. "Masalah apa sih," jawabku mengelak, menghindari kontak dengannya. Kusibukkan diriku dengan memasukkan alat tulis ke dalam tas.
"Ya nggak biasanya aja sih lo nggak nyapa Della sama sekali, bahkan lo nggak duduk di sebelah Della. Padahal biasanya lo cukup dekat kan sama dia?" Temanku itu bertanya lagi. Memang wajar sekali jika dia penasaran karena memang kami sedekat itu. Dan ketika dia menyadari ada yang aneh di antara kami berdua, berarti memang dia salah satu dari mungkin beberapa teman satu kelas kami yang sering perhatian denganku dan Della. Namun tetap saja, ini semua adalah privasi dan aku tidak memiliki hak untuk bercerita kepada siapapun. Apalagi bukan hanya menyangkut diriku dan Della, tetapi tentang Jujung juga.
Lima menit berlalu, kelas benar-benar sepi. Aku baru memutuskan untuk bangkit dan akan mampir ke toilet sebentar untuk mencuci tangan. Baru saja aku keluar dari kelas, aku melihat Jujung yang tengah berjalan menuju ke arahku dari ujung koridor. Toilet ada di sebelah Jujung berjalan saat ini, tetapi aku memilih berbalik menghindari papasan dengan laki-laki itu yang saat ini sedang berjalan menunduk menatap ponselnya.
Sengaja sekali aku menghindarinya. Aku benar-benar tidak bisa bertemu dengan Jujung apalagi harus menatap matanya yang teduh itu. Aku takut kewarasanku hilang dan malah semakin sulit untuk melupakan laki-laki itu. Aku harus ingat, jika Jujung adalah laki-laki yang sudah dijodohkan dengan Della yang berarti Della akan menjadi milik Jujung. Aku tidak berhak untuk merebut Jujung dari Della, sekalipun pepatah berkata bahwa sebelum janur kuning melengkung maka aku bisa menikung.
Tidak. Tidak semudah untaian kata itu.
Persetan dengan perjuangan memperoleh cinta sejati, tetapi jika yang aku lawan adalah takdir maka semua akan sia-sia.
Aku berjalan cepat sebelum Jujung menyadari bahwa aku ada tak jauh dari di depan dirinya. Yah, walau tak bisa kupastikan bahwa Jujung akan peduli kepadaku atau tidak, yang penting aku harus pergi dan menghindari Jujung.
"Tika!"
Ah, seseorang memanggilku, membuat langkahku terhenti dan otomatis aku menoleh mencari sumber suara.
Bukan, panggilan itu bukan berasal dari Jujung. Tetapi, kedua mataku malah fokus pada laki-laki itu yang juga sedang menatapku dari kejauhan. Kami berdua terdiam, saling tatap untuk beberapa saat dengan keyakinan bahwa ada sesuatu dalam pikiran masing-masing.
"Tika!"
Panggilan itu terdengar lagi, membuatku tersadar dan langsung mengetahui ada satu temanku yang memanggil namaku.
"Lo dipanggil dari tadi kok nggak nyahut sih?" Dia muncul dari persimpangan koridor, dengan napas yang tersenggal. Beruntungnya dia langsung membawaku untuk berjalan keluar gedung, tanpa melihat ada Jujung di sana.
"Apaan?" tanyaku, walau di dalam pikiranku masih terpenuhi oleh tatapan teduh Juwana Alugawa.
" ... "
Kami berjalan beriringan sampai di luar gedung fakultas.
"Gimana, Tik?" tanyanya. Entah mengapa aku tidak ingat apa yang ia tanyakan. Lebih tepatnya aku tidak fokus, jadi tidak memerhatikan perempuan itu berbicara kepadaku.
"Hah gimana? Bisa lo ulang?" ucapku yang langsung membuatnya berdecak. Ia berkacak pinggang dan memutar bola matanya. Sepertinya lelah karena sikapku. Oh, maafkan aku ya.
Temanku itu langsung mengulangi perkaannya dan kupastikan aku akan menyimak ia berbicara.
Rupanya yang ia bicarakan bukan sebuah hal penting. Hanya temanku yang mengajakku makan di kantin. Biasanya kami memang beberapa kali makan bersama yang tentunya ada Della juga. Tetapi karena tidak ada Della di sini, jadi ia mengajakku saja.
"Eh, lo nggak sama Della?"
Baru saja aku bicarakan, ia langsung bertanya tentang keberadaan Della. Aku hanya menggeleng. "Enggak."
"Tumbenan, biasanya lo sering sama Della," katanya lagi.
"Ya nggak lah, Della kan juga punya urusan," jawabku. Sebenarnya aku juga kurang suka jika ditanya seperti itu. Ketika aku dan Della sedang baik-baik saja, aku kadang risih ditanya kenapa tidak sedang bersama Della, apalagi saat ini aku semakin tidak nyaman. Padahal aku dan Della sekadar teman biasa saja walau hitungannya sedikit lebih dekat daripada aku dengan mereka.
Dia hanya mengangguk saja. Selanjutnya, kami bersama-sama menuju kantin karena memang sudah jam makan siang. Ah, semoga saja aku tidak bertemu dengan Jujung atau Della saat di kantin nanti. Aku benar-benar ingin menghindari mereka berdua untuk saat ini.
Iya, saat ini saja saat di mana aku masih terus bergelut dengan pikiranku. Nanti ketika aku sudah mulai tenang dan menerima semuanya dengan ikhlas, pasti aku tak akan segan-segan untuk berkawan baik kembali dengan Della dan bahkan dengan Jujung juga.